Celana Corduroy Keramat

Kasih sayang ibu tak peduli fashion, yang penting anaknya dapat lebih banyak.

Celana Corduroy Keramat

 

Setiap memakai celana panjang berbahan corduroy, saya selalu ingat kisah teman kuliah saya Robi Marsono, putra daerah yang baru saja menginjakkan kakinya di Jatinangor. Penampilannya sederhana dengan rambut yang keriting dan perawakan tidak tinggi.

Suatu hari di akhir tahun 97, Robi datang ke kampus, ia berjalan di koridor kampus dengan busana khas putra daerah yang menarik perhatian Johny sang ‘alpha male’ yang selalu menjadi pusat perhatian.

Siang itu Robi menggunakan celana panjang berbahan corduroy. Anehnya, motif garis corduroy yang ia gunakan bukannya vertikal (ke atas), melainkan horizontal (ke samping).

"Wooi..!! lihat tuh celana Si Robi, corduroy garis kesamping, hahaha...!!" Teriak Johny dekat kios teh botol mang udin. 

Mendengar teriakan Johny sang provokotar ganteng, sontak kami yang lagi asyik duduk ngerokok menengokkan kepala ke arah Roby. Sontak kami semua tertawa, bahkan mereka yang melintas dan seketika jadi ikut tertawa.

Saat itu jiwa intelejen saya muncul, seolah tak percaya saya hampiri dan amati celana corduroy Robi yang bermotif horizontal. Setelah melihat celana corduroy nyeleneh yang dipakai Robi, saya berkeyakinan pasti ada ‘sesuatu’ di balik kesalahan motif corduroy itu.

Sangat miris bila melihat kondisi Robi saat itu, setelah seharian penuh tersiksa mental karena kegiatan ospek di kampus Fikom Unpad, di asrama pun ia masih harus mengalami tekanan-tekanan lain seperti mengisi air bak mandi sampai jam 2 malam untuk angkatan senior di asrama, bangun lebih pagi, dan lain-lain.

Berbekal rasa penasaran, menjelang sore saya hampiri Robi sambil berbisik bertanya,

"Bi, lo beli celana corduroy dimana sih, kok motif garisnya begitu?"

"Kiriman Ibuku di kampung, Cel," Jawab Robi

"Ibumu beli baru atau ngejahit sendiri?"

"Hasil jahitan ibuku, Cel, aku dikirimi dua celana corduroy seperti ini," Jawab Robi sambil tertunduk sedih.

Selepas obrolan sore itu saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa hasil jahitan ibunya bisa seperti itu. Malamnya sebelum tidur di kosan, saya terus mencari jawaban atas celana corduroy kiriman ibunya Robi dari kampung, dan sepertinya saya mendapat jawabannya.

Iya.. malam itu saya berkeyakinan bahwa bahan kain celana corduroy yang dibeli ibunda Robi sebetulnya sangat terbatas, bisa saja motif garisnya normal ke bawah, tapi hanya dapat jadi 1 celana, karena rasa sayang Ibu yang begitu besar kepada anaknya, Sang ibu berinisiatif untuk menjahit menjadi 2 celana, demi Robi anak kesayangannya yang sedang merantau berkuliah di Jatinangor.

Sang Ibu tak peduli atau mungkin tak tahu soal fashion celana corduroy, baginya yang penting si badu dapat 2 celana panjang baru yang bisa digunakan bergantian. Sungguh pemikiran positif yang akhirnya menentramkan rasa penasaran saya.

Sejak malam itu sampai sekarang, setiap memakai celana corduroy, saya selalu ingat besarnya kasih sayang ibu pada anaknya...

 

Catatan:

19 tahun berselang, kini Robi sudah mengecap manisnya sukses di Jakarta, menjadi pejabat BUMN bonafit.  

Semua terwujud berkat  kerja keras Robi dan doa Ibunya, serta tak lupa celana corduroy keramat yang menjadi penguat mental Robi selama mengarungi kehidupan di masa kuliah.

 

By. Attan Hardilas

Jakarta, 21April 2020