Seni Berkomunikasi yang Hilang

Tutup mulutmu, mulai pasang telinga!

Seni Berkomunikasi yang Hilang

Semua orang bisa mendengar, tetapi tidak semuanya mendengarkan.

“Kamu nyimak omongan aku gak?”, barang kali pernah atau sering kita dengar saat sedang interaksi dengan orang lain. Biasanya pertanyan tersebut muncul disaat salah satu lawan bicara terlihat tidak nyambung topik pembicaraanya atau terlihat tidak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan. Ujung-ujungnya terjadi misunderstanding yang tanpa diduga memunculkan masalah yang tidak diinginkan. Lalu bukankah semua bisa mendengar pembicaraan? Apa bedanya dengan mendengarkan?

Jelas berbeda.

Mendengar adalah respon otak yang tidak disengaja dan otomatis terhadap suara yang tidak memerlukan usaha. Kita sering kali dikelilingi oleh suara. Misalnya, kita terbiasa dengan suara kendaraan di jalan, mesin cuci, suara kucing, orang ngobrol di kafe, dan sebagainya. Disisi lain, “mendengarkan” adalah usaha terbaik, aktif, fokus, perhatian terkonsentrasi yang ditujukan untuk memahami makna yang diungkapkan oleh orang yang sedang berbicara. Masalahnya kita tidak selalu baik dalam mendengarkan, bahkan banyak dari kita justru adalah pendengar yang buruk bahkan dalam percakapan sehari-hari. Kalau begitu, bagaimana agar bisa menjadi pendengar yang baik?

Mendengar adalah seni komunikasi yang hilang

Pada salah satu novel Ernest Hemingway berjudul Across the River and into the Trees ada sebuah kutipan yang menarik, yaitu:

“ketika orang berbicara, dengarkan sepenuhnya. Jangan memikirkan apa yang akan kamu katakan. Most people never listen.” (Ernest Hemingway)

Banyak orang tidak benar-benar mendengarkan dalam sebuah percakapan, kebanyakan dari mereka menyiapkan kata-kata untuk membalas perkataan lawan bicara. Hal ini sering terjadi bahkan dalam komunikasi sehari-hari baik dalam level keluarga atau bahkan ranah pertemanan. Sebagaimana Michaels Nichols dalam bukunya The Lost Art of Listening berkata,

Ironisnya, kemampuan kita untuk mendengarkan dengan baik seringkali paling buruk dengan orang-orang terdekat kita. Konflik, kebiasaan, dan tekanan emosi (ketika hubungan dibebani dengan konflik dan kebencian) membuat kita sedikit sekali mendengar padahal yang sangat dibutuhkan adalah mendengarkan..”

Contohnya saat seorang anak tidak benar-benar mendengarkan pesan yang sedang disampaikan oleh ibunya, dalam kepalanya dia mencari celah untuk memotong kata-kata ibunya dan membalas perkataan ibunya dengan argumen yang telah ia siapkan.  Atau ketika seorang kawan yang sedang ada dalam kesedihan dan ingin curhat, saat dia sedang berbicara kita menyiapkan berbagai macam wejangan atau quotes dalam hati kita untuk siap-siap dilontarkan agar terlihat bijak dihadapannya, tanpa mencerna apa curhatannya dan tidak peduli dengan masalahnya. Ya ampun, secara sadar atau tidak ini adalah suatu sikap egoisme yang menjijikan. Lambat laun hal ini akan menjadi masalah jika sering dilakukan, tidak akan ada orang yang tahan lama-lama ngobrol dengan seseorang yang egosentris dan narsis.

Bagaimana kita dapat mengerti pikiran seseorang, jika kita bahkan tak tau kemana arah pikirannya.

Ketika kita mendengar dengan penuh perhatian, artinya kita menghadirkan pikiran dan hati sepenuhnya untuk orang yang sedang berbicara dengan kita. Dengarkan baik-baik dan sebisa mungkin jauhkan diri kita dari berbagai distraksi. Baik dari gadget, pekerjaan, atau bahkan pikiran dalam diri untuk segera merespon apa yang sedang orang lain bicarakan. Kita sering berpikir gimana caranya membalas perkataan seseorang yang sedang berbicara, padahal tidak selalu hal itu wajib dilakukan. Ada kalanya yang dibutuhkan hanya memperhatikan dan mendengarkan. Responlah perkataan disaat lawan bicara terlihat meminta jawaban atau meminta pendapat. Ingat bahwa, listen not to respond but to understand.

Apa manfaat menjadi pendengar yang baik?

William Ury adalah seorang mediator profesional, dia banyak menyelesaikan masalah mulai dari bisnis hingga masalah kenegaraan. Sejenak jika melihat pekerjaan dan kemampuannya kita akan mengira bahwa ia adalah seseorang yang hebat dalam berkata-kata dan public speaking, tetapi apa yang mengejutkan adalah dia mengatakan bahwa skill terbaik yang ia miliki adalah be a good listener. Dalam presentasinya pada acara TEDxSandiego yang berjudul “The Power of Listening”, Ury berbagi dengan para audiens apa saja keuntungan menjadi pendengar yang baik terutama dalam sebuah dialog negosiasi. Berikut beberapa diantaranya;

 

  1. Membuat kita mengerti sisi lain pembicara

Saat berbicara dengan para kliennya Ury akan memasang baik-baik telinga dan perhatiannya pada lawan bicaranya. Setiap nada dan intonasi suara bahkan gerakan tubuh tak luput dari perhatiannya. Ury berkata, “kita mendengarkan bukan hanya kata-katanya akan tetapi apa yang tersimpan dibalik kata-kata tersebut.

  1. Membantu kita connect dengan orang lain

Menjadi pendengar yang baik membantuk kita lebih mengerti dan terkoneksi dengan lawan bicara kita. Saat orang berbicara kita mendengarkan bukan hanya dengan telinga tetapi menggunakan hati. “Give them your full attention, and listen to the human being behind the words.”

  1. Help us to get “yes

Dalam sebuah negosiasi tentu saja kita perlu mendengarkan dengan baik bagaimana situasi dan kebutuhan dari lawan bicara kita. Dengan menjadi pendengar yang baik tentu saja kita dapat merespon suatu masalah dengan kaya akan perspektif. Respect akan didapat jika berhasil menjadi pendengar yang baik. Dengan adanya hal ini, lawan bicara kita juga akan rela mendengarkan pendapat dan permintaan kita.

One of the most sincere forms of respect is actually listening to what another has to say.” - Bryant H.McGill –

Setelah kita mengetahui apa itu perbedaan “mendengar” dan “mendengarkan” juga mengetahui apa saja benefit ketika menjadi Good Listener, maka saya akan berbagi tips bagaimana caranya menjadi pendengar yang lebih baik.

Untuk menjadi pendengar yang baik kita butuh latihan untuk akhirnya mencapai hal tersebut. Saya akan meminjam sebuah konsep latihan mendengar yang baik dari seorang pebisnis dan pembicara bernama Julian Treasure yang cukup simple dan sederhana bernama “5 way to listen better”, apa saja 5 langkah tersebut?

  1. SILENCE

Luangkan waktumu 3 menit sehari untuk jeda dari segala aktifitas dan mencoba meditasi. Hal ini membantu kita mendengarkan isi kepala sendiri. Ingat, dengar dan pahami diri kita sebagaimana juga belajar memahami orang lain.

  1. THE MIXER

Dalam kehidupan banyak sekali suara yang kita dengar sehari-hari. Buatlah telinga kita peka dengan mencari tau suara-suara apa itu dan darimana asalnya. Siapa yang berbicara dan benda apa yang sedang mengeluarkan suara.

  1. SAVORING

Setelah kita belajar peka dengan mengetahui berbagai sumber suara, sekarang saatnya biasakan telinga kita untuk menikmati suara tersebut. Pilihlah mana yang nikmat dan mana yang menggangu. Suara-suara seperti gemericik air, hembusan angin pada pepohonan, rintik hujan, atau bahkan suara mesin penggiling kopi bisa menjadi sarana latihan. Hal ini membantu kita fokus saat nanti berbicara pada seseorang dan mengurangi distraksi.

  1. LISTENING POSITIONS

Pahami dan cobalah berbagai peran/posisi saat kita mendengar percakapan kita sehari-hari, diantaranya yaitu:

  • ACTIVE / PASSIVE
  • REDUCTIVE / EXPANSIVE
  • CRITICAL / EMPHATIC
  1. R.A.S.A

Menariknya Julian menggunakan akronim ini untuk metode yang ia gunakan dalam berlatih mendengarkan orang lain, karena kata “RASA” sendiri dalam bahasa indonesia sering kita pakai untuk mengekspresikan sebuah emosi. Apa saja RASA yang dimaksud Julian?

  1. Receive (memberi perhatian dan fokus sepenuhnya kepada lawan bicara).
  2. Appreciate (memberi respon kecil seperti “hmm”, “oke”, “wow”, atau sekedar menganggukan kepala).
  3. Summarize (yaitu memberi respon dengan mencoba merangkum statement dan quotes menarik yang telah dilontarkan lawan bicara).
  4. Ask (memberi pertanyaan sebagai respon dari topik pembicaraan dan menunjukan bahwa kita antusias terhadap apa yang sedang dibicarakan).

Jadi, itulah berbagai tips dan hal-hal yang bisa saya bagikan agar kita dapat mendengarkan seseorang lebih baik dan menjadi Good Listener. Tentunya hal ini sangat penting untuk dilakukan di era komunikasi sekarang ini. Dengan memahami dan mendengarkan pembicaraan dengan baik kita dapat mengindari berbagai macam kesalahpahaman, konflik, permusuhan, bahkan dapat menyalamatkan hidup seseorang. Mari kita berlatih menjadi pendengar yang baik, dan mengubur sifat egois kita serta memberi sebuah perubahan pada dunia cukup menggunakan telinga. Menutup tulisan ini saya akan mengutip puisi yang sangat indah dan dalam maknanya karya Charles M.Schulz,

A wise old owl sat on an oak,

The more he saw the less he spoke,

The less he spoke the more he heard.

Why aren’t we like that wise old bird?

Charles M.Schulz

 

 

Sumber:

  • 5 ways to listen better | Julian Treasure

(https://www.youtube.com/watch?v=cSohjlYQI2A)

  • The power of listening | William Ury | TEDxSanDiego

(https://www.youtube.com/watch?v=saXfavo1OQ)

  • Bryant McGill (2012). Voice of Reason: Speaking to the Great and Good Spirit of Revolution of Mind. FL: Paper Lyon Publishing
  • Ernest Hemingway. 1950. Across the River and into the Tree
  • Michael Nichols. 2009. The Lost Art of Listening, The Guilford Press.