Bermain Mahyong

Bermain Mahyong

Pernahkah merasa bahwa doa Anda dikabulkan Tuhan? Sekarang saya sedang merasakan perasaan itu. Sejak peristiwa dijemput di bandara, hubungan saya jadi semakin dekat dengan Papa. Saya sering iseng menggodanya dengan cara memeluk dari belakang lalu menciumnya sambil mengatakan ‘I love you, Papa’. Sehabis mencium, saya perhatikan muka Papa yang memerah karena malu. Dan entah kenapa saya selalu menikmati situasi itu. Untunglah Papa tidak pernah melarang atau menolak setiap kali saya menciumnya.

Tapi rupanya lama-lama Papa menjadi terbiasa dicium oleh anaknya. Mukanya tidak lagi memerah, bahkan belakangan sering pula dia yang tiba-tiba memeluk saya sambil berkata, “Yoyo, temenin Papa makan sate kambing, yuk?”

“Makan sate kambing di mana, Pa?”

“Ada langganan Papa di Roxy. Satenya empuk dan enak.”

“Berdua aja?” tanya saya menegaskan.

“Kapan-kapan kita pergi berempat. Tapi sekarang Papa mau pergi berdua aja sama kamu.”

Tentu saja saya bahagia sekali dengan ajakan itu. Mama dan A Koh pun terlihat heran melihat hubungan kami berdua semakin mesra. Minimal seminggu sekali, Papa suka mengajak saya ke luar rumah. Kadang cuma makan es krim, nonton film atau sekedar berjalan-jalan ke daerah kota seperti Glodok, Pasar Asem Reges dan Kebon Jeruk  untuk mencari sparepart mobil, motor dan sepeda untuk kelengkapan bengkel-bengkelnya. 

Saya tidak peduli mau diajak ke mana atau melakukan apa. Pokoknya kegiatan bersama Papa buat saya adalah quality time yang saya rindukan sejak kecil dulu. Sering saya merasa bahwa apa yang dilakukan Papa sepertinya hendak mengganti apa yang dulu tidak dia lakukan pada anak perempuannya ini. Mungkin beginilah cara Papa menebus apa yang seharusnya diberikannya dulu.

Suatu malam, saya menemani Papa berkunjung ke rumah tempat kelompoknya berkumpul. Sesampainya di sana, tiga orang orang yang umurnya sebaya dengan Papa menyambut kedatangan kami dengan hangat.

“Haiya, apa kabar, Pak Yo? You orang sibuk, ya? Kalau datang selalu paling telat,” sindir seseorang.

“Maap teman-teman. Saya kan harus menunggu gadis cantik ini dandan dulu,” jawab Papa.

“Siapa yang Pak Yo bawa, nih? Kok cantik amat?” tanya salah seorang.

“Kalian jangan coba-coba menggoda dia, ya! Ini pacar saya yang baru,” kata Papa bercanda sambil merangkul dan mencium pipi saya sebelum mengenalkan anaknya pada semua yang hadir.

“Wah, anak Pak Yo sudah besar begini kok baru sekarang dibawa? Ayo silakan duduk,” kata seseorang yang belakangan saya tau namanya Pak Lie. Rupanya Pak Lie adalah pemilik rumah tersebut. Sedangkan dua orang yang lain namanya Pak Wong dan Pak Kim.

“Yoyo, kamu mau minum apa?” tanya Pak Lie.

“Air putih saja, Om,” sahut saya lalu menempatkan diri di sebelah Papa.

Seorang pembantu mengeluarkan minuman dan camilan untuk kami semua.

“Okay, makanan dan minuman sudah lengkap, mari kita main. Yes?” teriak Pak Lie mengangkat tangannya dengan telapak terkepal.

“Yes! Main! Main!! Main!!! YESS!!!” sahut yang lain berbarengan, semuanya juga mengangkat tangan dengan telapak terkepal di udara persis seperti gerakan Pak Lie barusan. Geli juga saya melihat kelompok orang-orang tua itu punya yell segala.

Tidak lama kemudian ke empat orang itu mengelilingi sebuah meja dan mengeluarkan sebuah alat permainan. Rupanya ini kelompok Papa bermain mahyong. A Koh memang pernah cerita bahwa Papa punya kelompok yang kegiatannya spesial bermain mahyong.

Saya menarik bangku dan duduk menggelendot di sebelah Papa. Kepala saya rebahkan di pundaknya sementara Papa mulai membagi-bagikan kepingan Mahyong ke semua orang.

Melihat kelakuan saya, Pak Lie langsung komentar, “Hadoh! Ini Yoyo sudah besar tapi masih kolokan aja sama Papanya?”

“Iya nih. Kalau orang yang nggak kenal pasti nyangkanya kalian lagi pacaran,” Pak Kim ikut menimbrung.

“Dia memang bukan cuma Papa saya. Dia juga pacar saya.” Dengan spontan saya menyambung becandaan tersebut seraya merangkul dan mencium Papa.

Semua teman Papa terkesima melihat kedekatan kami berdua. Geli juga saya melihat paras mereka yang terbengong-bengong melihat kemesraan kami.

“Pak Yo, kasih tau gimana caranya bisa dekat sama Yoyo? Anak saya boro-boro diajak pergi, diajak ngomong aja mereka udah males-malesan jawabnya,” celetuk Pak Kim langsung curhat.

“Iya, Pak Yo. Anak saya mau ngomong sama Bapaknya cuma kalo minta uang. Kasih tau dong apa resepnya biar anak saya bisa seperti Yoyo,” kata Pak Wong tidak mau kalah.

Papa tersenyum lalu berkata pada mereka, “Caranya gampang. kalian serius mau tau rahasianya?”

“Mauuuu…” Serempak mereka menjawab.

Dengan gaya jual mahal, Papa tidak segera menjawab, dia berakting seakan sedang berpikir lalu berkata lagi, “Saya membelikan mobil mewah untuk dipakai Yoyo sehari-hari. Selain itu, saya juga membelikan dia perhiasan, tas mahal, sepatu, apartemen, jet ski dan deposito yang jumlahnya tidak bisa dia habiskan saking besarnya.”

“Uuuuuuh…!!!” Semua teman Papa seperti paduan suara mencemooh omongan Papa.

“Ayo dong, Pak Yo. Ceritakan dong. Kami kan juga kepingin dekat sama anak-anak kami,” kata Pak Wong lagi.

“Kalian mau konsultasi keluarga apa main mahyong? Kita main, yes?” Seperti Pak Lie tadi, Papa bertanya sambil mengepalkan tangannya ke udara.

“Yes. Main! Main!! Main!!! YES!!!” Semua menyahut sambil melakukan gerakan yang sama, mengepalkan tangan dan melakukan gerakan meninju ke atas. Saya kembali tidak tahan menahan tawa melihat keseruan orang-orang tua ini. 

Mahyong adalah permainan tradisional Cina jaman dulu. Konon permainan ini sudah ditemukan sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Dulu permainan ini adalah kegiatan yang bermartabat karena membutuhkan strategi, kecakapan, ketangkasan berpikir dan menjadi sarana pertandingan kecerdasan. Hanya kalangan istana dan bangsawanlah yang biasanya melakukan kegiatan intelektual ini.

Belakangan permainan mahyong menjadi merakyat karena konon Kong Hu chu menggunakan daya tarik permainan ini sebagai strategi untuk menyebarkan agamanya. Sejak saat itu, di mana-mana orang bermain mahyong. Begitu digandrunginya permainan ini, sampai-sampai mahyong mejadi sangat terkenal, bukan saja di daratan Cina tapi juga merambah sampai ke Korea, Jepang dan akhirnya sampai mendunia.

Belakangan, permainan ini tiba-tiba disalahgunakan menjadi ajang permainan judi. Bahkan sekarang ini, di internet kita bisa menemukan mahyong dimainkan sebagai permainan judi on line.

Untungnya, kelompok Papa bukan sedang main judi. Mereka memainkan permainan mahyong yang asli yaitu adu kecerdasan dan ketangkasan berstrategi. Sambil bermain, Papa menerangkan ke saya cara memainkan permainan itu.

Mahyong bentuknya berupa kepingan menyerupai kartu domino tebal yang terbuat dari plastik. Semua kepingan tersebut dibagi dalam 3 bagian, yaitu Bing, Tiaw dan Wan. Di dalam kepingan tersebut ada gambar berbagai macam bunga yang semuanya diberi nomor. Kepingan disusun dan dikumpulkan oleh setiap pemain seperti orang sedang bermain scrabble. Dan setiap pemain harus menyusun 4 set yang sesuai untuk memenangkan permainan ini. Terus terang saya sendiri tidak begitu mengerti secara rinci karena cara memainkannya terlalu rumit dan ada berbagai versi.

Keempat orang tua ini sangat serius bermain. Kening mereka tampak berkerut, nampaknya semua mengerahkan seluruh kecerdasannya untuk memenangkan permainan tersebut. Sementara saya yang mulai bosan tanpa terasa sudah tertidur  menyender di pundak Papa.

Jam 1 malam, kami baru sampai di rumah. Mama, A Koh, Cindy dan mbaknya Cindy semua sedang menginap di rumah Oma. Jadi di rumah hanya ada Papa dan saya.

“Papa mau makan?” tanya saya padanya yang sejak masuk rumah langsung bengong di kursi malas.

“Nggak usah, Yo.”

“Mau dibikinin kopi?” tanya saya lagi.

“Nggak, Yo. Papa mau rebahan aja sebentar.”

“Papa nggak apa-apa? Papa nggak sakit, kan?” tanya saya melihat dia terlihat lemas.

“Eggak apa-apa. Cuma rasanya agak mual aja. Kayak mau muntah.”

“Oh, mungkin masuk angin. Yoyo bikinin teh tawar ya, biar mualnya berkurang.”

Tanpa menunggu jawaban, saya langsung menuju dapur untuk membuatkannya teh. Namun tiba-tiba Papa melompat dari kursi malas dan berlari ke arah washtafel.

“Hueeeek….!!!!” Papa muntah.

Saya menghampiri dan memijit-mijit punggung dan leher supaya muntahnya ke luar semua. Biasanya kalo semua isi perut dikeluarkan, kita akan mejadi lebih lega. Soal perut kosong nanti gampang untuk diisi kembali.

“Hueeeek…!!!” Kembali Papa muntah dengan hebat dan kali ini banyak sekali sepertinya seluruh isi perutnya langsung pindah ke washtafel.

Sehabis minum teh pahit, saya baluri punggung dan dadanya dengan minyak kayu putih. Sementara Papa sibuk menyalakan kran air untuk membersihkan bekas muntahnya di washtafel.

“Papa!!!!!” Saya berteriak kaget.

“Kenapa, Yo?”

“Itu ada darahnya, Pa. Muntah Papa bercampur darah,” kata saya dengan suara kuatir.

Papa melihat ke arah washtafel namun dengan gerakan cepat dia buru-buru menyiram cairan berwarna merah itu ke dalam lubang air, “Bukan darah, Yo. Mungkin tadi kue merah yang disuguhkan, Pak Lie.”

“Papa yakin bukan darah? Papa nggak boleh bohong!” pekik saya.

“Papa nggak bohong. Itu pasti sisa kue merah yang tadi kita makan.”

“Hueeeek…!!!” Baru saja menyelesaikan kalimatnya, Papa muntah lagi. Karena perutnya sudah kosong, yang keluar hanya reak yang berasal dari asam lambung dengan sedikit cairan yang kali ini saya sangat yakini adalah darah.

“Papa itu darah, Pa.  Ayo sekarang kita ke rumah sakit aja, Pa,” kata saya semakin panik.

“Nggak usah, Yo. Darahnya sedikit kok. Paling itu cuma iritasi di tenggorokan Papa aja,” sahut yang muntah dengan nada yakin.

“Papa selain mual rasanya gimana? Pusing nggak? Sakit di dada atau leher nggak?” serang saya lagi bertubi-tubi.

“Nggak merasa apa-apa. Mualnya juga udah jauh berkurang,” jawab yang ditanya.

“Okay, sekarang Papa berbaring aja dulu. Kalau muntah lagi, kita ke rumah sakit.”

“Ngapain ke rumah sakit? Orang Papa nggak apa-apa kok,” sahut Papa ngeyel.

“Hueeeek…!!!!” Papa muntah lagi untuk ke sekian kalinya. Dan kali ini darah segar ke luar dengan derasnya.

“Papaaaaaa…!!!!!” Saya menangis kebingungan karena tidak tau harus melakukan apa.

“Hueeeeek…!!!” Papa muntah kembali dan sekarang washtafel dipenuhi dengan darah segar. Begitu banyaknya darah Papa yang ke luar sehingga washtafel itu tak sanggup menampungnya dan darah Papa pun meluap membanjiri lantai.

“Papaaaaaaa……!!!” teriak saya histeris.

Dengan secepat kilat saya menelpon Mama dan A Koh yang sedang berada di rumah Oma. Untunglah A Koh mempunyai kenalan di perusahaan jasa ambulans. Tanpa membuang waktu lama, kami langsung membawa Papa ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jalan Diponegoro.

Bersambung...