Good bye Covid, Ayo Bangkit

Dalam rangka menyongsong HARKITNAS 2022, adaptasi, kolaborasi, motivasi, dan komunikasi adalah kunci untuk berburu peluang baru pascapandemi covid-19.

Good bye Covid, Ayo Bangkit
Kebangkitan Nasional

 

            Pandemi covid-19 yang melanda dunia lebih dari dua tahun, tak terkcuali Indonesia telah memporakporandakan seluruh tatanan kehidupan. Menyongsong Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) besuk tanggal 20 Mei, kiranya Harkitnas dapat menjadi momentum bagi seluruh bangsa Indonesia untuk bersatu padu membangun negeri. Di bidang kesehatan, pendidikan, perekonomian, pariwisata dan di bidang-bidang lainnya harus segera bergerak maju dan cepat.

            Kemajuan-kemajuan yang terjadi di belahan dunia sana tidak menunggu si-lambat lagi. Oleh karena itu, kobarkan semangat kedamaian, buang jauh-jauh pertengkaran, perselisihan, dan kekerasan yang sudah menelan banyak korban. Berbagai fasilitas umum yang telah dibangun dengan jerih payah hendaknya dipelihara dan bahkan dirawat baik-baik. Hidup rukun dan damai di bumi Indonesia dengan mengamankan dan mengamalkan Pancasila. Sebagaimana bunyi alinea pertama Pembukaan UUD 1945, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa…….dan seterusnya.

            Berawal dari tanggal 20 Mei 1908, yang berarti sudah 114 tahun silam bangsa Indonesia telah mengenal dan memahami arti suatu kebangkitan, bangkit jiwanya, bangkit semangatnya, mengisi kemerdekaan yang telah berhasil diperjuangkan oleh pahlawan-pahlawan pejuang kemerdekaan. Kini kita hidup di Indonesia untuk mengisi kemerdekaan itu dengan memelihara, menumbuhkan dan menguatkan semangat gotong royong kita sebagai landasan atau dasar dalam melakukan pembangunan negara Indonesia.

            Mengenang Harkitnas tentu kita mengingat Organisasi Gerakan Boedi Oetomo. Siapa Boedi Oetomo itu? Beliau adalah Pelopor Gerakan Kebangkitan Nasional Indonesia. Boedi Oetomo merupakan Organisasi Kebudayaan dan Pendidikan yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Boedi Oetomo adalah Organisasi yang mewadahi aspirasi para aktivis pejuang kemerdekaan Indonesia. Menurut laman Kemendikbud, berdirinya Boedi Oetomo tak lepas dari perkembangan dunia pendidikan pada masa kolonial Belanda.

            Ada 9 tokoh akademisi yaitu: (1) R. Soetomo; (2) Goenawan Mangoenkoesoemo (3) Soeradji Tirtonegoro; (4) Gondo Soewarno; (5) Soelaiman; (6) Angka Prodjo Soedirdjo; (7) M. Soewarno; (8) Mohammad Saleh; (9) RM. Goembrek. Sebelum Boedi Oetomo terbentuk ke sembilan tokoh pendiri tersebut menempuh pendidikan di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yang merupakan Sekolah Kedokteran Belanda. Setelah melalui serangkaian diskusi, pada tanggal 20 Mei 1908, didirikanlah sebuah perhimpunan. Perhimpunan tersebut diberi nama Boedi Oetomo.

            Latar belakang lahirnya Boedi Oetomo adalah kepedulian dokter Wahidin Soedirohusodo bersama dokter Soetomo, dan kawan-kawan terhadap kondisi pendidikan kaum pribumi yang memprihatinkan. Kelahiran Boedi Oetomo membawa dampak sangat luas, karena organisasi ini bergerak di bidang pendidikan yang kemudian menjadi pelopor kesadaran masyarakat bahwa untuk mengisi kemerdekaan nantinya bangsa Indonesia harus pintar dan cerdas. Jadi jelaslah bahwa Organisasi Boedi Oetomo sangat berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, memperbaiki dan memajukan pendidikan rakyat Indonesia, aktif juga dalam kegiatan politik untuk menuntut Indonesia merdeka segera.

            Walau 37 tahun kemudian baru terwujud namun, ruh dan semangat untuk merdeka itu tidak pernah surut di benak para pendiri bangsa ini. Gelora api yang terus membakar semangat cita-cita memerdekakan Indonesia, untuk lepas dari cengkeraman penjajahan sangatlah luar biasa kala itu. Hal inilah yang perlu diteladani oleh setiap kita yang hidup di tanah air Indonesia. Dipunyainya kesadaran akan pentingnya kedaulatan, menolak menyerah, berawal dari perjuangan Boedi Oetomo. Kini masihkah semangat itu menggelora di hati sanubari setiap kita sebagai generasi penerus bangsa.

            Sebagai pendidik kita harus bisa menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam Organisasi Boedi Oetomo, antara lain: (1) Menumbuhkan semangat para pemuda/I untuk berjuang; (2) Meningkatkan semangat patriotisme; (3) Membangkitkan hati nurani peserta didik bahwa kita harus kuat dalam segala hal. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai-nilai itu harus melekat kuat di setiap kehidupan seluruh warga negara Indonesia. Adapun nilai-nilai kebangsaan itu meliputi: (1) Nilai religius; (2) Nilai kemanusiaan; (3) Nilai produktivitas; (4) Nilai keseimbangan; (5) Nilai demokrasi; (6) Nilai kesamaan derajat; (7) Nilai ketaatan hukum.

Bangkit dan Optimis

            Bidang perekonomian sudah mulai menggeliat, bidang kesehatan terus diwaspadai dan dipantau pemerintah, bidang pendidikan tak mau kalah. Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100% sudah dimulai, penulis percaya pembelajaran akan berlangsung secara efektif dan siap tempur mengejar ketertinggalan selama dihimpit covid. Kini saatnya kita katakan good bye covid karena aku mau bangkit, aku mau maju dengan fisik dan jiwa yang sehat, aku siap belajar dan belajar lagi sampai kapan pun.

            Milikilah sikap optimis menyambut hari esok yang penuh harapan. Sebagai generasi muda, di kepala kalian ada setumpuk kreativitas, di tangan kalian ada seonggok keterampilan, segeralah bergerak (action) dan jadilah si-cepat, dengan berpikir cepat dan bertindak cepat. Keluarlah dari zona nyaman (comfort zone) kalau tak mau ‘mati’. Pascapandemi di mana-mana perubahan telah terjadi, tidak menunggu si-lambat lagi; pandemi melahirkan cara kerja baru, bekerja bisa dari mana saja asalkan terkoneksi internet. Kemajuan di bidang IT (Informasi Teknologi) mencelikkan mata kita bahwa dunia ini benar-benar tanpa batas (borderless).

            Tak usah banyak dalih, apakah Anda generasi X atau Y atau Z, semua adalah generasi tangguh asal mau belajar dan lincah dalam menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat. Adaptasi, kolaborasi, motivasi dan komunikasi adalah kunci untuk berburu peluang-peluang baru. Bertindaklah pro-aktif, jangan menunggu, hari esok tak seorangpun yang tahu. Yakinlah bahwa setiap individu itu memiliki potensi yang luar biasa, asahlah terus kompetensi masing-masing. Seorang yang optimis, melihat kesempatan disetiap kesulitan; sebaliknya orang yang pesimis selalu melihat kesulitan disetiap kesempatan.

            Teringat penulis pada kata bijak Imam Syafi’i: “Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan”. Pada kesempatan ini penulis hendak menyampaikan bahwa: “Keberhasilan bukanlah milik orang yang pintar-pintar saja, melainkan keberhasilan itu adalah juga kepunyaan mereka yang senantiasa berusaha”. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti mengejar yang Anda impikan, meski apa yang didamba belum ada di depan mata dan jadilah pribadi yang selalu siap menjalani setiap tantangan.

            Pada kesempatan memperingati Hari Kebangkitan Nasional tahun 2022 ini, mari setiap pendidik (guru/dosen) bergerak, semua bergerak, sehingga Kapal Pendidikan Indonesia maju.

 

Jakarta, 19 Mei 2022

Salam penulis: E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia – tyasyes@gmail.com

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.