Dunia Paralel?

Kejadian aneh di rumah lama

Dunia Paralel?
Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/silhouette-photo-of-person-holding-door-knob-792032/

Halo, Bro. 

Terima kasih sharingnya tentang dekorasi ruangan. Ternyata begitu ya, kita nggak bisa sembarangan atur posisi perabot di rumah, apalagi kamar tidur? Baru tahu, lho. 

Gara-gara bahas tata letak dalam ruangan, aku jadi teringat peristiwa belasan tahun yang lalu, saat aku masih kuliah.

Ini masih jadi teka-teki sampai sekarang. Terjadinya beberapa hari setelah aku atur ulang posisi barang dan perabot di dalam kamarku, di rumah yang dulu. 

Kamarku kan kecil tuh. Penempatan barang dan perabot sebelumnya bikin kamar jadi sempit, sumpek lagi. Setelah sekian lama, aku juga sudah bosan, akhirnya aku pindah-pindah posisi perabot yang bisa digeser.

Setelah coba sana-sini, akhirnya dapat juga tata letak yang bikin kamar terasa lega. Berhubung lemari baju terlalu berat dan posisinya nggak mengganggu pemandangan, aku biarkan saja tetap di tempat semula. Sedangkan perabot yang lain bisa dipindah. 

Akhirnya begini hasil pindah-pindahnya. Sisi kanan tempat tidur merapat ke tembok, persis memanjang di samping jendela, di ujung dalam kamar. Sedangkan di sisi kiri tempat tidur, aku taruh lemari buku. Sesudah itu, di sebelah kiri lemari buku pas-pas banget bisa muat meja belajar mentok sampai tembok satunya lagi. Makin oke karena posisi stop kontaknya jadi ada di kolong meja belajar. Alhasil aku nggak perlu sambungan kabel lagi. Sip. Bangku tinggal diselip saja berhadapan dengan meja. 

Jadi pemandangan saat kita baru masuk kamar, langsung plong kelihatan luas. Begitu buka pintu kamar, yang langsung terlihat duluan adalah meja belajar dan bangkunya. Sesudah itu kelihatan di sebelahnya ada lemari buku, baru setelah itu tempat tidur di ujung paling dalam. Sedangkan lemari baju tetap di posisi lama, begitu kita baru masuk kamar langsung nengok kiri, posisi dia ada di sana. 

Bulan itu kami sedang musim ujian semester. Jadi selama beberapa hari setelah pindah barang, aku cuma numpang tidur. Soalnya aku berangkat pagi-pagi terus, sekalipun ujiannya setelah makan siang. Mendingan tiba kepagian di kampus dan belajar bahan ujian di sana. Kalau kesiangan kejebak macet berjam-jam di jalan, bisa-bisa batal ikut ujian.

Beberapa hari kemudian, akhirnya kelasku dapat satu hari libur karena nggak ada ujian. Jadi aku belajar di rumah, dan ini kesempatan untuk jajal posisi meja belajar yang baru. 

Dengan posisi meja kali ini, aku duduk hadap tembok dan membelakangi pintu kamar. Karena nggak ada pemandangan selain tembok, aku malah lebih bisa konsentrasi ke buku kuliah, akhirnya lebih cepat selesai belajar. 

Karena masih pukul dua siang, dan aku sudah nggak tahu mau ngapain lagi, aku pikir mendingan turun ke dapur untuk bikin es teh sekalian cari cemilan di kulkas. Jadi aku beranjak keluar dari kamar untuk ambil sendal jepitku. Tapi ternyata sendalku nggak ada di depan kamar. Hanya ada kesetan kaki. 

"Lho, perasaan tadi ada sendalnya. Kok sekarang gak ada?" pikirku. Aku celingak-celinguk ke kamar mandi. Di dalamnya nggak ada sendal juga. 

Aku memutuskan untuk lanjut saja tanpa sendal. Sembari melewati kamar Emak, aku melongok ke dalamnya. Niatku mau tanya Emak apakah dia mau dibuatkan teh juga. Ternyata kamarnya kosong juga.
Mungkin Emak sedang nonton TV di bawah. Ya sudah, aku turun saja. 

Saat turun tangga suasana terasa beda. 

Kenapa lorong tangga ini putih sekali ya? Kapan dicatnya? 

Setibanya di bawah, ternyata nggak ada orang di ruang keluarga. Tumben-tumbenan Emak tidak nonton serial TV. Samar-samar terdengar suara sendok dan gelas di dapur. Oh, barangkali Emak sedang bikin teh dan cemilan di sana.

Aku pergi ke dapur. Tidak ada siapa-siapa di sana. 

Lho, Emak di mana? Apa lagi di pekarangan? 

Aku kembali lewat ruang depan untuk keluar ke pekarangan. Saat mau buka pintu rumah, ternyata gerendel pintu masih dipalang dari dalam. 

Nah lho? Berarti Emak masih di dalam rumah. Tapi mana si Emak? Di lantai bawah nggak ada, di loteng nggak ada. Kok aneh sih?

Aku kembali ke dapur, melongok ke kamar mandi di belakang sana. Nggak ada orang juga. 

Aku balik lagi ke depan untuk cek kondisi pintu rumah. Masih terkunci. Masih dipalang dari dalam.

Perlahan ujung penglihatanku mulai berkabut. Aku mulai bingung, lalu melongok lagi ke ruang keluarga. 

Ada yang aneh di sini. 
Kenapa jam dinding nggak ada di ruangan ini? Biasanya kan ada? Kenapa bekas pakunya saja tidak ada di dinding?
Bulu kudukku mulai merinding. 

Aku lari naik tangga, lalu melongok lagi ke kamar Emak di loteng. Tetap tidak ada Emak di sana. Kamar mandinya pun tetap tidak ada orang. 

Aku balik lagi ke arah tangga sambil menoleh ke kamarku. Saat itulah tiba-tiba jantungku rasanya mau copot. 

Di dalam kamarku ada sesosok tubuh sedang duduk di bangkuku, menghadap meja belajarku, membelakangi arah pintu. 

Sosok itu sedang duduk bersandar di bangku dengan posisi sedikit terkulai ke belakang. Perawakannya sampai pakaiannya pun sama persis denganku.

HAH???

Belum juga jernih pikiran ini, dalam sekejap mata tiba-tiba badanku terguncang dan aku mendapati diriku sendiri sudah duduk kembali di bangku belajarku ini.

Masih dalam kondisi panik, aku menoleh ke belakang, bertanya-tanya apakah ada sosok yang sedang berdiri di pintu sana. 

Kosong. Tidak ada orang. 

Aku lari keluar kamar. Sendal jepitku ternyata masih ada di samping kesetan kaki. 

Dalam kondisi trauma aku melihat sekelilingku. Tidak ada lagi sosok lain, tapi leherku terasa dingin lagi. 

Tadi itu apa, ya? 

Aku lari menuruni tangga. Pintu rumah masih terkunci. Ruang keluarga kosong, tapi kali ini ada jam dinding. 

Aku menemukan Emak di dapur. Emak sedang mengaduk teh di gelas kesayangannya, dan bingung saat melihatku. 

"Kenapa? Kaya habis ngeliat setan aja," begitu kata Emak. 

"Mak, tadi Emak di mana?" aku balik bertanya. 

"Dari tadi di sini, kok, lagi masak air buat bikin ini," jawab Emak sambil menunjuk gelas tehnya. 

Aku menelan ludah. 

"Terus, tadi aku ada ke sini, nggak?" tanyaku. 

Emak terlihat bingung dan balik bertanya, "Maksudnya gimana? Dari tadi Emak lagi tenang-tenang bikin minuman di sini, tiba-tiba kamu ini berisik gradag-grudug ke sini. Malah nanyanya aneh-aneh begitu, lagi."

Rasanya seperti ada aliran dingin di tengkukku. 

Jadi sebenarnya yang aku alami tadi itu apa? 

Malam harinya, Babeh pulang. Saat makan malam bersama, Babeh sekalian mengeluarkan uneg-unegnya. Katanya sudah beberapa hari ini dia merasa kurang sreg dengan posisi meja dan bangku di kamarku.

"Posisi duduk jangan membelakangi arah pintu," kata Babeh. "Menghadap pintu boleh. Kalau membelakangi arah pintu tidak boleh."

"Kenapa nggak boleh?" tanyaku. 

Aku masih belum cerita apa-apa ke Emak dan Babeh.

"Pokoknya bahaya," kata Babeh, "pindahin dah meja bangkunya. Jangan posisi begitu lagi."

Aku mengiyakan dan segera memindahkan arah meja bangku itu malam itu juga. 

Besok-besoknya, entah kebetulan atau tidak, memang tidak pernah lagi ada kejadian aneh-aneh seperti itu. 

Tapi aku masih penasaran. Kejadian siang itu masih tetap jadi teka-teki buatku. 

Jadi menurutmu gimana, Bro? 
Itu kejadian nyata, atau aku lagi benturan dengan dunia paralel, atau aku cuma mimpi? Atau apa?

Apa kejadian itu ada hubungannya dengan posisi duduk membelakangi arah pintu?

Terima kasih sudah baca suratku. Have a nice weekend with your family. 

Salam!
~ your sis.