Pentingnya Menjaga Kualitas Komunikasi Dalam Keluarga

Menjaga kualitas komunikasi dalam kelaurga amat penting guna mempertahankan keluarga yang harmonis, selain itu komunikasi dalam keluarga juga bermanfaat untuk bisa lebih mengenal lagi masing-masing dari anggota keluarga.

Pentingnya Menjaga Kualitas Komunikasi Dalam Keluarga
Keluarga harmonis

Family          

            Keluarga, satu kata yang selalu identik dengan tempat ternyaman. Satu kata yang selalu dimaknai sebagai ‘rumah’ untuk kembali, tempat pertama menemukan cinta, dan support system pertama bagi individu. Dengan beragam makna ini, maka masyarakat meyakini bahwa idelanya sebuah keluarga itu selalu harmonis, rukun, saling mendukung dan saling menguatkan. Tetapi di lain pihak, kadang orang juga suka lupa bahwa konflik keluarga juga sering terjadi seperti adanya kesalah pahaman dalam relasi antar keluarga yang menggangu kualiltas komonukasi. Salah satu hal yang bisa menganggu kualitas komunikasi dalam keluarga yaitu kurangnya perhatian dalam keluarga akibat kesibukan di luar. Penyebab lainnya bisa datang dari besarnya ego masing-masing anggota keluarga yang ingin mendominasi. Dari dua perkara ini, konflik keluarga jelas tidak bisa dihindari. Bahkan dalam suatu keluarga yang tampak baik-baik saja di luar, ternyata di dalamnya terjadi perang dingin hingga rasa tidak suka terhadap anggota keluarga sendiri. Lantas, bagaimana caranya supaya bisa menormalkan kembali kondisi yang demikian, supaya fungsi dari sebuah keluarga tidak terganggu? Yak, jawabannya adalah dengan memperbaiki komunikasi dalam keluarga.

            Permasalahan apapun dalam keluarga tentu bisa deselesaikan dengan bicara, berkomunikasi antar satu sama lain, seperti anak dengan orang tua, atau suami dengan istri. Komunikasi dalam keluarga tidak hanya sebatas ngobrol santai, berbagi pengalaman dan curhat, tapi juga sebuah bentuk aktivitas dialog untuk mengenal antara satu anggota keluarga dengan anggota yang lain. Dengan semakin mengenal betul masing-masing dari anggota keluarga, maka kesalah pahaman bisa diminalisir dan masing-masing anggota keluarga juga bisa semakin memaklumi dan menerima kekurangan satu sama lain. Salah satu contoh masalah keluarga akibat kurangnya komunikasi yaitu ketika terjadinya pertentangan antara anak dan orang tua. Pertentangan ini kadang berlangsung lama karena orang tua di satu sisi merasa keputusan mereka yang terbaik untuk si anak, dan si anak telah memiliki keputusannya sendiri dalam menentukan hidup dan cita-citanya. Kondisi ini tentu perlu diredakan dengan komunikasi guna mencapai titik tengah, dan kejelasan dari harapan yang ingin dicapai oleh masing-masing pihak. Sikap saling berkompromi tentu sangat diperlukan di sini supaya ketegangan dalam keluarga bisa segera diatasi.

            Selain itu, komunikasi dalam keluarga juga penting untuk menemukan solusi terbaik, jika terjadi masalah internal antar keluarga, dengan tujuan masing-masing pihak bisa saling memahami apa yang dimaksud. Misalanya si anak bisa paham kenapa orang tuanya memiliki anggapan seperti itu, membarikan larangan tertentu untuk anak, dan orang tua juga jadi tahu mengapa anak ingin memiliki cita-cita yang berbeda jauh dari harapan orang tua. Begitu pula jika salah satu pihak keluarga memiliki masalah dengan orang lain atau di lingkungan sosial, maka komunikasi keluarga ini bisa membantu pihak yang bermasalah untuk menentukan sikap ketika menghadapai masalah, memberi saran, dan mencarikan jalan keluar. Misalnya saja, ketika anak terlibat geng remaja yang berujung pada tindak anarkis, maka komunikasi dalam keluarga in snagat diperlukan guna mencari tahu mengapa anak terlibat dalam geng tersebut, dan apa yang dicari dari perkumpulan geng tersebut. Sementara orang tua juga jadi tahu dan menyadari tentang apa yang kurang dari mereka selama menjadi orang tua, sudah benarkah mereka dalam mendidik, dan apa yang diinginkan si anak dari mereka.

           Komunikasi membuka peluang untuk lebih mengetahui masalah apa yang paling mendasar dalam sebuah keluarga, sebagaimana keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, maka kompleksitas yang dihadapi tiap keluarga memerlukan penanganan yang bebeda. Sebagai contoh, permasalahan dalam keluarga sederhana pasti berbeda dengan permasalahan keluarga yang menengah. Keluarga yang sederhana, berharap bahwa anaknya bisa mengangkat derajat keluarganya dan bisa lebih sukses, sementara si anak mungkin saja gagal memenuhi harapan itu, atau memiliki tujuan hidup lain yang tidak sejalan dengan harapan, maka terjadi lah konflik keluarga yang memerlukan adanya dialog guna meredam konflik. Sementara di keluarga yang menengah, orang tua perharap anaknya bisa meneruskan usaha yang mereka rintis, bisa sama suksesnya dengan mereka meski jalannya berbeda, namun akan sedih jika si anak mengalami kegagalan. Untuk itu, maka komunikais keluarga perlu dibina sejak dini dengan menyesuaikan pada porsinya. Penitngnya membina komunikasi yang baik dan sesuai porsi ini karena orang tua harus menyesuaikan juga dengan tumbuh kembang psikologi anak. Maka, dari sini kesabaran orang tua sangat dibutuhkan guna menjaga kualitas komunikasi pada anak.

           Kesabaran dan kompromi merpakan dua elemen penting yang kadang sering terlupakan dalam komunikasi keluarga, sehingga kualitas komunikasi dalam keluarga menjadi terganggu. Kesabaran dalam komunikasi bekaitan dengan kemampuan untuk bisa mendengarkan dan memahami apa yang diutarakan anak, atau orang tua ketika berbicara. Sementara kompromi, jelas ini berkaitan dengan kemauan untuk mengurangi tuntutan baik dari pihak orang tua ataupun dari si anak. Dua elemen ini penting untuk diseimbangkan agar komunikasi dalam keluarga bisa berjalan sesuai harapan, yaitu menyelesaikan masalah. Dalam komonikasi keluarga, hal yang tak kalah penting adalah adanya pihak netral untuk menjadi wasit pada pihak yang bertikai supaya dialog bisa terarah. Pihak yang netral ini tentu juga harus bisa memperhatikan kemana arah dialog, menjadi penengah agar tujuan penyelesaian masalah bisa tercapai. Jika ketiga hal penting ini ada dalam komunikasi keluarga, dan anggota keluarga yang bermasalah mau untuk berkomunikasi, dan bicara, maka fungsi keluarga bisa dikatakan telah berjalan sebagaimana mestinya.