Kisah Tukang Cukur yang Penuh Syukur

Karena kepiawaiannya memotong rambut berbumbu cerita ‘jaman mbah muda’, semakin banyak yang menggunakan jasanya. Tapi tidak hari ini, hari pertama puasa.

Kisah Tukang Cukur yang Penuh Syukur
Photo by Asep Irman on Unsplash

 

“Kur cukuuuuuuur…. Kur cukuuuuuur…. Cukur dik?”

Suara kakek umur 70 tahunan berlogat Madura itu sudah sangat akrab di telinga orang-orang di daerah Sekip Ujung dan sekitarnya, sebuah daerah di bagian hilir Kota Palembang.

Nama aslinya Ta’im tapi hampir semua orang di sana memanggilnya Mbah Kung, sebutan kakek di Jawa.

Pria tinggi kurus berkulit coklat tua yang lahir Kamis Legi dalam Weton Jawa itu, keturunan asli suku Madura, Jawa Timur. Meski agak bungkuk, Mbah Kung yang sehari-harinya memakai peci hitam seperti Bung Karno idolanya, tampak sehat dan selalu bersemangat. Senyum tulus juga sering tersungging di bibir hitam hasil karya kolaborasi rokok kretek buatan pabrik dan rokok lintingan manual favoritnya. Karena suka anak-anak, ia juga sering meluangkan waktu menceritakan dongeng ‘pada jaman dahulu’ kepada Lena dan teman-temannya.

Lena, bocah yang sekarang berumur 6 tahun itu adalah cucu kesayangan Mbah Kung. Dia menjadi salah satu alasan Mbah Kung dan Mbah Yani istrinya menyusul Kardi, anak laki-laki satu-satunya yang bertransmigrasi ke pulau Sumatera. Gaji bulanan Kardi yang bekerja sebagai sopir mobil ambulan di klinik bersalin ‘Bahagia’ sering tak cukup untuk membayar sewa rumah dan biaya hidup sehari-hari.

Karena itulah, meski dilarang oleh Kardi dengan alasan tak tega, Mbah Kung yang memegang teguh prinsip tidak mau menyusahkan orang di sekitarnya, berniat meringankan beban anaknya dengan menjual jasa yang sudah lama dimilikinya, mencukur rambut.

Jaman jadi mandor perkebunan kopi milik menir Belanda, hampir semua pekerja di sana memakai jasanya, tentu saja dengan bayaran seikhlasnya. Ada yang memberinya uang 5 rupiah; jaman tahun 1960-an uang 5 rupiah sudah  bisa dipakai untuk membeli 5 bungkus jajan lupis ketan dengan taburan kelapa muda dan siraman gula merah. Ada juga yang memberinya imbalan tembakau, atau yang membayarnya dengan cara barter, memijat bahu dan kaki Mbah Kung. Kenangan itu sering membuat Mbah Kung senyum-senyum sendiri.

Yakin bahwa calon pelanggan akan suka dengan hasil potongan rambutnya, Mbah Kung lalu nekat membuat sendiri kursi lipat dengan menggunakan kayu bekas bongkaran rumah tetangga sebelah dan potongan kain berbahan jeans yang ia dapatkan secara cuma-cuma dari Bu Tutik, penjahit Vermak Levis di seberang jalan.

Setelah kursi lipat selesai lalu ia membuka ‘simpanan’ dalam sebuah kantong kecil berwarna hitam pudar, membuka tali serutnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang pemberian Kardi yang ia kumpulkan selama 1 tahun belakangan ini di bawah kasurnya. Lalu ia  menukarkannya dengan unduk atau gunting kodok, cermin, pisau pangkas lipat, gunting, alat penyemprot, dan sisir.

Sempurna. Kini ia mempunyai label profesi baru. ‘Mbah Kung, Tukang Cukur Keliling’

Dengan karton yang di-laminating bertuliskan CUKUR RAMBUT 2000 SAJA, Mbah Kung mulai keliling kampung. Saat itu dua minggu sebelum bulan Ramadhan. Karena kepiawaiannya memotong rambut berbumbu cerita ‘jaman mbah muda’, semakin banyak yang menggunakan jasanya, dari anak-anak sampai orang dewasa.

Tapi tidak hari ini, hari pertama puasa.

Selesai menikmati makan sahur dengan menu tumis kangkung bumbu serai campur teri dan tempe goreng, Mbah Kung yang tidak terbiasa tidur lagi langsung mandi, sholat subuh lalu membaca Al Qur’an beberapa juz dan surah. Kemudian, dengan semangat ia mempersiapkan alat cukurnya.

Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, Mbah Kung mengambil peci hitam kesayangannya yang mulai mengelupas di beberapa sudut dan lipatan.

“Kalau tidak memakai ini, tidak enak rasanya. Sudah terbiasa seperti ini dari dulu, sejak Mbah masih bekerja jadi mandor perkebunan kopi milik Belanda di daerah Sumbermanjing, Malang sana,” cerita Mbah Kung sambil membetulkan letak peci yang sudah terpasang di kepalanya, saat Lena yang sedari tadi membuntutinya,  dengan cerewet menanyakan ‘kenapa begini kenapa begitu’.

“Oooo… begitu ya Mbah Kung,” sahut Lena sambil manggut-manggut seperti mengerti.

 “Pulangnya jangan lupa bawa oleh-oleh untuk Lena ya Mbah Kung,” pinta Lena manja sambil memeluk sebelah kaki kakeknya yang berbalut celana berbahan kain warna hitam.

“Iyo Nduk, doakan Mbah Kung ya, semoga hari ini banyak yang minta dicukur rambutnya,” kata Mbah Kung.

Setelah mengenakan sepatu olah raga seken yang dibelinya di pasar loak, Mbah Kung pamit kepada Mbah Yani, istrinya dan berangkat. Lena juga mengantarkannya di depan pintu rumah sambil melambaikan tangan kecilnya tanpa henti sampai punggung sang kakek lenyap di belokan ujung jalan.

Sudah hampir dzuhur. Panas semakin nyelekit menggigit kulit wajah dan tangannya. Tenggorokannya semakin kering. Mbah Kung berhenti di bawah pohon trembesi, salah satu ‘salon’-nya untuk menunggu langganan. Biasanya sudah ada 1 atau 2 orang yang menunggunya di bawah pohon itu. Sudah hampir 1 jam Mbah Kung menunggu tapi tak ada seorang pun yang datang.

Bulan puasa memang terasa lebih berat untuk Mbah Kung karena ia harus menahan haus dan lapar. Mbah Yani tidak membekalinya nasi untuk makan siang. Hanya satu botol Aqua bekas berisi air putih untuk berjaga-jaga kalau Mbah Kung benar-benar tidak kuat melanjutkan puasanya.

Bayangan wajah bulat Lena yang sedih setelah berlarian menyambutnya di halaman depan karena ia tidak membawa oleh-oleh, membuatnya mengemas kursi lipat dan peralatan cukurnya lalu dengan tertatih berjalan melangkah perlahan menuju ‘salon’ berikutnya, sebuah pohon trembesi besar di dekat Masjid Jami At-Taqwa.

Di sana, Mbah Kung melihat ada seorang kakek yang usianya lebih tua darinya sedang duduk di bawah pohon sambil menenteng beberapa sisir pisang lilin.

“Ah ini dia. Saya sudah menunggu dari tadi,” kata kakek itu dengan wajah cerah setelah melihat Mbah Kung berjalan ke arahnya.

“Bapak mau cukur rambut?” tanya Mbah Kung.

“Iya, tapi saya tidak punya uang karena pisang dagangan saya dari tadi belum laku. Kalau saya bayar pakai pisang ini mau?” tanya si kakek penuh harap.

“Oh nggak usah Pak. Pisangnya dijual saja. Saya akan tetap mencukur rambut Bapak. Saya ikhlas kok Pak. Hari ini saya sudah dapat rejeki. Alhamdulillah,” kata Mbah Kung menyembunyikan cerita yang sebenarnya sama.

Sambil mencukur rambut si kakek, Mbah Kung membayangkan seandainya dia menerima tawaran pisang itu, pasti dia bisa menikmati kolak pisang hangat buatan istrinya untuk berbuka puasa. Ah tidak..  tidak.  Astagfirullahaladziiiiim. Dia yakin pasti Allah akan memberinya rejeki lain nanti. 

Setelah lelah berjalan dari satu pohon rindang ke pohon rindang lainnya ternyata si bapak penjual pisang adalah satu-satunya orang yang memakai jasanya hari itu. Dengan lunglai, dia melangkah pulang.

Tinggal dua rumah lagi,  ia akan bertemu dengan Lena. Di tengah kebingungan tentang apa yang akan dikatakannya nanti saat Lena menanyakan oleh-oleh, tiba-tiba ada suara yang manyapanya. 

“Selamat sore Mbah Kung. Ini ada kolak pisang untuk berbuka puasa. Kebetulan tadi ada saudara saya baru datang dari kampung bawa oleh-oleh pisang. Jadi saya buat kolak aja.”

Ternyata Bu Tutik, penjahit di seberang jalan.

“Wah, alhamdullilah terima kasih banyak Bu Tutik,” kata Mbah Kung dengan mata berkaca-kaca sambil menerima 5 bungkus plastik berisi kolak pisang.

Sesampainya ia di depan rumah,  seperti biasa,  Lena langsung menyambutnya. 

“Oleh-oleh untuk Lena mana Mbah Kung?” tanya Lena sesaat setelah mencium punggung tangan kakeknya.

“Ini Lena. Kamu kan suka kolak pisang,” jawab Mbah Kung cepat.

“Hore… hore… Mbah… Mbah… Ini Mbah Kung bawa oleh-oleh kolak pisang,” teriak Lena memanggil Mbah Yani, neneknya. 

Terima kasih ya Allah, Engkau Maha Mengetahui, doa syukur Mbah Kung dalam lelahnya sore itu.