Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Kasih Ibu Sepanjang Jalan
Bertemu Ibu setelah terpisah 31 jam.

(Jangan dibaca kalau sibuk dan terburu-buru)

Sore itu angin bertiup agak dingin. Langit memang menghalangi cahaya matahari yang hangat. Kucing-kucing berkumpul berharap makanan. 

Dua kucing betina piaraan kami, Pochilavvatisukma dan Garfield makan dengan terburu-buru. Ada seekor kucing betina yang mencoba merebut makanan Pochi. Induk kucing liar ini punya anak tiga yang takut-takut ikut menginvasi. Mereka hanya mengintip dari atas pagar pembatas rumah. 

Dalam kondisi begitu, Pochilavvatisukma sering merasa di bawah tekanan dan makan sedikit, lalu menyingkir ke dalam rumah. Akhirnya si induk kucing dalam foto ini menghabiskannya dengan cepat. 

Selesai makan induk ini ingin mengaso di bawah meja. Pochilavvatisukma muncul dan merasa di atas angin. Ia mengancam dengan langkah dan pandangan. Si induk kucing mundur teratur. Tiba-tiba hujan deras datang tanpa aba-aba. Induk kucing hendak berteduh di bawah meja, tapi ada Pochi yang mengintimidasi. Hujan makin deras. Induk kucing memanjat pagar dalam hujan.

Selembar daun pepaya menaungi pagar, begitu juga lembaran-lembaran daun pepaya yang tumbuh lebih tinggi. Induk kucing berteduh di bawah selembar daun pepaya itu. Kulihat masih aman dan terkendali. Hujan turun lurus, lembaran-lembaran daun pepaya saling melindungi induk kucing dari tetes hujan.

Tapi angin dan hujan makin lebat bersatu serupa headbang,  induk kucing kena tampiasnya. Aku memanggilnya untuk kembali ke dapur dan berteduh di bawah meja. Tapi bagaimana seekor kucing liar menempuh deras hujan untuk mendekati manusia? Apalagi aku kadang memarahi induk kucing itu karena suka merebut jatah makanan. Barangkali ia suudzon ketika kupanggil dan tetap berteduh di situ kendati hujan semakin deras. 

Sekitar dua menit aku memanggil si bungsu dan menceritakan kisah Pochi yang mengancam, induk kucing itu tak nampak lagi di tempatnya. Ke mana ia mencari tempat kering dan hangat? Anak-anaknya pun tak kelihatan, biasanya mereka berkumpul di garasi depan.

Senja tiba. Hujan reda. Induk kucing kembali dan mengeong panjang. Kami menduga ia memanggili anak-anaknya yang tiga ekor. Tak satu pun anak kucing muncul. Tindakan induk kucing membuat Pochi dan Garfield memerhatikan dari jauh. Kami bilang ke dua kucing itu agar mendidik anak-anak kucingnya survival, berguna saat begini. Heuheu...

Hingga malam tiba, induk kucing masih memanggil. Pagi pun, sore juga. Terus saja ia mengeong panjang bikin trenyuh. Sudah dua puluh empat jam sejak ia kehilangan anak kucing. Induk kucing masih mengeong, dan parahnya dua ekor kucing jantan liar menguntitnya.

"Terlalu, klean!" Aku merutuki dua jantan itu sambil mengambil sapu. Keduanya lari menjauh, tapi tetap menunggu segala kemungkinan.
"Kalian tidak lihat apa, ibu ini kehilangan anaknya? Pedekate itu nanti setelah masa menyusui lewat, bro!" Mungkin orang yang tak tahu kronologinya akan heran mendengar ucapanku. Hahaha.

Induk kucing itu akhirnya diberi makan, setelah sebelumnya hanya mendapat sisa makan Pochi dan Garfield. Biarlah untuk menghibur kesedihannya, kataku ke si bungsu. Setelahnya ia mengeong lagi, berjalan ke rumah depan dan dikuntit dua pejantan tak tahu diri. 

Malamnya aku bersiap tidur. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas. Aku dan suamiku baru saja selesai menggawangi Kelas Menulis Online Cerpen. 

Saat memeriksa kunci dan jendela, aku melihat di teras samping ada dua anak kucing mengeong lembut, dan induk kucing yang sibuk mencari cara turun dari tembok pagar. Begitu bertemu anak-anak kucing itu ribut ingin menyusu, sementara induknya masih ingin menjilati mereka. Induk kucing rambahan dan membiarkan anak-anaknya menikmati ASIK, air susu kocheng. 

Wah senangnya, mereka akhirnya bertemu kembali! ❤️

Sayangnya, anak kucing yang seekor lagi tak kembali... ????