SMS Dari Bapak

SMS Dari Bapak
Sumber gambar: pixabay.com

 

"Tolong transfer Bapak. Rumah gelap, belum bayar pulsa listrik"

Aku tertegun membaca pesan pendek yang masuk ke ponselku. Nomor pengirimnya tak kukenal. Tapi bukan itu yang bikin aku heran, melainkan bunyi pesannya. Menyebut 'Bapak' padahal Bapak sudah lama meninggal.

Ya, sudahlah. Palingan itu SMS penipuan. Bukannya akhir-akhir ini SMS penipuan makin marak?

Namun, tak berapa lama, 'Bapak' kirim SMS lagi, "Ini Bapak pinjam HP tetangga. HP Bapak mati, belum dicas. Rumah mati lampu."

Pikiranku langsung melayang ke rumah Bapak di kampung. Gelap sekali jika tak ada listrik. Tapi Bapak sudah meninggal, tidak mungkin dia mengirimkan SMS. Mungkin Bapak ini salah kirim. Sangat mungkin. Bukannya dia bilang HPnya mati? Ya, mungkin dia lupa nomor HP anaknya kemudian nyasar ke nomerku. Ah, kasihan sekali Bapak itu, aku harus memberitahukannya bahwa ia salah nomor.

Aku baru saja hendak mengetik, 'Bapak' kirim SMS lagi. Bunyinya sangat pendek, "Har, tolong ya..."

Tubuhku mendadak runtuh seperti gedung pencakar langit tua yang dihancurkan dinamit. Hanya Bapak yang memanggilku 'Har'.

Aku terduduk lemas di atas sofa, badanku gemetar, keringat dingin mengucur deras dan pikiranku berkecamuk kacau. Mataku nanar memandang layar ponsel, "Har, tolong ya..." Bunyi SMS itu masih seperti semula.

Ini benar-benar Bapak, pikirku, hanya Bapak yang memanggilku 'Har'.

Setelah entah berapa lama terpaku, kuputuskan menuju ATM terdekat. Aku harus transfer ke rekening Bapak. Dia benar-benar Bapak, hanya dia yang memanggilku 'Har', pikirku.

Kutengok istri dan anakku. Mereka sudah tertidur pulas. Aku pergi tanpa pamit karena tak ingin mengganggu tidur mereka.

Segera kupacu sepeda motorku menuju ATM terdekat. Jaraknya kurang lebih 1 km dari rumah.

Sesampainya di ATM, Bapak kembali mengirim SMS. "Har, kamu nggak perlu transfer. Listrik sudah dibayari tetangga. Nunggu kamu kelamaan!"

Deg!

Darahku mendesir lebih kencang. Keringat mengucur deras membasahi tubuhku yang gemetar. Bodohnya aku, bodohnya aku menganggap semua itu penipuan!

Penyesalan terus berkecamuk mengisi dada dan kepalaku. Hingga aku menjadi orang linglung yang tak hafal jalan pulang. Aku hanya berputar-putar tak kunjung sampai rumah.

Aku baru berhasil menemukan jalan pulang keesokan pagi, ketika hari sudah terang. Sesampainya di rumah, kulihat orang ramai berkumpul. Keruan saja hal itu membikin pikiranku yang sudah kacau menjadi semakin kacau dan gelisah. Ya, Tuhan, semoga istri dan anakku baik-baik saja.

Kusandarkan sepeda motorku dengan buru-buru lalu aku segera berlari, bergegas masuk rumah. Di ruang tengah, kulihat istri dan anak semata wayangku menangis di samping tubuh yang membujur, terbungkus kafan dan tertutup kain batik. Tubuhku.

"Angin duduk," bisik seseorang kepada yang lainnya, "tadi malam, di atas sofa."

Istriku tak henti-hentinya membasuh air mata yang terus mengalir. Anak di pangkuannya juga tak berhenti terisak sambil memeluk erat ibunya. Kulihat ponselku tergeletak di lantai, di samping istriku yang duduk bersimpuh. Di sana ada SMS yang terbuka, dari Bapak. Bunyinya, "Maaf salah kirim."

 

***

Bintaro, 2019