Pembunuh Kacangan

Pembunuh Kacangan
Image by pixabay.com

Akan kubunuh dia, mereka atau siapapun yang membuatku meradang.

Tak peduli dengan dosa, buatku semua orang memiliki dosa.

 

Mulai mencari foto sasaranku. Semua kata kunci yang mendekati nama mereka mulai kusimpan di kolom search Instagram. Beberapa nama yang sempat kukenal segera aku tandai, ku screenshoot, lalu kucetak lengkap dengan nomor handphone masing-masing.

 

Kususun satu persatu hingga tak ada yang terlewat. Jika selama ini tidak ada yang peduli dengan perasaan dan kehadiranku, maka aku tak punya alasan apapun untuk menghargai dan menghormati orang lain.

 

Karena ini pembunuhan pertamaku, maka aku tidak boleh gagal. Baru ada empat orang sasaranku. Aku harus dapat menyusun rencana ini dengan sempurna agar tidak ada satu orangpun tahu bahwa pembunuhnya adalah aku.

 

Bak detektif kawakan, kuperhatikan gelagat masing-masing. Lalu mulai kupelajari kebiasaan mereka. Akan kumulai dari orang yang kukenal.

 

Kuhabiskan bergelas-gelas kopi tubruk, rasanya konsentrasi yang aku kumpulkan tak juga menjadi pecut agar aku segera membuat peta pembunuhan yang baik dan benar.

 

“Ah, sial. Rupanya susah jadi pembunuh. Harus mulai darimana aku?”

“Apa aku tidak salah dengar, dari tadi kata-kata yang kudengar hanya soal bunuh dan bunuh. Apa yang akan kau bunuh? Kecoa? Atau barisan nyamuk yang ganggu tidur kamu semalaman?

 

Kubasuh mukaku, kutatap dalam setiap lekukan di wajahku.
Baik. Wajahku baik-baik saja. Aku yakin tak akan ada satupun tahu bahwa aku seorang pembunuh.

 

“Hai, masih ingat sama aku?”
“Hmm siapa ya, sorry namanya sepertinya belum aku save?”
“Jahat deh kamu Yos, masa nomorku tidak kamu save mentang-mentang kita lama tidak ketemu.”
“Sorry, mungkin saat handphoneku rusak beberapa nomor contact di handphoneku ikut menghilang.”
“Ya sudah tidak apa-apa. Hmm Yos, kamu sekarang kerja dimana, masih di tempat yang lama?”
“Iya lah masih, mana ada kantor lain yang mau terima pekerja perempuan dengan segala keterbatasanku selain kantorku yang ini.”

 

Duh, Yosie belum sampaikan dia kerja di mana. Bagaimana lagi cara aku tahu kerja dia di mana?

“Kedai kopi sebelah kantormu masih ada Yos?”
“Masih, kedainya makin rame. Apalagi sejak kedai ini bikin menu baru one Shot on the go. Hampir semua karyawan di kantorku kalau ngantuk larinya ke kedai itu. Kopinya langsung bikin bangun.”
“Iya, iya. Minggu lalu aku kesana kok aku lupa kabarin kamu ya Yos?. Kapan-kapan kita ketemu di kedai ya, aku yang traktir kalau untuk one shot doang bisa lah.
“Oke siap.”
“Jangan lupa, kamu harus ingat-ingat dan tebak siapa aku.”

 

Noted. Satu-satunya kedai kopi yang mengeluarkan menu One Shot on the go hanya kedai Kopi Javanico. Artinya aku sekarang tinggal arahkan lebih spesifik kantor dia posisinya di seblah kanan atau kiri Kedai Javanico.

 

Yosie, kutandai. Aku tinggal ikut alurnya saja.

Akhirnya, pelan-pelan informasi sasaranku aku peroleh dengan caraku sendiri. Lihat saja akan aku habiskan Yosie, perempuan yang selama ini menghalangi aku untuk bisa lebih dekat dengan lelakiku saat ini. Yosie harus lebih dulu mati.

 

Setelah Yosie aku harus menghabisi Debbie. Debbie ini lebih mudah. Dia adalah teman kerja beda divisi saat aku kerja di salah satu perusahaan otomotif di Jakarta. Debbie lah yang membuat Yosie tahu keberadaanku dan dari Debbie pula Yosie selalu mencoba membuat malu di depan banyak orang.

 

Hmm tapi jika aku tiba-tiba hadir di hadapan Debbie, akan membuat Debbie curiga. Oke akan aku mulai dengan cara membeli beberapa spare part dari tempat Debbie. Aku harus datang beberapa kali, sampai Debbie dekat kembali denganku dengan alasan pelanggan setia perusahaannya.

 

Ah rupanya, butuh waktu lama hingga pembunuhan ini dapat terlaksana.
 

Kubuat peta pembunuhan untuk Yosie dan Debbie terlebih dahulu.

 

Butuh waktu tujuh hari saja untuk aku menghabisi Yosie. Yosie tidak akan pernah tahu aku siapa, bisa saja Debbie menggambarkan aku utuh pada Yosie, tapi dengan kondisi Covid saat ini, aku rasa sedikit memberiku keberuntungan. Akan kupasang terus maskerku dan kupasang kacamata.
Caraku sederhana , akan aku simpan sesuatu di kopi Espresso pesanan Yosie nanti.

 

Dan untuk  Debbie, karena dia kenal denganku maka akan butuh waktu lama untuk aku menghabisi Debbie.

 

Tunggu, Debbie atau Yosie yang harus aku habisi lebih dulu?

 

Kalau aku habisi Debbie, maka nanti bisa jadi Debbie akan upload beberapa pertemuan kita di IG Story dia. Kebiasaan Debbie adalah selalu membuat status Waa tau IG Story setiap dia melakukan aktivitasnya.

 

Bahaya, bisa-bisa Yosie malah akan mengenali aku.

Kalau begitu, maka Yosie yang harus pertama kali aku habisi. Tak ada yang tahu aku kenal dengan Yosie, dan Yosie pasti tidak akan menaruh curiga ketika aku ajak ketemu.

 

Baiklah kembali ke rencana awal, Yosie dulu, lepas itu Debbie. Lalu bagaimana dengan Tami dan Shinta. Dua orang ini telah membuatku malu taka da duanya. Tami dan Shinta yang membuat Yosie memberanikan diri untuk berteriak saat aku lewat di depannya di sebuah Mall yang padat pengunjung.

 

Aku harus pastikan, apakah Yosie masih ingat denganku atau tidak. Apakah dengan aku melepas semua topengku akan cepat membuat Yosie mengurungkan bertemu denganku. No, aku harus bisa merajuk Yosie agar dia selalu penasaran terhadapku.

Tapi apakah nanti dia malah tetap curiga denganku. Ah sial lagi-lagi pikiranku buntu.

 

“Mbak, maaf loh. Dari tadi coret sana coret sini, gerutu sana, gerutu sini. Apa apa toh?”

“Ih, siapa kamu. Tidak  ada hujan tidak ada angin, sok kenal banget.”
“Iya maaf Mbak, tapi aku tadi perhatikan sudah sangat lama, dari mulai adzan Ashar hingga sekarang menjelang Isya. Aku sudah isi perutku tiga kali, dan piring di hadapan mbak masih saja penuh. Kasihan nasinya, mubazir.”
“Duh aku tuh tidak biasa makan di warteg, makanya aku tidak makan.”
“Lah piye toh mbak. Ini Warteg. Warung Tegal. Bagaimana ceritanya ada pelanggan masuk ke Warteg tapi tidak suka makan warteg?”
“Terserah aku dong. Kan yang penting aku bayar.”

“Iya aku paham , tapi mbak tasnya Mbak, iki opo Tipi ne Mbake, belum badannya Mbae dan kaki yang dari tadi seliweran membuat teman-teman supir trukku susah duduk loh. Karena dari tadi Mbaknya asik sendiri, ditegur juga segan, ya sudah mereka duduk di luar situ.”

 

Dru terkaget. Rupanya sudah lebih dari tiga jam dia baca Novel Tania. Pembunuh berdarah dingin yang disepelekan oleh setiap orang namun dari alasan balas dendam terhadap teman-temannya kemudian menjadikan Tania sebagai pembunuh bayaran termahal untuk urusan percintaan.

 

“Dru, aku tuh bingung dari tadi. Mau ngomong salah, diam juga takut salah. Kenapa sih kamu?”
“Ndapapa Laela. Nanti saja aku bicara. Sekarang kita pulang.”
“Pulang kemana? Kamu saja tidak tahu sekarang lagi dimana?”
“Hmm memang kita dimana Laela?”

 

Kuperhatikan baik-baik Dru. Tanpa pamit dan dengan sengaja Dru tinggalkan handphonenya mengajakku ke Lebak Bulus lalu naik Bus entah jurusan mana. Dan sekarang ada di sebuah terminal tanpa kutahu tepatnya di mana.

 

Bertebaran spanduk bermacam harga tiket Bus menuju Jakarta, Depok, Cirebon, Bandung, Karawang dan Bekasi.

 

Duh ini dimana sebetulnya. Ingin kusapa laki-laki tadi, tapi bagaimana cara sapanya aku tak tahu.

“Mbak, maaf bukan saya lancang. Karena Mbaknya seperti sedang penuh emosi. Aku perhatikan bacaan Mbaknya. Kenapa baca tentang pembunuhan Mbak. Berkali-kali aku lihat Mbak mengepal tangan. Sepertinya Mbak mau berbuat hal yang sama?. Amit-amit ya Mbak, Naudzubillah, jangan ya Mbak. Pamali.”

 

Laki-laki berperawakan cungkring dan sedikit keling menatapnya dengan haru. Aku bisa membaca ketulusannya memberi wejangan pada Dru. Dengan mata yang sedikit dia turunkan, sungguh tak mengisyaratkan supir truk yang aku tahu selama ini.

 

Jika laki-laki ini dapat meredakan emosi Dru, maka aku harus belajar banyak padanya.

Malam ini, aku sedikit gelisah. Aku tak tahu akan dibawa kemana oleh Dru. Semoga kantor polis bukan tempat yang dipilih Dru untuk bermalam, malam ini.

 

  
_Bandung, 23 Oktober_