Anak Broken Home

Anak Broken Home

Bandara Ngurah Rai terasa asing. Ini kali pertama saya manapak di bandara ini. Saya menghamburkan pandangan ke semua sudut bandara. Seorang bapak paruh baya sudah menunggu kami di depan pintu kedatangan. Iya, kami. Saya mendarat dengan seorang ibu, ibu yang baru saya jumpai beberapa minggu yang lalu. Ibu sambung saya.

“Papa….,” teriak saya canggung.

Orang yang saya panggil Papa mendekap saya erat. Dekapan puluhan tahun yang tertunda. Saya biarkan air mata tumpah. Air mata kerinduan menyebut Papa.

__________________

Telepon berdering, suara di seberang terdengar sayup-sayup.

“I am your Daddy.”

Bahasa Inggris dengan logat kental khas Bali menggetarkan saya.

Doa yang selama ini saya panjatkan terjawab. Doa yang saya lantunkan dalam tiap hembusan nafas. Saya selalu menyematkan harapan “Izinkan saya bertemu dengan ayah biologis saya.

Saya seperti mendikte Tuhan, tapi saya yakin Tuhan tidak marah.

Saya tidak lekas percaya. Suara di seberang pun tahu bahwa ada keraguan pada saya. Tanpa saya minta, suara itu dengan lancar menceritakan semua fakta mengenai saya. Di mana saya lahir, dengan siapa saya tinggal, siapa orang yang saya panggil Ibu, di mana saya sekolah, dan banyak fakta lain. Semua terhubung. Orang yang menelepon saya, jelas, adalah ayah biologis saya.

Menjadi anak broken home tidaklah melegalkan saya untuk hidup sesuka hati dan bebas merdeka mengatasnamakan permakluman bahwa anak broken home boleh nakal. Anak broken home ngga papa bolos sekolah. Anak broken home boleh keluyuran ngga jelas.

Tapi ada sifat yang tidak bisa saya elakkan

Tidak percaya diri.

Saat saya masih berenang-renang dalam air ketuban, saat itulah suami ibu saya (ayah biologis tentunya) menceraikan ibu. Pedih! Mungkin seperti sayatan luka yang diperciki air jeruk nipis. Kakak dari ibu saya, yang otomatis Pak De saya, tidak tinggal diam. Beliau mengadopsi saya saat saya masih kelas 1 SD. Sejak kecil, saya sudah merasa menjadi anak yang hanya membebani Pak De dan Bu De. Ada keraguan, apakah mereka mencintai saya dengan tulus.

Pendiam

Saya sering merasa dunia yang ramai dan penuh hingar bingar ini terasa sepi dan tanpa suara. Kerap merasa bahwa kebahagiaan adalah miliknya anak-anak yang bertumbuh dengan orang tua biologisnya. Canda dan tawa hanya ada pada anak-anak yang bisa memanggil ‘bapak ibu’ tanpa canggung. Saya lebih memilih diam agar saya tidak menimbulkan masalah.

 Perasa

Segudang upaya untuk menumbuhkan rasa bahwa apa yang diucapkan oleh seseorang, sesungguhnya, bukan untuk menyinggung perasaan saya. Selalu saya upayakan. Bahkan sampai detik ini, upaya itu masih saya pupuk. Ngga enak jadi orang perasa. Capek!

Pemberani

Nah, ini dia sifat yan menguntungkan saya. Saya ngga pernah takut. Saya ngga pernah takut dengan kesendirian karena saya selalu merasa sendiri. Bahkan, saya pun tidak takut dengan hantu. Mungkin karena saya belum pernah melihat hantu. Hehe.

Tiga sifat dasar itulah yang mungkin dipengaruhi oleh perjalanan hidup saya sebagai anak broken home. Saya tidak pernah sedikit pun menyesali perjalanan hidup ini. Saya bersyukur lahir menjadi anak broken home. Saya memiliki tiga pasang orang tua, yang mungkin saja tidak semua orang bisa memilikinya. Ibu, Pak De, Bu De yang sudah merawat saya dan juga Papa dan Mama.

“Ni Luh, maafkan Papamu ya.”

Suara yang lembut itu adalah suara Mama (isteri ayah biologis saya)

Mama, yang telah hidup bersama Papa sejak tahun 1976, menjemput saya  dan mengantarkan saya bertemu dengan Papa.

Saya tidak pernah menyesal menjadi anak broken home. Kondisilah yang memaksa Ibu biologis dan Papa berpisah. Satu yang saya syukuri, semua menyayangi saya dengan tulus.

Seperti makna bunga daisy ini: kemurnian dan ketulusan. Kemurnian dan ketulusan untuk mencinta meski waktu sempat memisahkan kami.

 

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.