DYAS, Namaku: Dyas Dewanto (#4)

DYAS, Namaku: Dyas Dewanto (#4)

Bagian Empat

Pedro

Sammy memaksaku menunggu hampir sejam di café ini. Huh..kalau saja bukan karena urusan mbak Dyas, aku pasti sudah meninggalkannya. Dua gelas cappocino latte dan dua croissant sudah tandas kulahap. Bangsat itu belum juga muncul.

Semalam Sammy minta ketemu di café ini untuk merundingkan langkah-langkah yang harus diambil sehubungan dengan kontrak-kontrak mbak Dyas dengan pihak lain.

Aku? Ya..mau tidak mau, aku harus mau diajak diskusi karena menyangkut jadwal kerjaanku juga. Aku sangat yakin Sammy akan banyak diskusi tentang bagaimana karier mbak Dyas selanjutnya. Dan ujung-ujungnya pasti: duit…duit…duit. Argh!!!

Dulu sebelum Sammy hadir di hidup mbak Dyas, rejeki mbak Dyas melimpah ruah. Tawaran sana sini sampai kita kewalahan. Dalam sebulan, waktu rehat kita cuma 7 hari. Kenapa? Karena mbak Dyas pandai mengambil hati klien, pandai mengambil hati wartawan, pandai membawa diri dan pandai mengatur waktu. Paket lengkap seorang selebriti.

Sejak Sammy mengangkat dirinya sendiri menjadi manajer, semua berubah. Tawaran kerja mbak Dyas meredup. Jika dulu, hanya seminggu bisa bernapas lega istirahat, sekarang hanya seminggu kita bekerja. Itu kenapa mbak Dyas  kemudian membebaskan aku menerima pekerjaan make up artis orang lain dan event.

       Jujur aku tak sampai hati menanyakan hal ini kepada mbak Dyas. Aku tak ingin membuatnya sedih. Wartawan mulai menjauh. Panggilan shooting di televisi juga semakin jarang. Dan orang yang sangat bertanggung jawab  atas semua itu adalah Sammy, si bangat itu.

       Beberapa bulan setelah pindah ke apartemen, mbak Dyas memberitahuku bahwa semua jadwal akan dipegang oleh Sammy. Jujur aku tak bisa memberi pendapat karena memang mbak Dyas tak meminta pendapatku. Hanya saja, aku menangkap aura tak beres atas keputusan itu.

       “Cuma jadwal kok mas Pedro. Kontrak-kontrak dengan klien tetap aku yang pegang. Rekening juga tetap atas namaku. Sammy hanya berhak 15% dari semua nilai kontrakku dan gaji bulanan,” kata mbak Dyas seolah melihat kecurigaanku.                          

Lega. Teramat lega mendengar penjelasan mbak Dyas.

       Sebulan menjadi manajer mbak Dyas, di suatu kesempatan, Sammy koar-koar akan menaikkan penghasilan mbak Dyas dua kali lipat. Caranya? Bla..bla..bla..dia menerangkan teori-teori marketing yang luar biasa. Panjang kali lebar, yang menurutku tak cocok untuk industri hiburan di Indonesia.

Sammy yang mengaku lulusan S2 di sebuah universitas di Philipina, kulihat tak memiliki networking sama sekali di dunia industri hiburan. Padahal, networking yang oke lah  dibutuhkan oleh mbak Dyas. Sangat wajar bukan sukses tidaknya seorang artis, ditentukan oleh seberapa luas networkingnya?

       Di bulan pertama menjadi manajer, ocehan Sammy yang akan menaikkan penghasilan mbak Dyas dua kali lipat hanya dibarengi dengan omong kosong.  Dia NATO. No action, Talk Only.

       Dengan tato dari lengan kiri hingga ke pergelangan tangannya, Sammy lebih cocok menjadi tukang pukul mbak Dyas ketimbang menjadi manajer. Sampai sekarang, ya..sampai sekarang aku masih curiga jangan-jangan yang ada di otak bangsat itu: tugas seorang manajer artis tak ubahnya seperti bodyguard.

Bangsat itu tak pernah melakukan gebrakan apapun demi karier dan image mbak Dyas. Yang dilakukan justru sebaliknya. Mengacak-ngacak semua yang sudah tertata rapi dan dibangun susah payah oleh mbak Dyas. Image mbak Dyas berantakan. Kacau. Hancur! 

Sammy tak memperlakukan wartawan dengan baik. Mereka dianggap pengganggu mbak Dyas. Ketika di beberapa kesempatan, wartawan ingin mewawancarai mbak Dyas, sering kali bahasa tubuh bangsat itu, menghalangi wartawan.  Tak sopan. Bahkan meremehkan.

Akibatnya? Mbak Dyas mulai tak dianggap oleh para wartawan. Suatu kali, di backstage sebuah acara, aku mendengar secara tak sengaja pernyataan salah satu dari mereka. “Wawancara tentang hal-hal yang nggak penting dengan Dyas, nggak apa-apa. Toh kita bisa poles beritanya, kita bisa bikin judul yang agak lebay. Tapi gue malas sekarang. manajernya tengil gitu.”   

Atau pernah suatu kali saat aku di studio teve Star, telingaku panas oleh pernyataan seorang talent manager stasiun teve tersebut. “Ngapain calling Dyas. Udah feenya minta gede, manajernya minta ini itu. Mending gue pakai anak-anak baru yang masih gampang di atur.” Jleppp banget saat aku mendengar pernyataan itu. Kenapa jlep ? Karena aku merasa talent manajer itu sengaja bicara keras agar aku mendengarnya.

Hubungan dengan klien pun juga dirusak oleh Sammy. Seorang Public Relation Director sebuah hotel yang ingin memakai mbak Dyas sebagai model iklan, mengeluhkan fee mbak Dyas luar biasa mahal menurut standar artis-artis kebanyakan di Indonesia. “Perusahaanku kaget. Kita sampai berpikir jangan-jangan salah angka. Tapi setelah kita konfermasi lagi dengan bung Sammy ternyata angka tersebut benar adanya.” 

PR Director tersebut kebetulan adalah sahabat salah satu klien baikku. Nah klienku inilah yang bercerita padaku. Aku sampai tak mampu berkata apa-apa saat kienku minta pendapat. Demi nama baik mbak Dyas, aku cuma bisa membela mbak Dyas dengan menyarankan untuk kontak langsung ke mbak Dyas.

Apakah mbak Dyas mengetahui hal ini? Entahlah. Yang  pasti tanpa aku bercerita kepada mbak Dyas, jumlah pekerjaan mba Dyas sebelum dan sesudah Sammy menjadi manajer, adalah bukti valid bahwa si bangsat itu tidak pantas menjadi manajernya.

Aku melirik jam lagi. Sudah satu jam 10 menit aku menunggu bangsat itu.

Akhirnya Sammy datang bersama seorang teman. Aldi, temannya, bersalaman denganku. Dingin sekali tangannya. Sammy menyalamiku? No! Seperti kebiasaan selama ini. Aku juga sengaja tidak pernah mau menyalaminya, duluan.

“Bro gue mau minta pendapat lo. Berita tentang Dyas kecelakaan perlu diblow up nggak?”

Deerrrrrrrr!!!!

Gila kan ini bangsat. Datang terlambat sejam lebih, blas tidak ada basa-basi minta maaf sama sekali, langsung nyerocos kayak petasan banting.

“Apa pertimbangan lo, berita kecelakaan mbak Dyas lo sembunyiin seperti ini,” selidikku.

“Males bro gue sama wartawan. Ribet! Pertanyaannya aneh-aneh.”

Deerrrrr lagi!! Goblok.

“Gue pinginnya kalem aja, nggak usah diblow up. Dyas sehat lagi, kita cari duit lagi.”

Bangsat! Duit..duit..duit lagi yang dipikirin. Tidak memikirkan lebih dulu bagaimana mbak Dyas sehat? 

“Wartawan sama sekali nggak kontak ama lo?” tanyaku menyelidik lagi.

Sammy menggeleng. “Ohya, kata lo kemarin ada beberapa wartawan yang kontak lo. Lo jawab apa?”

“Gue bilang nggak tahu. Karena bulan ini kerjaan mbak Dyas sama gue cuma empat kali kan?”

Sammy mengangguk-ngangguk. “Jadi deal ya, berita tentang Dyas nggak usah diblow up?”

“Kita nggak deal bro. Sebagai manajer itu wewenang lo. Terserah mau lo blow up atau tidak,” kataku diplomasi.

Sammy menggeser letak kursinya. Tidak suka dengan jawabanku, sepertinya.

“Oke gue putuskan berita tentang Dyas tidak perlu diblow up. Semoga Dyas cepat siuman, sehat dan kita bisa kerjasama lagi.”

Aku menghela napas panjang menahan kesabaran untuk tidak serta merta memberi bogem mentah ke wajah Sammy. Sombongnya luar biasa sampai tega mengeluarkan kalimat ‘Semoga kita bisa kerjasama lagi.’

 “Sebenarnya ada untungnya juga berita tentang mbak Dyas diblow up,” kataku berpendapat.  “Setidaknya masyarakat jadi ingat lagi siapa Dyas Dewanto.” 

Sammy mengeluarkan satu batang rokok, dinyalakan lalu dihisapnya dalam-dalam.  Aku gregetan. Dia tak memberi respon.

“Wartawan pasti menulis kok apalagi ini bukan berita aib,” kataku lagi, berusaha sabar.

“Iya sie. Gue cuma males aja bro. Pertanyaan mereka bakal kemana-mana, detail. Pasti mereka akan tanya kapan tanggal kecelakaan, di mana, runtutannya ceritanya bagaimana, dan sebagainya, dan sebagainya.”

Idiot!!

“Lha iya lah pasti. Mereka kan perlu data yang akurat. Lo cerita apa adanya saja, cukup. Ini kecelakaan, bukan berita penangkapan karena narkoba. Buat apa ditutup-tutupin ?” jawabku dengan nada agak tinggi.

 Sammy mengangguk-ngangguk pelan. Sekarang tangan kanannya memainkan handphone.

Aku diam.  Bangsat itu semakin asyik dengan handphonenya. Kali ini dia membaca seksama di layar handphonenya. 

“Oke deh bro kalau gitu.  Gue tinggal dulu ya, ada urusan mendadak nie. Ntar gue whatsapp lo,” Sammy bangun dari kursinya.  Si cungkring, Aldi, ikut berdiri. 

“Eh bro, gue boleh kan bezuk mbak Dyas kapan saja? Tanpa lo, maksud gue.”

Sammy berpikir sebentar. Lalu duduk lagi. “Mm..boleh. Tapi deal: lo sendiri dan foto-foto Dyas tidak bocor ke wartawan.”

 “Big thanks,” kataku sambil kutundukkan kepalaku sendikit. Tanda hormat. Tepatnya: pura-pura hormat. Sekali lagi: pura-pura hormat ke bangsat itu.

Sammy tersenyum. Dia juga mengacungkan jempolnya. Ha..ha..ha.. kena kau bangsat! Dasar gila hormat. Cuma kuberi hormat palsu, kleper-kleper.

Aku menang!! Bangsat itu kutaklukkan. Di tengah keburu-buruannya, aku berhasil melontarkan pertanyaan: ‘apakah aku boleh menjenguk mbak Dyas?’  Bangsat itu tak punya waktu panjang untuk berpikir. Dan jawabannya adalah: ya..aku boleh menjenguk mba Dyas. Hore!

Mereka meninggalkan café dengan langkah terburu-buru. Si cungkring berjalan sedikit di belakang si bangsat.  

Jam menunjukkan pukul 15.00. Aku pesan lagi kopi hitam dan segelas air putih. Killing time 2 jam di café dan kemudian menjenguk mbak Dyas.  

                                                      -0-

Ada enerji  luar biasa besar ketika aku sampai di lobi rumah sakit. Ini kali kedua aku menjenguk mbak Dyas. Pertama, saat aku diajak oleh Sammy. Saat itu aku juga mengajak serta mbok Mirna karena aku kasihan padanya. Aku memang tak minta ijin Sammy untuk mengajak mbok Marni.

Dan seperti yang kuduga, selama di kamar mbak Dyas, Sammy tak menegur mbok Marni sama sekali. Ha..ha..ha..aku yakin saat itu pasti Sammy jengkel tingkat Dewa kenapa aku membawa serta mbok Mirna.

Begitu tiba di lantai 7 Rumah Sakit Hanara, aku harus melewati security lantai. Semua pengunjung harus diperiksa bagian ini dan konfermasi menjenguk siapa, di kamar berapa?

“Bapak Pedro?” ujar pak Bimo, salah satu security. Aku tahu dari name tag nama di dada kanannya.

“Tamu dari pasien ibu Dyas ya pak? Silahkan. Tadi bapak Sammy sudah menginformasikan kepada kami. Sendiri kan ya pak?” jelas pak Bimo lagi.

Kuberi anggukan kecil untuk pak Bimo.

Bangsat itu luar biasa protektif.  Dia sudah telepon ke rumah sakit bahwa aku akan datang, dan sendiri.  Ah..tapi terserah, yang penting aku bisa menjeguk mbak Dyas.

Kuketuk kamar mbak Dyas dengan hati berdebar. Seorang suster  membuka pintu. Anik S, nama suster itu.   

“Selamat sore pak…Silahkan. Ini kunjungan bapak yang kedua ya?

“Suster Anik hapal,” jawabku.

 “Iya tahu. Soalnya khusus tamu bu Dyas, kan selama ini hanya bapak Sammy.” 

Aku melangkah menghampiri ranjang mbak Dyas. “Selamat sore mbak Dyas. Ini Pedro. Semoga mbak Dyas kabarnya baik ya….”

Di perjalanan ke rumah sakit tadi, aku sempat membeli bunga Lily di daerah jalan Barito.

“Aku bawa bunga Lily putih ya mbak. Cari yang merah jambu susah. Belinya di Parto, langganan mbak,” ucapku mulai bercerita. 

Kutarik kursi, kudekatkan badanku ke arah kepala mbak Dyas. Sedikit membungkuk, mendekat ke arah telinga mbak Dyas. Banyak cerita yang ingin kutumpahkan. Termasuk rinduku.

Yang pernah kubaca, pasien dalam keadaan koma ada di daerah ‘abu-abu’. Tidak ada yang bisa memprediksikan apa yang terjadi pada pasien koma, termasuk dokter sekali pun.

Hasil browsing di café tadi,  banyak cerita-cerita menakjubkan bahkan kadang sulit dipercaya dari para survivor koma yang bisa kembali menjalani kehidupan normal.

Setiap kasus koma berbeda-beda. Ada pasien koma yang  masih bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh orang-orang di sekitarnya, ada yang bisa menangis meskipun matanya tertutup, ada yang masih bisa merespons dengan refleks gerakan kecil, ada yang tidak bisa merespons apapun termasuk mendengar, dan lain sebagainya.

 Aku tidak peduli mbak Dyas di kelompok yang mana. Aku juga tidak peduli apakah mbak Dyas masih bisa mendengar atau tidak, bisa merespons atau tidak. Bahkan apakah mbak Dyas cuma bisa berbaring tidur, aku tidak peduli. Aku cuma ingin berkomunikasi dengan mbak Dyas, dengan mata batinku.

“Maaf ya mbak Dyas, baru bisa menjenguk. Seminggu kemarin aku sibuk banget. Ingat ProFocus nggak mba? Perusahaan iklan itu sedang membuat iklan minuman. Modelnya ada 9 orang. Nah, aku diberi tanggung jawab untuk merias semua modelnya. Shooting empat hari, empat hari juga aku nongkrongin mereka shooting,” aku mulai bercerita.

Mbak Dyas tentu tetap diam. Ada semacam dot kecil warna putih dengan lubang bulat kuning di mulutnya. Selang putih bening dan selang hitam dimasukkan ke sisi sebelah kanan mulut. Plester putih warna susu direkatkan ke selang-selang dan kulit pipi dan hidung mbak Dyas.

“Bangun mba,” kuucapkan kalimat itu berulang-ulang tanpa suara.

Sembilan hari di rumah sakit, kulit wajah Mbak Dyas semakin bersih. Ah... meski sudah puluhan kali aku merias wajah mbak Dyas, namun baru kali ini aku melihat betapa kecantikan alaminya luar biasa. Bulu mata yang panjang natural serta alis yang tertata rapi.

“Gitu mbak. Jadi karena harus make up in 9 model, akhirnya aku bawa asisten. Inget Reno nggak mbak, yang pernah aku kenalin ke mbak? Aku bawa dia. Dia bertugas memberi foundation ke wajah semua model, meratakan dengan beauty blender, aplikasi kontur, lalu bedak, baru deh aku bagian finishing,” lanjutku lagi.

Aku berhenti bercerita ke mbak Dyas ketika suster  Anik memberi kode apakah aku mau berganti kursi atau tidak? Aku baru sadar bahwa kursi yang kupakai menyebabkan aku membungkuk terus.

“Ganti dengan kursi ini pak,” katanya sambil mendorong sebuah kursi ke arahku.  “Bapak bisa senderan, sambil bercerita ke ibu. Biar nggak cepat capai.” 

Ah..manisnya suster ini.

Capai bercerita dengan mbak Dyas? Tidak sama sekali. Aku bercerita detail tentang shooting iklan dengan ProFokus. Kuceritakan bagaimana para model harus selalu aku touch up setiap kali break shooting. Detail se detail-detailnya.

“Ohya mbak Dyas dapat salam dari Pak Lukas, marketing directornya ProFokus.” 

“Pak Pedro mohon maaf jam bezuk sudah habis,” suster Anik mengingatkanku.

Aku melirik jam tangan. Mm.. tanpa sadar aku sudah satu setengah jam mengobrol dengan mba Dyas.

Aku berdiri dari kursi lalu kubisikkan kalimat ini ke mbak Dyas. “Bangun yuk mbak Dyas. Kita jalan-jalan ke Belitung lagi seperti dulu itu lho.”

Sebelum meninggalkan kamar, aku menggenggam tangan mbak Dyas. Kuangkat perlahan, lalu kukecup punggung tangannya. “Sembuh mbak Dyas.”

                                                       -0-

 

Sammy

Dua kali aku dan Aldi sengaja memutari toko jam bernama Good Watch di kalangan Blok M.  Toko jam ini adalah toko langganan Dyas. Tahun lalu aku pernah mengantar Dyas ke toko ini.

 

Hanya ada dua orang penjaga toko. Satu laki-laki separuh baya dan satu wanita agak muda. Semuanya Chinese.

 

Plaza ini  tak begitu ramai. Kuminta Aldi menungguku di sebuah restoran fastfood yang tak jauh dari toko jam itu. Hanya aku yang masuk ke dalam.

 

“Sore ada yang bisa saya bantu?” sapa penjaga toko.

 

Aku langsung duduk di kursi tinggi tepat di depan pria Chinese itu. Kukeluarkan paperbag yang berisi 3 jam tangan Dyas.

 

“Saya mau menjual ini Koh. Berani berapa?” Jam tangan merk Aigner, Michael Koz dan Rolex kukeluarkan dari boxnya.

Pegawai toko itu memakai sarung tangan putih dari kain, dan mengeluarkan sebuah kaca pembesar. Setelah memperbesar di beberapa bagian jam, ia kemudian memisahkan jam merk Aigner dan Michael Koz.

“Mohon maaf yang dua merk ini  kami tidak berani membeli kembali,” katanya menyodorkan yang bermerk Aigner dan Michael Koz.

Ia kemudian meneliti lebih seksama jam merk Rolex. “Yang ini bapak bisa ke kantor pusatnya langsung di jalan gatot Subroto. Kita tidak berani membelinya,” katanya sambil kemudian melepas sarung tangan putihnya.

“Yang Aigner dan Michael Koz kenapa?”

 Pria Chinese itu tersenyum. “Kita sama sekali tidak bisa membelinya kembali. Maaf.” 

“Palsu?” tanyaku lebih memperjelas dan mengambil  jam Dyas dari etalase toko lalu memasukkan kembali ke paperbag.

“Kira-kira begitu.” 

“Yang Rolex?” tanyaku mengejar. Aku butuh kepastian jam tangan Rolex Dyas, asli atau palsu. 

“Kebetulan alat toko kami tidak bisa melihat seri dari jam yang bapak bawa. Silahkan bapak ke pusat Rolexnya. Di jalan Gatot Subroto,” pria itu membereskan jam Dyas lalu menyodorkan padaku.

Tak perlu waktu lama, aku langsung ke luar  dan mengarah ke restoran di mana Aldi menungguku.

Damn…damn…damn..!! Aku malu. Malu banget. Mau menjual jam yang kuyakini asli, ternyata palsu. Fake! Gila! Barang-barang Dyas ternyata palsu. Jangan-jangan jam Rolex ini juga palsu?

Membawa ke kantor pusat Rolex di jalan Gatot Subroto lalu sampai di sana diperiksa dan Rolex Dyas dicampakkan karena palsu? Huh..mukaku mau ditaruh mana?

Aku mengajak Aldi menikmati kopi di gerai kopi untuk meredakan amarahku karena malu. Fake? Barang Dyas fake?

Tiga jam tangan yang kubawa hari ini adalah hasil kerja kerasku semalam membuka lemari kaca Dyas. Tukang kunci yang kupanggil ke unit berhasil membuka lemari tanpa cacat sedikit pun. Dari sekian banyak model kunci yang ia bawa, ada satu yang cocok untuk lemari itu.

Jam tangan adalah barang pertama yang sangat mungkin kujual tanpa bantuan orang lain. Selanjutnya aku berencana menjual cincin dan kalung emas Dyas. Tapi aku perlu teman perempuan untuk menemaniku ke toko emas.

Klaim bahwa jam tangan Dyas palsu membuatku berpikir, jangan-jangan tas Dyas juga palsu?

Tadi malam, bahkan sampai larut, aku banyak browsing mencari info harga jual merk-merk tas Dyas. Harga tiga tas dalam kondisi baru mencapai 25 juta. Semisal kujual dalam kondisi preloved, kubanting harga per satu 5 juta saja, aku kantongi uang cash 15 juta bukan?

Untuk tas aku memutuskan untuk menjualnya di marketplace. Tak perlu bantuan orang lain, hanya perlu memotret semua tas, upload, dan voila...uang cash langsung masuk ke rekeningku.   

Notifikasi pesan masuk di whatsapp berbunyi. Dari Aldi: “Cabut bos! 2 orang mondar-mandir terus melihat gerak-gerik kita.”

Aku melotot menatap wajah Aldi yang duduk hanya semester di depanku. Aku langsung berdiri, Aldi mengikutiku, dan bergegas meninggalkan gerai kopi.

Sambil berjalan aku memberi kode Aldi untuk tidak panik. Jalan tetap dengan langkah wajar lalu ke luar ke arah jalan raya, menyetop taksi. Aldi langsung duduk di sebelah sopir. Itu rencanaku.

 Lima menit menunggu taksi menjadi sangat lama. Aldi memberi kode, dua orang membuntuti kami masih ada di belakang.

Sebuah taksi berwarna putih melambat mengarah ke arah kami.  Aldi membuka pintu depan, aku masuk dari pintu bagian belakang.

“Ke arah  jalan Sudirman. Ngebut pak..,” perintahku ke sopir. Napasku memburu.

“Lo terus lihat ke arah spion dan terus pantau mobil-mobil yang tepat di belakang kita,” perintahku ke Aldi.

Aku duduk di belakang persis di belakang sopir dan mengawasi dari sisi kanan.

 “Sepertinya aman bos,” lapor Aldi.

“Aman..aman.. itu tadinya gimana sie? Lo sembrono! Bisa runyam kita kalau sampai ada apa-apa,” hardikku.

“Sewaktu di restoran fastfood tadi, gue ga merasa dibuntuti bos. Tapi sejak bos mengajak minum kopi tadi, dua orang itu mondar mandir dan seperti mengawasi kita.”

“Jangan sembrono gue bilang!” hardikku lagi.

Sepanjang perjalanan, aku berpikir keras kemungkinan terburuk kalau-kalau dua orang itu berhasil mencegat taksi. Begitu terlihat mereka masih membuntuti, aku akan menghentikan taksi di stasiun Duku Atas, naik KRL yang paling cepat datang.

“Aman bos. Belakang bersih bos.”

“Lo pastiin lagi. Bersih nggak? Kalau bersih kita mengarah pulang. Lo, gue turunin di tempat biasa.”

Sepuluh menit aku mengarahkan taksi memutar-mutar di sekitar SCBD. Memutar beberapa kali ke daerah ini sekaligus caraku untuk mengetahui apakah kita masih dibuntuti atau tidak?

“Aman bos! Bersih!” lapor Aldi lagi.

“Ke arah jalan Wijaya pak,” perintahku ke sopir taksi.”

Taksi kembali mengarah ke daerah  Jakarta selatan dan sebelum mengarah ke apartemen, aku menurunkan Aldi di depan restoran Jepang. Rumah Aldi ada di perkampungan di belakang restoran Jepang tersebut.

                                                        -0-

Anik      

Aku membereskan kembali letak kursi, yang bekas diduduki oleh pak Pedro barusan. Harus kuletakkan di tempatnya sedia kala agar kamar bu Dyas tetap rapi, seperti permintaan suster kepala.

Saat akan mengangkat kursi, tanpa sengaja aku melihat hal tak biasa di wajah bu Dyas. Ada dua bulir air mata yang berada di sudut matanya.  Kugigit sendiri bibir bawahku, tanda bahwa aku sedang tak bermimpi. Aku haru. Aku lebih mendekat ke wajah bu Dyas. Ya benar, ada bulir air mata.

Bu Dyas menangis? Berhari-hari aku merawat bu Dyas, baru kali ini aku melihat ada bulir air mata. Bu Dyas sudah mulai berangsur-angsur sadar kah?

“Bu Dyas menangis ya?” tanyaku dengan berpura-pura riang, sambil setengah takut.  Takut kalau bu Dyas sudah bisa mendengar suaraku, aku takut dikiranya kurang ajar. Kulap dengan tissue dua bulir air  mata bu Dyas yang mengalir perlahan ke pelipis.

“Semoga tangis bu Dyas adalah tangis bahagia ya. Pak Pedro ya bu yang membuat ibu menangis?” tanyaku sengaja membuat suasana santai ke bu Dyas.

“Bu Dyas kalau mau menangis, menangis aja. Tumpahkan semua unek-unek ibu biar lega,” kataku lagi.

Bulir air mata bu Dyas mengalir lagi. Ah..aku bahagia banget. Berarti bu Dyas kuanggap bisa merespon pertanyaanku.

“Nanti kabar bahagia ini akan saya sampaikan pada pak Pedro ya bu. Semoga pak Pedro  besok datang lagi menjenguk ibu,” kataku lagi.

Sambil berberes ruangan, akhirnya terus bicara menceritakan penampilan pak Pedro.

“Tadi pak Pedro memakai baju hem kotak-kotak warna biru tua bu. Celananya jeans, sepatu hitam dan membawa tas berwarna hitam juga,” kataku menyecoros.

Aku sengaja agak mendekatkan mulutku ke telinga bu Dyas seperti halnya pak Pedro tadi bercerita ke bu Dyas.

“Aduh bu..Pasti pak Pedro senang mendengar kabar bahagia ini. Saya ngomongnya ke pak Pedro saja ya bu. Kalau ke pak Sammy saya agak segan dan takut. Pak Sammy soalnya pendiam bu. Kalau ke sini saja, pak Sammy jarang banget bercerita ke ibu kan?”

                                             -0-

 

..bersambung