Manusia Dua Waktu

Catatan catatan puasa hari pertama

Manusia Dua Waktu

ramadhan telah tiba. segenap hiruk pikuk mewarnainya. persiapan menghadapi beratnya puasa sudah lebih dulu muncul ketimbang puasa itu sendiri. beberapa meme bertebaran di grup-grup pesan elektronik. diiringi juga dengan pesan permohonan maaf. ini juga pertanda, atas semua persoalan yang mendera antar sesama, saling gunjing, saling sikut, dan serang mendapatkan momen saling bermaafan saat ramadhan tiba, dan puncaknya saat Iedul Fitri. sebenarnya, terlalu banyak momentum seremoni merekatkan satu satu sama lain di negeri ini. bila kita luput bermaafan saat bulan sya'ban atau ramadhan, atau melewatkan mengirimkan pesan maaf di saat Iedul Fitri, toh masih ada momen halal bi halal. jadi tidak ada alasan bagi penduduk negeri untuk saling bermusuhan dalam kurun waktu yang lama, tidak ada.

 

ramadhan juga mengubah kita (atau setidaknya saya) untuk menjadi manusia dua waktu. manusia yang peka soal waktu subuh dan waktu maghrib. waktu yang menjadi penanda bagi intinya ramadhan yaitu puasa. seketika saja dua waktu itu menjadi sangat penting ketimbang waktu yang lain. selebaran jadwal imsakiyah juga memberikan garis tebal bagi kedua waktu tersebut.

menjadi manusia dua waktu dalam satu bulan ke depan bukan perkara mudah tentunya. waktu tentu tidak dapat dilipat atau juga diringkas. tapi setidaknya memberikan oase bagi penantian rasa lapar yang tak dibiasakan. terbiasa makan, terbiasa bicara, terbiasa menjadi manusia seperti biasanya. lalu ada 1 bulan yang menyela untuk bilang bahwa, manusia bukan soal makan dan bicara, ada kalanya diam dan lapar adalah wahana yang penting dijalani sebagai seorang manusia.

saat ini, saya mencoba keluar dari ruang dua waktu yang selama ini saya fahami. semoga kita dapat melaluinya. ah, saya banyak melantur, waktu maghrib kapan tiba?