Paradoxurus Hermaphroditus

Paradoxurus Hermaphroditus
Pict by google

*Paradoxurus hermaphroditus*

Aku berjalan dengan malas. Mendekati biji-biji kopi yang telah kalian sediakan. Sebenarnya aku lebih suka berburu sendiri. Menikmati ia berbunga saat musim itu tiba, menghirup dalam-dalam wanginya yang mengalahkan semua jenis bunga di pegunungan atau hutan.

Kemudian bunga-bunga itu akan menjadi buah-buah kecil berwarna hijau yang bergerombol di setiap ketiak cabangnya. Saat sudah tua, warna yang tadi hijau akan berubah menjadi merah kehitaman. Itu artinya telah tiba masa untuk menikmatinya penuh suka cita.

Bukan seperti ini, biji kopi ada di mana-mana, tapi terkungkung dalam penangkaran. Walau banyak biji kopi di depan mata, tetap harus kupilah dengan penuh kejelian.

Aku mengambil sebuah biji kopi, "Ih, jelek!" seruku, lantas kulempar.

Kuambil biji yang lain, "Aduh, baunya tak asyik!" Lalu kubuang.

Kucoba pilih lagi, "Ya, belum matang sempurna." Kuletakkan di lantai menelan kekecewaan.

Kalian bilang aku pemilih, dan itu benar. Aku hanya mau mengonsumsi biji kopi pilihan. Hanya yang paling bagus, paling berkualitas dan teristimewa yang berhak kutelan.

Kucoba mengendus lagi, "Nah, ini baru enak."

Setelah perjuangan mengobrak-abrik tumpukan biji kopi, akhirnya kutemukan yang istimewa itu. Kumasukkan ke mulutku, melewati kerongkongan, terjatuh di lambungku yang cekung, kulitnya berceceran di antara bakteri dan enzim, bijinya mengalami proses fermentasi secara alami di dalam sana, untuk menghasilkan aroma dan rasa yang sempurna.

Terkadang aku heran, kalian menyediakan banyak biji kopi yang sudah disortir sedemikian rupa. Tapi nyatanya, dari sekian banyak biji yang kalian anggap bagus, hanya sebagian kecil saja yang menurutku layak kumakan.

"Sst, luwak di sebelah sana sepertinya bersiap mengeluarkan kotoran." Di antara kalian ada yang berbisik sambil mengarahkan telunjuk ke arahku. 

Aku menghembuskan napas jenuh. Bahkan saat buang hajat pun, kalian menungguiku. Baik dengan cara diam-diam alias mengintip atau dengan cara terang-terangan berdiri congkak di dekatku.

"Nah, kan. Benar apa kubilang!" serunya senang, demi melihatku menuntaskan hajat.

Aku mendengus, "Kalian ini, melihat kotoranku, girang sekali seolah mendapat emas. Ini kotoran lho, kotoran." Aku mengibaskan ekor, kemudian pergi meninggalkan kalian yang cepat-cepat mengamankan kotoranku yang dipenuhi biji kopi utuh.

Di titik ini, aku bingung, harus jumawa atau tinggi hati. Sebab tak ada hewan lain yang bahkan kotorannya dijadikan rebutan banyak orang, juga dinikmati orang kebanyakan. Ditambah dengan harga fantastis pula. Nikmat mana lagi yang kudustakan?

Kotoranku memang dipenuhi biji kopi utuh. Karena sistem pencernaanku tidak bisa mengurainya. 

"Hei, ada luwak mati di sini!" salah satu dari kalian berteriak.

"Di sini juga mati satu!" seru yang lain dari sudut berbeda.

Aku melingkruk sambil menggumam, "Bagaimana kami bisa bertahan hidup, jika hanya dan terus saja kalian cekoki dengan biji kopi."

Di alam liar, aku dan teman-temanku hanya makan biji kopi sesekali. Sesuka hati kami, jika kami ingin saja. 

Setelah kalian menangkapi kami, kalian hanya menyediakan biji kopi di mana-mana dengan sedikit makanan selingan berupa buah-buahan. Kalian tahu tidak? Jika dikalkulasikan, dalam satu hari, kalian telah memaksaku untuk memakan biji kopi setara dengan 120 cangkir espresso untuk manusia. Mengerikan bukan?

Hal itu menyebabkan, kandungan kafein dalam tubuhku sangat tinggi. Untuk menetralisirnya, aku harus menggunakan kalsium yang berasal dari struktur tulangku, dan itu membuatku menjadi lemah, serta menimbulkan malapetaka bagi sistem pencernaan, hingga akhirnya berakibat fatal.

Di titik ini, aku jadi sedih. Lama kelamaan, aku yang bernama latin Paradoxurus Hermaphroditus, yang kalian sebut luwak, akan benar-benar punah. Lalu cucu-cucu kalian kelak, hanya bisa mengenalku dari bekas bungkus kopi luwak palsu.

-kumala-