Urgensi Pendidikan Pancasila Mulai Dari PAUD – Perguruan Tinggi

Pendidikan Pancasila urgen diajarkan sejak dini usia, mulai dari jenjang PAUD (TK), SD, SMP, SMA (SMK), Perguruan Tinggi.

Urgensi Pendidikan Pancasila  Mulai Dari PAUD – Perguruan Tinggi
PANCASILA

 

 

 

            Rasanya masih cukup relevan apabila pada bulan Juni ini penulis membahas tentang Pancasila, karena Presiden Pertama Republik Indonesia Bapak Ir. Soekarno telah menetapkan bahwa Pancasila lahir di bumi Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945, beliau lahir pada tanggal 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970. Pantaslah jika bulan Juni ini ada yang menyebutnya sebagai bulan Soekarno. Garuda Pancasila secara keseluruhan melambangkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Ini terlihat dari kaki burung garuda yang menggenggam erat semboyan Indonesia, yaitu: “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya meski berbeda-beda, tapi tetap satu.

            Tahun ajaran 2022/2023 yang tinggal sebentar lagi Kemendikbudristek menetapkan bahwa Pancasila wajib diajarkan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan Tinggi, sehingga dapatlah dikatakan bahwa Pendidikan Pancasila itu urgen (mendesak). Oleh karena itu, semua guru/dosen wajib bersiap diri mulai sekarang mengemas, menyusun dan nantinya menyajikan Pendidikan Pancasila yang cocok untuk diajarkan di tingkat PAUD (TK), SD, SMP, SMA (SMK) dan Perguruan Tinggi.

            Ibarat orang menanam itu pasti menyiapkan segala sesuatunya mulai dari memilih benih yang baik, tanah, pupuk, prasarana dan sarana yang diperlukan agar tanamannya bertumbuh – berbunga – berbuah sesuai dengan yang diharapkan. Begitu pula halnya mendidik anak manusia, tidak mungkin bisa dilakukan secara instan. Pendidikan itu perlu proses dan berjenjang serta ada monitoring dan evaluasi.

Profil Pelajar Pancasila yang digadang-gadang dunia pendidikan itu sangatlah cocok diwujudnyatakan di bumi Indonesia, karena Pancasila diusianya yang sudah 77 tahun itu hendaknya tidak sebatas dihafalkan saja, melainkan sebagaimana dikatakan oleh Bapak Presiden Joko Widodo pada kesempatan memperingati Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2022 yang baru lalu hendaknya seluruh anak bangsa itu: ‘Membumikan Pancasila’, mengaktualisasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ajakan Presiden tersebut merupakan penegasan dari visi dan nilai-nilai Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Menanamkan nilai-nilai Pancasila itu perlu dilatih sejak dini usia, melalui pendidikan in-formal di lingkungan keluarga, melalui pendidikan formal di sekolah dan melalui pendidikan non-formal di lingkungan masyarakat. Sebagaimana kita tahu bahwa ada 3 ranah pendidikan, yaitu: kognitif, afektif dan psikomotorik, ketiganya semua penting dan harus diasah dengan sungguh-sungguh.

Kalau dulu Pendidikan Budi Pekerti masuk sebagai salah satu mata pelajaran dan kini tidak lagi, itu bukan berarti ditiadakan akan tetapi Pendidikan Budi Pekerti hendaknya masuk dalam setiap lini mata pelajaran. Justru mengasah ranah afektif ini kiranya mendapat perhatian setiap guru/dosen. Budaya toleransi, menghormati dan sifat gotong royong hendaknya terinternalisasi (mendarahdaging) di setiap hati sanubari rakyat Indonesia, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Kita sering mendengar bahwa: ‘Orang diterima kerja karena nilai Tes Potensi Akademik (TPA) yang bagus namun, orang diberhentikan dari pekerjaannya karena attitude atau sikapnya tidak bagus (attitude is everything). Attitude itu masuk ke dalam ranah afektif, sedang psikomotorik adalah kegesitan seseorang, seperti yang penulis katakan bahwa di era yang serba cepat ini seseorang dituntut untuk dapat berpikir cepat dan bertindak cepat, jadilah si-cepat! Gerak cepat dan perilaku gesit sangat diperlukan di dunia kerja yang mengalami perubahan terus-menerus.

Perubahan yang terjadi di dunia ini tidak menunggu si-lambat dan si-malas. Pendidikan itu tidak dimulai dari TK melainkan sejak janin dalam kandungan ibu dan berlangsung terus sampai akhir hayat (from whomb to thomb). Oleh sebab itu ibu yang sedang mengandung bayinya juga tidak boleh malas, ia harus rajin, gembira dan berbudi pekerti baik niscaya anak yang dilahirkannya nanti juga berakhlak baik. Dimulai dari pendidikan di lingkungan keluarga dan dilanjutkan dengan pendidikan di sekolah, nantinya bangsa Indonesia memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul.

Hal ini sangat diperlukan jika bangsa ini mau maju dan tidak terus-menerus menyangdang sebutan negara sedang berkembang. Negara Indonesia pasti akan maju jika Pancasila di implementasikan sila-silanya dalam kehidupan nyata sehari-hari oleh seluruh rakyatnya. Oleh karena itu, Kemendikbudristek menetapkan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dalam Kurikulum Merdeka mulai tahun ajaran 2022/2023. Penerapan mata pelajaran  Pancasila rencananya dilaksanakan pada lebih dari 140.000 satuan pendidikan jenjang PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi di seluruh Indonesia.

Mas Menteri menjelaskan, mata pelajaran Pendidikan Pancasila bertujuan untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa yaitu mewujudkan masyarakat yang hidup berdampingan dengan semangat gotong royong di tengah keberagaman, penerapan mata pelajaran Pendidikan Pancasila merupakan komitmen pemerintah untuk mengimplementasikan PP. No. 4 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan. Sementara Bapak Yudian Wahyudi (Kepala BPIP) mengatakan bahwa PP. tersebut mengamanatkan Pendidikan Pancasila menjadi muatan wajib di dalam Kurikulum Nasional. Sedang Bapak Bambang Soesetyo (Ketua MPR-RI) juga mengatakan bahwa Pancasila harus diwujudkan agar tidak hanya sekedar dihafal.

Akhirnya penulis mengajak kepada seluruh pembaca yang budiman untuk bersatu padu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, dengan mengajarkan Pancasila dan ‘membumikan’ nilai-nilai luhurnya kepada setiap peserta didik mulai dari kanak-kanak sampai dewasa. Agar nantinya seluruh rakyat Indonesia tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang dapat merusak kita sebagai bangsa dan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

 

Jakarta, 7 Juni 2022

Salam penulis: E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia – tyasyes@gmail.com

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.