Wangi dan Dunianya

Wangi dan Dunianya
Gambar dari pixabay.com

 

Dunia wangi selalu sepi bagai dia hanya sebatang kara.Tak pernah ada suara yang ditangkap kedua daun telinganya. Tak ada merdu bunyi dan intonasi ataupun nada. Suara kedua orang tuanya tak pernah menghiasi hidupnya. Kakak perempuan dan kakak laki- lakinyapun tidak.

 

Wangi mencoba membaca bibir lawan bicaranya. Belajar dari seorang guru yang telaten mengajari bahasa isyarat agar dia lebih mengerti akan dunia. Dunia yang ternyata banyak warna. Ada pesona dan daya tarik dari setiap kata yang merasukinya.

 

Gadis cantik berambut  hitam panjang dan kedua bola mata coklatnya senang mengembara. Pohon Cemara dan burung Kutilang terlihat bersarang di atasnya. Lalu sapaan kucing yang mengelus- elus lembut kulitnya. Pertanda ia sedang lapar dan haus dahaga. Rumput tak ketinggalan menyapa lewat embun yang hadir menyentuh kedua telapak kaki yang tak beralas demi meraba.

 

Suatu hari ibunya mengajak ke kebun penuh bunga. Hamparan bunga yang tidak pernah dilihatnya. Berbaris- baris bunga Lavender berwarna putih, ungu dan nila. Sambil memegang tangan ibunya, Wangi bak dimanja bau yang begitu segar, manis dan sempurna. Harumnya lembut dan menyegarkan jiwa. Mungkinkah ini yang namanya surga? Sepanjang mata memandang yang dia lihat hanya bunga, langit dan ibu yang teramat dicintainya.

 

Wangi tidur begitu pulas malam ini. Yang tersisa hanya rasa damai dan semerbak aromaterapi di sekeliling kamarnya. Walau ibunya sudah tiada. Kenangan itu berbaur dengan keharuman surga yang tiada duanya.