Please .... Jangan Tunggu Duka Datang Pada Mu!

Jangan karena belum pernah mengalaminya, kau menganggapnya tak ada.

Please .... Jangan Tunggu Duka Datang Pada Mu!
https://pixabay.com/photos/rose-yellow-blossom-bloom-4925102/

PLEASE …. JANGAN TUNGGU DUKA DATANG PADA MU!

 

Hampir setiap hari berita duka bersewileran di media sosial. Dan hari ini, berita duka itu datang kepada kami. Tetangga persis di depan rumah kami, pagi tadi berpulang ke Rahmatullah karena COVID-19. Beliau masuk ICU di RS Modular Simprug Jakarta tiga hari menjelang Lebaran. Dan dua hari setelah lebaran, istri dan anaknya pun diharuskan menjalani perawatan dan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit.

Sebelum masuk rumah sakit, almarhum biasa-biasa saja. Masih sholat ke masjid dengan protokol kesehatan. Tidak tahu persis dimana beliau bersentuhan dengan sumber virus ini. Beliau mengalami panas, tapi tidak tidak turun-turun dalam tiga hari. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata positif COVID-19. Begitu dirawat langsung dirujuk ke ICU karena mengalami sesak napas. Sempat menjalani terapi konvalesen, tetapi tak sanggup melewati masa sulitnya.

Maka, saya ingin mengatakan suatu hal. Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang masih dengan enteng melontarkan kata-kata “COVID ini ada gak sih?” hanya karena dia belum pernah mengalami sendiri gejala berat COVID-19. Atau, belum menyaksikan ada anggota yang  berpulang karena COVID-19.

Ayolah mikir sedikit, penyakit ini ada di hampir seluruh negara di dunia yang jumlahnya mencapai lebih dari 200 negara. Dari negara kaya sampai miskin, semua mengalaminya. Karena itulah dinamakan pandemi karena sudah terjadi di lintas negara dan benua. Dan Indonesia bukan negara yang pertama mengalaminya.

Jadi maaf, salah besar kalau menanggap pemerintah mengada-ada dalam menetapkan dan menerapkan protokol kesehatan. Protokol kesehatan dibuat untuk menjaga kita agar tidak mudah terinfeksi virus, bukan untuk menyusah-nyusahkan kehidupan kita. Prasangka buruk terhadap protokol kesehatan hanya akan membuat diri semakin tidak percaya dan tidak peduli dengan perkembangan kasus COVID-19 ini.

Tahukah kawan, kalau tubuh kita memiliki reaksi yang berbeda dalam menerima serangan COVID-19. Kalau tubuh mu tidak merasakan gejala yang berarti, atau hanya hilang indera penciuman dan rasa, maka bersyukurlah, bahwa Allah masih melindungimu, menjaga mu. Bukan berarti penyakit itu tidak ada, tetapi engkau diberi kelebihan daya tahan tubuh yang baik, sehingga mampu memulihkan kondisi kesehatan mu.

Pakar kesehatan dari RSCM Jakarta, dr. Adityo Susilo, SpPD, K-PTI, FINASIM, yang tiap hari harus menghadapi pasien COVID-19 dalam sebuah webinar mengatakan COVID-19 mengiring manusia masuk dalam ke dalam tiga “medan perperangan” yang bila tidak tertangani dengan tepat dan hati-hati akan dapat berujung pada kematian.

Saya tidak akan panjang lebar membahas pertempuran ini, tapi secara ringkas medan pertama di dalam tubuh disebut virological battle (perang terhadap virus). Bila dirimu dapat melalui fase ini, bersyukurlah. Tubuhmu akan sehat kembali.

Namun bila tak mampu melaluinya, tubuhmu akan memasuki fase medan perperangan kedua yang dinamakan inflammatory battle, dimana terjadi proses inflamasi sangat berlebihan karena tubuh dihujani badai sitokin. Orang-orang yang mengalami hiperinflamasi berisiko tinggi mengalami kegagalan fungsi organ.

Selanjutnya akan masuk dalam medan perang ketiga yang disebut endothelial battle atau perang di lapisan endotel. Secara medis ini lebih rumit lagi, karena pada saat yang bersamaan tubuh juga mengalami hiperkoagulan atau pengentalan darah secara berlebihan. Medan perang kedua apalagi ketiga adalah fase yang berat. Peti mati dan pengusung tandu membayang di pelupuk mata. Mereka yang mengalami penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, gagal ginjal, dan sebagainya lebih berisiko memasuki medan perang kedua dan ketiga.

Maka kawan, please ……… ketidakpercayaanmu pada penyakit ini jangan sampai menjadikan dirimu abai, dan jahatnya lagi mengajak orang lain untuk abai pula. Jangan tunggu duka itu datang padamu.  Percayalah, duka tak pernah menyenangkan. Tetapi mendatangkan kepedihan dan penyesalan, itu pasti.

(Jakarta, 16 Mei 2021)