Hormatilah Orang Yang Tidak berpuasa

Hormatilah Orang Yang Tidak berpuasa

Bulan Ramadhan, tahun 2016, saya menyempatkan diri ke Lumajang bersama isteri dan dua anak. Kepergian kami untuk mengunjungi penasihat spiritual saya yang bernama Ustad Mansyur. Saya sudah mengenal ustad ini lebih dari 20 tahun. Beliau asli orang Madura dan pengetahuannya tentang agama dan hal yang berhubungan dengan dunia spiritual sangatlah luas.

Dengan menumpang kereta api, kami berangkat ke Malang dengan waktu tempuh sekitar 15 jam. Hal ini saya lakukan dengan sengaja supaya kedua anak saya sesekali merasakan naik kereta api dengan jarak tempuh yang jauh. Jangan maunya naik pesawat melulu, kita bukan bangsa borju. Dari Malang kami menyewa mobil menuju Lumajang dengan memakan waktu selama 4 jam.

Menjelang waktu dhuhur, kami sampai di rumah Pak Ustad. Kedua keluarga bertemu dalam suasana riang gembira. Anak saya yang bungsu langsung minta makan berhubung di kereta api sahurnya dikit, katanya. Hehehehe...

Lagi asyik-asyiknya ngobrol dengan Ustad Mansyur, anak saya ikutan nimbrung di antara kami dengan nasi segunung dan lauk nasi padang. Mata saya sempet ngelirik, 'wuih, ada gule kikil, gule telor, kalio otak, sambel ijo dan kerupuk kulit yang disiram dengan kuah kuning. Buset dah! Perut gue langsung laper. Sempet terbersit pikiran bahwa saya musafir jadi mungkin gapapa gak puasa sehari demi nasi padang itu. Hehehe...

"Reo, makannya jangan di sini, ya. Kan yang lain lagi pada puasa. Kamu harus menghormati orang yang puasa," kata saya.

"Eh, biarin aja dia makan di sini, Pak." Belum sempat Reo melangkahkan kaki, Pak Ustad sudah memotong omongan saya..

"Loh? Kok gitu, Syur?" Saya memang biasa manggil dia nama aja karena udah merasa deket banget. Sementara Si Ustad selalu manggil saya 'Pak'. Katanya udah kebiasaan dan gak bisa diubah lagi.

"Bulan Ramadhan harus berlangsung seperti bulan-bulan yang lain. Yang puasa ya puasa, yang nggak puasa ya silakan makan."

"Tapi ngeliat nasi padang itu saya jadi laper!" protes saya.

"Hahahahaha....ya memang di situ godaannyya, pak. Kita diuji untuk menahan nafsu."

"Tapi kok banyak peringatan yang mengharuskan warung-warung harus tutup, Syur?"

"Nah, itu yang salah, Pak. Puasa itu harus ikhlas. Jangan puasa kita mengganggu nafkah orang lain. Itu zholim namanya."

"Di Jakarta kalo ada warung yang buka digerebek sama ormas dan warungnya diancurin kalo dia masih juga buka di siang hari."

"Itu lebih ngaco lagi, Pak. Puasa itu kan ujian. Jadi kitanya yang harus kuat menghadapi godaan itu, Bukan godaannya yang disingkirkan. Gak aci itu puasanya." kata Pak Mansyur.

"Iya juga ya, Syur. Tapi agak sulit untuk menerangkan ke orang lain, ya?" sahut saya lagi.

"Contohnya sederhana, Pak. Misalnya Bapak diuji apakah sanggup menahan napsu birahi. Lalu dikirimlah bidadari-bidadari cantik telanjang bulat untuk menggoda, Bapak."

"Wah, saya pasti gak kuat, tuh," kata saya cengengesan sementara istri saya yang sedang ngobrol dengan isteri Pak Ustad menoleh dengan pandangan sejuta makna.

"Memang tidak mudah, Pak, namanya juga diuji. Tapi kalo Bapak bisa melawan godaan itu berarti Bapak lulus."

"Bukan bidadarinya yang disingkirkan ya, Syur?"

"Betul! Kalo bidadari-bidadari yang disingkirkan, semua orang pasti lulus ujiannya."

"Hahahaha... Ya iyalah! Biar udah napsu pelampiasannya udah gak ada."

"Makanya itu. Kalo mau puasa kita afdhol, kita harus biarkan orang lain melakukan aktivitasnya seperti biasa. Jangan ganggu orang lain apalagi sampe mengurangi nafkah mereka."

"Setuju, Syur!" kata saya.

"Saya kalo lagi di di Jakarta malah suka bantuin warteg di depan rumah."

"Bantuin ngapain, Syur?"

"Pemilik wartegnya takut digerebek makanya dia minta bantuan saya ikut jagain warungnya. Daripada saya cuma duduk nggak mengerjakan apa-apa, akhirnya saya ikut melayani tamu yang datang."

"Kayak waiter gitu?"

"Iya saya sendokin nasi dan lauk pauknya terus saya hidangkan ke tamu untuk makan."

"Padahal kamu puasa, Syur?"

"Ya puasa, Pak. Masak bulan ramadhan gak puasa?"

"Hebat kamu, Syur!"

"Bukan hebat! Kita harus menghormati orang yang nggak puasa," kata Sang Ustad lagi sambil tersenyum bijaksana.

Nah loh? Biasanya kalimat yang umum saya denger adalah 'Kita harus menghormati orang yang puasa'. Ini kok malah kebalikannya? Sejenak kami terdiam sampai terdengar anak saya berkata, "Pak Mansyur, aku boleh tambah nasi padangnya, gak? Soalnya enak banget, nih..."

"Boleh, dong. Sini, Nak." Mansyur mengambil piring Reo lalu berjalan ke arah meja makan. Dengan cekatan, dia nyendokin nasi dan lauk pauknya bahkan lebih banyak dari porsi yang tadi Reo makan.

"Nih, makan yang kenyang, ya." kata Mansyur sambil menyerahkan piring dengan nasi segunung ke anak saya.

Dari beranda rumah Pak Ustad ini, saya menyaksikan interaksi kedua hamba Allah yang berbeda usia tersebut. Reo langsung nyaman bersama Pak Ustad tersebut. Tanpa sungkan dia makan dengan lahap dihadapan penasihat spiritual saya sambil asyik mengobrol.

Masya Allah! Melihat adegan itu, saya baru memahami sepenuhnya kalimat, 'Hormatilah orang yang tidak puasa.'

Terima kasih, Syur.