Ketika Balita menjadi Kakak

Part I Whole of My Life

Ketika Balita menjadi Kakak

Ketika Balita menjadi Kakak

Sebut saja aku dengan nama Nayaka. Aku lahir dari keluarga yang unik menurut versi diriku. Ayah ibuku bertemu saat satu sama lain sudah tak utuh, yaa.. single mom & single dad. Sebelum menikah dengan ibuku, ayah pernah menikah namun berpisah saat beliau dan mantan istrinya sudah memiliki 5 anak yang hebat. Pun begitu dengan ibuku, hanya saja bedanya ibuku hanya memiliki seorang anak perempuan dari pernikahan sebelumnya. Jadi kalo ada yang tanya aku anak ke berapa dan dari berapa bersaudara, aku cukup bingung untuk menjawab dan mencoba menjelaskannya haha..

Sebelum aku lahir, aku punya seorang kakak lelaki sedarah sekandung. Mungkin bagi banyak orang, memiliki kakak lelaki rasanya seperti memiliki seorang pelindung. Nyatanya, anggapan itu hanya anggapan. Yang terekam oleh ku, Mas Bayu itu adalah kakak yang suka perintah ini-itu, tidak lembut, dan selalu mengeluarkan jurus pamungkasnya ketika tak sepemaham denganku, yaa kalimat "aku ini kakakmu. Hormati aku!" sangat membuatku merasa menjadi seorang adik ternyata harus banyak mengalah. Tak sama seperti yang orang-orang sering bilang. Bahwa, seorang kakaklah yang pasti banyak mengalah.

Belum genap umurku 2 tahun, sosok mahluk kecil yang akan kusebut "Adik" dalam hidupku hadir. Yaa, saat itu aku belum begitu faham dan mengerti apa yang terjadi. Hanya yang ku ingat, ibuku kini memiliki mahluk kecil yang sangat menyita perhatiannya, sampai tak punya waktu lagi denganku. Hingga Ayah dan Mba Retno lah yang menggantikan peran ibuku terhadapku. Mba Retno adalah kakak sekandungku. Setiap pagi, Mba Retno dan Ayah bergantian untuk bantu memandikan aku dan menyiapkan sarapanku.

Suasana pagi dirumah kecil kami tak pernah damai dan selalu ramai. Tangisan bayi, Ibuku yang mulai hectic dengan keadaan, maklum lahiran diusia yang sudah tak lagi muda mungkin membuatnya merasa sedikit kurang nyaman pasca lahiran, Mas Bayu yang selalu berteriak "dasi dan bukuku dimana?", Ayah yang sibuk menyiapkan sarapan sambil siap-siap kerja kantoran, serta Mba Retno yang kebingungan mencari dasi dan buku Mas Bayu, sementara diapun harus siap-siap, terlebih lagi harus memandikan aku dulu sebelum sebelum dia berangkat ke sekolah.

Seketika rumah menjadi hening, saat Ayah, Mba Retno dan Mas Bayu keluar rumah untuk kepentingan masing-masing. Aku yang saat itu masih umur 2 tahun belum memiliki kesibukan apapun selain nonton tv dan bermain. Lego adalah salah satu mainan favoriteku saat itu. Yaa, aku senang bermain Lego karna aku bisa create bentuk apapun pada Lego dengan imajinasiku.

Terkadang, aku butuh bantuan orang dewasa untuk melepaskan Legoku yang menempel rekat dengan Lego lain ketika bermain. Karena tak ada orang dewasa selain ibu dirumah kala itu, aku mencoba meminta bantuan ibu. Namun, jawaban sama yang selalu terlontar adalah "ssttt... jangan berisik dong nay!! Adikmu ini baru tidur, udah main yang lain aja ibu susah tangannya lagi ngelonin adik. Tutup pintu kamar ibu yaa kalo keluar, biar gak banyak nyamuk. Kasihan adik." . Hmmm, tak adil rasanya ketika aku dikondisikan Mas Bayu harus mengalah karena dia kakak, tapi aku tak bisa mengkondisikan bayi kecil itu untuk mengalah karena aku kakaknya, gumamku.

 

Part I Whole of My Life