Setan vs Manusia

Setan vs Manusia

Tahun lalu, dari sebuah WAG, saya pernah mendapat joke yang luar biasa. Entah siapa penulisnya. Lucu, sih sebetulnya. Tapi juga bikin merinding di saat yang sama. Ada rasa ngeri juga setelah membacanya. Kok bisa? Sebelum kita bahas lebih lanjut, ada baiknya saya copas cerita itu ya.
_________________________

IBLIS BERDOA 

Raja iblis tiba-tiba melakukan sidak. Dia mendatangi rombongan anak buahnya yang sedang asyik ngopi-ngopi dan mengobrol. 

"Hey, Gaez! Kok, pada santai, sih? Kalian, kan, punya tugas untuk menggoda manusia?" tegur Si Boss. 

Seorang iblis bertubuh gemuk menyerupai ikan buntel menyahut, "Kami gak mau lagi menggoda manusia. Percuma, Boss! Itu perbuatan sia-sia."

"Hah? Emangnya sekarang bulan Ramadhan?" tanya Boss Iblis sambil melirik smartphonenya mengecek kalender.

"Bukan, Boss. Sekarang ini sepanjang tahun percuma menggoda manusia," jawab Iblis yang sering menyamar sebagai ustad jika sedang menggoda manusia.

"What??? Memang Tuhan sudah bikin kebijakan baru?" Boss Iblis kebingungan.

Iblis yang paling jago filsafat menjawab, "Gara-gara Pilpres, Boss. Ternyata manusia jauh lebih sadis daripada kita."

"Sumpe lo?" Raja Iblis kaget.

"Ngeri, Boss! Mereka menggunakan hoax dan fitnah untuk saling menjatuhkan sesamanya.” kata Iblis yang selalu memakai uniform gaya Arab sebagai pilihan karakternya.

“Mereka sudah tidak punya rasa perikemanusiaan. Kita aja sebagai iblis masih punya rasa perikeiblisan!" samber iblis yang paling pintar menata kata.

"Bahkan rekor kejahatan kita sudah kalah oleh kejahatan mereka," celetuk iblis perempuan yang baru saja melakukan botox di wajahnya.

"Wait3x!! Kalau itu gak mungkin!" selak Raja Iblis.

“Kenapa gak mungkin, Boss?” tanya iblis yang paling doyan demo.

"Rekor kejahatan terbesar tetap di tangan kita. Ingat! Kita pernah menolak sujud pada Adam? Kita sampe diusir dari surga. Mana ada kejahatan yang lebih besar daripada itu? Hahahaha...!" kata Raja Iblis dengan songongnya.

Kali ini iblis yang hobbynya menyanyi menyahut, "Rekor kita sudah dilewati, Boss! Kita cuma tidak patuh pada Allah. Sementara manusia berani mengancam Allah!"

"Hah? Mengancam bagaimana?" Raja Iblis hampir stroke mendengarnya.

"Mereka bilang kalo capresnya gak dimenangkan, gak ada yang akan menyembah Allah lagi."

"Astaghfirullah! Kita saja sebagai Iblis yang ribuan tahun beribadah tidak pernah mengancam Allah." Tubuh Raja iblis sampai gemetar. Entah karena takut atau karena marah.

"Ada satu lagi, Boss," ucap Anak buah Iblis yang dari tadi sibuk bikin caption untuk postingan Instagramnya.

"Apa lagi...?"

"Menurut manusia Kitab Suci dari Allah itu fiksi, Boss."

Raja Iblis lemas sampai jatuh terduduk. "Kurang ajar! Berarti eksistensi kita juga dianggap fiksi, dong?”

“Kok kita juga dianggap fiksi, Boss?” tanya Iblis yang lain lagi.

“Pengalaman kita diusir dari surga itu ada di Al-Quran, Injil dan Taurat. Itu realita. Bukan fiksi! Manusia kok bisa sejahat itu?”

“Ya, manusia jaman now emang gitu, Boss!” tukas iblis yang lain lagi.

“Gak boleh gitu, dong!! Kejahatan itu domain kita! Bukan domain manusia!" pekik Raja Iblis.

"Ada lagi, Boss!" tambah satu iblis lagi.

"TIDAAAAAK!!!!! Saya tidak mau dengar kejahatan manusia lagi. Tidaaaak!!!!! Huhuhuhuhu..."

Melihat Bossnya menangis menggerung-gerung, semua iblis terdiam. Keheningan mendominasi. Beberapa saat kemudian Boss Iblis berhasil menguasai emosinya. Dia bangkit dan menyuruh semua anak buahnya ikut berdiri.

Semua iblis bangkit dan membentuk barisan yang rapi. Sang Boss berkata dengan suara halus hampir menyerupai tangis. 

Semua anak buahnya sangat iba melihat tingkah Bossnya yang tampak demikian nelangsa. Tak ada satupun yang mengeluarkan sepatah kata. Suasana hening. Semua menunduk dengan takzim menunggu fatwa.

"Teman-teman, keadaan ini sungguh di luar perkiraan kita. Saya tidak menyangka manusia bisa jahat luar biasa. Ini bisa gawat, loh! Saya takut Allah murka. Jadi mari kita berdoa bersama-sama. Setuju?"

"Setujuuuu!" jawab crowd iblis lalu semuanya berdiri dan mulai berdoa dengan khusuk.

"Ya, Allah yang maha pengasih dan penyayang." Sang Boss iblis memulai doanya, "Ampunilah dosa-dosa kami. Dan lindungilah kami dari godaan manusia yang terkutuk...."

"Aamiin...!!!" sambut laskar iblis sambil mengusap muka. 

Wajah mereka semua berduka. Sebagai iblis, mereka merasa telah gagal sebagai penggoda manusia. 
_________________________

Coba kita perhatikan joke di atas. Lucu sekaligus serem. Kenapa demikian? Karena sedikit banyak kita juga menemukan “kebenaran” dalam cerita tersebut. Mungkin kita perlu mengintrospeksi diri. Bisa jadi yang dikeluhkan setan dalam cerita itu memang sedang terjadi.  

Rasanya kita semua perlu mawas diri. Mungkin kita telah lama menutup mata hati. Mungkin kita sudah terlalu lama meninggalkan hati nurani. Mungkin kita sudah kehilangan budi pekerti. Mungkin kita terlalu sibuk membenci sehingga lupa cara mencintai.

Coba kita lihat apa yang terjadi di social media. Saya sampe ngeri membacanya. Dulu setiap ada orang meninggal, kita selalu mencari dan mengangkat kebaikannya. Tapi sekarang? Ketika Ibunda Jokowi meninggal dunia, masih saja ada yang membullynya. Saat Glenn Fredly menutup mata, masih saja ada yang nyumpahin masuk neraka. Astaghfirullah…..

Ketika Corona menyerang, seharusnya inilah momen yang tepat buat kita untuk bersatu. Seharusnya kita bahu membahu. Berperang melawan wabah yang telah merenggut banyak nyawa. Seharusnya kita bisa. Karena kita punya musuh yang sama. Cuma orang yang bermental iblis yang justru memanfaatkan Corona untuk membuat kekacauan. Untuk merebut kekuasaan.

Waktu terus berjalan. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Ibis dan setan biasanya dikurung oleh Tuhan. Tapi virus Corona telah menjungkirbalikkan logika tersebut. Di bulan Ramadhan tahun ini kita harus tinggal di rumah. Sekarang ini, manusialah yang dikurung oleh Allah. 

Saya tidak mengatakan bahwa setan lebih baik dari manusia. Apalagi mengatakan bahwa kitalah setan yang sesungguhnya. Bukan. Bukan itu! Tapi pernahkan terbersit sedikit saja bahwa ini adalah sebuah pesan untuk kita. Barangkali sebagai manusia  kita memang sudah tersesat. Mungkin kelakuan kita memang sudah tidak bermartabat. Bisa jadi kita sudah terlalu jahat. Tuhan merasa perlu mengurung kita agar bertobat.

Manusia dan setan itu hanya sebutan. Tapi siapa yang lebih jahat mungkin sekarang bisa diperdebatkan. Bulan Ramadhan tahun ini, pasti tidak akan sama dengan Ramadhan tahun sebelumnya. Tapi dengan momen di rumah saja, kita harus bisa menemukan sisi baiknya.

Dengan di rumah saja, seharusnya kita bisa lebih khusuk berdoa. Momen Ramadhan insya Allah akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan. Sehabis puasa, semoga kita akan menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Aamiin.

Marhaban ya Ramadhan. Selamat berpuasa teman-teman.