Biar jatuh masih untung

Biar jatuh masih untung

 "Bu As kita sekarang masuk jalan setapak nich. Sudah tak ada aspal lagi, mana ada genangan air pasti licin" kataku pada teman yg kubonceng. 
" Iya hati hati aja." Jawabnya.

Perjalanan menuju sebuah kampung yg melewati persawahan membuatku terpacu adrenalin ku. Bagaimana tidak jalan yang tak lebih dari satu meter hanya beralaskan rumput, dan karena bekas hujan membuat jalan tak tertutup rumput menjadi licin.

Dengan hati hati kendarai motor pinjaman kakakku. Jangan sampai jatuh dan rusak motor itu. 

Rem kuinjak dan berhenti laju motorku.
" Kenapa mba kok berhenti?" Temanku bertanya. "Lihat ada ular hitam, lumayan gede, melingkar di tengah jalan. Berani ndak kita lewati? Tanyaku.

Ular binatang yang paling aku takuti. Ndak kebayang di depanku ada ular hitam sebesar lengaku. Kalo tak salah namanya ular wedudak senggrege. Itu nama di daerah ku. Ular yang sangat berbisa.

"Ayo kita berani, asal jangan kita ganggu pasti juga ndak gigit kita" Bu As memberikanku semangat. Tak kebayang bila ular itu menyeranh kami. Jangankan menyerang, bila bergerak sedikit juga pasti akan membuatku panik. Akhirnya kutarik gas motor dan dengan mengambil jarak yang cukup aku lewati ular yang ada di tengah jalan. Kutahan napas panjang saat aku lewati ular tersebut. Awalnya stang motor yang kupegang aman, tapi huk.. setelah melewati ular tadi keseimbangan ku hilang. Ban motor masuk ke dalam lumpur. Auk... Motor oleng dan akhirnya kami berdua masuk ke dalam sawah.. untung sawah kering meski berlumpur. 

Dengan dibantu orang yang lewat, kami bangun dan kembali naik ke jalan. Serta melanjutkan perjalanan.