Hanya Anak Kuli

Hanya Anak Kuli

Jangan terlalu tinggi menghargai dirimu!

Kata-kata itu tak mau juga lenyap dari telingaku. Kata-kata yang diucapkan Eliza, kakak kelasku. Kata-kata yang sangat menyakitkan. 

Itu hanya awalan. Belum lanjutannya. Apa katanya? Kau terlalu tinggi menghargai dirimu. Padahal kau bukan siapa-siapa. Hanya anak kuli! Jangan pernah datang ke sini lagi! Beli sendiri bukunya! Kira-kira begitulah katanya kalau kusajikan dalam bahasa orang dewasa.

Aku hanya membungkam ketika itu. Menangis? Tidak. Justru kuambil dan kurapikan buku teks Bahasa Indonesia SD jilid 2B yang dilemparkannya ke lantai itu. Niatku, akan kuminta Bapak menjahitnya dengan jarum besar yang ia simpan, karena telah lepas beberapa halaman.

Pantang bagiku menangisi kemiskinan. Karena aku masih punya akal dan budi. Meskipun mereka kaya, lihat saja kelakuannya itu. Persis seperti orang yang miskin hati nurani.

Kupandangi wajah Eliza sambil tersenyum. Di sebelahnya, tampak ibunya turut mencebik, memandang anak Upik Abu ini. Mereka pikir aku tak bisa membalas? 

Baiklah, kakiku memilih mundur tiga langkah. Kubalikkan punggung, kugenggam buku itu sekuat mungkin, lalu kudekapnya dengan erat. Aku bergegas menapaki jalan berupa tanah berdebu, kuning, dan kering karena sudah beberapa hari tidak hujan.

Namun, masih ada beberapa koloni Cyperus rotundus yang saling menyilang di pinggir jalan setapak ini. Sekali-sekali kucabut salah satu dari mereka, lalu kubuang lagi. Persis dengan memori yang ada di kepalaku tadi. Ingin rasanya kubuang terus menerus hingga tak tersisa satu berkas pun.

Dan akhirnya, selama tiga belas tahun ini aku berjuang. Rumput teki sejenis ini juga jadi saksi bahwa aku bisa melampaui perkataan Eliza. Menjadi sarjana sains dalam waktu tiga tahun setengah dengan IPK cum laud. Sungguh, bully-an mu itu akhirnya menjadi cambuk yang ampuh menumpas rasa sakit tadi. 

Rasa sakit yang kuubah menjadi rasa bangga bagi kedua orangtuaku. Mereka tak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk biaya sekolahku. Beasiswa, ya beasiswa. Mungkin dulu aku tak mampu memiliki buku teks karena tak punya uang. Maka dari itu meminjam bukumu. 

Kali ini, aku yang sedang berdiri di sebelah balairung ini, masih lengkap bersama toga dan penghargaan dalam perhelatan wisuda. See? Kaulihat saja bagaimana buah karya seorang yang di-bully perkara kemiskinannya. Karena Allah itu MahaAdil, Eliza.

Sudut kamarku, 27 September 2020.
Mengenang secercah kenangan di masa kecil.

Kata kunci : BUKU, JARUM, BERKAS, RUMPUT, TANAH, DAN UANG

Ditulis ketika sedang duduk di ruang tamu, tepi jendela, bersebelahan dengan lemari buku dan lainnya.