Ke Baduy

Jalan-jalan ke tanah leluhur masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten.

Ke Baduy
This image was originally posted to Flickr by paulzpicz at https://flickr.com/photos/23477176@N03/5217275080
"Dari seribu lebih titik longsor di Kabupaten Lebak, Baduy sama sekali nggak kena," temanku Lody menjelaskan.
 
Longsor yang disebut Lody adalah kejadian bencana longsor yang terjadi di Kabupaten Lebak, Banten—dan Jasinga, Bogor—pada subuh 1 Januari 2020. Cukup mencengangkan, bahwa tanah Baduy bisa selamat dari kejadian bencana yang mengerikan tersebut.
 
Sama mencengangkannya adalah, selama pandemi covid-19 melanda, sampai dengan awal Juli 2021, satu setengah tahun sejak Indonesia dilibas pandemi ini, kasus covid-19 yang terjadi di lingkungan masyarakat Baduy tingkatnya 0%. Nihil adanya. Padahal, Kabupaten Lebak di mana Baduy berada merupakan daerah merah. Hal itu dibuktikan melalui uji antigen dan PCR di antara masyarakat Baduy, yang dilakukan oleh Puskesmas Cisimeut di Kabupaten Lebak. Sementara, di banyak negara lain masyarakat indigenous sangat terdampak berat.
 
Bagaimana bisa? Sederhana saja. Karena, masyarakat Baduy adalah kelompok masyarakat yang sangat disiplin dan taat dalam mematuhi imbauan para tetua adatnya. Larangan dari tetua untuk tidak pergi dan berkegiatan di luar daerah selama pandemi, betul-betul dipanuti.
 
Baduy memang kelompok masyarakat yang selalu setia pada aturan adatnya, meski juga tak berkeras menolak perkembangan jaman. Sampai pada takaran tertentu, tentu saja. Itu sebab mengapa sampai sekarang mereka masih bisa hidup dengan cara dan aturan mereka sendiri. Mereka, misalnya, tak mengharamkan diri untuk pergi ke kota besar macam Jakarta, tapi tak berniat untuk hidup di situ.
 
Agama yang mereka anut merupakan agama yang diturunkan dari leluhur mereka sendiri, Sunda Wiwitan namanya. Mereka juga masih setia menjalankan sistem tatanan pemerintahan tradisionalnya, tapi mengakui keberadaan pemerintahan negara. Sejak dari masa Kesultanan Banten sampai dengan NKRI. Secara materiel, pengakuan ini mereka lakukan dengan mempersembahkan hasil panen ke pemerintah daerah setempat
 
Kelompok masyatakat khas ini lebih suka menyebut diri mereka sendiri sebagai Urang Kanekes atau Orang Kanekes. Baduy adalah nama yang diberikan oleh para peneliti Belanda, yang menganggap masyarakat Sunda Banten ini mempunyai kemiripan tertentu dengan masyarakat Bedouin di Arab.
 
Masyarakat Baduy terdiri dari tiga kelompok yang ‘tersusun’ menjadi tiga lapis. Baduy Dangka, Baduy Luar, dan Baduy Dalam. Lapisan yang begini inilah yang menjadi penjaga dari keutuhan etnis ini. Membuat mereka memiliki saringan untuk menahan masuknya pengaruh luar agar tak terlalu banyak.
 
Baduy Dangka sebagai lapis terluar adalah mereka yang hidup diluar tanah adat, serta tak lagi menjalani aturan agama Sunda Wiwitan. Sudah mengenyam pendidikan moderen, juga sudah melek teknologi. Boleh berpakaian secara bebas. Menyokong hidup dengan menjadi pemandu wisata, membuka tempat makan, menjual cendera mata, dan lainnya.
 
Lapis berikut adalah Baduy Luar. Hidup di tanah adat dan masih tetap menjunjung agama Sunda Wiwitan, meski sudah melek teknologi dan pendidikan. Berpakaian serba hitam, dengan ikat kepala batik Baduy biru yang terkenal itu. Mata pencaharian utamanya adalah bertani dan berternak, tapi juga sedikit berdagang. Yang bahkan mereka lakukan sendiri sampai ke ibu kota Jakarta.
 
Terakhir atau lapisan yang terdalam adalah Baduy Dalam. Tinggal lebih jauh lagi di pelosok tanah adat, dan masih sangat kuat dalam menjalankan ajaran agama Sunda Wiwitan. Baduy Dalam dianggap memiliki kedekatan dengan leluhur. Sehari-harinya mereka berpakaian dan berikat kepala putih, tanpa alas kaki. Hidup lebih condong apa adanya, menyelaraskan diri dengan alam. Tak mengenal pendidikan moderen, apalagi teknologi. Mata pencahariannya bertani dan berternak.
 
Dengan adanya Baduy Dangka dan Baduy Luar, Baduy Dalam menjadi terlindungi. Dengan demikian, mereka bisa terus hidup dengan caranya, dan tetap menjaga kemurnian adatnya sampai sekarang.
 
Sebelum pandemi, wisata ke Baduy ramai dilakukan orang. Lokal dan mancanegara. Menjadi wisata favorit. Dengan berada di sana, pengunjung bisa melihat secara langsung kehidupan masyarakat Baduy yang masih selaras dengan alam dan lingkungannya. Kalau mau, bisa ikut pula merasakan kehidupan dan keseharian masyarakat Baduy. Tentunya, dengan tetap mengikuti peraturan-peraturan adat setempat. Misalnya, mandi di kali tanpa memakai sabun karena dilarang. Dan aturan-aturan lainnya, yang sebenarnya merupakan pengejawantahan atas sikap hidup yang menyelaraskan diri dengan alam lingkungan. Termasuk juga adalah, tak membuat foto orang-orang Baduy sebelum minta izin.
 
Khusus Baduy Dalam, ada waktu-waktu tertentu di mana mereka menutup diri dari orang luar. Tepatnya, pada bulan 10, 11, dan 12 di kalender Baduy. Kalau merujuk ke kalender internasional, jatuh sekitar bulan-bulan di awal tahun. Tiga bulan itu disebut sebagai bulan Kawalu atau bulan larangan. Merupakan saat bagi masyarakat Baduy untuk menjalankan ritual keagamaannya. Di luar bulan-bulan itu, pengunjung bebas bertandang.
 
Pada saat yang sama, Baduy Luar sebetulnya juga menjalankan ritual serupa. Namun, mereka tetap membuka diri. Di Baduy Luar ini juga pengunjung selalu bebas menginap, sementara di Baduy Dalam terlarang. Yang terakhir ini bahkan menutup diri dari kunjungan wisatawan mancanegara. Sikap yang sudah lama mereka praktekan bahkan sejak jaman penjajahan Belanda.
 
Tanah Baduy menjadi tujuan wisata favorit sejak tersentuh oleh kemajuan pembangunan. Pembangunan yang membuat acara jalan-jalan ke Baduy menjadi kegiatan yang mudah dinikmati. Sehingga, perjalanan dapat dilakukan kapan saja. Beberapa hari di akhir minggu sudah cukup untuk melakukan perjalanan pendek dan singkat namun mengesankan ke sana.
 
Dahulu, perjalanan ke Baduy adalah perjalanan panjang penuh tantangan. Dilakukan dengan kaki kami sendiri, dengan menempuh hutan dan bukit-bukit. Di musim penghujan, jalan setapaknya yang berupa tanah merah, licin adanya. Kala musim durian, harus lebih waspada lagi. Ingat peribahasa "bagai mendapat durian runtuh"? Peribahasa ini artinya memperoleh rezeki yang tak disangka-sangka. Namun, dijamin kamu takkan mau kalau benar-benar tertimpa buah durian di Baduy. Karena, jatuhnya dari pohon-pohonnya yang tinggi selalu dengan kecepatan yang maksimal, akibat tertarik oleh gravitasi bumi.
 
Dulu itu, kami akan menunggu waktu yang pas untuk memasuki area Baduy Dalam supaya bisa menginap di sana. Kami akan mengatur waktu agar tiba di area Baduy Dalam setelah lewat jam 5 sore. Apabila kami memasuki desa-desa Baduy Dalam sebelum jam tersebut, pemuka adat akan menyuruh, atau mempersilahkan, kami untuk melanjutakn perjalanan. Bila tiba sesudah lewat jam tersebut, kami akan dipersilahkan menginap. Karena, mereka percaya tak baik untuk melakukan perjalanan di malam hari.
 
Kalau sekarang perjalanan ke Baduy cukup dengan membawa one-day-pack alias ransel kecil, dulu kami menggotong ‘lemari’. Ransel besar yang entah beberapa belas atau puluh kilogram beratnya, yang saat digendong tingginya akan melewati kepala kita. Selain pakaian, kami harus juga membawa perlengkapan lain termasuk peralatan masak dan kompor.
 
Dalam perjalanan ke Baduy yang demikian, bila menemukan sumber air atau kali kecil yang airnya jernih dan bening, kami akan beristirahat. Peralatan masak pun dikeluarkan. Ada yang cukup dengan memasak air untuk minum kopi dan teh. Tapi, ada yang tak ragu untuk memasak makanan berat.
 
Di tengah kali kecil, teman saya si Budi mendapatkan posisi yang sangat enak. Di antara aliran air yang segar itu, ia menemukan bongkahan batu yang mampu menampung tubuhnya yang tinggi besar, serta ranselnya yang juga super besar. Dikeluarkannnya peralatan masaknya. Tak tanggung-tanggung, dimasaknya nasi.
 
Sementara, kami yang lain yang di pinggir kali, cukup puas santai-santai menyesap teh atau kopi, dan menyemil kudapan. Ah, saya ingat, salah satu kudapan favorit kami saat itu adalah biskuit merek selamat. Berbentuk persegi berwarna coklat, dua keping yang bertangkup dengan coklat di antaranya. Sambil menikmati biskuit yang kini sudah tak lagi dijual orang itu, kami menontoni Budi yang sibuk memasak dengan riang gembira.
 
Nasinya matang, Budi mengeluarkan daging kalengan. Dibikinnya semacam nasi goreng. Kelihatan sedap. Apalagi cara dia memakannya itu lho! Sungguh menggoda!
 
"Woi! Nggak ada yang mau ikut makan nih!?" teriaknya ke kami.
 
Kami semua menolak. Budi menjadi sebal dan menggerutu karena tak ada yang mau. Sementara, dia memasak cukup banyak. Sampai berlebih bahkan untuk dirinya yang porsi makannya sungguh besar. Saya pribadi malas repot mengeluarkan dan kemudian mencuci peralatan makan. Namun, saat kulirik masakannya Budi itu, koq rasanya terlihat semakin menggugah selera saja.
 
"Gue mau deh," kataku akhirnya.
 
Beberapa teman tertawa, entah kenapa. Tapi, satu orang teman cowoq dengan keras melarangku untuk ikut makan bersama Budi.
 
"Eh, jangan!!!" Oki si cowoq itu dengan keras berseru kepadaku.
 
"Kenapa sih?" tanyaku sambil lalu, seraya mengeluarkan peralatan makan dari ransel.
 
Berbekal peralatan itu, aku lalu mendekati Budi dan mendapat jatah ransum masakannya. Dalam jumlah yang lumayan banyak.
 
“Habiskan, ya!” perintah Budi.
 
Temen-teman lain terus saja tertawa-tawa tanpa kuketahui alasannya. Sementara, si Oki terus saja ngomel melarangku yang juga tak jelas sebabnya.
 
"Kan haram!" akhirnya aku menangkap sebagian dari apa yang dikatakan Oki.
 
"Apanya?" tanyaku sambil terus makan.
 
"Itu! Masakannya si Budi!!!" Oki berkata sambil terus ngegas.
 
"Eh, kenapa!?" kumenjadi heran.
 
"Lo nggak paham ya kenapa Oki kenceng ngelarang lo?" Mira, temanku yang lain, bertanya.
 
"Iya, nggak paham. Bingung gue," kumenjawab sebelum memasukan isi sendok yang menggunung ke mulut.
 
"Huahahahaahaha..., waaah lo nggak tau ya!!! Kalengannya Budi tu kan daging babi!" Mira berkata sambil tertawa keras.
 
Eeeeeehhh!!! Haaaaaaaaah!!! Aku menjadi kaku di batu tempatku duduk—uh, pantesan enak.
 
"Koq nggak bilang-bilang siiiih!?" protesku ke Oki.
 
"Lah, kita semua tahu koq. Gue kira lo tau juga!" sergah Oki
 
"Kagak lah hoy!" aku balik menyergah.
 
Semua orang termasuk Budi dan kecuali Oki terbahak keras. Aku memandang ke wadah makanku. Mencoba berpikir dan mencerna kejadian yang tengah berlangsung. Lalu, karena tak tahu harus berpikir atau melakukan apa, aku melanjutkan saja makanku.
 
"Eeeh, koq dimakan terus!!!" Oki lagi-lagi protes.
 
"Sayang, tahu! Nggak boleh buang-buang makanan. Dosa!!!" jawabku santai.
 
Setelah semua selesai dengan minuman dan makanannya, kami kemudian melanjutkan perjalanan. Jalan setapak yang kami lalui ini berupa tanah merah yang cukup licin. Karenanya, kami harus sangat berhati-hati agar tak terpeleset. Meskipun begitu, tetap saja……
 
Gabruk!!!
 
"Astagafirullah!!!" jeritku.
 
Aku terjatuh dengan sangat jelek. Menelungkup, yang berarti ‘lemari’ berat di punggungku menindihku. Menyulitkanku untuk segera berdiri. ‘Lemari’ berat dan tanah merah bagai dua keping biskuit selamat yang menjepit coklat di antaranya. Aku adalah si coklat itu. Harus ada yang nolong, nih..., pikirku.
 
"Oki, tolooong!" kataku pada Oki yang berada di belakangku.
 
Dengan santai Oki melangkah melewatiku, bahkan melangkahi tubuhku yang tertelungkup.
 
"Nggak! Udah makan babi, sebut-sebut nama Allah. Nggak pantes banget! Lo udah mengandung babi, tau! Haram buat gue nyentuh lo!" Oki ngomel sambil berjalan menjauh.
 
Kata-kata Oki dan ngambegnya itu membuaktu tak tahan untuk tak terbahak. Sampai perutku lemas. Karena perut jadi lemas, semakin sulit bagiku untuk bergerak. Terpaksalah beberapa teman harus menungguiku menyelesaikan dahulu tawaku yang panjang itu, sebelum akhirnya bisa membantuku berdiri lagi.   =^.^=