Bubuh Moreng Cinta

Bubur Moreng kenangan masa kecil

Bubuh Moreng Cinta

Bali masih PPKM, bahkan sekarang ini satu-satunya masih zona merah di Indonesia. Apalagi musim upacara adat Ngaben dan Nyekah massal tiba. Istri lagi kurang enak badan, semalam lalu dia tak bisa tidur, pagi dipaksakan tetap bikin kue pesanan. Siang dia tepar sampe sore. Mungkin dia lagi mikir karena salah seorang staff rumah, bapaknya positif covid dan SOP covid kok ya tidak segera seluruh penghuni rumah staff di trace dan PCR test. Staff kami itu langsung kami suruh test PCR, astungkara hasilnya negatif. Saya juga belanja online rapid test pack. Buat jaga-jaga saja.

Kalau istri sang ratu dapur sakit, maka masakan rumah akan beli. Buat pagi ada roti, siang ada lauk dari mertua yang kemaren dikirim, mertua saya jago masak. Malam belum ada masakan. Anak-anak sudah pesan nasi goreng lewat gojek. Tiba-tiba saja saya ingin buat Bubuh Moreng buat istri. Bubuh adalah bahasa Bali buat bubur. Moreng? Nggak tahu darimana datangnya kata ini...he he.

Tiap makan Bubuh Moreng maka ingatan akan melayang ke kenangan masa kecil saya. Tahun 1973 an, saya umur 6 tahun, gembul. Saat sabtu seperti hari ini kami akan bermain sejak sore sampai malam, biasanya di halaman rumah, lanjut ke banjar, lanjut ke halaman Pura. Main petak umpet, main tali, main bola kasti, main gala-gala, main engrang, main gendong, segala macam permainan fisik masa itu. Kalau lagi bulan purnama, permainan akan berlanjut sampai malam. Jaman itu listrik belum merambah desa.

Setelah capek main dan pada kotor semua, kami mandi di sungai. Saat itulah biasanya kakak saya paling besar perempuan satu-satunya akan mengajak temannya bikin bubuh moreng.

Bubuh ini mudah cara buatnya, cukup ulek bumbu-bumbu dapur seperti 4 siung bawang merah, 2 siung bawang putih,1 ruas kencur, 2 ruas kunyit, 3 butir kemiri, terasi. Ulek sampe halus, kemudian di tumis dengan minyak kelapa sedikit. Buat bubuhnya, campur airnya dengan adonan bumbu tambahkan bulir2 cabe sesukanya dan daun salam. Setelah bubuh jadi, masukkan daun kelor tambah garam dan merica bubuk. Angkat, hidangkan, bisa tambah kacang toge goreng, ayam suwir, telor rebus, bawang goreng, kerupuk dan sambal terasi.

Bubuh Moreng ini merangsang selera dengan kandungan vitamin, anti oksidan, pengahangat tubuh yang instan. Daun Kelor/Moringha sudah terkenal dengan kandungan Vitamin C dosis tinggi, anti virus dan anti oksidan, juga didapat dari kencur, kunyit, bawang putih, bawang merah. Rasanya khas, mesti dimakan saat panas, seperti tabiat bubuh makin lama dimakan setelah selesai masak akan semakin mengental dan mengeras.

Kebayang khan bagaimana asiknya kami waktu kecil habis main sampe kecapean, mandi di kali yang segar dibawah sinar bulan purnama, terus makan bubuh moreng panas-panas. Makanya kenangan ini masuk ke Croc Brain saya sebagai golden moment. Dan bubuh moreng penuh kenangan inilah yang saya bikin malam ini buat istri tercinta yang lagi kurang enak badan.

Habis makan bubuh my love langsung tidur pulas sambil senyum, mungkin dia mimpi kenangan saat kami pertama bertemu? Entahlah. Saya beranjak meninggalkan istri di kamar ke ruang serbaguna, ruang tempat kami biasanya kumpul setelah makan malam. Kali ini bersama 3 anak saya. Mereka nonton film di amazon movies, saya sambil ketik cerita ini atas saran guru copy writing saya Budiman Hakim setelah saya posting di wa grup. Novel Penjelajah Mimpinya keren, saya juga mau bikin aahh.

Coba deh bikin bubuh moreng ini, daun kelor bisa diganti daun katu, bayam, kangkung. Tentu rasa dan tekstur akan sedikit beda. Sekarang sudah ada rice cooker. Gampang, Cepat, Murah dan Enak karena dibuat dengan cinta. Sepotong cinta suami/ayah saat pandemi.