Oh Soto Betawi, Seminggu Sekali
Restoran Rempah Kita di Plaza Indonesia kini telah menjadi kenangan. Banyak memori yang tertinggal selama perjalanan panjang di sana. Ini salah satunya.

“Selamat siang Pak. Soto Betawi seperti biasa?” tanya seorang pramusaji dengan ramah kepada lelaki yang baru duduk.
“Ya,” jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah pramusaji itu.
“Baik Pak. Mungkin ada pesanan lainnya?”
“Tidak,” jawabannya kembali hanya satu kata saja dengan tetap tidak berpaling kearah pramusaji.
Lelaki ini termasuk salah satu pelanggan Rempah Kita yang dapat dikatakan sangat setia. Selama kurun waktu empat tahun, hampir sedikitnya seminggu sekali ia berkunjung ke restoran kami. Ia selalu datang bersama dengan seorang ibu tua dan seorang perempuan muda berseragam perawat. Sang Ibu duduk di kursi roda dan lelaki itu selalu yang mendorong kursi tersebut. Sedang perawat hanya mengikuti dari belakang sambil menjinjing sebua tas cukup besar.
Jika sekilas melihat dari penampilan ibu tua ini, mungkin ia pernah kena stroke. Badannya agak kurus. Tangan kanannya tidak dapat aktif bebas bergerak. Sedangkan bagian mulutnya jelas tampak agak miring. Tatapan matanya kosong. Tidak pernah melihat ia mengatakan sesuatu.
Saking sering ia berkunjung ke Rempah Kita, maka saya secara tidak langsung sering mengamati kebiasaan mereka. Saya menerka, lelaki itu berusia sekitar 50 tahun. Tubuhnya cukup besar, gemuk berotot cenderung gempal tapi bukan kegemukan. Ekspresi mukanya terkesan kaku dan tegang. Meskipun tidak judes atau galak, pun tidak cerewet. Tidak banyak permintanan lainnya ketika ia bersantap. Ia memiliki wajah yang datar. Tidak pernah tersenyum kepada orang sekelilingnya, termasuk kepada para pramusaji yang melayani mereka. Jadi ia termasuk pelanggan yang biasa-biasa saja hanya tidak ada pancaran keramahan di wajah lelaki ini. Entah mungkin karena ia fokus mengurus ibu tua itu, atau memang sudah bawaannya seperti itu.
Pesanan mereka tetap konsiten dan tidak kurang dan juga tidak pernah lebih dari kebiasaan. Selalu sama. Pertama kali pasti lelaki itu memesan tiga mangkok soto Betawi. Tambahan tiga nasi putih dengan taburan bawang goreng di atasnya, sepiring emping, dan tiga teh panas.
Ketika sambil menunggu pesanan datang, suasana sunyi di meja mereka. Lelaki dan perawat itu sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Sambil sekali-sekali, lelaki itu menoleh ke arah sang ibu, membantu membersihkan bila ada air liur yang membasahi dagu ibu.
Jika soto telah terhidang, lelaki itu membagikan semangkok dan segelas teh panas untuk perawat. Lalu perempuan muda itu mulai melahap makanannya. Lalu ia mendekatkan dua mangkok saling menyentuh. Ia mengambil daging dari mangkok yang satunya untuk dipindahkan ke mangkok yang satunya. Setelah itu ia menyingkirkan mangkok yang berisi daging agak ketengah.
Lelaki itu kemudian menarik kursinya mendekat ke kursi roda, dengan posisi agak miring sehingga ia duduk agak menghadap sang ibu. Lantas lelaki itu akan mulai mengaduk kuah soto secara perlahan. Ia juga berulang kali mengangkat kuah soto dengan sendok dan perlahan ia masukan kembali ke dalam mangkok. Sesendok demi sesendok. Sungguh sebuah ritual yang sistematis (sekaligus higenis) untuk mengurangai panas kuah. Setelah menurutnya kuah soto itu sudah dapat disantap, dia mengambil sesendok nasi lalu mencelupkan ke dalam mangkok soto tadi.
Meski tidak mudah menyuapi orang dengan keterbatasan phisik seperti itu, si lelaki tetapi menyuapi ibu itu dengan telaten. Ia menyuapi dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya merangkul bahu ibu itu. Entah apa yang ia katakan, kami hanya melihat ia membisikan sesuatu kepada ibunya seraya mengusap-usap punggung kurus.
Sungguh lelaki ini memiliki kesabaran yang luar biasa. Ia tidak penah terlihat kesal atau terburu-buru ketika agak sulit menyuapi nasi berkuah itu masuk ke dalam mulut ibu tua itu. Rupanya ibu itu tidak dapat membuka lebar mulutnya. Acap kali baik nasi maupun kuah jatuh meleleh di sekitar mulutnya. Perlahan ia menyeka mulut sang ibu dengan saputangan. Ritual mengharukan ini biasanya memakan waktu 30-40 menit.
Perhatian yang luar biasa. Ia tidak pernah memperbolehkan perawat itu membantu dirinya. Semua proses mengurus sang ibu ia lakukan sendiri. Sedangkan perawat itu setelah selesai asyik menyantap sotonya, biasanya ia duduk menyender sebagaimana layaknya seorang yang telah kenyang. Perempuan itu kembali asyik dengan ponselnya.
Ketika lelaki itu sudah selesai menyuapi ibu, maka perawat itu bangkit dari kursinya sambil menyandang tas besar, ia mendorong kursi roda itu dan membawa ibu itu ke kamar kecil wanita. Sepertinya tidak mungkin lelaki itu melakukan hal ini.
Sementara itu, ia mulai mengambil soto dan nasinya. Ia mulai menyantap makanannya. Pernah suatu ketika pramusaji menawarkan untuk kedua makanan itu untuk dipanaskan, ia menolak.
Sekembalinya ibu dari kamar kecil, lelaki itu kembali mendekatkan duduknya ke kursi roda, tetap sekali-sekali tangan kirinya mengusap-usap punggung ibunya.
Jika adegan ini hanya terjadi sekali atau beberapa kali tetapi jarang-jarang, mungkin tidak akan menarik perhatian kami semua. Hal ini kami saksikan paling tidak seminggu sekali dengan ritual yang sama. Sungguh terkesan.
Suatu ketika, mereka tidak pernah datang lagi. Lama kami menunggu tetapi mereka tidak pernah muncul.
Pada suatu briefing pagi, saya tiba-tiba teringat kepada mereka bertiga. Saya bertanya apa betul ketiganya tidak pernah datang lagi. Mereka menyakini tidak pernah melihat mereka datang ke Rempah Kita lagi.
“Saya pernah lihat lelaki itu lewat di depan Rempah Kita. Lalu dia diam di depan sebentar dan melihat ke arah dalam restoran. Trus pergi,” cerita seorang kasir.
“Engga masuk?” tanya seorang kasir lainnya.
“Engga.”
“Sungguh seorang anak yang baik dan berbakti dengan ibunya ya,” saya menyeletuk.
“Ibu tau dari mana mereka itu ibu dan anak? Ngomong sama kita saja tidak pernah,” tanya seorang pramusaji yang memang paling terkenal kepo diantara semua orang di sana.
Saya hanya tersenyum dan mengakhiri pertemuan pagi itu, kemudian berjalan meninggalkan mereka. Belum jauh saya melangkah sayup-sayup terdengar si kepo itu mengatakan sesuatu.
“Bisa saja mereka itu suami istri kan?”
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.