KOMUNIKASI BAGAI OKSIGEN DI HIDUP INI

KOMUNIKASI BAGAI OKSIGEN DI HIDUP INI
Gambar diambil dari pixabay.com

“Kringggg…kringggg”, suara bunyi dering telepon mengisi ruang keluarga saat itu. Saya dan tiga adik lalu lari jumpalitan untuk segera ingin angkat telepon saat itu. Kalau diingat masa- masa itu saat bunyi telepon pasti saat yang ditunggu- tunggu. Apalagi saat mesin telepon pertama kalinya hadir dalam kehidupan kami di rumah. Di era tahun 1990-an. Terkadang semua isi rumah seakan berebutan ingin mengangkat telepon karena mengira deringan telepon adalah untuk dirinya.

 

“Aku boleh pinjam catatan bahan materi pelajaran Bahasa Indonesia kemarin gak? Selama sakit banyak ketinggalan nich? Lusa ada ulangan lagi…” suara Julie teman SMA di seberang terdengar memohon dengan sangat.

 

“Tolong bantu Tante Agatha buat panitia atau EO buat nikahan Tante dan Om Lexi yah….Tante urus persiapannya aja ada banyak masalah. Kamu cari saudara- saudara kita yang mau jadi pagar ayu sama pagar bagusnya. Kamu mau bantu ngurangin beban pikiran Tante?” lagi- lagi suara di seberang ingin berdiskusi tentang suatu peristiwa penting dalam kehidupan kami saat itu.

 

Kadang adik saya akan menelpon sekedar mengabari tidak dapat pulang karena sedang ada demo, banjir ataupun kemacetan. Kabar keberadaan anggota dengan cara menelpon ke rumah dapat mengurangi terjadinya masalah. Orang tua dapat tenang mengetahui keberadaan anaknya dimana dan anak- anaknya baik- baik saja.

 

Dari semua pesan yang sampai ke rumah ada satu pesan yang selalu membuat keluarga ikut sedih dan prihatin. Ketika anggota keluarga besar terserang penyakit atau mengalami kecelakaan sehingga harus dirawat di rumah sakit. Pasti Bapak dan Ibu akan mengajak saudara atau kerabat yang dianggap senior untuk berdiskusi perihal masalah yang timbul sebagai akibat dari musibah yang melanda. Pada akhirnya keputusan yang diambil sangat berhubungan dengan banyak faktor. Faktor ekonomi, pola pikir ataupun karakter dapat sangat berpengaruh di dalamnya. Duduk bersama dan saling berbagai ide dengan niat baik menjadi jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi kala itu.

 

Ditinjau dari segi penyampaian komunikasi dapat dibagi menjadi dua bagian. Komunikasi langsung dan komunikasi tidak langsung. Misinya tetap sama yaitu menyampaikan pesan dari pengirim pesan atau komunikator kepada penerima pesan atau komunikan. Komunikasi langsung dapat dilakukan dengan bertatap muka tanpa adanya alat bantuan komunikasi. Sebaliknya komunikasi tidak langsung merupakan proses dari suatu komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung karena memerlukan bantuan alat komunikasi sebagai media perantara. Tidak ada hari yang dilalui tanpa dua jenis komunikasi ini. Seakan- akan komunikasi langsung dan tidak langsung menjadi nafas kehidupan umat manusia di berbagai belahan dunia.

 

Komunikasi tidak langsung di negri ini sudah menjadi hal yang sangat biasa. Apalagi jarak sama sekali tidak menjadi menjadi hambatan. Dengan bantuan teknologi dan inovasi yang terus hadir di Indonesia. Terima kasih untuk operator terbesar telekomunikasi di Indonesia Telkom. Pada tanggal 6 Juli 2020 PT Telekomunikasi Indonesia Tbk merayakan ulang tahun yang ke-55. Sungguh bersyukur saya ikut menjadi saksi dan pengguna uang logam koin Rp.100 dan kartu telepon magnetik. Bahkan dulu berkesempatan mengoleksi kartu- kartunya karena gambarnya yang sangat menarik dan mempromosikan keindahan dan kekayaan Indonesia. Setelah itu beranjak menggunakan pager pinjaman teman, jasa wartel dan akhirnya menggunakan kartu pertama keluaran Telkomsel dan telepon genggam Nokia sejuta umat.

 

Ketika pandemi Covid-19 mulai mewabah di Indonesia maka sistem komunikasi langsung menjadi hal yang sangat dibatasi. Semua lini di bidang ekonomi, sosial, budaya dan pendidikanpun perlahan berubah. Sejalan dengan perubahan timbul pula permasalahan. Namun lagi- lagi komunikasi menjadi kunci dalam mengatasinya. Sekolah dan bekerja dari rumah. Belajar dan bekerja dengan cara daring. Fasilitas dan koneksi internet melalui media handphone dan laptop menjadi jalan keluar. Aplikasi Zoom, Google Classroom dan WhatsApp menjadi aplikasi favorit sepanjang tahun 2020.

 

Teman- teman yang menemukan passion di bidang kuliner mulai menjual dagangannya lewat jasa berbagai media sosial seperti fb, instagram, wa dan sebagainya. Ternyata di balik masalah yang hadir komunikasi secara tidak langsung kembali menjadi penyelamat. Dimana ada kemauan dan tindakan disitulah terbuka jalan. Sebagai teman saya berusaha membeli dagangan sesuai kebutuhan dan juga meneruskan info kembali ke saudara dan teman- teman. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang terjadinya komunikasi antara penjual dan pembeli. Berbagai aplikasi turut membantu proses jual-beli antara lain Tokopedia, Gojek dan HappyFresh.

 

Selain membeli lewat jasa aplikasi, saya tetap perlu membeli kebutuhan sehari- hari di supermarket terdekat dan tukang sayur. Kemarin saat butuh membeli pepaya untuk suami saya kecewa karena buah pepaya ternyata kosong.  Seperti mengerti kegelisahan hati ini dengan lugas dia menawarkan bantuan,

 

” Bu, minta no handphone yah nanti Ibu wa alamat rumah Ibu. Pepaya tak antar ke rumah besok pagi”.

 

Betapa hati saya berbunga- bunga mendengar solusi dari Bapak penjual sayur.

 

Sebagai Makhluk Sosial komunikasi menjadi hal yang penting dan tidak terelakkan. Komunikasi dimulai antar keluarga inti, teman dan bahkan ke orang yang tidak dikenal. Dalam membangun hubungan yang harmonis kita pasti akan menghadapi masalah. Namun tingkat dan masalah yang kita alami akan berbeda- beda dari satu orang dengan orang lain.

 

Berbicara, bertanya dan berdiskusi adalah cara komunikasi langsung yang biasa saya lakukan dengan suami dan anak- anak. Namun dalam kenyataan sehari- hari ada saat terjadi miskomunikasi dan masalah. Saat dimana salah satu anggota sedang lelah fisik dan mental setelah bekerja ataupun sekolah. Masa- masa dimana sesama anggota saling meluapkan emosi atau sebaliknya hanya ingin berdiam diri. Mencari momentum yang tepat untuk berkomunikasi juga faktor yang menentukan agar pesan dapat tercapai dengan baik. Gaya bicara dan intonasi, bahasa tubuh, kontak mata bahkan keinginan mendengarkan dapat menjadi pemicu. Menjadi pendengar yang baikpun menjadi tolak ukur sebuah pesan bisa terjalin dengan baik.  Saat mendengar kita tidak hanya mendengarkan dengan telinga namun juga dengan hati yang terbuka. Apa yang menjadi masukan dan permasalahan mereka akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri sendiri pula.

 

Saat berkomunikasi dengan orang lain wajar terjadi perbedaan karena perbedaan pandangan hidup, pendidikan, budaya, nilai dan agama. Bahkan masih banyak lagi faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kesalahpahaman dan konflik yang pernah kita alami dan kita lihat di sekelilingi kita. Di saat pandemi seperti saat ini selain logika, ada hati yang berperan di dalamnya. Menjunjung rasa hormat- menghormati dan kerukunan antar umat beragama dalam jalur berkomunikasi rasanya sungguh melegakan. Bukankah kita tidak ingin menimbulkan perpecahan dan masalah baru di tengah Bangsa majemuk namun damai sentosa ini?

 

Sebagai manusia yang adaptif akan perubahan, komunikasi sendiri adalah ilmu yang perlu dilatih dalam setiap kesempatan. Pengalaman adalah guru terbaik dalam menghadapi berbagai masalah yang kita hadapi. Belajar dari orang lainpun dapat menambah ilmu tentang bagaimana cara orang- orang sukses berkomunikasi dengan baik. Dalam salah satu buku berjudul “How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere- The Secrets of Good Communication” yang ditulis oleh Larry King dan Bill Gilbert: Apakah kesamaan yang dimiliki para pembicara hebat?

  1. Mereka melihat berbagai hal dari sudut pandang yang baru
  2. Mereka memiliki wawasan yang luas
  3. Mereka antusias
  4. Mereka tidak hanya membicarakan diri mereka sendiri sepanjang waktu
  5. Mereka ingin tahu
  6. Mereka berempati
  7. Mereka memiliki selera humor
  8. Mereka punya gaya sendiri saat berbicara

 

Dalam keseharian berkomunikasi dengan diri adalah hal yang tak kalah penting untuk dilakukan. Bertanya kepada diri sendiri mengenai hal- hal apa yang prioritas untuk dilakukan setiap hari. Refleksi dan evaluasi perlu dilakukan secara berkala. Apakah masalah perlu diselesaikan dengan bantuan keluarga, orang lain atau tenaga professional? Biasanya menjelang akhir tahun banyak orang yang mencoba melihat ke belakang untuk sekedar berkaca atas pencapaian dan masalah yang telah diatasi sepanjang tahun.

 

Doa dan ibadah adalah salah satu jalur komunikasi dengan Tuhan. Ada saat- saat khusus berdoa sendiri dan ada juga yang dipanjatkan bersama keluarga. Dalam keheningan mencoba belajar untuk mendengarkan suara Tuhan. Kita belajar menanggapi dan melakukan kehendakNya dalam kehidupan sehari- hari. Walau masalah- masalah yang dihadapi tidak langsung hilang, namun itu menjadi bekal untuk menghadapi hari baru dengan positif dan semangat.

 

Seperti kita memerlukan oksigen untuk bernafas setiap hari. Kita memerlukan komunikasi dalam mencapai banyak hal dalam hidup ini. Dalam masa senang maupun susah. Semua masalah dapat diselesaikan dengan komunikasi. Ada pepatah dari Tony Gaskins yang mengatakan: “Komunikasi dalam sebuah hubungan seperti oksigen dalam hidup. Tanpanya…hubungan itu akan mati.”