Lembur

Jangan lembur sendirian

Lembur
Sumber foto : Pinterest

LEMBUR

Aku memicingkan mata ke tumpukan kertas yang ada di pangkuanku. Sesekali kutatap layar komputer. Satu persatu barisan huruf dan angka di kertas kucocokkan dengan data yang ada di layar. Seharusnya malam ini aku sudah menikmati suasana malam pergantian tahun.  Namun, titah dari Bapak Kepala Bidang mengharuskanku lembur malam ini.

“Pokoknya data inventarisasi barang harus selesai secepatnya. Data itu harus dimasukkan sebelum pukul sepuluh malam ini. Lewat dari waktu itu, Bagian Asset di kantor daerah sudah tidak mau menerimanya lagi.”

Sebenarnya Data Inventarisasi Barang dan Produksi sudah kubuatkan laporan tahunan, tetapi setelah di cek kembali oleh Bagian Asset, ternyata ada perbedaan data terkait jumlah benih dan indukan ikan yang ada di Balai Benih Perikanan milik kantorku.

Kulirik jam dinding, sudah pukul delapan. Dua jam lagi laporan ini harus beres. 

Aduh, yang mana salahnya sih? Aku berbicara sendiri sambil terus memelototi angka-angka.

Tiba-tiba kain gorden di sampingku bergerak-gerak seperti tertiup angin. Padahal aku tahu, jendelanya tertutup.

Fokus Na … Fokus …, bisikku dalam hati.

Sebenarnya aku merasa takut juga berada di kantor ini malam-malam sendirian. Apalagi beberapa teman pernah bercerita tentang kejadian-kejadian serem yang mereka alami. Aku berjanji dalam hati akan menabung untuk membeli laptop biar bisa bekerja di rumah dan tidak lembur sendirian di kantor.

Sreet sreett sreettt … krieeett … sreett sreett …

Terdengar seperti  bunyi langkah kaki diseret, disusul suara pintu terbuka dan langkah kaki lagi di lantai dua kantor ini. Aku menoleh ka arah tangga, tidak ada siapa-siapa di sana. Namun, kulihat kursi putar Fontana milik Kepala Seksiku, yang terletak agak jauh, berputar ke kiri.

“Jangan ganggu plisss … aku hanya kerja, nda macam-macam. Jangan ganggu yaa.”

Aku heran, ini kan masih pukul delapan lebih beberapa menit. Kalau menurut film-film yang aku tonton atau cerita yang aku baca, makhluk halus biasanya muncul pas tengah malam. Ih, aku bergidik. Kufokuskan pikiranku pada angka-angka yang terlihat semakin buram.

Hah … akhirnya kudapatkan sumber masalahnya. Ternyata ada kesalahan input jumlah indukan ikan baru di Bulan April dan jumlah produksi anakan di Bulan September. Akhirnya dataku fix, tidak ada lagi perbedaan. Aku menarik napas lega. Segera kusimpan dan kututup layar komputer setelah sebelumnya kusalin ke dalam flashdisc. Kalau masih ada kesalahan, aku akan menyelesaikannya di Bagian Asset. Aku tidak mau berlama-lama di sini.

Segera kumatikan komputer, membereskan berkas-berkas, mematikan lampu ruangan, lalu secepatnya keluar kantor. Tidak lupa kunci kuletakkan di bawah pot bunga, seperti pesan Office Boy yang akan membuka pintu esok hari.

Aku berlari ke parkiran, menyalakan motor, dan segera berlalu. Sebelum meninggalkan halaman kantor, kusempatkan menoleh ke arah samping kantor. Kain gorden sedikit tersibak, cahaya lampu halaman samping  yang remang menelusup ke dalam. Sesosok bayangan hitam terlihat dari balik teralis jendela. 

Kurasakan keringat dingin mengalir dipundakku. Kupacu motor.  Jarak kantor dengan jalanan utama lumayan jauh. Aku harus segera tiba di jalan raya, dan menarik udara yang banyak, memenuhi paru-paruku, sampai aku merasa lega.

Sumber Ide :

1. Komputer

2. Kertas dokumen

3. Jam dinding

4. Kain gorden

5. Jendela

6. Kursi putar