Hidayah

Hidayah

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk". (Al Qashash : 56)

Ayat Al-qur'an di atas,  menyadarkan saya,  bahwa kejadian beberapa bulan yang lalu,  merupakan hidayah yang diberikan Allah pada ibu saya.  

Ibu saya adalah orang pertama yang membusungkan dada berkata keras, TIDAK! Untuk saya, jika saya resign dari kantor yang sudah saya naungi selama hampir 8 tahun.  

Sebenarnya, alasan saya resign pun,  sangat manusiawi dan hampir mungkin banyak juga wanita yang sudah bersuami dan jadi ibu memutuskan untuk resign.  Dan menurut saya itu wajar.  Terlebih lagi suami juga mendukung bahkan lebih suka saya berkarya dari rumah.  

Tapi,  ibu saya orang yang beda. Dan, hampir kebanyakan ibu seperti ibu saya,  juga sangat manusiawi tidak mengijinkan resign anaknya,  yang sudah di sekolahkan tinggi-tinggi untuk bekerja,  tidak hanya jadi ibu rumah tangga.  Dan,  banyak pula,  ibu jaman old yang mengganggap bahwa ijazah kok cuma di tumpuk saja,  percuma sekolah tinggi tapi tidak menghasilkan (duit), atau bekerja itu di luar rumah,  kalau di dalam rumah ya babu. Dan sekali lagi,  bahwa menurut saya,  hal itu juga manusiawi. 

Sampai akhirnya,  hidayah itu datang.  Datang ketika lahirnya putri kedua saya.  

Tidak ada yang berbeda sebenarnya dari kelahiran anak kedua ini.  Semua serba lancar, sehat,  dan tercukupi.  Tapi karena adanya sk pindah kerja yang semakin jauh,  hal itu jadi merubah segalanya.  

Betapa tidak?  Si bayi ternyata tidak dapat menerima susu tambahan.  Kulitnya yang putih bersih,  menunjukkan gejala langsung saat bersentuhan dengan susu sapi itu.  

Dunia terasa terbalik.  Saya yang berjuang sekuat tenaga,  ingin membuat ibu bahagia karena mewujudkan impiannya, menjadi istri yang sportif untuk suami,  dan ibu yang utuh untuk anak-anak ternyata,  bayi kedua ini tidak menginginkan itu. 

Dia lebih suka asi dari ibunya secara langsung.  Dia tidak peduli apa mimpi neneknya untuk ibunya bahwa wanita harus jadi superwoman.  Dia tidak peduli bahwa yang dia inginkan dari ibunya akan memadamkan harapan neneknya tentang ibunya agar menjadi wanita hebat yang tidak hanya bisa di rumah tapi juga d luar rumah.  Dia tidak mengerti bahwa kehadirannya menjadi hidayah bagi sang nenek bahwa wanita akhirnya kembali ke rumah juga.  Bahwa wanita pada akhirnya tugas utama adalah di rumah untuk jadi ibu,  untuk jadi istri yang menurut pada suami. 

Begitulah hidayah,  jika Allah menghendaki,  terjadilah,  maka jadilah ia.  

Dan pada akhirnya,  semuanya kembali sesuai kehendakNya.

Jln. Mojopahit 13 januari 2020. 

Batch 7.

Wilyayadi.