Watashinoie

Watashinoie
Watashinoie

"Aku ingin mengajakmu menikah. Soal Ibumu, tolong pertimbangkan lagi. Mungkin kita bisa membiarkannya tidak ikut serta dalam resepsi. Dengan begitu, kamu tidak akan malu, 'kan?"

Gadis itu terdiam mendengar pernyataan kekasihnya. Dipandanginya taplak meja lusuh yang melapisi meja kaca di depannya. Benaknya berpikir keras, mengambil keputusan besar yang tampak kecil di mata orang lain.

"Tidak, tidak perlu repot. Kalau itu yang kau inginkan, aku akan memilih tidak menikah selamanya. Ya, kalau dengan menikah Ibuku tidak diakui, lebih baik aku tidak pernah melakukannya," ujarnya dengan nada dingin tetapi tegas.

"Maksudku bukan tidak mengakui Ibu, tapi selama prosesi Ibu kita titipkan dulu di panti. Kita taruh Ibu di tempat aman dan nyaman. Aku yakin Ibu pasti betah beberapa hari tinggal disana, nanti setelah selesai acara kita jemput Ibu bersama." Lelaki itu masih membujuk dengan suara lembut.

"Tidak! Tidak usah. Saat ini juga aku sudah tidak berniat menikah. Maafkan aku, mungkin terasa aneh tetapi aku sudah tahu seperti apa pernikahan yang akan kita jalani nanti, dan aku tak sanggup. Jadi, sekali lagi maafkan aku, aku tak ingin menikah denganmu atau dengan siapapun yang tak mengiginkan keberadaan Ibu." Kata yang terucap tetap pelan tetapi menusuk.

Tak pernah ada yang salah, mungkin tepatnya tak perlu ada yang dipersalahkan dengan nasib yang dialami wanita cantik dan lembut  yang saat ini seperti kehilangan senyum. Tak ada lagi gurat tawa yang selalu membingkai wajahnya. Tampak mata nanar dan cemas yang tersorot tetapi ketegaran serta kelegaan yang tak pernah dia tahu datangnya dari mana justru membuatnya menjadi kuat menghadapi situasi dan juga lelaki yang pernah sangat dia cintai.

Lelaki yang pernah dia dambakan untuk menjadi imam serta ayah dari anak-anaknya kelak. Saat ini semua sirna menguap entah kemana, perasaan kaku dan juga tak nyaman lebih mendominasi, ingin segera beranjak dari hadapan lelaki itu, hanya demi kesopanan, ia tak segera pergi. 

Prang!  

Sesuatu yang jatuh dari dalam, entah benda apa itu. Sontak kedua sosok yang sedang duduk terdiam dengan pikiran masing-masing itu terkejut. Sebelum beranjak masuk wanita itu sempat berbalik menghadap lelaki di depannya, bahasa tubuhnya menghalangi pria itu untuk masuk kedalam rumah.

"Biar aku saja, mungkin Ibu menyenggol sesuatu di kamarnya," ujarnya sambil berdiri.

"Mas, aku harap ini terakhir kita berjumpa dan membicarakan semua tentang kita. Maafkan aku mungkin sebaiknya carilah wanita lain untuk menjadi istrimu, aku tak ingin menukar apa pun dengan kebahagiaanku memiliki Ibu, walaupun kondisi Ibu tak seperti Ibu yang lainnya." Sungguh kata perpisahan yang tak pernah terbayangkan untuk diucapkan.

"Maafkan aku, silakan pulang, aku mau melihat Ibu. Terima kasih, Mas." Tegas dan lugas, wanita itu melangkah masuk lalu menutup pintu ruang tamu dengan perlahan, seperti dia menutup pintu hatinya untuk lelaki yang masih terpaku diam bagai patung di teras rumah.

****
Amalia Kartika tumbuh menjadi wanita dewasa dengan segala gerak-gerik yang sedikit kaku, tidak seperti gadis seusianya yang bisa membagi waktu untuk leluasa bermain dengan teman sebayanya. Hampir seluruh waktu selain sekolah di gunakan Amalia untuk mengurus rumah, mengurus kucing kesayangannya, menghabiskan waktu dirumah dengan segala kegiatan rumah tangga terutama mengurus semua keperluan ibu.

Untuk urusan ibu semua menjadi tanggung jawab Amalia, dari membersihkan kamar ibu, menyiapkan pakaian ibu, mengurus menu makanan untuk ibu, memandikan ibu, bahkan menemani ibu duduk sambil membacakannya dongeng, mengajak ibu mengobrol tentang segala hal walaupun ia tahu itu hanyalah rangkaian cerita kosong tanpa arti untuk ibu.

Rutinitas yang sudah puluhan tahun dia lakukan bahkan ia sendiri lupa tepatnya sejak kapan dirinya tak bisa lagi berbagi tawa dengan ibu. Benar-benar hilang dari memori kepalanya kapan ibu menjadi wanita berbeda tidak seperti ibu yang lain.

Tak pernah ada penyesalan karena ia tahu semua harus dilakukan dengan ikhlas tanpa protes bahkan untuk urusan sekolah semua dia lakukan sendiri, menentukan kemana tujuannya sekolahpun dia pikirkan sendiri karena sejak ibu sakit, ayah yang harus lebih giat bekerja mencari uang untuk makan memutuskan untuk pergi menjadi TKI ke luar negeri karena ke sanalah satu-satunya tempat bekerja yang menghasilkan banyak uang semua demi pengobatan ibu. Sejak ayah pergi bekerja, maka semua urusan rumah menjadi tanggung jawabnya.

Dulu sekali, saat dia masih sekolah akan ada jemputan sebulan sekali dari sahabat ayah yang memang diberi tugas untuk mengantar jemput bila Amalia dan ibu pergi kontrol ke rumah sakit khusus. Tetapi sejak Amalia kuliah, ia sudah bisa menyetir mobil semua dia lakukan sendiri, berdua menyusuri jalan padat untuk mengantar ibu kontrol.

Dalam ingatannya ini adalah saat yang paling ditunggu ibu, dia akan memakai pakaian terbagusnya, berdandan lebih cantik dengan polesan lipstik dan bedak. Ibu tampak menjelma menjadi wanita tercantik, sepanjang jalan ibu akan tersenyum sambil menggengam tas kecil yang hanya berisikan saputangan kecil, dan sebungkus kacang goreng kesukaan ibu.

"Ibu suka kacang ini Lia, di mana kau beli?" Pertanyaan yang sama bila ibu makan kacang.

"Itu Lia yang buat. Kalau ibu suka, besok Lia buatin lagi yang banyak, ya, Bu? " jawab Lia sambil tersenyum.

"Sejak kapan kau bisa menyetir, Nak? Kau pinjam mobil siapa? Ibu takut nanti mobil orang hilang kita tak bisa menggantinya, Nak." Lagi-lagi pertanyaan yang sama setiap kali naik mobil bersama Lia.

"Ibu tenang saja, ini mobil Lia. Kemarin dapat undian dari mengumpulkan bungkus indomie," jawab Lia sambil tertawa geli.

"Jangan berbohong, mana ada undian bungkus indomie hadiahnya mobil," ujar ibu sambil tertawa riang.

"Ibu, Lia sayang Ibu, Ibu cantik kalau pakai lipstik warna merah," pujinya sambil melirik ibu disampingnya.

"Aahh kamu bisa saja, Ibu seperti wanita nakal kalau pakai lipstik warna merah, Nak." Ibu tersipu.

"Memangnya Ibu tahu wanita nakal itu kayak apa?" 

"Sudah, Ibu mengantuk, Lia. Nanti bangunkan Ibu kalau sudah sampai, ya, Nak."

Begitulah, bila obat sudah mulai bereaksi maka ibu akan tertidur pulas. Tampak wajah cantiknya yang sudah menua. Ia tahu wajah itu diwariskan padanya, kesabaran itu juga diwariskan kepadanya.

Lia bersyukur, setidaknya hanya penyakit yang diderita ibu yang tidak menurun padanya. Setiap kali mereka keluar, ibu harus meminum obat agar perjalanan mereka bisa lancar. Ibu tak pernah bisa melihat keramaian karena perasaanya akan menjadi gelisah, tak tenang dan ketakutan. Maka untuk menjaga semuanya, Lia akan memberikan ibu obat sebelum pergi.

Begitulah sejak ibu didiagnosa menderita Skizofrenia. Dunianya menjadi porak-poranda, begitu pun dunia Amalia. Semua masa bahagianya dengan ibu dirampas oleh penyakit itu. Lama barulah Lia dan ayah bisa berdamai dengan penyakit ibu sampai Lia benar-benar memahami bagaimana kondisi ibu, dan kemudian diikhlaskannya hidupnya untuk ibu.

Diijinkan ayah untuk pergi bekerja ke luar negeri demi mencukupi kebutuhan berobat ibu. Tiga tahun perjuangan ayah, suatu malam telepon ayah padanya yang mengabarkan bahwa ayah akan menikah dengan sesama pekerja di sana, dengan janji tetap bertanggung jawab atas segala keperluan hidup ibu dan dirinya.

Hancurlah dunia kedua yang dengan susah payah dibangun oleh Amalia. Dia merasa sendiri, hidup berdua dengan ibu yang mengidap sakit jiwa, dengan segala masalahnya. Untungnya dia masih memiliki tante bernama Karin yang menemaninya menjalani kehidupan.

Jauh sebelum ayah meminta ijin untuk menikah lagi, Amalia sering membayangkan tentang kebahagiaan yang kembali bisa dia rasakan dengan utuh, memiliki ayah dan ibu yang menunggunya pulang dari kampus, yang mendampinginya wisuda dan mendampinginya menempuh dunia baru.

Tetapi pupus sudah angan itu, berganti dengan mimpi buruk dan kebekuan hati. Ia mengijinkan ayah untuk memiliki hidup baru, tapi dengan satu syarat jangan pernah kembali pulang dengan membawa keluarganya walau itu hanya untuk melihat dirinya terlebih untuk melihat ibu.

Syarat yang sangat berat untuk ayah, karena ibu dan Amalia adalah alasannya untuk pergi jauh bekerja, tetapi rasa sepi yang sangat itu yang tak bisa ditepis ayah. Maka karena cintanya pula maka ayah dengan berat hati menyanggupi syarat yang diberikan anak tunggalnya itu dengan permohonan pada Amalia untuk menjaga ibu, mengabarkan padanya tentang sesuatu yang sangat tak ingin didengarnya, yaitu kabar duka bila istrinya telah berpulang. Karena bagaimana pun, ayah tak akan pernah menjatuhkan talak pada ibu.

Kondisi yang teramat sulit tapi harus mereka jalani, entah sampai kapan mereka bisa berdamai dengan keadaan. Amalia hanya ingin bersama ibu, membahagiakan ibu, dan merawat ibu dengan kasih yang terbaik. Sejak itu hidupnya hanyalah seputaran rumah dan kampus tak pernah berkeinginan untuk pergi kecuali belanja kebutuhan bulanan, pergi membayar telepon, listrik, dan PAM.

Amalia tak memiliki seorangpun sahabat, hidupnya tertutup. Hanya dengan laptop maka hidupnya sedikit berwarna. Mengasah hobi menulisnya, serta menjadi kolektor buku sebagai pelampiasan hobi dan penghibur yang abadi.

Tiap waktu senggang dia habiskan di lorong toko buku, mencari buku lawas yang menjadi hobinya. Sibuk dengan kuliah yang harus dia selesaikan tepat waktu, yang ingin dia persembahkan untuk ibu.

"Amalia, ini hari apa?" tanya ibu sambil melipat lap makan.

"Hari Rabu, Bu. Ada apa?"

"Ingatkan Ibu bila hari Sabtu, ya, Nak. Karena akan ada arisan rutin di kantor ayahmu."

Sontak Amalia melirik tante Karin yang sedang menyiapkan nasi di piring. Kedipan mata tante Karin bisa menenangkan hati Amalia.

"Iya, Ibu ... sekarang Ibu sarapan dulu lalu minum obat, ya?"

"Ibu bosan minum obat itu, kadang rasanya lengket di tenggorokan, Nak" ujarnya merajuk.

"Kalau Ibu bosan, berati Ibu tidak sayang Lia," balasnya agar ibu mau meminum obatnya.

"Tak ada yang Ibu sayangi selain kamu, Nak. Hanya kamu yang Ibu sayangi."

"Oke, Mbak juga tidak sayang Karin, ya?" sahut Karin manja.

"Hahaha, kamu juga Karin, hanya kalian berdua." 

Lalu mereka tertawa bersama. Ini adalah pagi yang paling membahagiakan bila kondisi ibu sehat optimal dan dia bisa nyambung untuk diajak komunikasi. Bahkan tampak seperti orang yang sedang tidak sakit. Banyak obrolan yang bisa dibahas, dan momen seperti ini dimanfaatkan Amalia dan Karin untuk melakukan hal yang membuat ibu tertawa.

Ibu tak boleh mendengar berita apapun yang membuatnya cemas, maka hiburan televisi yang diseting hanya menampilkan film anak yang bisa membuat ibu tertawa, ceramah agama yang bisa didengar ibu, tayangan ensiklopedia yang menampilkan keindahan laut, gunung dan hutan serta canel berita.

Ibu betah duduk berjam-jam nonton televisi, ibu betah tidak bicara berhari-hari, bahkan ibu betah tidur dengan waktu yang sangat lama, maka tahulah Amalia bila kondisinya seperti itu tandanya ibu sedang berada dalam dunia lain.

Ya, dunia yang hanya dia sendiri yang tahu, dunia yang tak bisa dimasuki oleh siapapun. Di saat seperti itulah Amalia dan tante Karin sangat diperlukan untuk mengawasi gerak-gerik ibu, memberikan perhatian lebih dari biasanya. Tetapi selama ini ibu hanya mampu berdiam diri. Kadang juga tiba-tiba menangis tersedu dengan ocehan yang tak jelas, padahal Amalia sangat ingin tahu apa yang dibicarakan ibu agar dia bisa tahu sedikit petunjuk tentang trauma apa yang menyebabkan ibunya seperti ini.

"Tante, tumben Ibu menyebut Ayah. Apakah Ibu bisa mengingat Ayah?" tanya Amalia pada tante Karin.

"Tante juga kaget, tapi setelah itu Ibumu lupa. Semoga saja dia tak pernah mengingat Ayah, kita bakal bingung mau menjawab apa," jawab tante Karin dengan wajah diliputi kecemasan.

"Kadang Lia kangen Ayah, pengen jumpa Ayah, tapi sudahlah. Ayah memilih kehidupan yang lain."

"Lia, kita harus paham posisi Ayahmu juga sulit, Nak. Kamu harus bisa dewasa. Kasihan dia bila menanggung dosa terus," ucapan bijak tante Karin kadang bisa menengkan hati.

"Toh, Ayahmu tak pernah lalai dari tanggung jawabnya, selalu mengirimkan dana untuk Ibu dan kamu, untuk keperluan rumah ini. Jadi, syukuri saja, ya, Nak. Itu tandanya Ayahmu masih sangat merindukan kalian," tambah tante Karin.

"Justru itu yang aku pikirkan. Ayah pasti sangat sedih bila memikirkan kami di sana, tapi aku tak ingin mempertaruhkan kesehatan Ibu dengan memberi ijin Ayah datang menengok kami di sini." Amalia tersedu sambil mengusap air mata.

Inilah yang dirasakan Amalia, beban yang tak pernah bisa dia luapkan selain pada tante Karin. Beruntung dia ditemani tante Karin yang memilih tidak menikah dan menemaninya hidup di kota ini. Membantunya merawat ibu yang sakit, tak pernah terbayangkan bila ia hidup sendiri. Untuknya tante Karin adalah segalanya setelah ibu.

***
Di kalangan fakultas Komunikasi, Amalia Kartika terkenal sebagai mahasiswi yang pintar, cerdas, mandiri tetapi sangat tertutup. Tak banyak memiliki teman juga tidak menjadi mahasiswi yang aktif dalam kegiatan kampus. Tetapi di kalangan dosen dia sangat terkenal sebagai mahasiswi rajin dengan IPK yang tinggi, sehingga ada beberapa dosen yang sering menawarinya masuk dalam tim penelitian karena Amalia cerdas dan pintar.

Ada juga dosen yang memintanya menjadi asisten untuk mengajar pada mata kuliah tertentu, ini adalah prestasi luar biasa dan juga menjadi hiburan buat Amalia. Tante Karin sangat mendukung kegiatan ini, dia sangat paham bahwa ponakannya yang cantik dan cerdas ini berhak memiliki cita-cita dan mengisi masa mudanya dengan kegiatan positif. Jadilah semua tugas dibagi bersama dengan tante Karin dalam menjaga ibu. Bahkan tak jarang bila ada waktu senggang Amalia dan Tante mengajak ibu pergi sekedar duduk menikmati sore di tepi pantai, ataupun di taman kota tentu saja bila Amalia tidak sibuk.

Tak pernah ada kata lelah bila itu untuk ibu dan tante Karin karena Amalia tahu ia tak akan mampu hidup tanpa dua wanita yang sangat ia sayangi itu.

"Lia, tadi siang ada telpon dari Dokter Rizal dia menanyakanmu. Coba kau telepon balik ya, mungkin ada sesuatu yang penting tentang ibumu," ucap tante Karin.

Mendengar ucapan tante Karin, sontak Amalia terkejut, padahal baru saja ia hendak berbaring di kursi ruang tengah karena seharian sibuk di kampus.
"Baiklah, segera Lia hubungi Dokter Rizal." ujarnya sambil beranjak ke meja telepon jarinya lincah menekan nomer telpon dokter Rizal yang sudah sangat dia hapal.

"Assalamu’alaikum, Dok."

"Wa’alaikumsalam, Lia," ujar pria di seberang sana dengan suara khasnya yang lembut dan berwibawa.

"Maaf, tadi dokter telpon ke rumah, ya? Lia masih di kampus, Dok. Ada kelas, Lia asistenin Bu Lasmi," ujar Lia dengan sopan sedikit menjelaskan keberadaanya tadi siang.

"Wah, hebat Lia sudah jadi asisten dosen, ya? Selamat, ya. Kok saya baru tahu info ini, ya? " canda dokter Rizal sedikit mencairkan suasana.

"Alhamdulillah, Bu Lasmi percaya sama Lia, tapi masih belajar kok, Dok." Suara Lia melirih karena malu akibat pujian dokter Rizal.

"Disyukuri Lia, itu kepercayaan. Kamu hebat bisa menjadi asisten dosen di usia yang sangat muda."

"Ada apa Dokter telepon tadi? Apakah ini soal Ibu?" Ada nada cemas pada suara Lia, apapun yang berhubungan dengan ibu selalu membuatnya cemas dan khawatir.

"Iya Lia, kapan bisa ketemu saya? Karena ada beberapa hal penting yang ingin saya bicarakan, tetapi tidak pada saat jadwal kontrol Ibumu," ucap dokter Rizal.

"Dok, bukan sesuatu hal yang berbahaya, 'kan? Plis, Dok, buat Lia tenang sebelum bertemu Dokter," tutur Lia penuh kecemasan.

"Bukan berbahaya, tetapi ini sangat penting untuk kemajuan terapi Ibu jadi tenang ya kalau kamu sempat malam ini saya tunggu di tempat praktek datang setelah jam 21.00, ya," pinta dokter Rizal yang sedikit membuat Lia tenang.

"Insyaallah Lia datang, Dok. Terima kasih, Dokter."

"Oke, saya tunggu ya, Bu dosen," ujar dokter Rizal sambil berusaha membuat Lia tenang.

"Hahaha belum dosen, Dok, tapi diaminin sajalah. Semoga ucapan Dokter bisa jadi kenyataan," sambut Lia sambil tertawa. Dalam hati, gadis itu menyetujui satu hal, bahwa ia juga menunggu pertemuannya dan ibu dengan dokter Rizal malam nanti.

 

—Bersambung