Suara Dalam Gelap

Suara Dalam Gelap

Siang itu terik tanpa angin sedikitpun. Di ruangan kelas yang kosong, Neema sedang berbenah peralatan yang berantakan, ini adalah rutinitas yang menjadi penutup pekerjaannya setiap siang. Karena semua bocah yang menjadi muridnya memiliki energi ekstra untuk memorak-porandakan seluruh kelas.

Dengan sabar ia akan memberi arahan untuk memperbaiki kembali semua peralatan pada tempatnya, sejenak sebelum bel pulang berbunyi. Namun bukannya menjadi rapi mereka malah membuatnya menjadi tambah amburadul. Itulah yang terjadi setiap hari, dan dengan telaten semua akan diperbaiki ulang oleh Neema dengan senyum.

"Iih, dicariin keliling, ternyata masih disini.”

Firda datang mengagetkan Neema yang sedang berjongkok memilah biji kacang merah dan biji kacang hijau untuk dikembalikan ke dalam wadah masing-masing. Gadis itu tersenyum dan menoleh.

"Ada apa? Mau traktir aku makan siang? Aku lagi sibuk nih, ngitung biji kacang," sahut Neema santai sambil tertawa.

"Aku lagi bokek, malah ngarep ditraktir kamu," balas Firda sambil kemudian duduk di samping Neema.

"Yaelaah, malah minta traktir. Tapi serius, ada apa?" Neema penasaran.

"Kamu masih mau cari kerja sambilan gak? Tuh, saudaraku baru nelpon katanya ada yang butuh tukang baca buku. Kalau mau, hubungi nomer telepon ini," sahutnya panjang sambil menyodorkan kertas bertuliskan deretan angka.

"Kerja apaan? Baca buku? Kok aku baru denger, ya? Maksudnya baca berita? Baca dongeng? Atau baca apaan?" Neema bertanya sambil mengerutkan kening tanda binggung.

"Makanya kamu telepon aja dulu nomer itu, baru bisa jelas. Saudaraku itu juga gak jelasin maksudnya apaan. Tapi dia bilang gak tiap hari kok, mungkin seminggu tiga kali aja kerjanya." Firda juga menjelaskan dengan sedikit bingung.

"Baiklah, nanti aku telepon. Kalau kerjanya gak tiap hari mungkin aku bisa, soalnya kan, kamu tahu sendiri seharian menghadapi anak-anak yang super itu udah nguras tenaga banget. Tapi aku juga butuh kerja tambahan buat talangin biaya obat Ibu," sahut Neema dengan nanar membayangkan ibunya dengan kondisi sakit.

"Nah, bisa jadi ini rejeki kamu. Bismillah, semoga jodoh, ya. Jadi kamu bisa kerja tambahan yang gak ribet. Yuuk aah, pulang. Kita makan mie bakso, ya? Aku ada duit kok, tenang aja," balas Firda sambil menarik Neema.

Neema Ailsya adalah seorang guru TK, tepatnya guru kontrak di sebuah TK dekat rumahnya. Menjadi lulusan terbaik di universitasnya membuatnya harus bersyukur bisa menjadi guru kontrak. Bukan karena ketidakmampuannya untuk mencari pekerjaan, tetapi karena tanggung jawab merawat Ibu yang sedang sakit hingga ia merelakan pekerjaan yang sudah didapatkannya di kota dengan susah payah untuk dilepas begitu saja.

Karena menerima pekerjaan itu berarti dia harus meninggalkan Ibu sendiri di rumah. Dengan berat hati, di patuhinya perkataan Mas Bayu—kakak satu-satunya yang dimilikinya—untuk tetap diam menjaga Ibu, selebihnya urusan Mas Bayu yang sudah bekerja di kota untuk mencukupi kebutuhan Ibu, Neema, dan juga keperluan rumah.

Rejeki lain datang, sambil merawat Ibu, diterimanya permintaan kepala desa agar Neema mau membantu sebagai guru kontrak di Taman Kanak-Kanak milik desa. Dengan penuh suka cita, Neema mengajar di TK itu, panggilannya kini berubah menjadi Bu Guru Neema. Jangan kira Neema tidak belajar dari awal untuk menjadi guru TK. Semua buku literatur mengajar, dari Menjadi Guru Bijak, Tips Mendampingi Anak, Kiat Sukses Menjadi Guru, Guru Adalah Orang Tua Abadi, dan masih banyak lagi judul buku yang dibacanya sebagai acuan untuk menjadi guru yang sukses.

Karena bidang ilmu yang dipelajari Neema semasa kuliah sangatlah berbeda dengan pekerjaannya kini. Di universitas, yang Neema pelajari adalah bidang Ekonomi dan pekerjaannya kini adalah guru. Jelas sudah perbedaan jauh itu membuatnya sedikit kesulitan untuk menjalankan pekerjaannya dengan baik, meski pada akhirnya ia bisa mendapat predikat guru favorit di mata anak-anak muridnya.

Ada beberapa murid yang juga dibimbingnya les tambahan di rumah, ini karena orang tua mereka menginginkan anaknya bisa lebih cepat membaca. Maka dengan telaten diajarkannya anak-anak itu, dan dengan metode pengajaran yang kreatif, mereka terbukti lebih bisa cepat mengenal huruf dan angka sehingga bisa jadi lebih cepat membaca.

"Ibu, sore ini ditemani Nissa ya, di rumah. Neema mau pergi sebentar ada urusan, semua sudah siap, Ibu tinggal minta makan dan nanti Nissa yang suapin. Moga aja urusannya cepat kelar jadi gak sampai malam," ujar Neema sambil mengelap badan Ibu siang ini.

"Pantesan Ibu kamu mandikan siang gini, kamu mau pergi rupanya?" tanya Ibu sedikit gelisah.

"Ibu … doakan, ya? Biar Neema keterima kerjaan sampingan ini. Lumayan buat beli vitamin Ibu," sahutnya sambil menyabuni punggung Ibu dengan lembut.

"Kamu gak capek? Kerjaanmu banyak sekali, tambahan lagi ngurus Ibu. Kasian kamu, Nduk," balas Ibu dengan suara lemahnya.

"Ini kerjaannya gampang, Bu, udah gitu gak tiap hari. Katanya sih, cuma bacaain buku aja. Makanya Neema mau ketemu sama yang ngasih kerjaan ini. Pokoknya Ibu doakan aja, ya?"

"Insyaallah berkah ya, Nak. Kamu jaga kesehatan, jangan terlalu capek," balas Ibu.

*****

Motor matic warna pink melaju menyusuri jalanan yang lengang. Ada banyak pertanyaan dalam benak Neema tentang lowongan pekerjaan aneh ini. Apakah ia akan merawat anak kecil? Apakah ia akan bertugas membacakan dongeng setiap waktu? Atau membaca cerita yang kemudian direkam layaknya seorang penyiar radio?

Sambil terus memikirkan lowongan pekerjaan aneh itu, Neema sampai pada perumahan di pinggir kota. Tampak dari jauh gapura megah yang berbentuk segitiga menjulang hingga yang bertuliskan nama Green Hill. Tanpa disadari Neema tersenyum membaca tulisan itu. Di depan portal dan pos penjaga dimatikannya motor, lalu turun menghampiri penjaga keamanan yang tersenyum ramah.

"Permisi, saya mau cari rumah Ibu Nirmala Saguni. Ini alamatnya," kata Neema sambil menyodorkan kertas yang bertuliskan: Nirmala Saguni. Green Hill blok D-10.

"Oh, dari siapa? Biar saya telpon dulu apakah Ibu Nirmala ada di tempat."

"Saya Neema, tadi sudah janji dengan Ibu," sahut Neema ramah. Rupanya memasuki kawasan elit sangatlah ketat penjagaannya, sampai mau ketemu orang saja harus melalui pos penjaga, batin Neema sambil melihat bagaimana penjaga itu berbicara melalui sambungan telepon dan menganggukkan kepala tanda kepatuhan pada lawan bicaranya.

Setelah meletakkan gagang telepon, penjaga itu melangkah menghampiri Neema yang berdiri dengan senyum tersungging.

"Silahkan Mbak, Ibu Nirmala menunggu. Mbak masuk aja, di jalan utama nanti belok kiri di gang kedua. Nanti Mbaknya cari rumah nomor 10, yang kalau gak salah ada ada mobil putih di garasi, ya itu rumah Ibu Nirmala," ujarnya sambil membuka portal tanda masuk untuk Neema.

"Terima masih ya, Pak. Tapi maaf, gak ada anjing kan, di rumah Ibu Nirmala?" tanyanya sambil tersenyum malu.

"Oh, gak ada Mbak. Jarang yang punya binatang di sini, jadi aman," balas penjaga itu ramah seolah mengetahui ketakutan Neema pada anjing.

Maka melajulah Neema dengan motornya mencari rumah dengan mobil putih di garasinya. Masih dengan kekagumannya melihat jajaran rumah yang rapi dengan arsitektur minimalis tetapi tampak asri. Tentunya hanya orang dengan kantong tebal dan ekonomi mapan yang bisa tinggal di sini batin Neema terus bergema membayangkan orang-orang yang menjadi penghuni kompleks perumahan ini.

Rumah nomor D-10 suduh ditemukannya, mencari alamat di perumahan ini tidaklah sulit karena semua rumah memiliki papan nomor yang jelas. Maka sambil memarkir motornya Neema menenangkan hatinya yang tiba-tiba bergemuruh tak menentu.

Neema berjalan mendekati bel yang berada di dekat pagar. Rumah dengan cat putih itu tampak sangat indah, jendela rumah yang semuanya berbentuk melengkung mengingatkan Neema pada gambar puri-puri dan kastil dalam buku cerita yang sering dibacanya.

Sejenak Neema mengagumi arsitektur rumah cantik ini hingga tanpa disadarinya pintu pagar sudah dibuka. Dari dalam tampak seorang perempuan paruh baya yang membungkuk pada Neema dengan senyum ramahnya.

"Mbak Neema? Sudah ditunggu Ibu di dalam," ujar wanita yang memiliki senyum keibuan itu sambil membuka pagar dengan sangat sigap.

Mereka berjalan mengikuti jalan setapak berbatu alam yang sangat cantik menuju teras rumah yang asri dan sejuk. Belum habis rasa kagum Neema akan keasrian rumah ini. Kemudian Neema dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang cantik dan anggun, walau hanya mengenakan daster rumahan yang sederhana. Tetapi dari gestur tubuhnya, beliau memperlihatkan keanggunan dan keramahan yang tulus.

"Selamat sore, kamu Neema?" sapa ramah wanita yang dia yakini adalah wanita bernama Nirmala Saguni.

"Iya, Bu, saya Neema," balasnya dengan ramah sambil sedikit membungkukkan badan tanda hormat.

Maka dengan langkah anggun wanita itu menghampiri Neema dan mengulurkan tanggannya. "Saya Nirmala, panggil saja Bunda."

"Terima kasih, Bunda"

"Mari duduk sini. Kamu cantik sekali, Neema? Kamu masih kuliah? Kamu tinggal di mana?" Pertanyaan beruntun ini mengawali obrolan asik dua wanita cantik yang kadang menyebabkan derai tawa terdengar sebagai selingan diantara obrolan panjang mereka.

Bagi Neema, sore ini bukanlah wawancara tetapi curhat kasih. Ia seperti menemukan pelukan hangat seorang Bunda di mana dia bebas bercerita dan menumpahkan segala isi hatinya. Bercerita bagaimana Neema memupus cita-cita untuk bekerja ke ibu kota demi merawat Ibu yang sakit, kemudian akhirnya merelakan diri mengabdi pada sekolah TK di kampung yang jauh dari angannya. Gadis itu juga mengisahkan kondisi ibunya yang sakit dan segala kegiatan tambahan mengajar anak-anak membaca dan menulis sebagai tambahan kegiatannya. Semua mengalir tanpa bisa dibendung, tak disadari wanita yang sore ini dipanggilnya Bunda menatapnya dengan senyum dan sesekali menggengam tangannya dengan penuh hangat seolah memberi dukungan akan semua keputusannya.

"Neema, Bunda membutuhkan seseorang yang bisa standby untuk membaca. Ada banyak berkas yang harus kamu bacakan, mungkin juga beberapa buku yang nanti dipilihnya untuk dibacakan.  Terutama yang berkaitan dengan berkas, yang utama adalah kejujuran. Itu penting, karena setiap kata dalam berkas itu adalah nyawa perusahaan. Bila kamu bersedia, bersumpah untuk menjunjung kejujuran, maka Bunda akan meneruskan kamu pada anak Bunda." Neema  mendengarkan dengan saksama penjelasan yang sangat dinantikanya untuk pekerjaannya ini.

"Maaf Bunda, saya masih binggung. Jadi tugas saya hanya membaca? Lalu jam kerjanya? Trus saya harus membaca untuk siapa?" Pertanyaan polos itu membuat Bunda kembali tersenyum.

"Kamu membaca berkas, dan sebenarnya kamu akan bekerja dengan anak Bunda. Jadi, anak Bunda sedang sakit, beberapa bulan yang lalu Bara mengalami kecelakaan yang membuat dia harus menjalani beberapa rangkaian operasi, terutama operasi retakan di seputar mata sebelah kirinya, dan juga operasi syaraf tulang belakangnya,” ujar Bunda menjelaskan. Neema bisa melihat raut sedih wanita itu dengan jelas. “Hingga saat ini matanya belum bisa berfungsi normal, dan hasil pemeriksaan terakhir mata kirinya belum bisa bergerak sinkron dengan mata kanan. Dia masih butuh waktu lama untuk bisa normal. Entahlah, mungkin syaraf mata masih terganggu, walau semua organ mata dinyatakan sehat dan masih bagus."

"Seminggu yang lalu, Bara konsultasi dengan dokter. Dia minta agar bisa kembali bekerja walau dari rumah. Sudah tiga bulan dia vakum total. Mungkin dengan kembali bekerja bisa memberikan semangat untuk kesembuhannya. Tetapi dokter tidak mengijinkan dia untuk ke kantor, dan tentu saja matanya belum boleh bekerja terlalu keras. Hingga sampai saat ini Papanya yang kembali menggantikan semua tugas menjalankan perusahaan keluarga kami. Jadi intinya Bara membutuhkan semacam asisten yang siap membacakan seluruh berkas yang masuk, agar ia bisa mengalihkan diri dengan kembali terlibat dalam urusan pekerjaan, kembali memupuk rasa percaya dirinya, kembali merasa dibutuhkan di perusahaan. Neema, sampai sini apakah kamu paham yang Bunda maksud?" Wanita itu mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan.

"Paham, Bunda, tetapi apakah saya bisa?" tanya Neema lebih pada dirinya sendiri.

"Kamu lucu, ya? Haha, setelah sore ini nanti Bunda telepon kamu lagi ya, Nak. Bunda diskusikan dulu dengan Bara serta Papanya. Masalah jam kerja, nanti kami bicarakan juga. Mungkin bisa disesuaikan dengan waktumu yang kosong agar kamu bisa tetap beraktivitas seperti biasa," ujar Bunda lembut.

"Terima kasih, Bunda. Saya menunggu kabar dari Bunda," ujar Neema dengan senyum.

"Jarak rumahmu dengan rumah Bunda jauhkah?"

"Tidak Bunda, saya naik motor. Jadi saya rasa aman," sahut Neema.

"Kamu naik motor? Hati-hati ya, Nak" tuturnya dengan penuh kekhawatiran mendengar Neema naik motor.

"Iya, Bunda," balasnya lembut sambil mengangguk.

"Hmm, coba tunggu sebentar, mungkin Bara sudah bangun dan bersedia menemuimu. Silakan sambil minum tehnya, dan itu kue Bunda yang buat, lho. Dimakan, ya.".

Tanpa disadari, gadis itu sudah mencicipi potongan kedua kue bolu buatan Bunda yang terasa lembut. Saat itulah ia menyadari bahwa ia kelaparan. Sambil tertawa dalam hati Neema membayangkan bila itu di rumahnya, pastilah semua kue bolu itu akan habis dimakannya sendiri.

Mendengar suara langkah kaki mendekat, dia merapikan posisi duduknya dan tampak Bunda berjalan menghampirinya.

"Bara sudah bangun, dia mau menemuimu. Mari Bunda antar ke kamarnya,” ujar wanita itu. “Maaf, untuk sementara temui dia di kamarnya, ya? Karena perawat sudah pulang jadi, Bunda tidak bisa membawa Bara ke ruang kerjanya." Penjelasan Bunda memaksa Neema untuk bersikap biasa saja dengan menemui calon bosnya di dalam kamar pribadi.

"Baik Bunda," ujar Neema singkat. Ia berjalan mengikuti Bunda menuju kamar Bara.

Kamar itu berada di paling ujung, pintu diketuk oleh Bunda dan terdengar suara berat yang mempersilakan mereka masuk.

"Bara, ini Neema. Bunda sudah ngobrol panjang dengannya, dan dia sudah paham apa yang akan dilakukan selama bekerja untukmu. Tinggal kamu yang memutuskan, serta diskusikan jadwal kerja kalian. Karena Neema juga bekerja sebagai guru TK, baiknya jadwal disesuaikan setelah dia pulang mengajar." Dengan lembut Bunda memberi penjelasan pada lelaki yang terbaring di ranjang luas dengan seprai berwarna biru lembut itu.

Tampak wajah lelaki itu diam mendengar penjelasan sang ibu, seperti berusaha berkonsentrasi mengerahkan kemampuan indra pendengarnya semaksimal mungkin. Kepalanya ditolehkan ke arah sumber suara. Masih dengan wajah kaku, bibirnya berusaha tersenyum ke arah Bunda.

"Bunda, gak apa kan, kalau dia langsung yang memperkenalkan diri? Biar Bara bisa mendengar suaranya. Karena untuk saat ini Bara hanya bisa mendengar suara, tak bisa melihat orangnya langsung," ujarnya berusaha menggoda Bunda yang sejak tadi berbicara memperkenalkan Neema.

"Iya, Nak, astaga … Bunda lupa. Soalnya Bunda sudah cocok dengan Neema, nanti kamu malah menolak,” ujar Bunda.

"Nah kan, Bunda suka gitu. Kalau Bara gak cocok, boleh kok, jadi pegawai buat Bunda aja," balas Bara sambil terkekeh, diikuti oleh tawa Bunda dan Neema. Gadis itu mulai lega mengetahui kalau lelaki yang akan menjadi bosnya itu ternyata tidak menakutkan seperti yang ia bayangkan. Bahkan selera humornya bagus.

"Saya Neema,” ujarnya mengenalkan diri. “Saya guru TK, setiap hari mengajar sampai jam satu siang. Setiap hari Senin dan Rabu sore mengajar les tambahan baca tulis di rumah, selebihnya saya free."

"Neema, Bunda sudah memberitahu gambaran pekerjaan yang saya butuhkan

"Sudah, dan insyaallah saya paham yang dimaksud Bunda. Seandainya ada kendala di jalan nanti, saya mohon bimbingan," sahut Neema sopan.

"Neema, saya masih harus ngobrol dulu dengan Papa,” ujar Bara meski dia sendiri sudah mulai menyukai Neema dari caranya memperkenalkan diri dengan sopan. “Karena sore ini Papa belum pulang kantor, kemungkinan besok baru kamu akan diberi kabar. Tolong berikan nomor telepon yang bisa dihubungi pada Bunda, ya. Lalu sementara, jam kerja menyesuaikan kamu saja. Karena sampai hari ini belum ada berkas yang sampai pada saya, tetapi bila saya sudah mendapatkan asisten di rumah, kemungkinan semua berkas yang tertuju pada saya akan dikirim langsung ke rumah. Kemudian, karena Bunda sudah merasa cocok dengan kamu, saya bisa apa? Tunggu kabar besok, ya?" ujar Bara panjang.

"Alhamdulillah … Neema, tunggu telepon kami besok, ya." Neema tersenyum melihat antusiasme yang tampak jelas di wajah wanita itu .

"Aamiin, terima kasih untuk kepercayaannya. Terima kasih, Bunda.”

"Baik, tunggulah kabar dari kami kalau begitu. Terima kasih juga sudah datang, semoga kita bisa bekerja sama. Saya harap kamu bisa membantu saya membaca sampai mata saya kembali normal pasca operasi," ujar Bara dengan suara tegas, mengakhiri pertemuan sore itu.

 

*****

Tak ada yang mewajibkan Neema untuk berdandan cantik, tetapi siang ini ada gemuruh dalam dadanya yang mengharuskan Neema untuk mempersiapkan diri pada hari pertama dia mulai bekerja di rumah Bara. Walau ia masih saja tidak percaya dengan telepon Bunda kemarin siang yang mengabarkan bahwa Neema sudah diminta mulai bekerja Selasa siang.

Motor matic dikendarainya dengan kecepatan sedang, tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Bara. Bel pintu ditekannya, lalu tampak Mbok Sur membukakan pintu garasi menyuruh Neema memarkir motor di samping mobil putih di garasi itu.

Sambil mereka berdua berjalan masuk, Neema bertanya. “Bunda ada, Mbok?”

"Ada Mbak. Ibu gak pernah keluar sejak Mas Bara sakit," jawab Mbok Sur dengan raut wajah sedih.

"Sudah lama Mas Bara sakit, Mbok?"

"Sudah, Mbak. Hampir mau setahun bolak-balik operasi. Kemarin operasi mata aja sudah kedua kali. Kasihan Bapak dan Ibu … sampai Mbok juga ikut sedih sekali."

"Tapi alhamdulillah sudah dua bulan ini kondisinya membaik, sudah bisa keluar kamar walau pakai kursi roda,” lanjut wanita itu. “Ada Mas Wahyu yang khusus merawat, datang tiap pagi dan sore untuk memandikan dan terapi. Jadi Mas Bara sudah bisa kedengeran ngobrol dan tertawa lagi."

"Assalamualaikum.” Neema mengucap salam dengan dengan suara parau, yang disebabkan ingin ikut menangis mendengar cerita Mbok Sur tadi.

"Wa’alaikumsalam, Neema. Silakan masuk," balas Bunda dari dalam yang langsung melangkah menghampiri tamunya di depan teras.

"Bara sudah menunggu di ruang kerjanya, ya, yang di sebelah kamar. Baru saja dia habis terapi kaki. Nanti Bunda menyusul. Sekarang kamu duluan saja," sapa lembut Bunda.

Mengangguk dan memberi senyum tanda memahami maksud Bunda, Neema melangkah menuju ruang kerja. Debar jantung yang tak biasa membuat Neema gugup. Ini adalah hari pertamanya bekerja, membuatnya sedikit gugup. Terlebih karena Bara sangat dewasa. Perjumpaannya dua hari yang lalu masih sangat membekas. Ia mengingat bagaimana dalam kondisi sakit, Bara masih bisa bercanda dan membuatnya salah tingkah, padahal tanpa ditatap oleh mata Bara.

"Assalamualaikum, selamat sore, Mas. Saya datang," salam Neema di depan pintu ruang kerja yang terbuka.

Spontan ditolehnya sumber suara dengan gerakan kepala yang spontan, mungkin karena terkejut. "Waalaikumsalam," balas dua orang yang ada di dalam ruangan itu bersamaan.

"Mas Bara, jangan menoleh spontan, ya. Berbahaya untuk syaraf mata. Biasakan untuk tetap pada satu posisi. Bila ingin berbalik ke sumber suara, maka bahu juga harus digerakkan bersamaan dengan pelan ini semata untuk menjaga syaraf mata Mas Bara." Lelaki yang berdiri di sebelah Bara memberi penjelasan dengan lugas.

"Maafkan saya, membuat terkejut," celetuk Neema canggung, merasa bersalah.

 

"Oh, silakan masuk Mbak, gak apa kok. Saya mengingatkan Mas Bara harus berulang kali, sebab beliau pasien yang nakal," goda perawat itu mengundang tawa mereka semua.

"Neema? Silakan duduk sebentar. Biarkan perawat galak ini menyelesaikan tugasnya. Baru kita mulai, ya," sapa Bara ramah.

"Kalau begitu sekalian aja Mas Bara dilap basah, ya? Malu berhadapan dengan cewek cantik, masa baunya kaya kambing bandot," ujar perawat dengan konyol.

"Hahaha, sialan. Kamu bikin aku merasa tua banget, sih. Tunggu ya, Neema. Aku madi dulu biar kamu gak kebauan.” Lelaki itu masih saja bisa membuat raut jenaka yang mengundang tawa mereka.

"Silakan, Mas" balas Neema sambil tertawa.

"Lagian Mas Bara gak tau, sih, gimana cantiknya Mbak Neema," balas perawat itu tetap dengan kekonyolannya.

"Kata Bunda juga gitu, Neema cantik. Aku percayalah kalau Bunda yang ngomong. Hati-hati ya, Neema … ini Mas Wahyu suka tebar pesona," sahutnya sambil tertawa.

"Sudah hampir sembilan bulan, tiap kesini aku cuma disuguhi Mbok Sur. Tumben sore ini bening banget, Mas," celetuk perawat itu.

"Sudah-sudah … kamu membuat Neema takut," ujar Bara menyudahi godaanya pada Neema. Kemudian kursi roda didorong menuju kamar sebelah untuk membersihkan badan Bara.

Sementara itu, Neema duduk di ruang kerja Bara sambil mengamati rak buku yang berjajar rapi. Tampak kekaguman Neema melihat koleksi buku keluarga ini. Melangkahlah Neema mendekati rak buku, sambil melihat dan membaca berbagai judul buku.

Ada banyak sekali buku yang terawat dengan baik, dan sampailah Neema pada pojok bawah yang mengharuskan dia untuk berjongkok supaya judul buku yang tertera bisa dibacanya. Ternyata ada banyak koleksi buku dongeng anak-anak di situ. Sedikit terheran dan senang, maka Neema duduk mengambil salah satu buku anak yang menarik perhatiannya. Hingga tidak disadarinya Bunda berdiri di depan pintu, tersenyum melihatnya.

"Itu koleksi buku Bara. Biar sudah dewasa, dia suka membaca buku dongeng. Jadi kalau ada pameran buku, pasti dia berburu buku apa saja." Penjelasan Bunda membuat Neema kaget dan spontan menoleh.

"Maaf Bunda, saya pinjam baca di sini, sambil menunggu Mas Bara lagi dibersihkan,” ujarnya sopan.

‌Anggukan kepala Bunda serta senyumnya yang lembut membuat Neema merasa nyaman. Bunda tampak cantik dengan setelan batik berwarna cokelatnya. Tak pernah ada yang berlebihan di setiap penampilannya, tetapi itu justru membuatnya tampak sangat anggun dan menawan. Namun sampai hari ini, Neema belum berkesempatan bertemu dengan lelaki yang dipanggil Papa oleh Bara. Pastilah dia sangat berwibawa dan baik hati, melihat istri serta anaknya adalah orang yang rendah hati.

‌Tak terasa kemudian sudah satu jam Neema menghabiskan waktu dengan membaca beberapa berkas yang ada di meja kerja Bara. Dihadapan Neema terbuka laptop pribadi Bara yang digunakan untuk membalas beberapa pesan penting dari e-mailnya. Sudah hampir delapan bulan laptop itu tak pernah dibuka hingga e-mail menumpuk, yang satu persatu Neema bacakan untuk Bara.

‌Hampir seluruh pesan dari rekan bisnisnya mengucapkan keprihatinan mendengar insiden kecelakaan yang menimpa Bara, beberapa bahkan dari rekan di luar negeri. Untung saja kemampuan bahasa Inggris Neema cukup baik sehingga tak ada kendala saat dia harus membacakan pesan serta membalas pesan sesuai dengan dikte Bara.

‌Ini rupanya yang dikatakan Bara sebelumnya, bahwa ia harus sanggup menjaga rahasia sebab seluruh dokumen yang bersifat pribadi sekalipun akan dibaca dan dibalas oleh Neema. Mengapa Bara sangat memilih siapa yang menjadi asistennya, yaitu orang yang benar-benar tidak pernah mengenalnya. Hal ini semata untuk kenyamanannya dan menjaga rahasianya.

‌Dari semua pesan yang dibacanya siang ini, ada beberapa pesan dari wanita yang bernama Sheina yang tak ingin dibaca Bara. Bila Neema membaca pesannya, lelaki itu akan selalu mengatakan "lewatkan"  hingga terhitung lebih dari selusin pesan dari wanita bernama Sheina yang tak ingin dibaca Bara.

‌Kemudian terdengar pintu diketuk tiga kali, dan Bara mempersilakan orang di luar untuk masuk. Dari balik pintu, muncul Bunda dengan nampan di tangan berisi dua cangkir dan sepiring pisang goreng hangat.

‌"Nah, kalian berdua istirahatlah dulu. Ini ada teh hangat dan pisang goreng kesukaan Bara," kata Bunda.

‌"Wah, baunya enak banget. Terima kasih, Bunda," sahut Bara sambil tersenyum.

‌Bunda mengambilan cangkir teh untuk Bara, dengan penuh kasih sayang didekatkannya pada bibir anaknya itu, hingga teh hangat itu diseruputnya. Lalu diambilkannya pisang goreng untuk Bara, yang pada gigitan pertama langsung mengundang lelaki itu berkomentar.

‌"Bun, aku bisa lho, makan sendiri. Malu di depan Neema, masa aku disuapin?”

‌Mendengar komentar itu Bunda tertawa dan menyodorkan pisang pada Bara hingga dia bisa memegang sendiri makanannya. Melihat itu Neema mengulum senyumnya.

"Hari ini sudah banyak yang kalian kerjakan? Jangan diforsir ya, Bara. Sesuaikan dengan kondisimu," nasihat Bunda.

"Baru membaca e-mail dan membalas beberapa, karena sejak kecelakaan itu aku tak pernah membuka e-mail. Syukurlah Neema bisa membantu. Mungkin besok kita akan masuk untuk melihat berkas ya, Neema," sahut Bara tegas.

"Baik, Mas, besok Neema datang siang."

"Neema, kalau kamu butuh istirahat dulu sepulang mengajar, gak apa-apa lho, datangnya agak sore. Bunda gak mau kamu juga ikut sakit," ujar Bunda menyela percakapan Bara dan Neema.

"Bunda tuh, gak jauh mikirnya sakit terus. Gak pa-pa dong, datang siang. Nanti kalau mau istirahat di sini ya, istirahat aja. Toh istirahat gak harus tidur, kan? Bisa baca buku, duduk di taman, atau beberes ruang kerjaku," protes Bara.

"Yeeh, beberes itu tugas Mbok, bisa ngambek dia kalau pekerjaannya ada yang nyerobot," balas Bunda sambil terkekeh.

"Bunda cuma gak mau ada yang sakit lagi, biar semua sehat. Kamu juga harus ingat, tiga bulan lagi perban dibuka dan semoga ada kemajuan. Jangan karena lelah, kondisimu jadi mundur semua dari harapan Bunda.” Nasihat itu mampu membuat Bara tersenyum pada bunda.

Maka sore itu ditutup dengan membalas beberapa e-mail dari rekan perusahaan yang hampir semuanya menanyakan kondisi Bara. Semua sudah dibalas dengan dikte dari Bara. Tak lama, terdengar desahan napas Bara yang tampak kelelahan, hingga Neema memberanikan diri untuk menyuruh lelaki itu beristirahat.

"Mas, saya rasa sudah cukup untuk hari ini. Mas Bara tampak lelah. Kita lanjutkan besok, ya? Maafkan Neema lancang, tapi demi kesehatan Mas juga," ujarnya dengan suara pelan.

Bara yang mendengar suara lembut Neema, mengangguk tanda setuju. "Neema, tolong laptop ditutup ya, biarkan saja di meja ini. Lalu tolong antar aku ke kamar, aku mau istirahat," pintanya dengan suara lemah tanda lelah yang ditahan.

"Baik Mas, saya antar ke kamar dulu ya, biar Mas Bara istirahat," sahut Neema sambil beranjak mendekati kursi roda dan mendorongnya menuju kamar Bara.

Sampai di ujung tempat tidur kursi roda di dekatkan pada kasur, lalu Bara berdiri dengan dibantu Neema yang memapahnya sehingga posisi Bara aman untuk duduk. Kemudian ia perlahan merebahkan badannya di kasur. Dalam keadaan lemah Bara mengucapkan terima kasih atas bantuan Neema.

"Neema panggilkan Bunda ya, Mas, sementara Neema rapikan laptop dan ruang kerja. Sekalian pamit, sampai ketemu besok ya, Mas. Terima kasih untuk hari ini," ujar Neema sambil merapikan selimut untuk Bara yang terbaring.

"Neema, terima kasih, ya. Hati-hati di jalan," sahutnya lemah.

Neema mengangguk dalam diam. Setelah dilihatnya Bara nyaman, maka perlahan dia keluar menuju ruang keluarga untuk mencari Bunda yang ternyata sedang membaca majalah.

"Bunda, Mas Bara sudah baring di kamar. Sepertinya kelelahan, saya mau merapikan laptop di ruang kerja lalu pamit pulang," lapor Neema.

Bunda yang mendengar penjelasan Neema sontak beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kamar anaknya yang tampak sudah nyaman berbaring di kasurnya. Didekatinya sang anak dengan langkah pelan, walau ia yakin Bara tetap mendengar setiap derap langkah sepelan apapun.

"Bunda, Neema sudah pulang?" tanya Bara pelan.

"Belum, dia sedang beresin laptop, Nak. Kamu terlalu lelah, ya? Besok jangan dipaksakan. Kerja di kamar aja ya, nanti meja ditaruh di sini biar kamu bisa nyaman sambil tiduran, biar kamu gak terlalu lelah," sahut Bunda dengan nada khawatir melihat kondisi Bara.

"Aku gak apa-apa Bunda Sayang, sekarang aku pengen tidur," balas Bara sambil tersenyum.

"Obat malam mau diminum sekarang atau nanti?" tanya Bunda .

"Nanti saja ya, Bun," ujar Bara dengan senyum yang bisa meruntuhkan hati wanita itu.

 

*****

Tak terasa sudah hampir dua bulan Neema bekerja untuk Bara. Semua berjalan lancar terkadang Neema datang melihat kondisi Bara yang drop, yang berarti tidak akan ada sesi kerja membaca berkas kantor, membalas e-mail atau apapun yang berhubungan dengan pekerjaan. Tetapi justru Neema duduk berjam-jam membacakan buku yang ingin dibaca Bara. Banyak sekali novel ataupun buku favorit yang dibaca Neema.

Seperti membacakan dongeng pada muridnya, Bara akan mendengarkan dengan antusias. Sangat terharu melihatnya dengan khidmat mendengarkan tiap kata yang terangkai menjadi kisah, yang dibacakan oleh Neema. Terkadang ada diskusi ringan tentang tokoh, setting cerita, bahkan perdebatan yang berujung tawa keduanya.

Suasana akan berbeda bila mereka berdua menghadapi e-mail dan berkas perusahaan, yang akan terasa tegang dan juga kaku dari diri Bara. Terlihat jelas bahwa ia adalah seorang eksekutif perusahaan yang memang memiliki kebijakan penting untuk perusahaan. Bila seperti ini, Neema akan lebih banyak diam dan patuh akan perintah.

Sampai saat ini, yang menjadi tanda tanya bagi Neema hanyalah Bara tak pernah berminat untuk membaca pesan dari wanita yang bernama Sheina yang selalu masuk ke e-mailnya. Bahkan lusinan e-mail pada hari pertamanya bekerja sudah bertambah menjadi puluhan e-mail yang tak pernah dibuka. Hingga pada sore itu, Neema memberanikan diri bertanya.

"Mas Bara, ada e-mail dari Sheina, baru masuk dua pesan. Apakah ingin dibacakan?" tanya Neema dari balik layar laptop.

"Hapus saja, aku tak ingin mendengarnya," ucapnya singkat dan tegas.

"Takutnya ada pesan penting, Mas," ujar Neema pelan.

"Tak ada yang penting lagi, hapus saja!" Tak disangka lelaki itu menjadi gusar dan tanpa sadar nada bicaranya meninggi. "Dengarkan! Bila ada pesan masuk dari e-mailnya, langsung hapus! Aku tak ingin mengetahui apapun tentangnya.”

Meski pertanyaannya selama ini sudah terjawab, Neema masih kaget mendapati Bara yang tiba-tiba marah. Gadis itu terdiam dengan jemari yang sedikit bergetar karena ketakutan. Sayangnya, keheningan yang mendadak itu membuat Bara menyadari ia telah membuat Neema terkejut. Lelaki itu menghela napas panjang, berusaha menenagkan dirinya sendiri.

“Maaf,” ujarnya memulai. “Dia mantan tunanganku, yang sejak aku kecelakaan dia cuma datang dua kali menjengukku. Bahkan dia tak mendampingiku ketika aku menjalani operasi delapan bulan lalu. Aku tidak lagi menganggapnya sebagai tunanganku."

Penjelasan Bara membuatnya semakin kaget. Rupanya ada luka yang disembunyikan dibalik alasan lelaki itu selalu menolak untuk mendengar isi e-mail Sheina.

"Bahkan dia tak pernah mendampingi Bunda di masa kritisku. Aku tak pernah membayangkan bagaimana Bunda dan Papa menjalani semuanya. Saat aku terbaring lemah tanpa kejelasan apapun. Semua mereka hadapi berdua, maka sampai kapanpun aku tak ingin lagi mengenalnya," lanjut lelaki itu dengan suara bergetar.

"Aku berusaha memahami, bahwa tidak mudah juga baginya menghadapi kondisiku saat ini. Lelaki yang sakit, bahkan belum bisa dipastikan matanya akan buta atau normal kembali. Juga fisikku, apakah bisa sehat, bisa berjalan kembali atau seumur hidup bergantung pada kursi roda.” Neema tanpa sadar meremas kuat tangannya sendiri. Tiba-tiba ia turut merasakan kesedihan dari apa yang Bara katakan. Selama ini, lelaki itu menghadapi depresinya sendirian.

“Aku tak pernah berharap ada wanita yang bersedia seumur hidup merawat lelaki cacat sepertiku. Terlebih Sheina yang terbiasa hidup bak sosialita. Dia pasti akan malu. Maka dari itu … lebih baik aku menjauh," ujarnya kembali seperti menyesali keadaan dirinya saat ini.

Neema terpaku mendengar penjelasan Bara. Untuk itu dia berjanji tak akan lagi mengungkit apapun yang berhubungan dengan Sheina. Entah mengapa, Neema sangat sedih melihat Bara yang terpuruk dengan keadaannya saat ini. Padahal, Bara adalah lelaki baik yang penuh perhatian, dan ia juga masih memiliki semangat untuk bekerja walau dengan keterbatasaanya.

Obrolan sore itu terputus saat mereka berdua mendengar langkah kaki yang menuju kamar tempat mereka bekerja. Ketukan pintu membuat Neema spontan berdiri dan menyambut sosok lelaki paruh baya dengan wajah bijaksana yang tersenyum ramah di luar kamar.

"Selamat sore. Apa Papa menganggu kerja kalian?" sapanya hangat, yang segera mencairkan suasana.

"Selamat sore," balas mereka bersamaan.

"Papa? Tumben pulang cepat? Kenalkan, ini Neema yang menjadi juru baca Bara," ujar Bara memperkenalkan Neema.

Spontan Neema menghampiri lelaki itu dan mengulurkan tangan untuk berkenalan. Lelaki itu menyambut tangannya untuk dijabat. "Yunus Indrawan," katanya sambil tersenyum ramah.

"Sudah selesaikah?” tanya lelaki itu kemudian. “Kalau sudah, Bunda menunggu Neema di dapur. Naah, biarlah kalian kerja di kamar saja biar Bara bisa sambil berbaring ya, Neema? Kamu tidak keberatan, kan? Kasihan kalau dia lama duduk, punggungnya belum kuat," ujar Pak Yunus pada Neema.

Neema mengangguk dan tersenyum sebagai tanda setuju akan usulan Pak Yunus. Ditinggalkannya bapak dan anak itu di dalam kamar yang sekarang berubah fungsi menjadi ruang kerja mereka. Neema menuju dapur, tetapi masih dengan hati yang gundah setelah mendengar penjelasan Bara tentang hubungannya dengan wanita bernama Sheina.

"Neema, karena Papa pulang cepat, kamu makan malam di sini, ya? Terus, ini Bunda buatin bolu pisang, nanti kamu bawa satu untuk ibumu di rumah. Sebentar lagi matang, kok. Tolong bawakan mangkuk sup itu ke meja makan ya, Nak," ujar Bunda tanpa jeda melihat Neema masuk ke dapur yang luas itu.

"Baik Bunda. Apa lagi yang dibawa?" tanya Neema sambil mengangkat mangkuk sup.

"Sementara Mbok Sur menggoreng lauk, Bunda mau suapin Bara makan dulu, ya. Kasihan dia belum bisa ikut makan malam bersama kita," kata Bunda sambil membawa nampan berisi makanan untuk Bara. Tampak kasih sayang seorang ibu yang tak pernah usai. Dalam hati Neema, ada sebersit doa demi kesembuhan Bara, agar lelaki itu bisa sepenuhnya sehat dan kembali normal.

Makan malam berlangsung dengan kehangatan, dengan Pak Yunus yang sangat berterima kasih atas kesediaan Neema bekerja untuk menjadi asisten Bara. Ada curi pandang penuh arti antara Bunda dan Pak Yunus, yang beberapa kali tertangkap oleh Neema. Obrolan hangat sambil makan itu dinikmati mereka tak lebih sebagai ikatan persahabatan serta rasa terima kasih. Setidaknya itu yang diartikan oleh Neema.

"Jangan lupa sampaikan terima kasih kami pada ibumu, ya. Hati-hati di jalan, jangan ngebut," ucap Bunda mengakhiri acara makan malam itu.

"Umm, Neema boleh ijin pulang dulu dengan Mas Bara?"

"Ooh, boleh-boleh. Pasti Bara menunggumu," ujar Bunda mengiyakan usul Neema.

Berjalan dengan pelan, sambil menenteng plastik yang berisi bolu titipan Bunda untuk ibunya, Neema masuk ke kamar Bara tanpa mengetuk pintu. Mendengar suara langkah kaki, perlahan Bara berkonsentrasi dan berusaha untuk mendeteksi dengan indera penciuman serta pendengarannya yang sekarang menjadi lebih sensitif, untuk menebak siapa yang datang.

"Neema, kamu belum pulang? Ini sudah malam. Bahaya naik motor sendiri," ujarnya setelah yakin bahwa yang datang adalah Neema.

"Lho, Mas Bara kok tahu itu aku? Kan, aku belum ngomong?" celetuk Neema sambil tertawa.

"Aku tau, dong. Nih ya, orang yang tidak melihat itu bakal lebih sensitif penciuman dan pendengarannya," balasnya sambil terkekeh.

"Mas, Neema pamit pulang, ya. Bunda malah bikin bolu pisang untuk Ibu,” ujar gadis itu. “Umm, Mas Bara istirahat, ya. Lusa kita lanjutkan, soalnya besok Neema libur karena ada jadwal les anak-anak," ujar Neema.

"Lusa? Baiklah. Salam buat Ibu, ya. Terima kasih, Neema," sahutnya pelan.

Neema melangkah meninggalkan kamar. Meski aneh, ia merasa seperti ada yang tertinggal, dan ia berharap bisa waktu cepat berjalan hingga lusa bisa berjumpa kembali dengan Bara dan semua pekerjaan yang mulai disukainya.

Sementara Bara pun merasakan sepi, setelah berjumpa kembali dengan suara Neema yang lembut, wangi parfumnya yang sangat menyegarkan, hingga derai tawa malu serta kadang suara gugupnya yang menggemaskan. Bara baru mengenalnya dua bulan, tetapi ia tak bisa memungkiri bahwa dirinya mulai memikirkan Neema. Ia membiarkan imajinasinya bermain tentang rupa wajah Neema yang belum pernah dilihatnya.

Bahkan Bara tak pernah berminat untuk menayakan pada Bunda bagaimana wajah Neema sesungguhnya. Karena ia menikmati semuanya, bagaimana waktu mempermainkan perasaannya yang penasaran. Ia rasa, saat ini ia cukup senang bermain dengan semua bayangannya tentang Neema.

*****

Sepanjang jalan menuju rumah, Neema merasakan gemuruh yang tak biasa. Ada banyak potongan peristiwa yang berkelebat menjadi potongan puzzle yang sangat rumit untuk dirangkai. Entahlah apa yang akan terjadi, Neema tak pernah berani memupuk harapan sebab semua adalah misteri.

Memasuki pekarangan rumah yang sunyi lampu teras sudah menyala terdengar sayup suara Ibu mengaji. Senyum Neema tersungging spontan dan bergegas mendorong motornya ke garasi samping rumah, menutup pintu pagar sambil berlari kecil menenteng plastik yang berisi kue bolu pisang titipan Bunda.

“Assalamualaikum, Ibu ... Neema datang,” teriak Neema sambil masuk ke rumah melalui pintu samping.

“Wa’alaikumsalam, sudah pulang, Nak?” sahut Ibu sambil tersenyum

Diciumnya tangan Ibu sambil menunduk, dengan tawa ceria diangkatnya bungkusan plastik bening itu di hadapan Ibu.

“Ada titipan bolu dari Bunda buat Ibu. Rasanya enak banget lho, Bu, “ ujar Neema .

“Oh, ya? Pasti enak … Ibu pengen cicip ya, Nak,” balas Ibu bahagia.

“Tunggu Neema  potongin ya, trus Ibu cicip. Pasti suka,”  ujar Neema sambil berlalu ke arah dapur.

Ibu menunggu di ruang tamu dengan masih mengenakan mukena, rasa lega melihat anak gadisnya sudah kembali pulang. Sejak Neema bekerja, sering kali ia sampai rumah menjelang petang. Ada  kekhawatiran tentang perjalanan yang ditempuh Neema, tetapi semua ditepisnya dengan lantunan doa panjang agar anak gadisnya selamat di perjalanan.

“Hmmm, enak sekali. Lembut, Nak. Bunda itu pandai membuat kue, ya?”

“Iya, Bu. Tiap Neema datang Bunda selalu sibuk di dapur. Biar ada pembantu, selalu Bunda yang menyiapkan makan untuk keluarganya,“ jelas Neema sambil duduk berdua menikmati bolu.

“Trus kerjaanmu bagaimana, Nduk?”  pertanyaan Ibu.

“Alhamdulillah lancar, Bu. Neema itu tugasnya bacakan semua file kerjaan kantornya Mas Bara sekaligus membalas semua file. Tetapi berdasarkan dikte dari Mas Bara,” jelas Neema pada Ibu.

“Sejak mata Mas Bara sakit akibat kecelakaan, dia belum bisa melihat, Bu. Kasihan … semua jadi terbatas secara fisik.” Neema mengingat kondisi Bara dengan iba. “Semua aktivitas dilakukan dari rumah. Termasuk Bunda, jadi gak pernah keluar rumah karena fokus menjaga Mas Bara. Sampai semua kegiatan kantor juga dipindah ke rumah.”

“Untuk sementara Pak Yunus yang menggantikan di perusahaan. Pak Yunus itu juga baik banget lho, Bu. Dia sangat ramah dan tadi sempat minta Neema makan bareng mereka.”

“Alhamdulillah kamu dipertemukan dengan orang baik ya, Nak. Jaga kepercayaan mereka.”

Obrolan malam itu diakhiri dengan rasa lega mendengar penjelasan Neema tentang pekerjaan barunya. Anak gadisnya yang sangat pintar itu adalah tumpuan harapannya. Pernah dia sangat merasa kehilangan saat Neema memutuskan untuk menerima pekerjaan di kota, bahkan memikirkannya saja Ibu tak sanggup akan berpisah dengan Neema.

Hingga terjadilah hal di luar kehendaknya, Ibu sakit stroke hingga tak bisa bergerak. Hanya Neema yang mengurusnya maka dengan berat hati ditolaknya pekerjaan yang sangat diinginkannya itu. Dengan diam dan merawat Ibu, maka perlahan Neema bisa bahagia dengan segala aktivitasnya yang tak pernah selesai. Kesibukan yang padat, hingga jadwal melupakan semua angannya yang lalu.

Bekerja dengan hati, sepeti itulah gambaran Neema saat ini. Belajar membaca situasi perusahaan dan juga belajar menyelami peran serta keputusan penting yang diambil seorang pemimpin. Tak pernah terbayangkan Neema menempati posisi penting dalam hal ini sebagai orang kepercayaan pemimpin perusahaan walau hanya berperan sebagai bayangan semata. Neema bahkan bisa mengetahui rahasia sebuah perusahaan. Bahkan masalah pribadi bosnya pun dia ketahui.

Menghadapi Bara yang sangat labil tentu memiliki tantangan tersendiri, ada ketakutan saat mendampingi Bara dengan kondisi yang emosional, kemarahan bisa saja terjadi walau itu disebabkan oleh kesalahan yang sepele. Bahkan Neema tak jarang kena bentak Bara saat bekerja. Tanpa diketahui oleh Bara, sering Neema menangis dalam diam di hadapan laptop saat bekerja mendampingi Bara.

Bahkan pernah ada kejadian konyol saat Bara emosi Neema diam seribu bahasa, tetap bekerja tanpa menyahut sedikitpun, hingga Bara menjadi tambah emosi serta merta menyuruh Neema keluar dari ruangan. Dengan langkah tergesa, Neema keluar menuju taman samping untuk menenangkan diri sambil terisak. Kejadian itu tak luput dari perhatian Bunda, tetapi Bunda tak ingin ikut campur urusan pekerjaan mereka. Maka dengan hati pilu, diawasinya gadis cantik itu menangis sendiri di taman.

Setelah tenang, Neema masuk ke ruang kerja yang tak lain adalah kamar Bara. Tetap dengan diam dibereskan semua berkas dan laptop, ditaruh dengan rapi, sambil diawasinya Bara yang mengetahui keberadaan Neema di ruangan itu. Namun Bara pun diam, keduanya menahan gengsi untuk memulai pembicaraan sampai Neema melangkah pulang, didengarnya suara langkah kaki yang menjauh dari kamarnya, hingga sayup terdengar suara Bunda yang membesarkan hati Neema untuk sabar menghadapi sikap Bara yang sangat emosional sore itu.

Suara motor yang menjauh, membuat Bara sangat geram hingga tanpa sadar dipukulnya kasur dengan kepalan tangannya seolah meluapkan emosinya. Tak pernah disangkanya kepergian Neema dengan keadaan sedih sudah membuat Bara merasa bersalah. Ada rasa takut kehilangan Neema, bagaimana bila Neema tidak kembali bekerja esok hari? Resah membayangkan Neema pulang dengan kesedihan, hingga ia merasa menjadi lelaki bodoh yang tak punya hati telah menyakiti perempuan hanya karena hal sepele.

Semua bayangan itu diingat Neema dengan senyum, bahkan perjumpaan esok harinya sangat kaku. Itu menjadikan Neema selalu mengucapkan kata maaf sebelum melakukan pekerjaan agar Bara tidak marah, tetapi justru itu yang membuat Bara jengkel hingga sore itu mereka habiskan hanya diam membisu hingga menjelang malam.

“Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana menjadi orang buta dan bisu, dan hanya kamu yang bisa membuatku jadi bodoh seperti ini.”

Ucapan Bara sore itu yang mencairkan suasana, menjadikan Neema sontak tertawa dan menangis secara bersamaan hingga membuat Bara meminta maaf karena kelakuan konyolnya.

Di antara semua masalah yang paling membuat Neema tak nyaman adalah soal Sheina. Karena secara sadar Neema selalu membaca pesan Sheina yang dikirim untuk Bara. Permintaan maaf atas sikapnya yang tidak dewasa dengan membiarkan Bara menghadapi masalahnya sendirian. Tentang keputusan orang tuanya yang memintanya memutuskan pertunangan, bahkan tentang segala resahnya sebagai wanita. Semua menjadi beban yang berat untuk Neema.

Entahlah, tapi ada rasa pilu melihat Bara dicampakkan. Diam-diam ia mengharapkan kesembuhan Bara agar bisa kembali hidup normal dengan kondisi fisik yang sehat, serta berdoa agar bisa mendapatkan wanita pengganti Sheina yang tulus menerima kondisi Bara bila kemungkinan terburuknya adalah buta permanen.

Untuk masalah ini ada desir halus yang menjalari hatinya, tak jarang Neema membayangkan wajah wanita yang bernama Sheina—wanita yang pernah mengisi hati Bara. Pastilah dia wanita cantik, anggun, pintar dan sangat baik hingga bisa menaklukkan hati Bara. Dari yang Neema ketahui, mereka sempat bertunangan hingga kecelakaan itu terjadi dan hubungan mereka menjadi terombang-ambing.

Yang menjadi pertanyaan baginya, mengapa Sheina tidak datang saja ke rumah menjenguk Bara dan bertemu langsung dengan tunangannya? Mengapa dia hanya menanyakan kabar kondisi Bara melalui e-mail? Bukankah bertemu langsung akan bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka? Banyak sekali pertanyaan yang mengisi otak Neema hingga dia jadi tertawa sendiri saat menyadari ketololannya yang membuang waktu memikirkan hubungan Bara dan Sheina.

Dengan perlahan ditariknya selimut untuk menutupi badannya dan tangannya menggapai lampu untuk mencari saklar kemudian mematikannya sehingga kamar menjadi gelap. Neema berharap bisa segera memejamkan mata.

*****

Hampir satu jam Bara bolak-balik di atas kasur dalam kamarnya, gelisah. Entah apa yang dipikirkannya, tiba–tiba sepanjang sore ini dia hanya terdiam. Bahkan saat Bunda datang untuk memberikannya obat malam, Bara hanya diam. Bukannya Bunda tidak merasakan perubahan Bara, tetapi Bunda memberinya waktu untuk berpikir dan menyelesaikan perdebatan batinnya.

Bunda sangat mengenal putranya, yang sejak bekerja dengan Neema ada semangat yang sangat jelas terlihat. Bara bukanlan pria yang gampang dekat dengan wanita hingga perubahan yang terjadi pada dirinya selalu tampak jelas. Entahlah, Bunda sangat senang turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Bara.

Bunda sering kali mencuri pandang bila mereka berdua bekerja. Kadang dari kejauhan, keduanya tampak sama-sama menertawakan sesuatu yang hanya mereka yang paham. Tapi ada kalanya wajah Bara tampak tegang, kaku seperti biasanya hingga menulari wajah Neema yang berada di hadapannya.

Sore ini sepulang Neema, Bunda merasakan ada kegelisahan yang dirasakan Bara tetapi dengan bijak Bunda berpura tidak tahu hingga malam ini dari luar jendela dilihatnya putranya belum tidur maka diputuskan untuk menghampirinya paling tidak mendengar ceritanya sebentar hingga dia bisa berbagi beban dengan putra sematawayangnya.

“Bara, kamu belum tidur? Bunda boleh masuk?” sapa Bunda dari depan pintu kamar yang masih terbuka.

“Ah, Bunda. Iya rasanya malam ini agak sumuk tapi Bara belum mau menyalakan AC,” sahutnya sambil berusaha tersenyum.

“Baiklah, jendelanya Bunda tutup, ya, terus nyalain AC biar sejuk. Kamu harus istirahat, Nak,” balas Bunda sambil sibuk menutup jendela kamar yang masih terbuka dan merapikan gorden lalu menyalakan pendingin ruangan hingga terasa sejuk.

“Ada apa, Bara? Kamu kelihatan gelisah malam ini.” Bunda duduk di sisi ranjang anaknya.

“Bunda … kapan sih, aku bisa punya rahasia?” sindir Bara sambil terkekeh sendiri.

“Iya. Kapan ya, Nak?” balas Bunda tertawa.

“Kadang Bunda tuh, pengen lho, gak peduli supaya kamu lebih leluasa nyelesaikan masalahmu. Tapi melihatmu gelisah, Bunda selalu gak tega,” lanjut Bunda sambil memperbaiki selimut putranya.

“Kadang aku pengen juga lho, Bun, menyembunyikan semuanya dari Bunda. Tapi kok, gak bisa ya?”

Bara beringsut mendekat, meraba permukaan ranjangnya hingga tangannya menemukan tangan Bunda untuk digenggamnya.

“Bunda suka Neema. Dia gadis sederhana, cantik, dan juga dewasa. Entahlah, saat melihatnya pertama kali, Bunda langsung suka melihatnya. Kadang saat dia sedang tidak jadwalnya ke sini dia WA Bunda hanya sekedar menanyakan, Bunda butuh apa? Hari ini Neema ke pasar, apakah Bunda butuh sesuatu?” Bunda menirukan nada bicara gadis itu, membuat Bara sedikit tertawa karenanya.

“Itu hal kecil dan remeh, Nak, tetapi buat Bunda itu perhatian dan tanggung jawab yang luar biasa. Bara, Bunda berdoa untukmu agar mendapatkan wanita terbaik yang sayang dengan tulus serta menerimamu sepenuh hati,” ujar Bunda panjang sambil mengelus punggung tangan anaknya.

Sementara itu Bara merasa sedikit kaget mengetahui Neema sangat perhatian pada Bunda hingga hal kecil itu membuat bundanya kagum. Sungguh, mengetahui kebenaran itu membuat Bara merasa kagum pada Neema.

“Minggu kemarin Neema mampir ke sini hanya untuk mengantarkan tomat buah karena dia kebetulan ke pasar dan melihat tomat segar yang murah. Sumpah, hanya mengantarkan tomat lalu pulang lagi, hahahah! Anak itu baik sekali.” Bunda tak dapat menahan tawa mengingat kelakuan gadis itu.

“Sepertinya dia tidak lelah naik motor. Membayangkan dia dengan kesibukannya serta merawat ibunya yang sakit saja, Bunda sudah lelah, tetapi dia selalu tampak semangat.”

“Mungkin dia punya resep multivitamin khusus ya, Bun?”

“Besok Bunda tanyakan, aah,” balas Bunda bergurau.

“Dari suaranya, kebayang dia cantik. Dan dari aroma parfum yang dia pilih, sepertinya dia wanita lembut,” ujar Bara sambil menerawang, mengingat kembali apa yang ia sebutkan.

“Dia cantik, lembut dan baik hati, Nak. Tadi Papa juga bilang, selepas kami makan bersama, dia tanpa canggung merapikan meja makan, menaruh masakan di lemari bahkan mencuci piring tanpa diminta dan semua beres dalam sekejap. Lalu saat Neema minta ijin pamitan padamu, Papa bilang dia seperti memiliki anak perempuan. Bunda dalam hati mengaminkan, moga aja ada malaikat lewat trus didengar. “

Cerita Bunda membuat mereka berdua tertawa.

“Papa kadang lucu, tapi Bunda senang dia berkata seperti itu,” sambung Bunda.

“Papa sama Bunda selalu seperti itu. Tapi beneran, kalau Bunda mau angkat Neema jadi anak, Bara gak keberatan kok, punya adik perempuan, hahahah!” ujar Bara sambil tertawa.

“Bunda sih, mana aja. Mau jadi anak angkat oke, mau jadi mantu juga alhamdulillah … pokoknya merem lah, yang penting Neema yang terpilih,“ canda Bunda sambil menepuk punggung tangan anaknya, yang kemudian disambut tawa oleh Bara.

“Bunda selalu punya skenario sendiri, tapi saat ini Bara pasrah. Semoga semua baik-baik saja,” balas Bara, sedikit berusaha mempertahankan senyum di wajahnya. Ia tak ingin Bunda bertambah khawatir.

“Nak, selesaikan semua urusanmu dengan Sheina. Apapun itu, Bunda menerima keputusanmu. Tetapi baiknya selesaikan segera agar kamu bisa tenang,” ujar Bunda dengan nada yang sangat berbeda. Beliau terdengar lebih tertekan saat membahas wanita itu, Bara menyadarinya.

“Iya Bunda, segera Bara selesaikan urusan dengan Sheina.” Bara meyakinkan Bunda dengan mengeratkan genggamannya pada tangan beliau.

“Tidak baik menggantungkan wanita, cepat ambil keputusan agar semua tidak berlarut, Nak. Bunda selalu yakin apapun keputusanmu adalah yang terbaik.”

“Sheina juga gadis baik, dan kita harus tetap melihatnya sebagai wanita yang pernah menjadi tunanganmu, tetapi jangan marah ataupun dendam dengan sikap dan keputusannya. Tidak gampang menjadi Sheina saat ini” ujar Bunda dengan bijak.

Inilah yang membuat Bara selalu nyaman berbagi rahasia dengan Bunda, karena wanita itu selalu memberikan pandangan berbeda dalam menilai suatu masalah. Hingga tak pernah mampu Bara untuk tidak melibatkan Bunda dalam setiap keputusan yang diambilnya.

Malam itu ditutup dengan pelukan hangat dari Bunda serta bisikan bahwa Bunda selalu menyayanginya dengan sepenuh hati. Hal itu tak pernah diragukan Bara karena sampai saat ini dia bisa bertahan menghadapi kenyataan hidup pasca kecelakaannya, dan itu semua karena semangat yang ditularkan Papa dan Bunda.

*****

Siang ini Bara hanya menghabiskan waktu dengan setengah sesi terapi, sebab melihatnya melakukan tanpa semangat, perawat memutuskan untuk mengistirahatkan Bara dari latihan dan mengantinya dengan pijat refleksi ringan di seputar punggung. Dengan posisi duduk tegak di atas kasur Bara berusaha menikmati pijatan di punggungnya yang terasa sepeti sengatan setrum listrik.  

“Sebenarnya otot punggung sudah lebih rileks, makanya Mas Bara gak merasa kesakitan kalau duduk agak lama. Tapi tetep jangan dipaksakan ya, Mas, biar cepat pulih,” ujar perawat mencoba menjelaskan kondisi pada pasiennya.

“Aamiin,” ujar lelaki itu mengaminkan. “Tapi masih belum bisa lho, kalau aku paksakan berdiri. Rasanya hancur badan ini.”

“Waah, jangan dipaksakan ya, Mas. Gak boleh!” balas perawat itu sambil terus memijat. “Lho, hari ini sekretaris cantik gak datang ya, Mas?”

“Iya, dia libur. Jadwalnya ngajar baca tulis,” jawab Bara santai.

“Waah, saingan Mas Bara anak kecil dong, ya?” candanya sambil tertawa dan disambut tawa Bara yang lepas.

“Ngawur! Kok saingan, sih? Tetap pemenangnya murid lesnya itu lah,” balas Bara.

“Biarin aja Mas, kaya film india, kan? Pemeran utama bakal menang belakangan. Jadi sabar ya, Mas Bara.”  

Suara bel berbunyi nyaring, tergopoh Mbok Sur membukakan pintu pagar dan tersenyum melihat tamu yang datang.

“Lho, Mbak Neema dari mana?”

“Bunda ada? Ini ada titipan jenang ketan dari Ibu,” ujar Neema sambil memperlihatkan rantang enamel bersusun tiga pada Mbok Sur.

“Ada Mbak, monggo masuk aja. Bunda lagi baca majalah di ruang tengah sambil nungguin Mas Bara lagi terapi.”

“Ooh, Mas Bara belum selesai terapi?” tanya Neema sambil berjalan menuju garasi lalu masuk lewat ruang tengah dan dilihatnya Bunda sedang asik membaca majalah.

“Assalamualaikum, Bunda. Ini ada titipan jenang ketan dari Ibu,” sapanya santun sambil berdiri di ambang pintu.

“Wa’alaikumsalam … lho, Neema? Apa itu? Kenapa Ibu repot buat jenang segala?” balas Bunda terkejut.

“Tadi habis ngajar les, trus Ibu suruh antar ini,” sahut Neema sambil berjalan ke meja makan dan meletakkaan rantang di meja.

Dengan tersenyum Bunda membuka rantang susun itu dan sangat bahagia melihat isinya. “Ini jenang kesukaan Bara,” gumam wanita itu sambil dengan lincah mengambil mangkuk kecil dan menyendokkan jenang ketan hitam itu ke kemudian menuangkan santan kental putih di atasnya.

“Tunggu sebentar, ya. Selesai pijat tolong Neema antarkan ke kamarnya Bara, ya? Pasti dia senang mengetahui kamu datang siang ini,” sahut Bunda ceria.

Sambil menuangkan semangkuk lagi untuk Mbok yang berdiri di dapur sambil tersenyum melihat keceriaan majikannya yang sudah kembali terasa sejak kehadiran gadis cantik di hadapannya ini.

“Bunda gak sabar pengen cicip. Pas anget lho, ini jamnya mulut pengen ngemil yang manis, legit, gurih kayak gini,” kata Bunda sambil menyuap jenang ke mulutnya.

Neema tertawa melihat Bunda, dan mengambil gelas bening lalu menuangkan air putih dan menaruhnya di dekat Bunda. Dicarinya tempat tisu yang selalu diletakkan di atas dispenser air. Bunda melirik Neema dengan tersenyum, dilihatnya gadis itu tanpa canggung meladeninya walau hanya segelas air putih. Ada rasa bahagia yang menyelinap di hati Bunda.

Tak lama, terdengar suara langkah dari dalam kamar Bara, dan tampak sosok perawat keluar dengan menenteng tas berisi perlengkapan serta peralatan pijat untuk Bara. Perawat itu terkejut melihat kehadiran sososk Neema di dapur.

“Lho katanya libur, Mbak? Kok ada di sini?” sapanya.

“Iya … cuma antar titipan aja,” jawabnya. “Eh, Mas Bara udah selesai?”

“Baru aja rampung, pasiennya lagi galau jadi setengah sesi aja,” balas perawat itu sambil tertawa. Mereka kemudian disambut Bunda yang menghampiri dengan senyum keibuan.

“Bentar lagi galaunya ilang, kok,” celetuk Bunda dengan jenaka. “Sudah, antarkan jenang ke kamar Bara ya, Neema.”

“Iya, Bunda,” sahut Neema patuh sambil berlalu dengan nampan di tangan berisi semangkuk jenang dan air putih. Berjalan perlahan menuju kamar Bara dengan gemuruh bahagia di dadanya.

Dari depan pintu dilihatnya Bara sedang berbaring sambil mendengarkan radio kecil di samping tempat tidurnya. Gadis itu melangkah masuk tanpa mengetuk pintu karena tangannya memegang nampan.

“Hmm … Neema?” tebak Bara dengan suara ragu. Meski begitu, rupanya ia benar.

“Lho, kok Mas Bara tahu? Aku kan, belum kasih salam?” Neema tertawa kemudian.

“Kamu nih, bikin kaget aja. Kapan datang? Kan, kamu libur?” tanya Bara dengan senyum tersungging di bibirnya.

“Gak boleh datang, ya, kalau gak jadwal kerja? Maafkan Neema, deh, menggangu,” balasnya dengan suara merajuk.

“Alaahh, kayak anak ABG aja merajuk. Maksudku kamu kok, udah sampai sini aja padahal ini siang bolong,” balas Bara tertawa.

“Tadi pulang ngajar, ternyata Ibu sudah siapkan jenang ketan buat diantar ke Bunda. Akhirnya sampai sini, dah,”sahut Neema ceria.

“Apa? Jenang ketan? Itu kesukaanku, lho,” balas Bara semringah.

“Makanya, Mas Bara duduk dulu. Ini mau Neema suapin,” ujar Neema sambil meletakkan nampan di atas meja, lalu berjalan menuju ranjang dan membantu Bara duduk. Sedikit meringis, Bara merasakan nyeri punggungnya saat duduk. Dengan sigap Neema mengatur beberapa bantal untuk menjaga punggungnya. 

“Terima kasih, Neema,” ujar Bara sambil tertegun mencium aroma parfum yang sangat lembut, yang tiba-tiba merasuki indera penciumannya.

“Ini Mas rasain jenang buatan Ibu, ya,” ujar Neema dengan bangga.

“Yakin deh, pasti enak. Aku suka banget jenang ketan hitam.” Bara menikmati suapan jennag dari gadis itu sambil tersenyum kecil.  “Hmm … benar, kan? Rasanya pas banget, enak, gurih,” ujar Bara sambil menikmati suapan jenang dari gadis di hadapannya.

“Ntar Neema bilang Ibu, pasti Ibu senang sekali,” balas Neema sambil tertawa.

“Ibu sehat? Tetap kontrol, kan?” tanya Bara.

“Alhamdulillah, sudah jauh membaik. Tiap pagi berjemur, trus sekarang sudah bisa jalan walau pelan. Bahkan kadang nekat masak di dapur, katanya buat gerak olahraga.” Neema menjelaskan tentang kondisi Ibu.

“Kok gak lanjut terapi? Penting lho, biar ototnya cepat pulih,” tanya Bara.

“Mas, beliin Ibu obat tiap bulan aja sudah alhamdulillah. Kalau tambah Ibu harus terapi berarti Neema dan Mas Bayu harus kerja tiga kali lebih keras. Dengan kondisi Ibu sekarang aja sudah syukur Mas, Ibu bisa jalan. Semoga Ibu tetap seperti ini,” ujar Neema disisipi doa tulusnya.

Kening Bara berkerut. “Siapa Mas Bayu?” tanyanya penuh selidik.

“Mas Bayu itu kakak Nemaa satu-satunya, sekarang kerja di Jakarta, di pabrik. Alhamdulillah dia yang mencukupi semua kebutuhan kami di sini termasuk obat Ibu. Tapi sejak Neema kerja, Mas Bayu sudah tidak menanggung Neema lagi kecuali untuk kebutuhan rumah.”

Penjelasan Neema membuat dada Bara terasa sesak. “Hmm, Mas Bayu sudah berkeluarga?” tanya Bara sambil terus menikmati jenang ketan yang disuapi Neema.

“Belum, Mas. Entah apa yang membuat Mas Bayu belum terpikir untuk berumah tangga. Kemarin sempat dengar punya pacar, tapi beritanya ilang lagi. Kalau Mas Bayu pulang, selalu sendiri dan tetap kesehatan Ibu yang utama,” tutur Neema.

“Seneng ya, punya saudara. Aku cuma sendiri, gak ada kakak atau adik,” gumam Bara.

“Enaklah anak tunggal, gak perlu rebutan lauk atau kasur, Mas,” jawab Neema seenaknya dan disambut tawa oleh Bara.

“Aku gak kebayang yang rebutan kasur itu, lho,” balas Bara di sela tawanya.

“Lho, gak percaya? Dulu aku sama Mas Bayu selalu rebutan lauk kalau lagi makan, trus mau tidur rebutan bantal atau kasur. Kami sama-sama maunya dekat tembok karena gak mau jatuh kalau di pinggir,” cerita Neema tentang masa kecilnya.

Sore itu mereka berdua habiskan dengan cerita masa kecil masing-masing. Bara bercerita tentang kenakalannya yang selalu merusuhi Bunda kalau lagi masak, menghamburkan mainan bahkan kenakalannya yang menarik sanggul cepol milik nenek. Tawa mereka terdengar hingga ruang makan, membuat Bunda tersenyum turut merasakan kebahagiaan mereka.

“Neema terima kasih ya, sudah datang hari ini,” ujar Bara tiba-tiba, membuat wajah Neema tersipu.

“Iya, Mas,” gumam gadis itu lirih. Sekarang Mas Bara mau baring? Sudah capek, ya?” tanya Neema melihat kondisi Bara yang sudah lama duduk.

“Iya, aku pengen baring, tapi kamu jangan pergi, ya. Tolong bacakan aku novel Love Story, karya Erich Segal yang ada di rak nomer dua, sampulnya putih,” pinta Bara tanpa bisa ditolak.

“Itu novel dari jaman aku remaja, mungkin aku sudah hapal setiap kata yang tertulis. Dulu aku malu kalau ketahuan baca novel kaya gitu, kesannya bukan laki banget. Tetapi setelah aku mengalami sendiri seperti apa menjadi Jenny si tokoh utama dalam cerita itu aku akhirnya bisa memahami mencari seorang seperti Oliver Barrett IV sangatlah sulit, tetapi aku meyakini pasti menemukannya,” ucapnya dengan suara berat yang mampu membuat Neema terdiam mendengarnya.

Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju rak buku dan mencari di rak kedua. Semua buku tertata rapi di dalam kamar Bara. Ada rak buku kecil dan semua yang tertata di situ adalah buku yang paling sering dibacanya, yang Bunda sebut sebagai jimat.

Buku yang dimaksud Bara tipis dan kecil dibandingkan semua buku di rak itu. Neema membaca sampul belakang novel yang dipegangnya, yang menampilkan foto si penulis dengan tulisan Dosen Sastra Yunani dan Sastra Latin di Universitas Harvard, Yale, dan Princeton.

Duduk tegak di samping tempat tidur Bara, mulailah Neema membaca novel yang diminta Bara. Dengan suara lembut dan intonasi yang tepat, Bara sangat menikmati tiap kata yang keluar dari mulut Neema. Sepeti anak kecil yang dibacakan dongeng, Bara sangat terhanyut oleh cerita yang sudah dihapalnya luar kepala.

Sesekali Neema terdiam sesaat mengatur nafas, lalu membacanya kembali. Ini ujian yang paling susah untuk dilakukan, tetap menjadi dirinya sendiri saat membacakan novel dengan kisah yang sangat menyayat hati. Neema harus tetap menjaga kewarasaanya utuk tidak terhanyut menjadi Jenny si tokoh utama yang sedang berjuang dengan sakitnya itu. Ia harus menahan isakan tangis yang kadang tak bisa ditahannya. Dibiarkannya air matanya jatuh sambil terus membaca.

“Ini satu-satunya permintaanku, Oliver,” ujarnya membaca dialog Jenny. “Kecuali ini aku tahu kau bakal baik-baik saja. Tenggorokanku kembali seperti tersekat dan mengucapkan oke pun sangat sulit bagiku. Aku hanya memandang Jenny sambil membisu.

“Persetan dengan Paris, katanya tiba-tiba. Hah? Persetan dengan Paris, musik dan segala tetek bengek yang kau pikir telah kaucuri dariku. Aku tak peduli, brengsek. Tidak bisakah kau percaya padaku?”

“Tidak,  jawabku terus terang. Kalau begitu keluar dari sini, ia berkata. Aku tak mau kau berada disampingku kalau aku mati. Ia bersungguh-sungguh. Aku selalu tahu kalau Jenny bersungguh-sungguh. Jadi aku membujuknya dengan berbohong. Aku percaya, ujarku. Begitu lebih baik, sahutnya.” Neema pun merasa napasnya sesak, seakan kesedihan dari apa yang ia baca menekannya sedemikian rupa.

“Sekarang aku mau minta tolong, aku nyaris tak kuasa menahan air mata, namun aku berjuang untuk menghalaunya. Aku tak akan menagis. Aku hanya memberi isyarat kepada Jennydengan menganggukkan kepala—bahwa aku bersedia melakukan apa saja untuknya.”

Mendengar suara Neema yang bergetar, Bara menggeser tangannya dan menemukan tangan gadis itu untuk digenggamnya.

“Tolong pegang aku erat-erat, katanya. Aku letakkan tanganku pada lengannya—ya Tuhan, lengannya begitu kurus—dan meremasnya sedikit. Bukan Oliver, katannya. Peluklah aku. Berbaringlah disisiku. Dengan sangat hati-hati—karena selang-selang dan sebagainyaaku naik ke tempat tidur dan merangkulnya dengan erat. Trims Ollie. Itulah kata-katanya yang terakhir—”

Neema menarik nafas dan merunduk, sesegukan di atas ranjang Bara. Gadis itu tak kuasa mengendalikan emosinya yang ikut terhanyut oleh cerita yang dibacanya. Tangan Bara menyentuh kepala Neema, mengusapnya dengan lembut hingga isak tangis Neema terdengar memelan.

“Itu bagian yang paling memilukan,” ujar Bara, memecah keheningan di kamar itu. “Dan aku biasanya akan berpikir siapapun Oliver, pasti akan merasa dunianya runtuh saat itu. Dari pertama kali aku membacanya aku paling tidak tahan pada bagian ini, selain saat Oliver menjumpai Oliver Barrett III saat akan meminjam uang untuk biaya perawatan Jenny, tetapi dia berbohong dengan mengatakan terlibat dengan wanita lain. Aku rasa itu sikap lelaki sejati. Ada satu lagi setelah ini, saat Oliver Barrett III datang ke rumah sakit sesaat setelah Jenny meninggal bahwa ayah dan anak ini akhirnya saling memaafkan dengan saling membuang ego dan gengsi yang selama ini tertanam di dasar hati mereka,” cerita Bara pada Neema yang masih terisak pilu membaca kisah cinta abadi ini.

Setelah tenang Neema berusaha memulai membaca kembali, tetapi dengan lembut tangan Bara menggenggam jemari Neema sebagai tanda untuk menolak dibacakan.

“Neema,” kata Bara tiba-tiba. “Aku belum melihatmu, aku belum pula mengenalmu. Yang aku tahu, suaramu sangat lembut dan aku membutuhkanmu. Entahlah, aku bukan lelaki yang pandai  merayu. Jadi aku cuma mau bilang, maukah kamu terus berada di sampingku? Aku tidak tahu bagaimana aku besok, apakah aku bisa melihat kembali atau tidak. Mungkin juga ini terlalu terburu-buru, maafkan bila membuatmu takut tapi aku tidak mau kehilangan kamu.”

Untuk beberapa saat, Bara tidak mendengar suara sedikitpun dari gadis itu. Hal itu membuatnya takut kalau-kalau Neema merasa buruk karena seorang lelaki dengan kekurangan fisiknya yang parah baru saja menyatakan perasaan kepadanya.

“Hmm, maafkan bila aku membuatmu takut. Tapi aku harus mengatakannya bahwa aku bahagia bersamamu,” lanjut Bara dengan suara yang sudah lebih tenang. Meski begitu, Neema masih saja belum membuka suara.

“Neema, apakah kamu sudah punya pacar?”

“Maafkan aku terlalu lancang hingga lupa bertanya. Ayolah, lupakan saja. Tolong, biarkan berjalan seperti semula.” Bara dengan panik berusaha menutupi kecanggungan yang ia ciptakan. Namun bukan itu yang diinginkan Neema.

Dengan gugup gadis itu berusaha menutupi kegelisahannya. “Mas Bara, maafkan bila Neema lancang, tapi bagaimana dengan hubungan Mas dengan Sheina? Karena Neema tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan Mas Bara. Kalau Neema pribadi, sampai saat ini belum mempunyai pacar,” jawab Neema gugup. Meski begitu, Bara baru saja bernapas lega.

“Tentang Sheina, akan aku selesaikan secepatnya. Aku hanya ingin mendengar bahwa kamu mau menunggu semuanya beres dan tetap di sini, di sampingku. Karena aku mencintaimu, bahkan Papa dan Bunda pun jatuh cinta padamu.” Suara Bara terdengar berat.

“Beri aku waktu, untuk menghubungi Sheina dan menyelesaikan semuanya dengan baik,” pinta Bara. “Jujur, kemarin aku tak punya nyali untuk menemuinya dan memutuskan semuanya. Bukan karena aku egois, tetapi aku hanya perlu berdamai dengan diriku untuk benar-benar melepaskanya seperti yang dia inginkan, bahkan mungkin saat ini Sheina sudah menganggapku tak ada. Banyak hal yang membuatnya berubah dan aku harus bisa menerima keputusannya.”

“Maukah kamu menerimaku dengan kondisi seperti ini? Semoga bulan depan setelah perban mata ini dibuka dengan hasil yang diharapkan, kamu tidak akan mendampingi lelaki buta seumur hidupnya,” ujar Bara sepenuh hati. Itu membuat Neema merasa sedih, meski ia bahagia mendengar ketulusan di balik kalimat lelaki itu.

“Mas Bara, tolong jangan berkata sepeti itu. Insyaallah semua akan kembali normal, Mas Bara akan sehat kembali. Tetapi apapun itu, Neema siap menerimanya. Insyaallah.” Neema berkata dengan suara lembut. Gadis itu tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Bara.

“Neema, mulai sekarang jaga dirimu. Karena kamu adalah milikku,” bisik Bara sambil meraih Neema ke dalam pelukannya.

Senja kali ini adalah milik mereka. Ada ketulusan yang terpancar dari pasangan ini. Di balik dinding ada Bunda yang turut menjadi saksi dengan doanya, agar mereka berdua menjadi pasangan yang saling mengasihi. Kebahagiaan seorang ibu adalah saat menyaksikan anaknya mendapatkan pasangan yang menerima keadaan terburuk dari kondisinya. Bunda yakin dengan sepenuh hati, bahwa Neema dan Bara adalah orang yang tepat untuk menerima kekurangan masing-masing.