Kenapa yang Negatif-negatif itu Kok Asik?

Tahukah, data negatif langsung masuk ke memori panjang kita, dan data positif delay 12 detik dulu? Simak di sini.

Kenapa yang Negatif-negatif itu Kok Asik?
Image source: Freepik

Saya pernah menulis sesuatu, yang dengan sangat sadar saya bungkus secara positif. Saya kaget, ketika baca komen yang nadanya nyinyir: "Jangan percaya, ini tolol dan menyesatkan." Komennya pun nggak memberi pendapat atau data lain untuk meluruskan. Intinya, nyinyir dan ingin nulis yang menyakitkan aja. (Padahal bisa aja lho kenyinyirannya saya jadikan self program dia secara ekstrem, biar nyaho... haha...)

Di sisi lain, saya lihat seseorang memposting sebuah berita baik. Saat saya baca komen di bawahnya, eh, ada aja haters yang menghujatnya.

Di lain waktu, muncul link provokatif, hoax, fitnah dan sejenisnya. Saya nilai link itu gak penting banget. Uniknya, link itu mendapat jumlah share yang naudzubillah banyaknya.

Di bagian komennya pun rame, ada hujatan, ada pujian, lalu antar komentator berantem dan saling memaki.

Pokoknya riweuh dan sadis deh! Semoga aja kamu bukan bagian dari salah satunya ya. 

***

Kenapa sih kok kita begitu mudah mereaksi hal negatif, bahkan memproduksinya dengan sangat asyik dan menyenangkan?

Saya tergerak memposting tulisan saya ini, hasil dialog di komen facebook saya dengan seorang pendongeng keren sekaligus storyteller, Mas Cahyono Budi. Jangan dihujat ya, karena ini hasil dialog spontan, jadi datanya belom sahih.

Menurut saya, hal negatif, termasuk kecepatan menyebarnya, terkait dengan cara kerja otak kita. Saya yakin, hal nyinyir dan negatif lain pasti terhindar seandainya pada prosesnya disaring dulu oleh otak logis kita (neo cortex kalo dalam bahasa triune brain).

Persoalannya, hidup kita 80% sangat didominasi oleh subconscious kita, yang di dalamnya ada spontanitas, insting, dan hal yang berhubungan dengan tendensi untuk survive (ini kalo di triune brain dikendalikan reptilian brain), dan emosi (kalo di triune brain dikendalikan mamal brain).

Di mamal brain ini ada bagian yang dinamakan Amygdalae, yang pernah saya baca karakternya sangat sensitif terhadap data-data negatif. Data negatif yang diterima secara otomatis masuk sebagai bagian dari memorinya; sementara data positif ada delay 12 detik dulu untuk menjadi bagian dari memori panjangnya. Itu sebabnya kita jadi lebih mudah mengingat hal negatif daripada hal positif.

Ini pernah terjadi dalam eksperimen di sebuah perusahaan otomotif di Jakarta, di mana temen saya jadi leadernya. Para karyawan diminta untuk menuliskan hal apapun di secarik kertas tentang perusahaannya, baik positif maupun negatif. Yang negatif ditaruh di kotak kiri, dan yang positif ditaruh di kotak kanan. Apa yang terjadi? Kotak kanan benar-benar kosong! Artinya, hampir 100% memori negatiflah yang spontan ditulis para karyawan.

Bukti lain yang saya baca, ada antropolinguis pernah neliti, di dalam kamus Bahasa Inggris, 62% di antaranya adalah kata-kata dengan muatan emosi negatif, dan 38% kata-kata bermuatan emosi positif.

Dari sini semoga sudah cukup jadi gambaran kenapa hal negatif lebih mudah diproduksi dan direaksi.

Tapi sekali lagi mohon maaf, ini baru analisis sekilas, yang kebenarannya masih harus diuji lagi.