Tidak Percaya Hantu

Terlalu kuno jika kita selalu menyangkutpautkan hal-hal di luar nalar dengan hal mistis.

Tidak Percaya Hantu

Wajib hukumnya bagi umat muslim untuk mempercayai hal gaib. Percaya kepada malaikat, jin, serta surga dan neraka. Tetapi, apakah hantu atau setan termasuk kepada hal gaib? Saya rasa tidak.

Saya sudah banyak mendengar cerita teman-teman saya tentang pengalaman mereka melihat atau hanya sekadar mendeteksi keberadaan hantu. Tujuh dari sepuluh teman saya mengatakan bahwa mereka pernah melihat hantu. Walaupun, beberapa di antaranya ada yang hanya mendengar suaranya atau melihat tetapi tidak secara jelas.

Kadang saya iri dengan mereka karena saya tidak pernah melihat keberadaan hantu. Sesekali kadang saya merasa dilematis. Di satu sisi saya merasa bersyukur karena tidak pernah lihat hantu, tetapi di sisi lain saya iri karena tidak memiliki pengalaman mistis yang menyeramkan. Pasalnya, saya tidak pernah sekali pun melihat keberadaan hantu secara kasat mata. Pengalaman menyeramkan yang pernah saya alami hanya sebatas mendengar suara-suara aneh dan itu pun tidak saya sangkutpautkan dengan hal mistis. Nampaknya terlalu kuno jika kita langsung menyangkutpautkan hal-hal di luar nalar dengan hal mistis.

Menurut saya (orang yang alhamdulillah tidak pernah lihat hantu), sosok hantu yang kita lihat adalah bentuk imajinasi yang ada di pikiran kita. Saat kita mengalami rasa takut yang berlebihan, secara otomatis dalam benak dan pikiran kita akan terlintas bentuk-bentuk mahluk yang aneh. Mahluk aneh yang pernah kita dengar lewat cerita orang lain atau mahluk aneh yang pernah kita lihat lewat film. Karena sejak dari dulu kita dicekoki oleh lingkungan tentang keberadaan mahluk aneh yang kita sebut hantu, lalu tanpa disadari “keberadaan” atau “bentuk hantu” itu tertanam di dalam alam bawah sadar kita.

Rasa takut yang berlebihanlah yang membangunkan alam bawah sadar kita tentang keberadaan hantu tersebut. Bentuk hantu yang tertanam di alam bawah sadar kita naik ke dalam imajinasi, emosi, dan pikiran. Ketika kita mengalami rasa takut yang berlebihan, secara otomatis, bentuk hantu itu tervisualisasikan lewat mata kita karena imajinasi, emosi, dan pikiran kita dipenuhi dengan mahluk itu. Rasa takut yang berlebihan membuat kita mengingat kembali dengan segala hal yang ada di alam bawah sadar.

Kita dibesarkan bersamaan dengan narasi yang bersangkutpautan dengan hal mistis. Oleh sebab itu, saat beranjak dewasa kita terlalu mudah untuk mengaitkan hal-hal di luar nalar dengan hal mistis.

Lantas, mengapa ku masih menaruh hati? Eh, salah, itu lagu. Lantas, apakah saya tidak takut dengan hantu? Oh, jelas, tentu saja takut. Karena sebagai anak yang dibesarkan oleh narasi mistis, secara otomatis, di dalam alam bawah sadar saya juga terdapat bentuk-bentuk mahluk aneh. Namun, ketika saya mengalami rasa takut yang berlebihan, saya selalu mencoba berpikir secara rasional agar alam bawah sadar saya tidak bangun sehingga imanjinasi, emosi, dan pikiran saya tidak memvisualisasikan hantu tersebut.

Lagi pula, apa tidak bosan selalu mengaitkan hal-hal di luar nalar dengan hal mistis? Di dunia ini banyak kemungkinan yang bisa terjadi, ngab.

Untuk memperjelas jawaban dari pertanyaan di pargaraf satu; Tidak, hantu tidak termasuk kepada hal gaib. Hantu itu datang dari imajinasi yang tervisualisasikan lewat mata.