MELAYANI ORANG SAKIT

MELAYANI ORANG SAKIT

Peristiwa sakitnya Papa memang terasa menyedihkan tapi di lain pihak juga memberi hikmah yang sangat berharga bagi keluarga. Sekarang, kami lebih mensyukuri kesehatan yang diberikan oleh Tuhan. Hidup adalah tentang keseimbangan atau biasa disebut Yin dan Yang. Berkah dan bencana selalu datang berpasangan. Apakah itu berkah? Apakah itu bencana? Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Sebagai perwujudan rasa syukur karena diberi kesehatan, saya bertekad untuk melakukan sesuatu bagi orang-orang yang sedang sakit. Bukan hanya untuk Papa, bukan cuma untuk yang beragama Budha, bukan hanya untuk etnis Cina, tapi bagi semua umat manusia.

Untuk mewujudkan keinginan itu, saya berkonsultasi dengan Suster Aida, kepala suster di paviliun swasta tempat Papa dirawat. Suster Aida sangat apresiatif, dia sangat mendukung rencana saya. Setelah berunding, Suster Aida mengusulkan agar selain menemani dan membacakan cerita untuk Papa, saya juga mengunjungi pasien-pasien di kamar lain untuk mensupport mereka agar tidak menyerah dan terus berjuang untuk kesembuhannya.

Tentu saja saya langsung setuju dengan ide tersebut. Dan ternyata ada beberapa pasien yang keadaannya juga sedang dalam keadaan koma seperti Papa. Dan orang-orang itulah yang saya prioritaskan untuk didatangi.

Setelah mempelajari semua data-data pasien, Suster Aida menyerahkan daftar 6 orang pasien yang sedang koma. Saya kunjungi mereka satu-persatu. Saya belikan bunga dan menaruhnya dalam vas lalu saya letakkan di samping tempat tidur mereka. Dengan seizin keluarganya, saya membacakan cerita dan memanjatkan doa untuk kesembuhan Sang Pasien Koma.

Apa yang saya lakukan ternyata tidak hanya membuat keluarga para pasien tersebut senang tapi juga sangat membuat diri ini bahagia. Setiap pagi saya bangun lebih bersemangat dari sebelumnya. Kehidupan di rumah sakit tidak lagi terasa menjemukan. Ketika kita mempunyai sesuatu untuk dikejar maka hidup tak akan pernah terasa bosan. Dalai Lama pernah berkata, ‘cara memperoleh kebahagiaan adalah dengan membahagiakan orang lain.’

Saat itu, saya sedang berada di kamar seorang pasien yang letaknya persis di sebelah kamar Papa. Namanya Bapak Yasin, berasal dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Usianya 87 tahun dan sudah hampir 3 bulan mengalami koma. Walau tidak setiap hari, anaknya Pak Yasin, Siti Zoebaidah sering menemani ayahnya. Ibu Zoebaidah berusia 53 tahun tapi masih kelihatan muda dan cantik.

“Hari ini kamu mau membacakan cerita apa, Yo?” tanya Ibu Zoebaidah.

“Tom Sawyer, Ibu. Ini cerita klasik yang pasti Pak Yasin pernah membacanya.”

Ibu Zoebaidah selalu bertanya buku apa yang akan saya bacakan. Kelihatannya dia takut saya akan mencekoki Pak Yasin dengan doktrin dan ajaran agama Budha ke bapaknya. Bahkan, ketika Ibu Zoebaidah tidak ada, selalu ada seorang suster masuk menyusul saya dan menanyakan cerita apa yang akan saya baca, lalu suster tersebut akan mencatat dan memberi laporan pada Ibu Zoebaidah.

“Ide bagus! Semua orang pasti pernah membaca buku itu.”

“Betul. Dan kita boleh berharap akan ada reaksi dari Pak Yasin ketika mendengar sesuatu yang pernah dia baca sebelumnya.”

“Insya Allah,” kata Ibu itu, lalu melanjutkan, “panggil saya Tante Zoe.”

“Maaf, Ibu barusan bilang apa?” tanya saya kurang menangkap ucapannya.

“Kamu boleh panggil saya Tante Zoe. Semua orang yang akrab dengan saya memanggil dengan nama itu,” kata Ibu Zoebaidah sambil tersenyum manis.

“Oh, okay. Thanks, Tante Zoe,” sahut saya lalu mulai membaca.
Sedang asyik membacakan cerita untuk Pak Yasin, tiba-tiba masuklah seorang anak muda yang ternyata adalah anak Ibu Zoebaidah.

“Halo, Mam,” kata anak muda itu menyapa ibunya dengan suara lantang.

“Psssst! Pelankan suara kamu,” kata Tante Zoe kuatir ritual bercerita terganggu sambil menunjuk ke arah saya.

“Halo, Mam,” ulang anak itu kali ini dengan suara setengah berbisik.

“Hai, Fuad. Kamu dari kantor?” tanya Sang Ibu juga berbisik.

“Iya, Mam. Gila, jalanan macet banget.”

“Memang kapan Jakarta pernah nggak macet?” kata Sang Ibu menggunakan kalimat retorik.

Karena tanggung sudah hampir selesai, saya memutuskan untuk menyelesaikan cerita daripada menyapanya.

“Eh, siapa itu, Mam?” tanya anak muda itu.

“Namanya Yoyo,” jawab Sang Ibu.

“OK. Tapi dia itu siapa?”

“Papanya juga sedang koma dan dirawat di kamar sebelah. Yoyo selalu membacakan cerita untuk Papanya. Lalu dia juga menawarkan diri untuk membacakan cerita untuk kakekmu.”

Selesai membacakan cerita, saya menoleh ke arah anak muda itu, “Hai, kamu cucunya Pak Yasin, ya? Kenalkan, saya Yoyo.”

“Halo, nama saya Fuad,” katanya sambil menjabat tangan saya.

Lalu kami berdua ngobrol. Dan aneh bin ajaib tiba-tiba kami akrab begitu saja. Mungkin karena umur kami sebaya sehingga apapun yang kami bicarakan langsung nyambung. Ketika dua sungai kecil bertemu di satu titik, sungai itu menjadi membesar dan mengalir lebih deras dari sebelumnya. Begitulah percakapan kami yang terus mengalir tanpa berhenti.

Fuad adalah pembicara yang sangat menyenangkan. Secara keseluruhan, dia adalah pribadi yang sangat menarik. Orangnya lucu, kulitnya putih kebule-bulean, belakangan saya baru mengetahui bahwa ayahnya Fuad adalah orang Amerika. Rambutnya berwarna coklat muda, ikal gondrong dan diikat gaya ekor kuda. Hobinya musik terutama bermain piano dan biola. Dan agamanya Islam. Hmmm…

Fuad setiap hari datang ke rumah sakit untuk menjenguk kakeknya. Dia menemani saya membacakan cerita dan kadang merebut buku di tangan saya untuk dia bacakan sendiri ke kakeknya. Bahkan beberapa kali dia datang ke kamar Papa dan turut membacakan cerita untuk Papa saya.

“Krosak!” Tiba-tiba terdengar suara yang membuat kami berdua menoleh ke arah tempat tidur. Rupanya tangan Papa bergerak dan hampir saja membuat kabel infusnya copot. Dengan cepat saya kembalikan tangan Papa ke posisi semula.

Dulu saya mengira orang koma itu tidak bisa menggerakkan tubuh sama sekali. Bahkan untuk menggerakkan ujung jari saja tidak mampu tapi ternyata saya salah. Papa beberapa kali membuat gerakan mendadak sehingga saya penasaran ingin mengetahui apa sebenarnya yang hendak dia perbuat.

“Papa kamu tidak hendak berbuat apa-apa. Itu cuma gerakan refleks,” kata Fuad.

“Kamu mengerti soal koma?” tanya saya.

“Sedikit banyak saya tau. Koma itu adalah saat kondisi perputaran otak kita sedang berada pada frekuensi 0,5 Hertz. Ketika otak berada pada titik 0 maka saat itulah secara klinis manusia akan dinyatakan meninggal dunia.”

“Kalau dalam keadaan normal seperti sekarang ini, kita berada di frekuensi berapa?” Hebat juga pengetahuan anak ini, pikir saya.

“Frekuensi otak manusia terbagi dalam frekuansi Alpha, Betha, Theta dan Delta. Keadaan kakek saya dan Papa kamu sedang koma. Mereka berada di titik terendah dari frekuensi Delta.”

Saya mulai tertarik pada pemaparan Fuad.

“Dalam keadaan normal seperti kita sekarang ini, manusia berada di frekuensi antara 13 sampai 26 Hz. Di frekuensi ini kita membuka mata, berpikir logis dan mempunyai perhatian yang terpecah sehingga kita mudah sekali menjadi stress dan depresi.” Fuad melanjutkan kuliahnya.

Kekaguman saya pada pemuda ini semakin tumbuh.

“Sebaliknya pada gelombang Alpha, manusia bisa masuk ke alam bawah sadarnya. Di level itu kita akan merasa jauh lebih tenang dan stress hilang. Dalam keadaaan ini, kita bisa menanamkan pikiran tertentu dan menetapkan tujuan secara fokus karena memang dalam kondisi itu kita hanya bisa berpikir tentang satu hal saja.”

“Kalau Gelombang Theta?” tanya saya lagi dengan antusias.

“Theta berada di range antara 3,5 sampai 7 Hz. Di frekuensi ini, kondisi seseorang cenderung sugestif. Dunia kedokteran sering menyarankan pasien untuk masuk ke dalam gelombang Theta karena dengan sugesti saja seseorang bisa sembuh dengan sendirinya?”

“Sembuh dengan sendirinya? Masa sih bisa begitu?” tanya saya takjub.

“Tuhan itu maha hebat. Dia menciptakan tubuh manusia dengan kemampuan self healing yang luar biasa. Masalahnya kadang tubuh kita perlu diberi sugesti untuk melakukannya. Dan saat yang paling tepat adalah ketika manusia berada di gelombang Theta.”

“Wah, itu bagian yang paling saya percayai,” kata saya sambil mengangguk-angguk

“Penyembuhan seperti ini sering dilakukan oleh para penyembuh alternatif. Dan semua penyakit yang berasal dari psikis biasanya dapat tertangani. Dalam konteks dunia kedokteran, fenomena ini sering disebut dengan Spontaneous Remmision.”

“Kamu pintar sekali, Fuad," kata saya dengan sepenuh kagum.

“Konon dalam kondisi Theta inilah banyak tercipta karya-karya besar serta penemuan-penemuan yang mengagumkan dari para tokoh ternama.” Fuad terus nyerocos tanpa menggubris pujian lawan bicaranya.

Pengetahuan Fuad tentang frekuensi perputaran otak manusia membuat saya tertarik untuk mengenalnya lebih dalam lagi.

“Banyak orang yang melakukan meditasi untuk mencapai gelombang Theta. Karena di saat itulah pikiran menjadi sangat jernih. Dengan melatih diri pada kondisi Theta selama 2 jam, kualitas dan manfaat yang kita peroleh jauh lebih nyaman daripada tidur selama 8 jam.”

Mengetahui saya sangat tertarik pada frekuensi perputaran otak dan hypnosis, Fuad membelikan saya sebuah buku yang berjudul “Experiencing Hypnosis - Therapeutic Approaches To Altered States”, yang ditulis oleh Milton H. Erickson, M.D. and Ernest L. Rossi, Ph.D. Sambil membaca buku tersebut, kami melanjutkan berdiskusi seputar hypnosis dan manfaatnya bagi umat manusia.

“90% penyakit yang diderita oleh manusia berasal dari psikosomatik. Apalagi buat mereka yang tinggal di kota besar. Semua hal membuat mereka stress; dari jalanan macet, deadline pekerjaan, bacaan-bacaan di internet, berita di TV, makanya kita perlu sesekali menenangkan diri ke alam Alpha. Kita servis otak kita dari segala hal yang berbau negatif.” Fuad melanjutkan ceramahnya.

“Oh, begitu. Baiklah, Pak Dosen,” kata saya bercanda.

“Jadi baca buku ini baik-baik. Minggu depan kita ujian,” kata Fuad sambil berakting seperti dosen yang killer.

Melihat keakaraban kami, Tante Zoe iseng menggoda anaknya. Katanya, “Kamu tau nggak, Yo?”

“Tau apa, Tante Zoe?”

“Fuad susah sekali diajak untuk membesuk kakeknya. Setiap kali diajak, dia selalu berkilah ‘Ah buat apa dibesuk? Kakek kan lagi hilang kesadaran. Dia juga nggak tau kalau kita datang,’” kata ibunya Fuad dengan paras jahil.

“Oh, ya?” sahut saya lalu menoleh ke Fuad, “Betul begitu, Fuad?”

“Kamu nggak usah dengerin Mama,” jawab Fuad. “Cara Mama mendapatkan kebahagiaan memang selalu dengan menjelek-jelekkan anaknya pada orang lain.”

Ibu Zoebaidah tidak mempedulikan perkataan anaknya. Sambil cekikikan dia berucap lagi, “Tapi sejak ketemu kamu, dia setiap hari bangun pagi, berdandan rapi, pakai parfum lalu pamit katanya mau besuk kakek ke rumah sakit. Hihihi…”

“Ih, Mama nyebelin!” kata Fuad. Sembari bangun dari duduknya dia berkata, “Ke luar dulu, Yo. Saya mau merokok.”

“Hihihihihi….” Geli juga saya melihat cara Fuad menghindari olok-olok ibunya.

Saya ikutan pamit untuk kembali ke kamar sebelah. Kondisi Papa yang koma tanpa kepastian telah membuat kamarnya kosong kembali. Tamu-tamu sudah tidak ada lagi yang datang. Saudara-saudara pun berpamitan satu persatu. Tinggallah saya dan Mama menjaga Papa bergantian. Bahkan A Koh pun tiba-tiba pamit untuk pergi.

“Ma, saya mau pergi sekitar 2 minggu nggak apa-apa, ya?” tanya A Koh.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke Gunung Kinibalu sama teman-teman.”

“Heh! Masa lo tega bersenang-senang saat Papa lagi koma begini?” bentak saya dengan judes.

“Papa kan komanya nggak jelas sampai kapan,” jawab A Koh.

“Emang lo nggak mau ada di samping Papa di hari terakhirnya?” debat saya.

“Mau sih. Tapi kalau Papa komanya 10 tahun? Gue nggak pernah pergi dong?” kata A Koh terus berargumentasi.

“Sudah…sudah, “selak Mama. “Kamu boleh pergi. Biar Yoyo dan Mama yang jaga Papa.”

“Terima kasih, Ma.” Suara A Koh terdengar riang.

“Jangan lupa handphone harus selalu dalam keadaan hidup. Mama akan kabari kalau ada apa-apa terjadi di sini,” kata Mama lagi.

“Sip! Makasih Mama. Bye Yoyo.” A Koh melambaikan tangan ke arah saya. Bibirnya menyungging senyum kemenangan.

A Koh mengambil sesuatu dari sudut kamar yang ternyata adalah ransel untuk bepergian. Rupanya kakak saya ini memang sudah siap pergi. Dia minta izin hanya untuk formalitas saja. Sebenarnya diizinkan atau tidak dia pasti akan pergi juga. Itu sebabnya Mama yang sangat mengenal baik anak-anaknya langsung mengizinkan.

Bersambung