Romansa Hario dan Sekar

Romansa Hario dan Sekar
Image by pixabay

“Maaf, Pak. Kasus calon istri bapak tidak bisa kami proses.”

 

Malam itu, angin berhembus lebih besar dari biasanya. Sekar tidak biasanya menghilangkan kebiasaan untuk sekedar bertanya, apakah aku sudah makan atau belum. Atau pertanyaan lain apakah aku sudah shalat apa belum.

 

Buatku hilangnya kabar Sekar dalam semalam lumayan memberiku peluang untuk aku sekadar bermain bersama teman-temanku atau sekadar habiskan waktu untuk ngopi dan membaca buku yang terkadang sulit aku lakukan akhir-akhir ini.

 

“Lu memang semalam kemana sih Yo?. Ko bisa biarin Sekar sampai begitu?”
“Gue pikir Sekar lagi marah sama gue, gue ga tahu kalau ujungnya begini.”

 

Kamar 303

Sekar koma, sayatan simetris tampak di sepanjang lengan Sekar. Lebam menghiasi sekujur tubuh Sekar. Sungguh terlalu tega orang yang hampir saja menghabisi nyawa Sekar. Jika saja Mita, teman sekamar Sekar terlambat datang, pastinya Sekar sudah kehilangan nyawanya.

 

Tak satupun bisa dimintai keterangan. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Selepas menyiapkan segala kebutuhan lamaran minggu depan, Sekar tertidur. Mita yang kebetulan tidak ada di lokasi kejadian, bingung harus menjelaskan apa.

 

 

Tempat Kost Bu Ningsih sudah diberi police line.

“Ada berapa kamar di tempat kost ini Bu?”

“Total Sembilan kamar kost Pak. Karena masih musim mudik Lebaran maka yang terisi hanya dua kamar saja. Satu kamar diisi oleh Nadia dan Dara kemudian satu kamar lagi tepat di sebrangnya diisi oleh Mita dan Sekar.”

“Boleh saya bertemu dengan Nadia dan Dara?”
“Silakan, yang saya tahu saat itu Nadia dan Dara tidak pulang karena ada acara di kantornya. Ini chat saya dengan Nadia Pak.” Bu Ningsih memperlihatkan isi chat Nadia pada Pak Polisi.

“Tapi ibu yakin Nadia dan Dara tidak pulang?. Sepertinya Pak Polisi tidak yakin dengan isi chat Nadia dan Dara yang dikirim ke Bu Ningsih, pemilik Kost Sekar.

 

Tiga puluh tiga hari menjelang hari pernikahan kami.

Tak satupun aku siapkan. Semua Sekar yang menyiapkan segala kebutuhan lamaran dan pernikahan kami. Sekar hanya berkabar saja, berapa rupiah yang dibutuhkan, lalu aku transfer setelah itu Sekar kirim foto hasil dia berburu barang lamaran kami. Selesai.

 

Bukan, bukan karena aku tidak sayang Sekar. Kuakui kelemahan yang sering ditegur Sekar adalah soal cueknya aku. Bisa-bisanya aku biarkan Sekar berjibaku sendirian, bahkan tak jarang Sekar harus hujan-hujanan hanya untuk cari pernak-pernik pernikahan.

 

“Memang uangku kurang ya, sampai kamu harus urusin sendiri?”

“Engga, cukup kok.”
“Kenapa ga dikasih ke WO aja sih, sayang?”

“No, aku sangat menginginkan pernikahan ini. Aku mau semua tampak paripurna.”

“Apaan sih, bisa ga kalo typo cukup di chat aja, ga usah di mulut!”

“Iya iya, maaf maksudnya sempurna.”

 

Hahaha, itulah Sekar.

Perempuan yang akhirnya dapat alihkan duniaku. Kalau kata Satria, sobatku. Aku sudah berhasil mengubah sedikit karakter menyebalkanku semenjak kenal dengan Sekar. Walaupun di kala tertentu masih saja kambuh penyakit menyebalkanku.

 

Sekar adalah satu-satunya perempuan yang mengejar aku selama hidupku. Jelas aku jual mahal, la wong Sekar yang tergila-gila sama aku. Sangat tidak salah kalau aku semacam acuh tak acuh sama Sekar.

 

Sudahlah, yang penting maunya Sekar nikah, aku kabulin. Dia bahagia tuh. Perkara nanti Sekar suka atau tidak, lihat saja nanti.

 

Hari ketiga sejak Sekar koma, hidupku kalang kabut. Kali ini aku merasa kehilangan Sekar. Tidak ada yang ingatkan aku makan,tidak ada yang mengajak shalat berjamaah, tidak ada yang kirim makanan ke kantor, tidak ada senyum manis saat Sekar godain aku kalau lagi sibuk bekerja.

 

“Sekar, ayolah bangun. Aku kangen.”

 

Bergerak, jari Sekar bergerak.

“Dok, dokterrrrr, ayo cepat. Jari istriku bergerak. Duh lama banget sih. Dok ayo dong Dok.”

“Sebentar ya Pak, kami periksa dulu. Mohon maaf bapak bisa tunggu di luar.”
“Enggak, saya suaminya, eh sebentar lagi maksudnya.”

“Pak, biar kami bisa periksa dengan detail. Tolong ijinkan kami bekerja dengan baik!”

 

Terpaksa aku melengos pergi, doa tak hentinya aku panjatkan.

“Ya Tuhan selamatkan Sekar. Aku akui aku mencintainya. Maaf bila selama ini aku acuh tak acuh terhadap Sekar. Aku membutuhkan Sekar. Tolong Tuhan, bangunkan Sekar”

 

Kuintip Sekar dari balik kaca. Mereka sibuk cek keseluruhan kondisi Sekar.

Monitor, kuperhatikan monitor detak jantung di samping ranjang Sekar. Ah sial, perawat itu menutup sebagian layar monitornya.

 

Tunggu, dokter mau apa? CPR atau apa sih itu, tidak jelas aku lihat. Kenapa mereka tampak panik.

Ya Tuhan, toloooong. Bantu dokter dan perawat untuk sembuhkan Sekar. Akan kugadai semua yang punya untuk kesembuhan Sekar.

 

“Manusia bangsat, beraninya melukai Sekar. Apa tujuanmu hah?”

“Yo, tenang. Kau boleh berteriak, kau boleh marah dan kau boleh emosi. Tapi ini rumah sakit Yo, Sekar butuh doamu bukan umpatmu.”
“Lu ga tau perasaan gue Sat. Gue ga mau kehilangan Sekar.”
“Aku sangat paham. Tidak ada yang mau melihat Sekar terluka. Aku, Mita dan tentunya kamu.”

“Gue menyesal Sat. Kenapa malam itu aku tak perhatikan Sekar.”
“Sudahlah, percuma kau menyesali, tak akan mengembalikan waktu. Semoga Sekar lekas membaik, kelak tolong jaga Sekar dengan baik.”

 

Hari ketujuh

“Sayang, bangun. Kau lihat mawar milikmu sudah mulai layu. Apa kau tak mau tahu kabar aku atau mawar kesukaanmu?. Aku hancur tanpamu. Aku rindu sama kamu. Bangun sayang, bangun.”

“Yo….”

“Hey, sayang. Kamu bangun.”
“Yo….Kenapa?”

“Kenapa, kenapa apanya sayang?”. Saking girangnya aku panik saat Sekar siuman.

“Yo…kamu…”

“Sudah kau diam dulu akan aku panggilkan dokter lalu akan aku minta perawat bersihkan kamu, setelah itu akan aku bawa kamu untuk mengembalikan kamu seperti dulu, ini bekas sayatan di kulitmu akan aku bantu sembuhkan. Oke sayang. Sebentar ya!”

 

Aku bahagia, Sekar siuman. Kutitipkan Sekar pada perawat dan tugasku hari ini adalah melaporkan ulang kejadian Sekar juga kutanya apakah ada ada kemajuan infomasi dari TKP.

 

“Pak, saya Hario Sastrawan yang saat kejadian melaporkan penganiayaan terhadap calon istri saya, Sekar.”

“Silakan duduk. Saya akan cek sebentar!”

 

Lima menit, sepuluh menit, setengah jam.

Ini apa-apaan sih, becus kerja ga mereka. Cek dokumen aja sampai setengah jam belum selesai. Kejadiannya kan masih seger. Dokumen paling atas pasti tentang laporanku soal Sekar.

 

“Pak Hario Sastrawan…”

“Iya saya Pak, dari tadi saya sampaikan saya Hario Sastrawan, saya calon suami Sekar, korban penganiayaan di Tempat Kost ibu Ningsih, Pasar Minggu. Jelas kan Pak?”

“Apakah bapak ada di lokasi kejadian saat Ibu Sekar dianiaya orang tak dikenal?”

“Ya enggak lah Pak, Saya lagi di rumah. Saat itu Sekar memang tidak ada kabar. Cuma saya pikir Sekar sedang marah, maka saya tak hiraukan.”
“Bapak yakin, bapak tidak datang ke tempat kost Bu Ningsih?”
“Astagfirullaaaaaah Pak, mau disumpah pocong juga saya mau.”

“Mohon maaf Pak Hario Sastrawan, kami tidak bisa proses kasus ini. Saat ini kami sedang menunggu hasil kejiwaan bapak.”
“Hah, maksudnya?.Ini apa-apaan sih?”

 

Sekelebat, buram dan tak terlihat. Limbung lalu aku terjatuh. Suara berdentum hebat. Kepalaku menabrak ujung jeruji tempatku kelak.

 

“Sayang, kenapa?. Aku mencintaimu dengan sangat. Jika saja kau tak hendaki aku, kenapa hampir saja kau habisi nyawaku?”

 

Samar-samar kudengar suara Sekar. Kenapa, ada apa dengan aku?.

 

Aku tak mengingatnya, tak sedikitpun kejadian dari penganiayaan Sekar ada di otakku. Mereka pikir aku gila dan berbahaya, hingga tangan, kaki bahkan badanku di borgol di ranjang.

 

Kulihat mata sayu Sekar. Jangan pergi Sekar!. Aku membutuhkanmu.

 

Di samping ranjang Hario tergeletak surat kabar dengan bunyi headlinenya;

Hario Sastrawan pengusaha kopi melakukan penganiayaan terhadap calon istrinya.

 

Apa? Ini sangat tidak mungkin. Aku sangat mencintai Sekar. Tuhan panggilkan Sekar untukku. Di luar kamar terlihat Sekar dan Satria yang sedang berbincang dengan dokter yang menanganiku. Sudah berapa hari aku di sini?. Tampak Sekar sudah segar bugar walau mata sayu tak bisa dia sembunyikan.

 

“Yo, tolong lihat aku. Aku memaafkanmu. Aku tidak tahu alasanmu menghabisi aku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi sama kamu. Saat ini dalam kondisi kamu seperti ini aku tidak bisa dengarkan apapun. Aku masih mencintaimu Yo. Tapi sayatan ini telah mengukir sakit hatiku yang luar biasa.”

 

“Yo, Aku mencintai Sekar jauh sebelum Sekar denganmu. Aku tidak tahu maksud Tuhan membuatmu terjatuh hingga kau tak sadarkan diri dan membuatmu tidak bisa bicara untuk apa?.Namun yang kau lakukan sungguh tidak bisa aku maafkan. Kau menyakiti Sekar. Aku pamit Yo, membawa Sekar”

 

Tuhan, cobaan apalagi ini. Kau sangat tidak adil. Apa yang sudah Kau lakukan padaku.

Jangan, jangan Kau biarkan Sekar bersama Satria. Sebenarnya apa yang terjadi. Aku sama sekali tak mengingatnya.

 

Setolol itukah aku menghabisi Sekar.

Sekar, kau harus tahu, betapa aku mencintaimu. Jangan kau salah menduga. Aku mungkin sakit atau aku juga gila. Tolong dengarkan dulu penjelasanku, setidaknya kau tunggu hingga aku dapat berbicara. Kembali.

 

 

__Dalam perjalanan menuju Bandung__

 

“Sat, aku tak bermaksud melampiaskan perasaanku karena Hario. Keinginanmu melamarku sangat aku hargai. Jujur aku belum mencintaimu. Beri aku waktu agar aku bisa membalas cintamu padaku yang sedemikian besar. Maaf, Hario terlalu sulit aku lupakan.”

“Its oke Sekar. Aku paham. Pernikahanmu yang sudah sangat dekat jelas telah membuatmu memposisikan Hario sedemikian istimewa.”

“Ya, buatku Hario sangat istimewa. Maaf jika aku sangat perlu waktu lama untuk menempatkan posisi mu pada posisi Hario.”

 

Rest Area 57

 

Satria menepikan mobilnya, bensin sudah mulai menipis. Satria ijin untuk ke mushola sebentar, sementara itu aku tetap di mobil.

Entahlah aku malas untuk shalat. Selama ini hanya Hario yang bisa mengajakku shalat bersama dengan gembira. Tuhan mungkin agak marah, gara-gara Hario aku malas untuk sembahyang.

 

Bunyi handphone, kok handpnohe Satria ditinggal. Suaranya agak lain.

Kucoba cari sumber suara.

Iphone merah sticker Liverpool tepat di bawah gambar apel kroaknya.

 

Kutengok jok belakang, seutas tali merah, lakban dan ya Tuhan, pisau sedikit karat dengan ujung retak sedikit.

Ini, ini semua aku ingat persis. Jadi, bukan Hario?. Atau peralatan Hario yang dibawa oleh Satria?. Atau…..

 

“Hey sayang, ko mukanya panik begitu?”

“Udah shalatnya Sat?”

“Sudah doooong, kamu lagi M?”
“Iyaa, malas. Biasanya Hario yang sudah menunggu di depan masjid terus nanti kita wudhu bareng terus shalat berjamaah terus…”
“Stop Sekar. Bisa ga sih kamu berhenti bicara soal Hario. Dia itu laki-laki jahat. Dia sudah menghabisi kamu dan kamu masih simpan rasa sebegitu besar untuk Hario. Jangan tolol jadi perempuan ya Sekar.”
“Kok kamu kasar?. Hario tak pernah sekasar itu.”
“Hario lagi, Hario lagi. Lama-lama aku habisi juga Hario.”
“Habisi? Juga?. Sat, kamu?”
 

Satria membesut mobil dengan super duper kencang, aku berteriak. Satria sangat tak menggubrisnya. Lima detik sebelum kecelakaan itu, Satria sampaikan. Jika kamu bukan untukku maka tidak untuk Hario.

 

 

__Pemakanam Satria__

 

Sampai hari ini belum diketahui kelicikan Satria, hingga Sekar, aku, Bu Ningsih bahkan penyidik dapat terkecoh dengan penganiayaan Sekar. Aku tak peduli lagi.

 

Yang penting, Sekar selamat, namun sayangnya karena benturan yang hebat, kaki dan tangan Sekar perlu digips dalam waktu yang lama.

Ah, aku tak peduli. Akan aku jaga Sekar dengan baik. Akan aku balas semua cinta Sekar yang demikian besar untukku.

Akan kukembalikan cantikmu Sekar. Kamu, perempuan terhebat untukku.

 

Kugenggam Sekar, mata bulatnya menyiratkan pancaran cinta yang begitu agung. Dalam senyum yang Sekar berikan, aku sangat merasa betapa Sekar menyayangiku.

Aku pun.

 

 

#Untukkamuyangmengagungkancinta

 

Bandung, 22 Mei 2020