Perjumpaan

Perjumpaan

Perjumpaan

Oleh Berliansari

 

            Kali kedua, Meiliana atau Mey nama pena penulis itu berjumpa dengan Ardana, mahasiswa sastra universitas negeri terkemuka di kota itu. Pertemuan pertama mereka, saat Meiliana launching buku karyanya di sebuah cafe dan dihadiri oleh beberapa wartawan baik lokal, maupun nasional. Cafe yang cukup luas yang terletak di pusat kota dan mampu menampung ratusan orang, hampir penuh sesak oleh pengunjung karena acara diadakan secara gratis. Beberapa event sastra sering diadakan di cafe itu. Tentu saja strategi marketing yang menarik sebab membuat cafe laris. Para pengunjung banyak kemudian memesan makan, minum maupun hanya snack di tempat itu. Ada space ruang yang lebar, dan bisa disewa untuk meeting ataupun event-event launching buku maupun kegiatan lainnya.

            Rupanya, Arda diam-diam mengangumi Mey. Arda sering mengikuti berita Mey melalui media sosial seperti IG, maupun Line juga Fecebook, serta Fanpagenya. Sebagai mahasiswa sekaligus penulis pemula, Ardana cukup aktif mengembangkan diri, bergabung dengan komunitas penulis dan ingin berteman dengan Meilliana.

            Ardana melangkahkan kaki di rumah itu, sebuah gedung pertemuan. Rumah dengan arsitektur kuno, namun artistik dan asri. Banyak pepohonan rindang tumbuh di pelataran rumah itu, membuat hawa sejuk. Angin berhembus sepoi-sepoi, cuaca cerah di bulan September memberi nuansa ceria.

            Beberapa teman dari komunitas penulis yang terpilih melalui seleksi hadir pula pagi itu. Sebuah acara workshop kepenulisan yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Jauh-jauh hari Ardana mendaftarkan diri dan berharap bertemu Meiliana.

            Meiliana tampil dengan busana semi casual, kaos berwarna pink dengan rompi panjang warna senada, membungkus tubuhnya yang proporsional. Terlihat sangat anggun dengan mengenakan bawahan rok panjang. Bros bunga menghias kerudungnya, membuat daya tarik sendiri.

            Srrrttttt…

Tiba-tiba Meiliana, yang tengah berdiri mengantri di meja buku tamu peserta, merasa lengannya disentuh oleh seseorang.

            “Maaf,…,” pinta Ardana kepada Meiliana yang memang sengaja menyenggol lengan Meiliana.

            “Eit,..Ardana…???” Meiliana terperanjat melihat Ardana.

Ardana adalah salah satu anggota group baru di komunitas penulis pimpinan Meiliana. Meski belum begitu hafal, tapi Meiliana tidak salah menyebut namanya.

            “Hai Kak Mei apa kabar?” Sapa Ardana dengan akrab.

            “Baik. Baru datang yah?” Jawab Meiliana.

            “Iya Kak. Sendiri pula.” Balas Ardana.

            “Teman-teman komunitas sudah datang tapi terpencar.” Meiliana menjelaskan.

            “Kalau seperti itu, bareng saya saja.” Ajak Ardana.

Kali ini mereka duduk bersama, sederajat. Bukan seperti senior dan yunior. Kini, mereka adalah teman diskusi.

            Beberapa pengurus komunitas menulis menyapa kedatangan Meiliana yang diikuti Ardana. Bahkan mereka berdua berkesempatan duduk bersebelahan, satu meja. Namun Meiliana menolak karena ada anggota komunitas seorang perempuan, duduk sendiri. Hilang kesempatan Ardana mendekati Meiliana, penulis sekaligus seniornya dari satu kampus.

            Ada satu wartawan yang sempat mewawancara Meiliana tentang acara tersebut, berganti dengan wartawan dari media lain meliput berita. Mereka cukup kenal dengan wajah Meiliana.

            Ardana teringat acara launching buku tempo hari di cafe. Seorang wartawan menanyakan hal-hal pribadi kepada Meiliana, tentang keluarga, terutama pacar, karena Meiliana masih sendiri. Mei menjawab bahwa dirinya memang belum memiliki calon pendamping hidup. Akh,.. pikiran Ardana mengembara jauh melihat wajah Meiliana. Bukan hanya rasa kagum yang menyelimuti dirinya, namun terbersit bayangannya untuk menjadi pendamping Meiliana dan bisa menjawab candaan para hadirin yang ingin mendaftar menjadi calon pendampingnya.

            Meiliana wanita cukup umur. Tak pernah sekalipun membawa ranah pribadinya ke publik. Karya-karyanya cukup menarik dan populer di kalangan anak muda. Kepiawaiannya mengahantam pembaca melalui trik-trik menulisnya membuat takluk. Sehingga bukunya selalu laris bahkan ada yang difilmkan di layar lebar. Prestasi yang luar biasa.

            Di acara istirahat dan makan siang. Ardana tetap berusaha mendekat. Meiliana memanfaatkan pula acara itu sebagai ajang pertemuan antar pengurus komunitas yang ia bentuk. Ia seorang founder group dan sebagian besar berisikan anak muda, yang ingin mengembangkan dirinya dalam dunia literasi.

            Mata Ardana tertumbuk pada bros yang dikenakan Meiliana berbentuk bunga. Sangat serasi dengan baju dan kerudungnya.

            “Kak Mei penampilannya ciamik banget.” Puji Ardana sok akrab.

            “Terimakasih.” Balas Mei tersipu.

Mereka makan siang bersama. Bahkan saat sembahyang Ardana diminta menjadi imam oleh Meiliana.

            Saat istirahat  tak lupa Mei dan Arda berfoto bersama di tiap-tiap ruangan dengan design kuno serta perabotan cantik. Rasanya tak cukup hanya sehari bersama dengan Meiliana.

            Workshop yang berlangsung hari itu, selesai sampai petang hari. Hari itu adalah hari Sabtu. Hasrat Ardana tak terbendung untuk selalu dekat dengan Meiliana. Ardana ingin melewatkan malam minggu meski hanya sekali bersama Meiliana, wanita  berwajah cantik. Terpaksa Meiliana menunda kepulangannya dan melewatkan malam minggu bersama pemuda berwajah oval itu.

            “Kak Mei, mau makan apa?” Tanya Ardana menawarkan makan malam.

            “Sudah Arda. Malam sudah larut. Ada tugas bukan yang perlu diselesaikan di workshop ini ?” Buru-buru Mei berpamitan. Setelah mereka berbincang lama dan berfoto-foto di tempat itu.

            “Terimakasih sampai bertemu besok.” Balas Meiliana kemudian melangkahkan kaki ke area parkir mobil. Brio Satya membawanya menembus kegelapan malam, sampai ke rumah.

**********

 

            Esok hari mereka berjumpa kembali di tempat yang sama. Mata Mei malam itu tak bisa terpejam, sibuk mengerjakan tugas workshop kepenulisan sampai hampir pagi. Semua peserta diminta mengumpulkan tugas dan akan dinilai oleh tim penilai dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Jika lolos, beberapa diantara mereka akan dikarantina dan dibimbing menjadi sutradara muda  yang akan menggantikan Hanung Brahmantyo atau Garin Nugroho.

            Meiliana datang hampir terlambat. Rasa letih Meiliana membuatnya tidak bisa mengendarai kendaraaan sendirian. Dia terpaksa naik ojek. Ardana yang melihatnya terbit rasa iba pada Mei. Ardana sangat antusias hari itu, meski tidak bisa istirahat lama di malam hari. Ardana bahkan tidak merasa lelah, datang lebih awal.

            Hari itu mereka duduk bersebelahan. Ardana menandai bangku dan kursi kosong sebelahnya untuk Meiliana. Dengan seksama mereka mengkuti workshop. Salah satu acaranya adalah pembahasan dan penilaian hasil tulisan para peserta oleh panitia. Daftar nama peserta disebut satu persatu bagi mereka yang lolos masuk nomimasi  sepuluh besar terbaik. Ada nama Ardana masuk rangking 2. Ardana terkejut dan tak mengira bisa masuk sepuluh besar terbaik. Bahkan Meiliana tidak lolos menjadi sepuluh besar. Mungkin memang passion Meiliana menjadi penulis, tidak berbakat menjadi sutradara.

            “Selamat yah.” Mei menjabat tangan Ardana dengan lembut.

            “Terimakasih.” Balas Ardana.

            Kini Ardana bisa menunjukkan dirinya bahwa dia memiliki kemampuan dan prestasi. Meilianapun bisa lebih mengenal Ardana karena kepiawaiannya, meski harus mengikuti seleksi tahapan selanjutnya. Setidaknya dia layak dipuji Meiliana bahkan untuk dikagumi, tidak hanya sebagai pengagum Meiliana penulis muda yang cantik.

            “Kak Mey,..apa mau pulang bersama saya, naik motor?” Ardana memberanikan diri untuk mengantar Meiliana pulang.

            “Boleh. Tidak ada yang marah saya bareng ?” Goda Meiliana.

            “Tidak Kak.” Jawab Ardana gembira.

Apa sih yang tidak? Untuk Kak Meiliana, batin Ardana.

            Kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas di kota memang tidak bisa dihindari, namun bisa disiasati dengan bersepeda motor agar bisa cepat sampai tujuan. Senja semakin petang. Matahari menyingsingkan sinarnya. Sepasang insan tersenyum bahagia di dalam rahmat dan lindunganNya.

 

Yogyakarta Februari 2021

Untuk semua teman-teman komunitas Temu Penulis Yogyakarta

 

Bionarasi

Nama asli Betty Berliansari, lulus dari universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif dalam kegiatan literasi bersama alumi. Dapat berinteraksi dengannya melalui FB dengan nama Betty Berliansari. Akun IG Berliansaribett atau email Berliansaribetty@gmail.com.

Karya tulis yang terbit yakni Inspiring Story antologi bersama alumni UGM berisikan kisah-kisah inspiratif yang menggugah semangat. Semua Anakku Tembus UGM, edisi terbatas berupa kumpulan cerpen. Puncak Kleco adalah buku wisata menulis Kagama di Kulonprogo DIY. Buku Melodi karya antologi berupa kumpulan cerpen dan puisi. Syair-syair Ramadan dan Semesta Ramadan merupakan kumpulan puisi juga Beautiful Night. Ramadan Punya Cerita, juga Mon Amour merupakan kumpulan cerpen. Buku dengan judul Kaos Putih adalah buku berbentuk e-book, karya Bersama yang bisa diakses secara gratis.

No HP : 08156898257

Alamat: Jl Wates km 3, 6 Pelemgurih no 65 Yogyakarta 55293.