Suaminya Keturunan Kuda Liar

Suaminya Keturunan Kuda Liar
from Pixabay

We will always walk beside you even movement will be impossible for you
We will always respect you even recognizing us will be difficult for you
We will always smile with you even if your sight might fade away
Keep on fighting my dear, our love will always be there for you…

Kutulis itu tiga bulan yang lalu dalam kecemasanku kala dokter menyampaikan sel-sel ganas itu sudah berlari liar hingga mencapai otakmu.

Kini satu-satu mereka menghampirimu. Nyeri di tulang membatasi gerakmu yang memang sudah harus dibantu. Kerapkali kau menanyakan “Kok anak-anak belum pulang sekolah?” padahal mereka baru saja pamit untuk berangkat.

Seringkali aku tak sanggup untuk memutuskan harus menangiskah aku ketika suara adzan berkumandang kau meminta untuk berwudhu dan kuselimutkan sarung sholatmu. “Allahu Akbar” kau takbirkan namun sekejab kemudian kudengar suara dengkurmu. Kau terpulas tidur tanpa sempat menyelesaikan salam sholatmu.

Atau harus tertawakah aku ketika dalam bangunmu kau bergumam, “Gak boleh berbuat maksiat. Maksiat itu dosa. Tapi gimana dong kalo ganteng dan punya uang?”. Kadang kau meneleponku, karena hanya nomorku kini yang ada dalam memorimu, saat aku tak tampak di hadapanmu walau aku pamit untuk berwudhu lima menit lalu. Atau lain waktu tiba-tiba kau bertanya padaku tentang salah seorang temanku dan kau berceloteh, “ Tau gak, suaminya dia kan keturunan kuda liar.” Tanpa makna dan kau kembali dalam pulasmu.

Dalam perjuanganmu yang tak mudah ini aku masih melihat berkas cahaya semangatmu. Aku berharap obrolan kita dua tahun lalu masih tersisa di benakmu sepulang kita dari ngopi di Rumah Kopi milik koko Gouw di Pasar Lama Tangerang.

“Nanti kalo udah sepuh kita di panti jompo aja ya,” katamu mengagetkanku saat kita sudah duduk di atas kereta di stasiun Tangerang menuju Jakarta.

“Kok tiba-tiba punya pikiran gitu?” tanyaku waktu itu tanpa berusaha menyembunyikan keterkejutanku pada usulanmu.

“Koko Gouw bener. Saat anak-anak sudah dewasa dan mandiri, hanya kita berdua nanti. Kita kan gak pernah tau siapa yang akan pergi duluan. Yang kita butuh pada akhirnya itu ‘temen’ …. temen ngobrol,” kau berusaha menjelaskanku dengan pandangan mata menerawang jauh. Aku jadi ikut-ikutan membayangkan masa usia senja tanpa teman. Anak-anak pasti sudah akan sibuk dengan kehidupannya sendiri, tak akan ada waktu untuk kita lagi. Ah sedih sekali.

“Bener juga di panti kita bakal punya banyak temen ngobrol ya.” Akhirnya aku menyetujui usulannya itu.

“Iya, satu hal yang paling penting: kita jadi gak ngerepotin anak-anak kan.” tambahnya meyakinkanku.

Itu cita-cita masa tua yang pernah kita obrolkan. Aku percaya semangatmu masih menyala untuk menggapainya. Dan aku akan terus mendampingimu hingga Yang Maha Kuasa menyatakannya sirna.

Bassura, 11 Maret 2020