Hanya Topeng

Hanya topeng bukan kenampakan sesungguhnya

Hanya Topeng

Hanya Topeng

Berpacu dengan waktu adalah hal yang melelahkan, tapi jika memunafikkan waktu bagaimana?

Ingin bahagia tapi tak mau bersusah payah, kalau menipu saja bagaimana?

Menyukai tapi tak mau mengungkapkan, kalau dekat selalu bagaimana?

Menyayangi namun terus merendahkan, kalau diganti jadi perhatian bagaimana?

Menasehati dengan nada suara tinggi apakah pantas di katakan memaki?

Mencoba bersyukur dan sederhana apakah pantas dikatakan tak berambisi dan berenergi?

Raut ceria dan tenang apakah pantas dikatakan selalu bahagia dan tak merasa kurang?

Berterus terang dengan kondisi diri apakah pantas dikatakan mudah ditipu dan dibodohi?

Selalu bertekad dan berambisi apakah pantas dikatakan tak pernah merasa jenuh atau letih?

Melakukan kesalahan apakah pantas dikatakan tak bisa melakukan apapun?

Yang tampak di permukaan bukanlah hal yang pantas hanya di nilai dari pandangan mata semata, butuh telinga untuk mendengar, hati untuk rela merasakan dan pikiran untuk mau memahami.

Aku pernah bertemu seorang wanita kuat dan tegar di kehidupannya, tak pernah membenci ketika di sakiti, tak pernah membalas meski selalu tertindas. Bahagianya diperlihatkan dengan air mata, katanya itu adalah ekspresi sangat bersyukur pada Ilahi Rabbi. Sedihnya selalu dirasakan sendiri dan tak mau dibagi. Baginya itu adalah momen introspeksi dan meng-upgrade mental dan hati. Untuk kesekian kalinya aku bertanya kepada nya kenapa dia sanggup menggunakan berbagai "topeng" di kehidupannya, dan aku mendapat jawaban yang sama untuk kesekian kalinya pula. Dia menjawab "Jika aku membenci apakah aku akan dicintai? Jika aku membalas memaki apakah aku akan dihormati? Jika aku mencoba terlihat sedih ketika selalu ditimpa musibah dan terlihat selalu ceria ketika merasa bahagia apakah aku akan menjadi orang yang bisa terhindar dari hal-hal yang tidak kuharapkan?" Jawaban itu bernilai tamparan nurani, inginku selalu mendampingi tapi dia enggan untuk dikasihani.

Seperti senja yang hanya sebentar terlihat sendu dan sejenak menyejukkan, seperti itu rasa sakit yang tak secara langsung disampaikannya. Memang benar bahwa di dunia ini orang baik dan orang tidak baik itu seimbang untuk membuat histori sejarah yang benar-benar nyata bukan hanya retorika yang dibuat seolah-olah nyata namun semu. Aku beruntung bertemu wanita itu di kehidupanku, hal seperti ini membuatku semakin tak berhak untuk menghakimi bahwa anggapan adalah penilaian terbaik melainkan perlu membuka diri dan mencoba berbicara sejenak untuk mendengarkan ungkapan hati setiap orang.

Tuhan itu Maha Adil dan tak pernah tidur, dunia ini terlalu fana untuk terlalu memimpikan kebahagiaan abadi, dunia ini terlalu serius untuk mereka yang suka bercanda, terlalu "penuh topeng" untuk mereka yang belum memahami kondisi sesungguhnya dan terlalu baik bagi mereka yang tetap mengharapkan kedamaian dan ketentraman diri di kehidupan.