Syarat dan Ketentuan Berlaku

Syarat dan Ketentuan Berlaku

Aku terkantuk-kantuk di warung. Sampai siang ini sepi belum ada yang berkunjung. Kedua jempolku memencet-mencet layar ponsel, memasukkan angka-angka di kolom pengeluaran. Kolom penerimaan belum kuisi, masih kosong hari ini. Kemaren lumayan, ada teman yang datang nglarisi. 


Yang justru berkunjung siang ini adalah angin sepoi-sepoi. Membuat mataku makin beraat. Kusandarkan kepala ke rak gelas di depanku duduk. Sempat kucek jam di ponsel: 15:30. Fifteen minutes nap should be harmless.


Belum sepuluh detik memejamkan mata, aku terbangun kaget, dan kubuka mata.
"Aduh, apa nih bikin silau," pikirku. Kembali kupejamkan mata, lalu perlahan kubuka mata, mengintip. Cahaya yang bikin silau sudah meredup.


"Apa ini?" gumamku keheranan melihat tangan kananku ternyata memegang sebuah kartu berwarna putih berkilau. Ukuran dan bentuknya seperti... kartu ATM?


"Selamat datang. Selamat Anda mendapatkan kesempatan menggunakan kartu ATM istimewa ini" demikian suara perempuan menyapaku. Aku bingung, aku ada di mana? Mana mbaknya yang bicara tadi. Tidak ada siapa di sini.


Perasaan tadi aku duduk di depan rak gelas, sambil memasukkan catatan keuangan ke aplikasi di ponsel. Kini aku berdiri di depan sebuah mesin ATM. Mesin ini tanpa tulisan apapun yang menandakan bank pemiliknya. Hanya ada logo burung merpati dengan paruh menggigit setangkai daun. Semuanya berwarna putih. Lho, bajuku berubah jadi berwarna putih juga.


"Silakan masukkan kartu ke dalam mesin dan sebutkan permintaan Anda. Permintaan akan diberikan jika sesuai syarat dan ketentuan berlaku," suara perempuan itu kembali terdengar.


"Apaan sih, ini?" gumamku. Ada yang nge-prank aku ya? Tapi hari ini bukan April Mop, kan?"


"Silakan masukkan kartu dan sebutkan permintaan Anda." Suara mbaknya kembali terdengar.


"Saya minta ada banyak orang mampir di warung saya," ucapku sambil memasukkan kartu ATM ke mesin.. Yah, lumayan kan buat uang masuk hari ini.


"Maaf, orang itu bukan barang. Sebutkan barang yang Anda minta."


Lho, tadi hanya bilang permintaan. Ternyata harus berupa barang, to? Bilang kek dari tadi.


"Saya minta cat akrilik terbaik buat anak saya," kataku ingat pengen belikan ini buat yang hobi oret-oret.


"Maaf, barang yang diminta harus untuk kebutuhan diri sendiri, bukan untuk orang lain."


"Hadoh! Gimana, sih? Ya sudah, aku minta... aku minta mbok emban buatku, buat mijet buat nglulurin, buat bikinin teh anget."


"Maaf, tadi sudah disampaikan, orang bukan barang."


"Aku minta uang saja deh. Uang itu barang, kan?" aku mulai kesal.


"Maaf, uang untuk beli apa?"


"Ih, ya terserah akulah."


"Maaf, khusus untuk uang, bisa diberikan asal jelas peruntukannya."


"Bu-at be-li ti-ket lang-gan-an be-re-nang dan pa-kai sau-na," aku menjelaskan dengan melambatkan ucapanku.


"I-tu ti-dak se-su-ai sya-rat dan ke-ten_tu-an," jawab mbaknya dengan ucapan yang lambat juga.

"Ya dah. Aku minta mikser saja. Mikserku kurang powerful buat ngadon roti," aku mulai tertantang menyebutkan barang yang kubutuhkan. Lumayan banget nih, kalo beneran dapat.


"Jika Anda sudah memiliki barang tersebut, Anda tidak bisa meminta jenis barang yang sama."


"Walah! Repotnya!" ujarku sambil memonyong-monyongkan bibir. Kesel!


"Silakan sebutkan barang permintaan Anda, yang memang Anda butuhkan saat ini, yang jenisnya belum pernah Anda miliki," suara perempuan itu kembali terdengar. 

Sebenernya suara mbaknya lumayan empuk, cuman karena dia nyebelin, aku batal memuji suaranya.


"Waktu Anda tinggal setengah menit," sambung mbaknya.


"Lho? Ada batas waktunya, to? Kok ga bilang dari tadi, sih? Ya dah. Aku minta apa ya? Oya... penggilingan mi saja. Aku belum pernah punya tuh," ujarku gembira bisa nemuin barang yang benar-benar kubutuhkan saat ini.


Cetakan mi ada yang manual, ada pula yang model mesin sederhana, dan tentu ada yang canggih. Aku kemaren bikin mi kuiris-iris karena ga punya cetakan. Mi-nya jadi gendut-gendut dan ga seragam.


"Maaf, waktu Anda sudah habis. Jika Anda belum beruntung, nantikan kesempatan seperti ini satu dasa warsa berikutnya.


"Ih, mbaknya ga niat ngasi, ya?" aku ngomel.


"Terima kasih telah menyebutkan barang yang Anda butuhkan. Sebenarnya syarat dan ketentuan yang berlaku sudah dikirimkan via chat WA. Jika pemandu Anda ngeselin, berarti itu adalah refleksi diri Anda karena kurang tidur, kurang piknik, atau kurang hiburan."


Aku sedang mencerna kata-kata itu, tiba-tiba...


ZAAAPP!!!


"Aduh!"


Kaget aku. Kepalaku kejedot rak di depanku. Secara reflek kuraih ponsel yang kuselipkan di antara gelas-gelas yang tengkurap. 


Pukul 15:30.


Lho? Bukannya aku tadi tertidur dan bermimpi? Kok masih waktu yang sama?
Lalu kulihat di belakang tempat ponsel kutaruh tadi, ada sesuatu berwarna putih berkilau. Itu kartu ATM yang tadi, bukan? Tetapi dalam sepersekian detik, kartu tersebut lenyap dan sirna, sebelum kuapa-apain.


Walah! Apaan sih ini? Sudah, ah. Sudah waktunya beres-beres dan tutup warung. Mungkin benar aku kurang tidur, piknik dan hiburan. Masak nulis cerita beginian. Hahaha. (rase)