KACU

KACU
Sumber gambar : www.mediaharapan.com

Beberapa waktu lalu saya belanja di sebuah toko perlengkapan sekolah, mencari dasi pramuka untuk anak pertama saya, Jovan.

Saya langsung bertanya kepada salah seorang karyawan toko, “Mbak, jual dasi Pramuka?” Dia tidak langsung menjawab, dia balik bertanya, “Kacu maksudnya pak?”. Gantian saya yang gak langsung jawab. Pertanyaan karyawan toko tersebut seakan melemparkan saya pada suatu masa di waktu lalu.

Kacu?

Ya, lama sekali tidak pernah mendengar kata tersebut. Memori jangka panjang saya tersentak, ah, iya, kacu, kain segitiga kombinasi warna putih dan merah, merupakan kelengkapan utama seragam Pramuka Indonesia.

Ingatan saya kembali menerawang ke masa puluhan tahun silam. Ketika saya begitu bersemangatnya mengikuti kegiatan kepramukaan di sekolah dulu. Perjalanan "karir" saya sebagai Pramuka pada waktu itu dimulai saat saya masih duduk di kelas lima SD. 

Ketrampilan kepramukaan yang paling saya gemari dulu adalah bahasa sandi. Pembina Pramuka di SD saya pada masa itu seorang frater, beliau sangat pintar dan mampu membuat saya dan teman-teman tergila-gila dengan kegiatan kepramukaan.

Kesukaan saya terhadap kegiatan kepramukaan terus berlanjut hingga saya duduk di bangku sekolah menengah atas. Ada banyak ketrampilan yang saya pelajari, ada banyak nilai-nilai positif yang tertanam dalam jiwa saya, ada banyak pengalaman-pengalaman unik dan tidak pernah terlupakan saya alami. Semuanya itu berkontribusi menghasilkan sosok saya yang mandiri, tidak manja, dan tidak mudah menyerah.

Satu pengalaman yang sangat berkesan terkait aktivitas saya di kepramukaan yang kemudian menjadi gerbang bagi saya untuk terus menekuni kegiatan kepramukaan, adalah ketika saya kabur dari rumah untuk mengikuti sebuah acara perkemahan tingkat kabupaten.

Saya dilahirkan sebagai anak tunggal dengan perlakuan orang tua yang cukup protektif dan posesif. Jadi untuk kegiatan-kegiatan outdoor apalagi yang harus jauh dari mereka selama beberapa waktu, mustahil diijinkan.

Tapi kecintaan saya pada kegiatan kepramukaan sudah begitu kuat, sehingga mendorong saya berbuat nekat, kabur dari rumah. Karena surat ijin orang tua hil yang mustahal saya dapatkan. Singkat cerita, paniklah kedua orang tua saya karena anak kesayangannya tiba-tiba gak pulang ke rumah. Dasar kota kelahiran saya  4L, alias Lu Lagi, Lu Lagi, terlacaklah posisi saya di bumi perkemahan tempat kegiatan tersebut diselenggarakan.

Marahkah kedua orang tua saya?

Inilah yang saya sangat salut dan respek pada sikap mereka. Mereka tidak marah sama sekali, Papa Mama saya datang ke lokasi, di malam kedua, membawa ikan goreng kesukaan saya, dan merestui saya melanjutkan kegiatan perkemahan tersebut sampai selesai. 

Teman-teman setenda saya bergembira ria, karena malam sebelumnya ada peristiwa beberapa orang hampir memakan serangga yang masuk dalam mangkuk penampung mie instan mereka, hehehe. Ikan goreng dengan jumlah berlimpah tersebut menjadi ransum mewah di malam itu.

Setelah peristiwa tersebut, Papa dan Mama saya tidak pernah melarang saya melanglang buana kemana pun untuk mengikuti kegiatan kepramukaan. 

Meskipun mama saya sepertinya masih tidak ikhlas melihat anaknya yang ganteng putih, menjadi agak legam karena terbakar teriknya matahari alam terbuka. 

Kembali ke soal kacu …

Hal yang saya masih sangat ingat, kacu itu adalah identitas seorang Praja Muda Karana sejati. Ekstrimnya, kita boleh telanjang tak bersalut sehelai benang pun, selagi kacu merah putih itu melingkari leher kita, itulah tandanya kita sedang menjalankan peran sebagai seorang Pramuka. 

Makanya pada setiap acara perkemahan, kacu tidak pernah kami lepaskan dari leher kami. Seragam boleh dilepas, tapi kacu tetap tersemat di leher kami. Tidur pun tetap berkacu, seandainya maut menjemput, kami berpulang dalam kebanggaan sebagai seorang Pramuka sejati!

Selain sebagai identitas, kacu juga dapat menjadi alat bantu untuk banyak kondisi darurat. Dapat menjadi pengikat luka, atau pengikat penyanggah bagian tubuh yang patah dan fungsi-fungsi lainnya.
 ............... 

"Jadi beli kacunya pak?"

"Eh jadi mbak, beli satu saja berikut pengikatnya, warna hijau, karena anak saya masih usia Pramuka Siaga"

SALAM PRAMUKA!