BERSAMA MADU - #2 THE ME IS THREE

BERSAMA MADU - #2 THE ME IS THREE

“Please, jangan masuk Wulan,” batinku berkata.

“Aku belum siap untukmu,” suaraku dalam hati.

Aku sandarkan tubuhku dibalik pintu kamar. jantungku berdeguk keras setiap mendengar langkah yang melewati kamarku. Aku takut jika itu Wulan. Aku benar-benar belum siap untuk menemuinya.

 

Tok tok tok

Seseorang mengetuk pintu. Deg, jantung serasa berhenti. Jangan-jangan Wulan. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Tubuhku mendorong pintu agar tetap tertutup lebih. Tak ingin pintu itu terbuka

Tok tok tok

Kembali pintu diketok dari luar. Perasaanku kian tak karuan. Lidahku seakan kelu untuk bertanya siapa gerangan yang mengetuk pintu. Tanganku terasa berat dan kaku, seakan tak mau membuka pintu. Keringat mulai membasahi tubuhku.

 

“Kang Iksan. Ini aku Wulan, bolehkah aku masuk,” suara perempuan dari luar pintu kamar. Dugaanku benar. Yang berada dibalik pintu adalah Wulan.

“Aduh bagaimana ini,” batinku. Aku terdiam, tak sanggup menjawab. Lidahku berasa kena stroke

 

Tok Tok Tok

lagi pintu itu terketuk

“Kang Iksan, tolong buka pintunya. Wulan mau masuk bang,” suara dibalik pintu itu terdengar lagi.

Terdengar desahan nafas yang berat dari perempuan itu. Ia kembali berkata, dengan pelan namun terdengar olehku.

“Bang Iksan, bolehkan aku masuk,” pintanya.

Berusaha mengatasi keadaan, aku pun membuka pintu. Walau terasa berat sekali. Keringat dinginku kian deras membasahi tubuh.

 

Sosok perempuan cantik itu pun masuk, senyum manisnya mengembang. Ia meraih tanganku dan mengajakku untuk duduk di pinggir tempat tidur. Nyawaku terasa melayang.

Melihat wajahku yang pucat pasi dan keringat yang membasahi hampir seluruh bajuku, wanita itu berusaha menghiburku dengan senyuman. Kami diam untuk beberapa saat. Aku semakin ketakutan, seakan malaikat pencabut nyawa menghampiriku. Dadaku kian berdegup kencang. Mungkin Wulan juga mendengarnya

 

Wanita itu berkata, “Aku paham apa yang Kang Iksan pikirkan. Dan aku akan sabar menunggu bang Iksan,” katanya lirih. Aku tertunduk. Tangannya meraih tanganku, secara reflek aku menarik tanganku. Wulan menyadari tindakanku dan menjauhkan tangannya dari tubuhku. Ia paham bahwa saat ini aku tak ingin dekat dengannya saat ini.

 

“Ambil sebanyak waktu yang Kang Iksan butuhkan. Akang tak perlu kwatir tentang itu, Wulan akan bersabar,” kata Wulan. Aku hanya diam tak bergeming.

“Saat ini pasti Kang Iksan capek. Abang istrirahat dulu ya,” ujar Wulan. Aku segera berdiri dan menjauh dari tempat tidur. Wulan kembali kaget dengan gerakkanku yang cepat. Ia pun berdiri sambil berkata, “Maaf akang. Maksud Wulan, akang bisa tidur di tempat tidur maka Wulan akan tidur di sofa. Jika Akang tidur di sofa maka Wulan akan tidur di tempat tidur,” terangnya selembut mungkin kepadaku.

Aku pun meraih bed cover dan meletakkannya di sofa, aku ingin menjauh dari tempat tidur, menjauh dari Wulan. “Baiklah, kalau begitu Wulan tidur di kasur atas ya,” ujar Wulan yang siap tidur. Wajahnya yang cantik memang terlihat capek sehabis resepsi pernikahan. Yah, pernikahan Wulan denganku.

 

Tidur berselimut bed cover di kamar Wulan, bayanganku kembali ke beberapa bulan lalu saat Nurlela, istriku menyodorkan ide gila kepadaku. Benar-benar ide gila yang tak pernah masuk ke dalam pikiran dan hatiku. Bagaimana tidak, istri yang sudah mendampingiku selama dua puluh tahun ini tiba-tiba mendatangiku dan merayuku untuk berbagi dengan wanita lain, yakni Wulan yang baru aku nikahi malam tadi.

***

“Lela, apa yang ada dibenakmu sayang,” kataku lirih sambil memegang dan mencium lembut tangannya. Dengan isak tangis Lela menjawab ketidak mampuannya memilik anak.

“Aku mengerti Lela bahwa kita tak bisa memiliki anak. Tapi tak cukupkah kebahagian kita,” kataku menenangkan sang pujaan hati.

“Aku yang tak bisa memiliki anak kang. Tapi akang masih bisa,. Akang punya kesempatan itu” terangnya yang kini sudah bisa menguasai dirinya

“Please Lela, ide yang tawarkan itu sangat luar biasa. Aku tak bisa melakukannya,” tegasnya. Aku benar-benar tak ingi membahasnya lagi dengan Lela.

“Tapi kang. Aku beanr-benar ingin membuatmu bahagia, aku tak ingin kau merana karena keadaanku. Abang selalu  bersabar dengan kekuranganku. Bertahan demi aku. Tak bisakah aku membalas surga dunia yang telah kau beri kepadaku,” Lela masih berusaha meyakinkanku. Aku pun pergi meninggalkan Lela yang terdiam

 

Bagi orang pasti berkata betapa bodohnya aku, yang hanya setia pada Lela. Seorang wanita biasa yang bisa dijumpai degan mudahnya. Wanita yang mandul pula. Tapi mereka tak paham betapa aku bahagia bersama Lela. Wanita yang menyenangkan dan menenangkan hatiku.

Seseorang yang menyenangkan dalam berkata, sedap jika dipandang. Sifatnya yang manja hanya kepadaku membuatku rindu dan ingin memberikan duniaku hanya kepadaku. Jauh dari Lela adalah neraka duniaku, dan dekat dengannya sungguh aku merasakan surga. Aku tak bisa menggantinya dengan hal apapun didunia ini. Aku sugguh mencintai Lela. Hatiku hanya untuknya. Tak ada kata, rasa dan logika yang bisa mengungkap cintaku pada Nurlela

 

Namun hati Lela mulai gundah, saat beberapa tahun belum ada buah hati diantara kami. Setelah dua puluh tahun dalam penantian, kesedihan pun melanda. Dunia Lela sudah runtuh, saat mengetahui dirinya telah mandul.  Banyak penghiburan yang aku lakukan, dan banyak pula usaha yang kami coba. Nyatanya Tuhan yang punya kuasa, buah hati pun belum tiba kehadirannya.

 

Dan tiba-tiba Lela datang dengan hal gila. Entah hal apa yang memasuki pikirannya. Hanya karena bertemu dengan Wulan, sahabat saat SMA dan kuliah dulunya. Berulang kali dia mencoba meyakinkanku. Dan segala penolakan sudah sering terucap dari mulutku. Bukannya gentar, ia malah lebih sering merayu.

 

“Sudah kau pikirkan ide gilamu itu Lela! Sudah kau pikirkankah nanti akibatnya bagimu,” hingga nada tinggi aku lontarkan kepadanya. Lela mengangguk dan terdiam. Aku tarik dan rengkuh badannya, bertanda minta maaf karena telah berkata kasar kepadanya.

“Lela, apakah kau yakin dengan keputusanmu,” mencoba meyakinkan Lela. Tak terasa ada tetes air mata diujung mataku.

“Lela, iklas dan ridho kang Iksan menikah lagi. Aku benar-benar ingin melihat akang menimang buah hati dari darahmu akang. Melihat akang bersamanya nanti bakal membuat senang Lela,” jawab Lela. Ada nada legowo dalam ucapannya.

“Baiklah aku lakukan apa yang bakal membuatmu bahagia. Aku lakukan ini demi kamu Lela,” kataku seraya meninggalkan Lela. Aku tak ingin iar mataku jatuh dihadapannya. Aku benar-benar jengah dengan bujukan Lela

 

***

 

Hingga sampailah waktu dimana aku menikahi Wulan tadi malam, yang mengantar kami di malam pertama di kamar Wulan ini, kamar wanita yang dipilih Lela untuk menjadi madunya. Wanita yang pernah menikah dengan dua orang anak namun harus bercerai karena tingkah kasar lelakinya.

Dari sofa aku pandangi wajah Wulan, wanita yang baik pula tabiatnya.

 

“Tuhan, bagaimana aku bisa sanggup menyakiti Lela hanya demi keturunan. Dan Wulan, ia juga wanita yang luar biasa kerelaannya menjadi madu. Sungguh bejatkah aku,” tangisku dalam malam itu. Beginikah rasanya bersama madu

“Oh Lela sungguh tak bisa bahagiakah engkau hanya denganku,” batinku berkata dalam tangis. “Maafkan aku Lela, yang telah membuatmu sengsara dengan inginku. Maafkan aku yang melakukan ini seolah-olah demi engkau. Padahal ini hanya pepenuhan egoku,” isakku.

 

***

 

Hari berganti minggu. Dengan penuh sabar Wulan meladeniku. Hingga disuatu senja, aku duduk di teras rumah. Seperti biasa Wulan mencoba memanja dengan menyediakan minuman dan kudapan kesukaanku.  Usai meletakkan makan dan minuman, Wulan mempersilakanku untuk melahapnya. Sebelum tubuhnya pergi, aku tarik tangannya mendekat tubuhku. Kami pun duduk berdua. Dadaku berdetak lebih kencang. Aku rasakan hal yang sama terhadap Wulan

 

Dengan lirih aku berkata, “Wulan maafkan aku. Maukah menungguku dengan sabar?”

Wulan tersenyum, mengangguk dan tertunduk, “Iya kang. Wulan siap. Aku tak tahu perasaan akang, tapi aku memahaminya.”

“Terimakasih Wulan,” bisikku sambil memegang tangannya dan ia membalasnya dengan pegangan yang lebih erat.

Kami berdua terdiam dalam keheningan. Terlintas wajah lela di hadapan.

Tak sadar secara bersamaan kami mengucap lirih, “Maafkan kami Lela.”

 

***

 

Penulis: Ibu PeRi

Merauke 10 Desember 2022

 

 

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.