DYAS, Namaku: Dyas Dewanto (#3)

DYAS, Namaku: Dyas Dewanto (#3)

Bagian tiga

Pedro

Ya Allah…Ya Allah…Mbak Dyas. Ya Allah mbak Dyas… kenapa bisa begini? Sembuh yuk mbak Dyas. Ayo bangun…bangun mbak. Kupandangi foto mbak Dyas di handphoneku lekat-lekat. 

Sepulang menjenguk mbak Dyas tadi pagi, aku seolah tak mampu berpikir. Buntu. Dengan alasan vertigoku kumat, rapat dengan klien sore hari, kubatalkan.

Sesampai di rumah, kakiku seolah tak mampu menopang tubuh. Serasa tak bertulang, lunglai, tak berdaya. Hanya handphone temanku saat ini.

 Kubuka satu per satu foto mbak Dyas di berbagai kesempatan. Perjalanan hidup mbak Dyas terwakili dari foto-foto di handphoneku. Aku cukup rapi menyimpan kegiatan-kegiatannya.  

Sejarah pertemuanku dengan mbak Dyas cukup unik. Saat itu aku adalah salah satu peserta lomba make up artis yang diadakan di sebuah mall kecil di Jakarta Utara. Sedang mbak Dyas sebagai juri tamu di lomba itu. Juri lain adalah para make up artis terkenal tingkat nasional.

Entah ada kontribusi mbak Dyas atau tidak dalam penjurian, yang pasti aku berhasil menyabet juara III. Tak pernah menyangka sebelumnya karena ada beberapa peserta lain yang hasil riasan wajahnya lebih bagus.

Menjelang pulang, saat membereskan peralatan make up, mbak Dyas khusus datang ke mejaku dan menanyakan nomer handphoneku.

Selanjutnya, hidupku berubah 180 derajat. Tiga hari setelah perlombaan itu, aku diminta merias mbak Dyas untuk kepentingan pemotretan sebuah majalah. Aku ingat sekali, aku sampai menggigit-gigit bibirku sendiri saking tak percaya.

“Bu Dyas tidak salah memakai saya? Saya tidak punya peralatan make up lengkap lho,” itu kataku waktu itu.

Apa coba jawaban mbak Dyas waktu itu?  “Nggak apa-apa mas Pedro. Anda cukup datang ke rumah saya untuk trial dulu. Saya punya beberapa peralatan alat make up kok, meskipun cuma sekedarnya.”

Buatku, jawaban mbak Dyas waktu itu adalah stempel kontrak pertama kerjasamaku dengan dia. Aku menemukan orang yang mengerti kadar kemampuanku yang masih taraf belajar make up. Juga menemukan orang berhati baik, yang tak tinggi hati meskipun levelnya ada di atasku.

Kejutan lain terjadi saat aku ke rumah mbak Dyas untuk trial make up.  Peralatan make up yang mbak Dyas miliki ternyata tak cuma sekedarnya. Lengkap kap. Beberapa diantaranya, bahkan ber-merk internasional.

Seingatku, saat trial make up  wajah mbak Dyas, aku tak berani eksplorasi. Aku hanya berani  menonjolkan bagian-bagian wajah yang kulihat menjadi daya jual mbak Dyas. Mata, bentuk alis yang alami, serta bentuk bibir mbak Dyas, menjadi kekuatan make upku.

Dan apa yang terjadi selanjutnya ? Dua hari kemudian, aku dibawa ke redaksi majalah wanita Aura dan diperkenalkan sebagai make up artis mbak Dyas.

“Kenalkan ini mas Pedro, make up artis saya yang baru,” kata mbak Dyas ketika bersalaman dengan pengarah gaya majalah Aura

Di ruangan rias yang lumayan sempit, untuk pertama kalinya, aku menjadi make up artis professional untuk mbak Dyas. Aku ingat, ruang make up itu agak panas, tapi telapak tangan dan tengkukku dingin sekali. Aku gugup. Gugup luar biasa.

Kegugupanku rupanya tertangkap oleh mbak Dyas. Earphone yang menempel di telinganya, diberikan padaku, sambil berbisik. “Bikin seperti saat di rumah. Persis. Fokus!”

 Kalimat mbak Dyas bak sihir. Earphone dengan lagu- lagu populer saat itu, membuatku lebih fokus bekerja.  

 “Wow lebih bagus dari kemarin mas,” puji mbak Dyas puas selesai make up. Jujur, waktu itu aku terasa mimpi. Terbang. Mmm…menjadi make up artis professional yang diidam-idamkan oleh banyak make up artis amatiran di luar sana, akhirnya tercapai.  

Pemotretan mbak Dyas di majalah Aura adalah kartu pas karirku selanjutnya. Dua minggu setelah pemotretan, aku seperti diterbangkan oleh nasib baik. Foto mbak Dyas muncul sebagai sampul majalah itu. Di halaman ketiga, namaku Pedro Sebasi muncul sebagai make up artis Dyas Dewanto.

Tawa dan derai airmata haru tak bisa kutahan saat mbak Dyas saat memperlihatkan majalah Aura padaku. “Sori banget ya Mas, nama belakang Anda jadi begitu. Lha saya tidak tahu nama belakang Anda. Trus malam-malam mereka menghubungiku, nama panjang mas Pedro siapa.” 

Aku masih lekat memandangi foto-foto mbak Dyas di majalah. Bangga. Tak percaya.

 

“Sabesi, itu saya ambil dari kependekan dari Serba Bisa,” jelas mbak Dyas menjelaskan sambil menahan tawa.  

“Tuhan kalau sudah berkehendak, semua bisa terjadi. Saya siapa sie? Model yang belum begitu terkenal. Masih merintis. Pengarah gaya majalah Aura bilang, hasil-hasil foto saya lebih layak menjadi sampul  majalah daripada foto-foto yang sudah disiapkan sebelumnya,” jelas mbak Dyas.

 “Oh…Puji Tuhan.” 

“Harusnya saya cuma ada di halaman dalam majalah. Tidak disetting sama sekali untuk menjadi cover. Karena hasil foto-foto model lain kurang maksimal, saya yang terpilih setelah mereka rapat redaksi.”

 

Setelah cover majalah itu, aku dan mbak Dyas bak busur yang melesat ke atas. Tawaran demi tawaran pemotretan untuk majalah atau tabloid, foto produk, foto kalender, dan sebagainya, tak berhenti.

Keakraban kami lama kelamaan terjalin erat. Atas permintaan mbak Dyas, aku diminta memanggil ‘Dyas’ karena umurku lebih tua dua tahun. Tapi aku tak mau. Demi tetap menghormatinya, aku mengganti kata ‘bu’ menjadi ‘mbak’. Jadi ‘mbak Dyas’.

Oya atas permintaanku, aku juga meminta mbak Dyas untuk memanggil aku dengan panggilan Pedro saja, tapi mbak Dyas menolak. Ia tetap memanggilku: mas Pedro.

Sampai sekarang, aku tetap tahu diri. Mbak Dyas adalah kunci pembuka perjalananku karirku. Aku tak mau kembali lagi menjadi manusia jalanan yang hidup atas belas kasihan orang lain. Menjadi pengamen dengan gitar yang tak pernah aku kuasai bagaimana memetiknya, atau menjadi tukang parkir di pasar becek. Kehidupan serba getir, sudah cukup bagiku. Saatnya aku mengangkat harkat dan martabatku sendiri lewat mbak Dyas.  

Sebelum bertemu dengan mbak Dyas, aku tidak pernah bermimpi punya rumah, motor atau punya mobil sendiri. Dulu untuk membayar kontrakan setiap bulan 400 ribu saja, aku sering minta keringanan waktu. Lewat bantuan mbak Dyas, aku bisa memiliki rumah, motor dan mobil, meskipun dengan cara mencicil.

Aku pindah rebahan di ruang tamu. Ada sebuah foto besar yang tergantung di atas televisi. Fotoku bersama mbak Dyas 5 tahun lalu saat hadir di sebuah program acara televisi.

Foto itu adalah hadiah ulang tahunku dari mbak Dyas. Di bawah foto itu terdapat tanda tangan dan tulisan tangan mbak Dyas. ‘Always together. Happy Birthday.’ Di foto itu aku memakai batik lengan panjang, hadiah mbak Dyas juga.

 

Mbok Marni

Astaghfirullah Al Azhim…Astaghfirullah Al Azhim…Astaghfirullah Al Azhim. Setiap selesai melafalkan bacaan istighfar kubayangkan wajah bu Dyas, lalu ucapkan doa untuk kesembuhannya. Semakin sering aku melafalkan istighfar, hatiku lega.

Setelah melihat langsung keadaan bu Dyas di rumah sakit, aku tak berhenti menangis. Anakku, Risma, sampai bingung kenapa mataku sembab. “Bu Dyas koma, Ris. Emak barusan dari rumah sakit,” kataku menjelaskan.

“Oya mak? Kenapa?” 

“Kecelakan katanya.” 

“Bener mak? Kok nggak ada di berita gosip?” tanya Risma menyelidik. 

Aku menarik napas panjang. Iya ya kenapa kecelakaan bu Dyas tidak ada di acara-cara gosip?  

Sammy, pacar Bu Dyas itu memang bajingan. Sudah seminggu bu Dyas di rumah sakit dia tak pernah sedikitpun berbagi kabar padaku. Di hari kedua saat bu Dyas tak pulang ke apartemen, Sammy  hanya bilang:  “Ibu kecelakaan mpok, ini baju ibu. Minta tolong bawa ke laundry.”

Aku hanya mereka-reka bagaimana kondisi bu Dyas setelah kabar kecelakaan. Bertanya ke Sammy tentang bu Dyas? Ogah banget. Sampai akhirnya tadi pagi aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Diajak serta ke rumah sakit bareng pak Pedro.

Aku dan Sammy  tak pernah bertemu di unit sejak bu Dyas di rumah sakit. Dia di apartemen kapan, aku tak tahu. Hebat kan? Padahal kami di unit apartemen yang sama. Di saat aku tiba ke unit,  Sammy sering tak ada.

Selama 10 hari ini, dia hanya meninggalkan secarik kertas dengan pesan aku harus  membeli ini itu. Plus uang belanja tentunya.

Hei…tapi aku ini siapa? Aku ini hanya pembantu. Istilah kerennya asisten rumah tangga. Punya wewenang apa  sampai aku harus protes ke majikan?

Majikan. Mm.. apa pantas ya Sammy kusebut majikan? Sampai sekarang, aku tetap tak sudi menyebut Sammy: majikan. Majikanku cuma bu Dyas.

Aku ingat pertama kali bu Dyas membawanya ke unit. Gayanya tengil. Melihatku tak ubahnya melihat taik. Tak berguna.  

Pernah suatu kali, karena terpaksa, aku bertanya jam berapa bu Dyas pulang shooting karena ada hubungannya sayur yang harus kuhangatkan atau tidak? Sammy tak menjawabku sama sekali. Bajingan kan?  Padahal di dapur cuma ada aku dan dia. Huh.. dia budek atau apa? Dia cuma melihatku sekilas kemudian berlalu ke kamar bu Dyas. 

   “Mak..mak…,” Risma menggoyang-goyangkan tubuhku. Ah..lamunanku buyar. Malas kubuka mataku.

“Lihat deh mak. Ini. IG bu Dyas memang sudah nggak aktif lama,” Risma menyodorkan handphonenya ke arahku,

Aku mengamati seksama beberapa foto bu Dyas.

“Ini mak. Terakhir ibu upload 12 hari yang lalu,” Risma menyodorkan foto lagi.  

Risma beberapa kali menunjukkan foto-foto bu Dyas. Tiga atau empat kali, ada foto bersama Sammy. Ada yang juga yang bersama pak Pedro.

“Sebelumnya IG bu Dyas masih aktif kok mak. Tidak upload setiap hari sie tapi  terakhir 12 hari yang lalu,” terang Risma sambil menghitung dengan jari. Risma mencocokan tanggal kapan bu Dyas upload status.  

Aku mengangguk-ngangguk. Aku dulu wanita undik dan tak pernah tahu apa-apa yang terjadi di luar sana. Tapi sejak Risma SMA, aku jadi tahu apa itu facebook, youtube dan Instagram (IG) dari Risma. Bahkan kegiatan bu Dyas sering kuketahui saat Risma melaporkan kepadaku.  

 “Mungkin handphone bu Dyas hilang mak saat kecelakaan” terang Risma lagi.

Aku mengangguk-ngangguk lagi. Selanjutnya aku dan Risma tenggelam membicarakan status-status IG bu Dyas sebelumnya.

Aneh nggak sie mak, masak tak satu pun acara gosip dan berita di televisi yang memberitakan kecelakaan bu Dyas?” tanya Risma lagi.

Aku  menangis lagi. Kali ini lebih sesunggukan. Bayangan kondisi bu Dyas di rumah sakit melintas lagi. Risma lalu meninggalkanku.  

Kupejamkan mataku. Kulafalkan lagi bacaan istifghar. Astaghfirullah Al Azhim…Astaghfirullah Al Azhim…Astaghfirullah Al Azhim. Kukirim doa untuk bu Dyas.

Kutarik napasku perlahan-lahan lalu kubuang lewat mulut. Perlahan juga. Kulakukan berkali-kali lagi hingga aku kembali lega.  Senyum bu Dyas mengambang di pelupuk mataku. “Sembuh ya bu,” ucapku masih dengan mata terpejam.

 Cuma bekerja empat jam di unit apartemen di bu Dyas, aku tak pernah kenal dekat. Hubungan kami hanya sebatas majikan dan pembantu. Ditambah kesibukan bu Dyas yang sering pergi ke luar kota.

Yang mendekatkan aku dan bu Dyas justru Risma. Tepatnya hubungan batin kami terikat karena Risma, sejak satu tahun yang lalu. Saat itu aku dan Risma bertemu bu Dyas di lobi apartemen. Beberapa kali setelah pertemuan itu, bu Dyas bertanya Risma itu siapa, umurnya berapa, dan sekolahnya di mana?

Tak mau menambah atau mengurangi cerita, aku ceritakan Risma adalah anakku satu-satunya. Ayah Risma, suamiku, meninggal sejak umur Risma 3 tahun. Kami cuma hidup berdua di sebuah kontrakan yang letaknya sekitar 1 km dari apartemen bu Dyas.  

Mungkin sudah rejeki Risma, beberapa kali sepulang dari luar kota, bu Dyas memberi oleh-oleh untuk Risma. Atau pernah bu Dyas memberi baju layak pakai.

Sudah rejeki Risma juga, akhirnya anakku bisa melanjutkan SMU. Saat bu Dyas mendengar Risma masuk ke SMU negeri, bu Dyas bersedia membiayai Risma sampai lulus SMU nanti.

“Setahu saya, kalau bisa masuk ke sekolah negeri, tidak dipungut biaya bulanan lho mpok Marni. Tolong tanyakan kebenarannya ke Risma. Kalau memang benar gratis, sebulan sekali saya akan tambah gaji mpok 500.000 untuk keperluan beli buku, atau ongkos ke sekolah Risma.”  

Sejak itu lah, batinku kusandarkan pada bu Dyas. Dalam sholat-sholatku, aku menyempatkan waktu untuk mendoakan bu Dyas  agar selalu diberi rejeki berlimpah. Dan rejeki itu mengalir ke anak salah satu anak yatim, yaitu Risma, anakku.

Kemiskinan membuatku pesimis menghadapi hidup. Gajiku dengan bekerja di dua unit apartemen setiap hari, hanya cukup untuk makan setiap hari. Jam 06.00 aku sudah bekerja di bu Kris di unit 7. Selesai dari bu Kris, aku langsung ke unit bu Dyas.

 Tak muluk-muluk kami bercita-cita tentang masa depan. Aku sempat pura-pura melupakan Risma adalah anak cerdas yang setiap tahun mendapat ranking satu di kelas. Melanjutkan ke SMU, bukan cuma masalah bisa masuk tanpa tes. Uang buku, seragam, uang ekstrakurikuler, tak sanggup kuadakan. Sampai akhirnya bu Dyas memberi seberkas cahaya tentang masa depan kami.                  

Tentang tambahan 500.000 itu, bu Dyas pernah memberi tiga kali lipat saat mendapat kerjaan sebagai bintang iklan. “Bilang ke Risma, uang ini disimpan untuk keperluan nanti kalau ingin kuliah,” katanya waktu itu sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat.

“Ya Allah bu Dyas terima kasih banyak. Risma sudah bisa SMU saja sudah senang. Tidak kepikiran untuk kuliah bu. Dapat duitnya dari mana?” kataku waktu itu sambil berkaca-kaca.

“Eit…tidak boleh ngomong begitu. Siapa tahu Tuhan berkehendak,” kata bu Dyas. 

“Aamiin,” aku mengamini sambil menengadahkan tangan di depan bu Dyas.

Atas usul Risma, sesekali saat aku bertemu bu Dyas, aku melaporkan kegiatan Risma di sekolah. Misal, kepada bu Dyas aku bercerita Risma mendapat rangking 1 di semester pertama. Atau Risma mengambil ekstrakurikuler Bahasa Inggris di sekolah. 

Ikatan batin kami semakin dekat ketika Risma dihadiahi handphone. Kata bu Dyas, handphone perlu saat dia membutuhkanku sewaktu-waktu.  

“Tolong kasih ke Risma, mpok. Oya, saya simpan dua nomer di handphone itu. Yang Dyas, saya ya mpok. Yang namanya pak Peter, bapak saya,” terangnya.

Risma bukan main girangnya. Anak ABG diberi handphone bagus meskipun bekas, seperti mendapat durian runtuh. Risma menitikkan air mata saat menerima.

 Pada akhirnya, handphone itu lebih banyak menunjang kegiatan Risma sekolah. Sejak memberi handphone tersebut sampai sekarang, bu Dyas hanya mengirim WhatsApp sekali saat memintaku untuk datang bersama Risma ke unit. Saat itu bu Dyas minta dikerok punggungnya.

                           -0-