GENGGAM TANGANKU

GENGGAM TANGANKU
Sumber : Shutterstock

Kuperhatikan sejak tadi dia hanya duduk termangu-mangu di teras. Wajahnya murung dengan tatapan mata kosong. Bibirnya terkatup rapat. Tak ingin berbagi senyum kepada siapapun yang melintas di depan rumahnya. Bahkan sapaan yang ditujukan kepadanya tak berbalas. Sesekali dia menatap ke meja, tempat dia menggelar buku gambar.  Bagiku itu aneh. Dia bukanlah gadis pemurung yang enggan tersenyum. Sudah lama aku mengenalnya . Sejak kami sama-sama  di play group hingga  kuliah saat ini.

Kucoba menghampirinya . Aku harus menyeberang jalan untuk sampai ke rumahnya. Mencari tahu apa yang terjadi padanya . Dia sangat berbeda dari biasanya. Keriangannya tak lagi terlihat belakangan ini. Tetapi aku sering mendengarnya bernyanyi sepanjang malam. Suaranya keras . Seolah tak kenal lelah. Sambung menyambung dari satu lagu ke lagu lainnya. Ada lagu Barat ada pula lagu Indonesia. Enak didengar memang . Suaranya lumayan bagus. Hanya saja, waktunya kurang tepat. Orang-orang yang akan istirahat malam pastilah terganggu tidurnya.

“Dinar , “ panggilanku membuatnya mendongak dari buku gambar yang terbuka lebar di hadapannya. Matanya mengenaliku tetapi keramahannya telah sirna.

“Menggambar apa?” kuperhatikan goresan warna-warna muram di lembaran buku gambarnya. Ungu, abu-abu dan hitam. Disapukan membentuk garis-garis lengkung tak beraturan.

 Dia tidak menjawab pertanyaanku. Lirih dia bergumam. “Rocky.”   Aku  merasa sedih melihatnya, Rocky, nama kucingnya yang sudah sebulan tidak pulang. Dia mencarinya ke sana ke mari  tanpa bisa menemukannya lalu mulai putus asa. Rocky memiliki bulu lebat warna abu-abu. Kepalanya besar dan hidungnya pesek. Bukan kucing kampung tulen. Entah campurannya apa. Wajahnya bulat dan ekornya sangat pendek. Malah menurutku nyaris tidak memiliki ekor.  Rocky adalah teman setia Dinar di rumah. Apalagi dia anak tunggal yang sering sendirian di rumah ketika Ibunya bekerja.

Rocky hanya salah satu  stressor yang mengantarkan Dinar pada periode depresi berat dengan gejala psikotik. Tekanan terberatnya adalah statusnya sebagai anak dari  keluarga broken home . Orangtuanya bercerai ketika dia kelas satu SD. Sulit baginya menerima kenyataan itu sehingga dia selalu menghindari pertanyaan tentang Ayahnya. Dia lelah  berbohong kepada semua orang tentang kondisi keluarganya. Sejak SD hingga  semester tiga di bangku kuliah dia selalu mengarang cerita tentang Ayah dan pekerjaannya.

Setahun lalu sepulang dari praktek kerja lapangan di perkebunan kelapa sawit di pedalaman Kalimantan Timur, dia menunjukkan banyak keanehan. Berbicara tidak teratur dan suka menyerang lawan bicara dengan kata-kata kasar. Teman-teman kuliahnya terkejut melihat perubahannya. Dia pun sering pingsan . Tidak peduli di mana dia berada, bisa dengan cepat dia pingsan. Membuat repot banyak orang di sekitarnya. Setelah dibawa ke dokter syaraf, diketahui kalau listrik di otaknya kurang. Entah apa nama penyakitnya. Dokter menyebutnya low voltage. Teman yang bersama dia menjalani praktek kerja di Kalimantan meyakini penyakit Dinar karena kena guna-guna dari orang Dayak Kenyah. Pasalnya, Dinar telah mempermalukan seorang laki-laki dari suku tersebut. Untung,  Ibunya memilih membawa Dinar ke psikiater setelah melihat berbagai keanehan dalam sikap dan perilakunya.  Psikiater menengarai sebagai gejala munculnya delusi dan halusinasi. Penyebabnya adalah ketidakseimbangan hormon di  neurotransmitter otak.

 Setiap hari Dinar harus minum obat. Ada obat antipsiotik dan obat anti depresi.  Obat itu  bekerja untuk membantu menyeimbangkan hormon di otak. Menurut banyak orang, dia harus minum obat seumur hidup.  Seperti kebanyakan obat penenang, efeknya adalah banyak tidur dan banyak makan.  Akibatnya tubuh Dinar melar tak terkendali. Membuat semua dosen dan teman kuliahnya terkejut bukan kepalang melihat perubahan bentuk tubuhnya kini.

            “Sudah minum obat ?” tanyaku lagi. Mencoba berkomunikasi dengannya agar terjadi interaksi di antara kami. Dia mengangguk cepat kemudian mulai menggoreskan pensil warna ke lembaran buku gambarnya.

Hampir semua teman kuliah seangkatannya sudah lulus. Dinar berjuang keras untuk kembali kuliah setelah hampir dua tahun kesulitan membedakan antara realitas dan imajinasi.  Suara-suara aneh terdengar. Suara yang menyuruhnya melakukan hal-hal buruk. Sering merasa dikejar-kejar seseorang yang ingin membunuhnya. Dia ketakutan dan curiga kepada semua orang. Menganggap semua orang akan berbuat jahat kepadanya. Kecurigaan yang berlebihan membuatnya tidak merasa tenang.

Kebanyakan tetangga kami menganggapnya gila. Menyuruh anak-anaknya menjauhi Dinar.  Tak satu pun yang sudi mampir ke rumah Dinar. Bagi mereka, Dinar tidak berguna lagi setelah diketahui rutin berobat ke psikiater  setiap bulan.  Seolah Dinar bukan lagi manusia seutuhnya. Padahal dengan pengobatan rutin, dia berpotensi untuk kembali pulih dan mampu melakukan kegiatan produktif.

“Oh. Tiara, kamu di sini?”  Tante Melinda , Ibunya Dinar , ke luar dari rumah  menghampiriku. “Bagaimana menurutmu ? Sudah lebih baik kan?”

“Iya , Tante. Sudah banyak kemajuan.”

"Menggambar merupakan sarana ekspresi yang bisa membantunya mengungkapkan perasaannya.”

“Bicaranya masih  tidak teratur ?”

“Ya,  melompat-lompat  dan sering membingungkan.”

“Saya akan coba ajak teman-teman SMA untuk kembali berhubungan dengannya . Minimal kontak lewat telpon atau media sosial.”

“Dia belum tertarik berkomunikasi dengan orang lain.”

“Kenapa  Tante ?”

“Tante juga nggak tahu . Dia seperti menarik diri dari pergaulan.”

 Aku bingung bagaimana harus membantu Dinar. Melihatnya  tanpa ekspresi dan tak ingin berinteraksi dengan siapapun selain Ibunya, membuatku sangat sedih. Ke mana Dinar yang dulu ceria, banyak bicara dan penuh canda tawa? Aku merasa seperti berhadapan dengan orang asing ketika berada di dekatnya. Dia tak begitu peduli pada kehadiranku. Asyik dengan dunianya sendiri.

“Boleh saya ajak Dinar main ?” aku minta ijin .

" Ke mana ?”

"Makan di luar atau cuci mata di mall. Seperti yang biasa kami lakukan dulu.”

"Lebih baik kamu ajak renang saja. “

"O, ya, Tante. Dia pasti suka. Sudah lama nggak renang kan?”

"Tapi kamu nggak malu kan jalan bareng Dinar?” Tante Melinda nampak ragu.  Mencari keyakinan dengan menatapku lama-lama .

“Ya, ampun Tante. Aku sama Dinar sudah kayak saudara. Dari kecil selalu bersama. Apapun yang terjadi pada Dinar, dia tetap sahabat saya. “

Tiba-tiba Dinar memanggilku. Memintaku mendekat untuk melihat lukisannya. Satu halaman buku gambarnya telah penuh warna. Gradasi warna dari warna muram ke warna-warna terang yang memberi kesan ceria. Aku menduga dia sedang ingin menghapus kesedihan hatinya melalui warna-warna terang . Hanya warna tanpa ornamen yang tertuang dalam lukisannya.

“Din, besok renang yuk!”

“Di mana?” kejarnya.

“Kamu suka yang in door kan ?”

“Iya. Biar nggak hitam terbakar matahari.”

 “Kalau begitu ke Salsabila saja. Besok kamu ada kuliah nggak?”

 “Nggak.”

 “Kalau begitu kita renang pagi saja ya?”

 “Oke. “

 “Pakai motorku saja ya?”

  “Oke.”

"Sudah mandi belum Din?”  kelihatannya dia tidak terlalu memperhatikan kebersihan dirinya. Rambutnya diikat sekenanya lalu ditekuk ke atas. Serpihan-serpihan putih terlihat di antara rambutnya yang berminyak dan bau apek tercium dari tempatku berdiri.

  "Belum,” dia mengaku dengan nada datar. “Mau keramas juga. Sudah gatal semua ini rambutku”

            Syukurlah dia masih bisa mengenali rasa tak nyaman yang disebabkan oleh kurangnya perawatan fisik. Pertanda kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan. Masih ada harapan dia bisa pulih seperti sedia kala.

“Aku pulang dulu ya ! Kamu mandi dan keramas sana. Biar segar  badannya dan lebih enak buat berkarya lagi. Kamu mau  menggambar lagi kan?”

 “ Ya.  Sebentar lagi.”

 

 

 Bahkan ornagtuaku pun merasa heran ketika aku minta ijin untuk berenang dengan Dinar. Ibu menatapku tak percaya . Ayah malah berkomentar yang sangat menghinakan seseorang seperti Dinar.

“Kamu nggak malu jalan bareng anak yang punya kelainan mental ?”

“Yah, Dinar itu sahabatku dari kecil.  Kami selalu bersama.  Sekarang dia sedang mengalami tekanan berat dalam hidupnya. Dia tidak kuat menanggungnya sendiri. Apa salahnya  aku membantunya memberikan sedikit kesenangan. Mudah-mudahan saja dia bisa  cepat kembali seperti dulu,”  dengan hati-hati kucoba membuat Ayah mau mengubah pandangannya tentang Dinar. 

“Baguslah kalau itu niatmu. Tapi Ayah kira dia butuh waktu lama untuk bisa kembali seperti dulu.”

“Hati-hati Tia !” Ibu menimpali.

 "Kenapa Bu ?”

 “Nanti kalau dia ngamuk dan melukaimu bagaimana ?”

 “Bu, Dinar itu hanya mengalami halusinasi . Dia sering merasa seperti dikejar-kejar orang. Aku bisa meyakinkan kalau  itu semua tidak ada. Lagipula kalau dia  sudah minum obat, halusinasi seperti itu bisa hilang. “

"Kasihan ya ,” ujar Ibu akhirnya.

“Aku juga prihatin , Bu. Gara-gara orang-orang suka usil menanyakan Bapaknya  di mana setelah orangtuanya bercerai, dia menjadi  malu dan tertekan.”

 “Kata Ibunya  pemicunya juga karena beban kuliahnya yang berat. Banyak tugas dan jarang libur. Dia menjadi kesulitan menyelesaikan semuanya. Ketinggalan dari teman-temannya  yang kemudian berujung dengan stress.”

"Kompleks Bu, masalahnya. Tidak semua orang kuat menanggung banyak beban dalam hidupnya,”  tiba-tiba aku menjadi bijak di depan Ibuku. “Sudah dulu ya Bu. Aku berangkat sekarang. Keburu siang nanti panas.”

Rupanya Dinar sudah menungguku di teras rumahnya. Aku khawatir dia sudah menunggu lama. Menurut Ibunya, sekarang dia sering tidak sabar dan mudah marah jika harus menunggu. Karena itu aku minta maaf karena terlambat dari waktu yang kujanjikan.  Wajahnya memang cemberut tetapi kejengkelannya tidak terungkapkan.

"Ayo cepat berangkat sekarang !”  Dia langsung naik ke boncengan. Aku segera melajukan kendaraan. Tante Melinda melambaikan tangan dari pintu samping rumahnya .

Perjalanan kami ke kolam renang makan waktu hampir setengah jam. Tidak banyak yang  berenang di pagi hari  sehingga kami lebih leluasa di sana. Dinar  lebih cepat lelah sekarang.  Setiap satu putaran harus beristirahat sebentar sebelum melanjutkan ke putaran berikutnya. Mungkin karena badannya  tidak seperti dulu lagi.  Aku senang melihatnya  bersemangat di kolam renang.  Lebih baik kalau dia bisa rutin berenang sebagai olah raga untuk kesehatannya.

“Tia, kamu dengar suara orang berteriak ?” dia mendekatiku sambil berbisik.

“Nggak,” aku  menyadari inilah yang disebut halusinasi suara.

“Ada perempuan pakai baju putih berdiri di ujung kolam ini. Wajahnya serem,” dia ketakutan  lalu  ke luar dari kolam.

“Tidak ada apa-apa di sana Din,” kuyakinkan dia . Kugenggam tangannya, kuucapkan  dengan tegas . “ Tidak ada perempuan berwajah seram. Hanya ada kita berdua di sini  dan lima perempuan  yang duduk di kursi  dekat kamar mandi. “

Dinar memejamkan matanya sebentar .  Memberi sugesti pada dirinya sendiri. Sementara tanganku masih menggenggam tangannya. “Ada Tiara di dekatmu,” kuucapkan itu sekali dengan pelan-pelan. Dia membuka matanya . Melihat ke ujung kolam renang dan seulas senyum kusaksikan di bibirnya. 

 "Ya, tidak ada.,” suaranya lega.

“Mau renang lagi?” aku menawarinya

“Ya, aku mau belajar gaya kupu-kupi. Ajari aku ya ?”

“Oke.  Kita nyebur lagi ke kolam.”

Kubiarkan saja seandainya ada teman-teman yang kami kenal berada di kolam renang yang sama. Biarlah jika mereka menganggap Dinar berbeda karena kondisi kejiwaannya yang sedang terganggu. Tetapi dia sahabatku sejak kecil. Aku akan menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi padanya.Bukan untuk dijauhi tetapi perlu kita dukung untuk menuju kesembuhan.  Perbedaan ini tidak akan memutuskan persahabatan kami.