Indonesia Perlu SDM Pinter dan Berkarakter

Menuju Indonesia emas tahun 2045. Pendidikan karakter itu penting dan tidak hanya dikemas dan disajikan di dalam kelas. Pendidikan karakter merupakan pondasi terbentuknya Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang sangat diperlukan untuk membangun bangsa Indonesia

Indonesia Perlu SDM Pinter dan Berkarakter
Penguatan Pendidikan Karakter

 

 

Menuju Indonesia emas tahun 2045 ketika NKRI berusia satu abad, kinilah saatnya putera/puteri warga bangsa berbenah diri. Banyak yang harus dibenahi namun, kali ini penulis hendak mengkhususkan diri pada karakter (dalam bahasa Yunani: character). Istilah karakter mengandung arti sifat-sifat atau kebiasaan-kebiasaan dalam diri dan kehidupan seseorang yang sudah begitu tertanam serta berurat akar dan telah menjadi ciri khas diri (mark atau stamp). 

Pendidikan karakter itu perlu niat, minat, komitmen, keteladanan, motivasi intrinsik dan ekstrinsik dari para pendidik yang benar-benar mampu ‘menggarami’ dan menciptakan ‘atmosfer’ yang mendukung. Harus ada peran afektif dan psikomotorik di samping ranah kognitif. Pendidikan karakter itu penting dan tidak hanya dikemas dan disajikan di dalam kelas, diajarkan di kelas, lalu diuji, kemudian dinyatakan lulus, selanjutnya dianggap selesai. Pendidikan karakter juga tidak hanya dilakukan oleh seorang guru, melainkan juga orangtua dan lingkungan masyarakat.

Unsur keteladanan orangtua, guru dan tokoh masyarakat sangat mewarnai dunia pendidikan. Dimulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Pendidikan Tinggi. Pendidikan karakter merupakan pondasi terbentuknya Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang sangat diperlukan untuk membangun bangsa Indonesia. Setiap pendidik (guru/dosen) hendaknya mampu mengemban tugasnya dengan membelajarkan peserta didiknya mengacu pada pembelajaran yang berlandaskan nilai-nilai moral agama, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan nilai-nilai yang ada di lingkungan kearifan lokal. Pendidikan karakter meliputi: (1) Nasionalis, (2) Religius, (3) Gotong royong, (4) Integritas, (5) Mandiri.

Mulai dari pembekalan kedisiplinan, budi pekerti luhur dan kejujuran yang didasari oleh kemauan kuat setiap insan Indonesia, niscaya cita-cita atau mimpi besar Indonesia dapat tercapai. Indonesia mampu mensejajarkan diri pada tataran dunia di era globalisasi. Untuk itulah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) mendesak untuk diimplementasikan di semua lini dan jenjang, di seluruh wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. 

Menyongsong Indonesia Emas

Bulan Agustus setiap tahun nya adalah bulan memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia. Usia 76 tahun adalah juga usia emas, mulai dari RI-1 selaku pimpinan tertinggi, para penyelenggara negara khususnya yang menangani bidang pendidikan sudah sepakat untuk membawa Indonesia maju dan berkomitmen untuk menjadikan bangsa Indonesia yang bermartabat dengan menjunjung tinggi kedisiplinan, kejujuran, kerja keras dan kerja cerdas (work hard and work smart), menjadikan keadaan kehidupan berbangsa dan bernegara, bergotong royong membangun Indonesia dengan pendidikan karakter.

Meskipun Indonesia mengalami ‘gempuran’ pandemi covid-19 yang begitu dahsyatnya dan berimbas sangat berat di bidang ketenagakerjaan; angkatan kerja berlimpah sedang di sisi lain pengangguran makin membubung. Sekarang inilah saat yang paling tepat untuk ‘menampi’, memilih dan memilah pekerja yang benar-benar berkarakter baik. Penulis mengibaratkannya bagai orang menampi padi dalam tampah, yang berisi tentu tetap tinggal sedang yang ringan/kosong yaitu sekam tentu berhamburan keluar tampah, itulah fenomena pencari kerja sekarang. Jadi, selain pinter (pintar) secara kognitif syarat lain yang tidak kalah pentingnya yakni ranah sikap (attitude), yes attitude is everything!

Mengisi posisi sebagai pekerja tangguh dipersyaratkan bahwa seseorang memiliki karakter yang baik untuk memenangkan persaingan di dunia kerja. Tanpa karakter yang baik manusia akan kehilangan segala-galanya, termasuk kehilangan sifat mulia kemanusiaannya. “When wealth is lost, nothing is lost – when health is lost, something is lost – when character is lost, everything is lost”. Namun, tidak ada istilah terlambat dalam pembentukan karakter, sebab proses pembentukan karakter pada diri seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor khas yang ada pada orang yang bersangkutan, yang disebut dengan faktor bawaan atau faktor endogen atau nature dan oleh faktor lingkungan atau eksogen atau nurture. Antara keduanya  ada interaksi, manusia dapat mengubah/membentuk budaya lingkungan, begitu juga lingkungan dapat membentuk karakter manusia.

Rumah dan Sekolah adalah Tempat Persemaian Karakter

Pendidikan yang dimulai dari rumah atau keluarga merupakan tanah yang subur bagi bertumbuhnya karakter manusia. Keluarga menjadi ‘school of love’, sedangkan sekolah adalah institusi yang menyelenggarakan proses pembelajaran yang berorientasi pada nilai (value oriented enterprise). Membina karakter seseorang tidak dapat dilakukan secara dogma atau indoktrinasi, apalagi melalui mata pelajaran yang harus dihafalkan. Kondisi sekolah sampai dengan kini baru memikirkan knowing character, belum doing character atau building character.

Contoh: Tradisi di Indonesia, pada umumnya orang yang lebih muda memberi hormat dan bertindak santun kepada orang yang lebih tua; begitu juga halnya dengan kebiasaan orang yang akan masuk rumah orang harus permisi, tetapi tidak semua orang melakukannya, dan sebagainya.

Membelajarkan pendidikan karakter tidak harus membuka satu mata pelajaran/mata kuliah tersendiri, melainkan ia masuk disetiap lini sebagai character based education, sehingga kewajiban pendidiklah yang harus menerapkan character based approach, sehingga karakter hadir, terbentuk dan berkembang dalam kehidupan melalui proses belajar mengajar. Tersedianya guru yang kompeten, mumpuni dan berkarakter merupakan kunci keberhasilan model 9 pilar karakter, yang terdiri: (1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-NYA, (2) Mandiri, disiplin dan tanggung jawab, (3) Jujur, amanah dan berkata bijak, (4) Hormat, santun dan menjadi pendengar yang baik, (5) Dermawan, suka menolong dan bekerja sama, (6) Percaya diri, kreatif dan pantang menyerah, (7) Pemimpin yang baik dan adil, (8) Baik dan rendah hati, (9) Toleransi, cinta damai dan bersatu. Demikian rumusan sembilan pilar oleh Indonesian Heritage Foundation (IHF).

Diharapkan ke depannya Indonesia menjadi bangsa yang kuat, berdaulat dan bersatu sehingga mampu bersaing dan bersanding (to compete and to corporate) dengan bangsa-bangsa lain di era globalisasi. Tantangan terbesar di era revolusi industri 4.0 salah satunya adalah pendidikan dan pembinaan karakter plus kemampuan komunikasi yang efektif, kolaborasi serta fleksibel/luwes beradaptasi dengan situasi. Indonesia emas akan di isi generasi cerdas, kreatif, inovatif, jujur dan penuh kebersamaan serta berkarakter baik.

 

Jakarta, 27 Agustus 2021

Salam penulis: E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia – tyasyes@gmail.com