Album Cerita Keluarga

Album Cerita Keluarga

Dulu ortu kita sering bikin album foto keluarga. Setiap kali bikin foto, masukin ke album. Karena fotonya banyak dan bikin albumnya gak terencana, maka sering kita lupa lagi. Akibatnya, berbagai pertanyaan klasik pun terlontar, ini foto pas kapan ya? Ini pas lagi di mana ya? Ini siapa ya yang di sebelah anak kita? Banyak momen-momen yang kita udah lupa karena gak ada keterangan tentang foto yang menjelaskannya.

Ortu jaman sekarang kerjanya lebih apik. Mereka bikin album secara kronologis alias diurut sesuai waktunya. Mereka biasanya memasang foto-foto yang mengandung emotional moment; misalnya saat Sang Ibu hamil, melahirkan, foto bayinya, ultah bayi yang pertama, hari pertama masuk sekolah, saat disunat, wisuda dan sampai akhirnya menikah.

Nah, saya jadi kepikiran; kalo kalian suka bikin album foto, kenapa gak sekalian aja bikin album cerita. Sehingga keluarga kita punya dua album, satu album foto dan satunya lagi album cerita.

Bikinnya kan gampang, setiap kali ada momen yang seru dalam keluarga, catet lalu jadikan tulisan. Jadi ceritanya ga melulu tentang anak tapi cerita tentang seluruh keluarga. Bisa cerita tentang bapaknya, tentang ibunya, tentang pembantu rumah tangga kita, tentang supir atau tukang kebon kita. Pokoknya siapa pun dan apapun yang peristiwanya di sekitar rumah.

Cerita yang bagus adalah cerita yang mampu menggugah emosi pembacanya. Karena itu, pilih peristiwa yang mempunyai emotional moment yang gede. Tulis sebagus-bagusnya. Kalo ceritanya udah banyak, kumpulin, kompilasi sesuai dengan urutan waktunya. Kemudian jadikan album cerita. Menarik, kan?

Bikin covernya yang bercerita supaya lebih seru. Kasih judulnya gimana? Gampang! Misalnya nama Si Bapak adalah Albert, kita bisa ngasih judul, "Albert's Family". Jadi, deh, album cerita keluarga kita.

Supaya album cerita ini gak ilang, gimana kalo sekalian aja dijadikan buku. Kirim ke penerbit Indie untuk diterbitkan. Kalian akan terpesona sendiri bahwa keluarga kalian bisa menerbitkan buku. Buku itu bisa menjadi harta karun yang sangat berharga. Keluarga kalian telah menciptakan monumen yang nantinya bisa diwariskan pada anak, cucu, cicit, anaknya cucu, anaknya cicit....dst.

Wuiiiih...kalo setiap keluarga mau bikin album cerita kayak gini maka akan ada berapa buku yang bisa diterbitkan? Pastinya dunia literasi kita akan berkembang. Dunia literasi harus dimulai dari keluarga, setelah itu baru dunia pendidikan mengasahnya biar lebih tajam. Hiiii.....sampe merinding saya.

Jadi kapan kalian akan mulai membuat album cerita? Saya udah mulai loh. Saya dan kakak-kakak bikin buku tentang Ayah. Jadi semua anak, mantu, ponakan cucu semua menulis tentang Ayah kami. Ternyata menyenangkan loh. Gara-gara ada proyek bersama, kami jadi lebih sering bersilaturahmi. Yuk ah....