Nasi Pecel, Makanan Untuk Semua Kalangan

Nasi Pecel, Makanan Untuk Semua Kalangan
Nasi Pecel (sumber dokumen pribadi)

Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana 

Sudah lewat tengah malam, jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sang suami masih sedang melihat televisi dan menyaksikan acara film dari sebuah stasiun swasta. Tiba-tiba ia mendengarkan keluhan istrinya dari kamar tidur yang ada di sebelah ruang tamu. Dia sudah hamil tua dan tinggal menunggu saat-saat kelahiran saja. Ia memanggil-manggil suaminya dengan lirih dan mengatakan perutnya sudah terasa mulas dan sudah saatnya melahirkan.

Dengan sigap sang suami langsung mematikan televisi dan menghampiri istrinya, seraya berkata untuk menunggu sebentar karena ia akan berganti pakaian dan mengambil tas kecil yang sudah disiapkan sejak beberapa hari yang lalu. Tas itu berisi pakaian dan keperluan pribadi sang istri yang nantinya akan digunakan waktu persalinan sudah tiba dan sebagai bekal untuk menginap di rumah sakit bersalin. Setelah semuanya siap, sang suami menggandeng istrinya untuk membantu bangun dari tempat tidurnya.

Tak lama kemudian, sang suami segera membantu istrinya menaiki mobil minibus berwarna merah, dan tak perlu lama mesin pun dinyalakan. Satu kali starter dinyalakan, mobil belum menyala dan setelah percobaan kedua baru mesin menyala. Segera laju mobil dijalankan dan keluar dari komplek perumahan kecil tempat tinggal mereka.

Setelah beberapa menit berlalu sang istri berbicara kepada suaminya.

"Aku iki ngeleh mangan sik yo! " sambil memegang perutnya yang sudah sangat membuncit.

Sang suami pun merasa heran, kok di tengah-tengah mau melahirkan masih merasa lapar juga? Walaupun begitu, karena cintanya sang suami kepada istri dan sang anak yang ada di dalam kandungan akhirnya ia mengiyakan permintaan istrinya.

Setelah berunding sebentar, mereka memutuskan untuk makan di sebuah jalan yang dikenal dengan jalan Pandegiling, Surabaya. Pada waktu itu memang jalan itu terkenal dengan penjual  nasi pecelnya. Setelah sampai di jalan itu, segera mereka berhenti di sebuah warung yang memang sudah dikenal sebagai jujugan para pekerja dinas malam dan  'kalong' yang sering begadang di malam atau dini hari. Sang istri pun terlihat lega dan raut miris saat menahan sakit menjelang kelahiran tidak terlihat lagi. Tanpa butuh basa basi lagi ia pun langsung memesan sepiring nasi pecel dengan tambahan lauk daging empal.

Itulah sepenggal kisah kenangan yang ada di pikiran saya, sebuah momen dengan kekasih saya,  yang akhirnya saya nikahi dan melahirkan seorang putri yang cantik, lugu, jujur dan cerdas. 

Nasi Pecel, makanan untuk semua Kalangan

Makanan yang diberi nama Nasi Pecel ini sudah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan di Jawa. Dalam Babad Tanah Jawi, sudah disebutkan mengenai jenis makanan ini khususnya untuk di daerah Yogyakarta, bahkan konon Sunan Kalijaga pernah memakan hidangan ini. Nasi Pecel ini berbahan dari sayur-sayuran yang biasanya bervariasi tergantung pada daerahnya. Biasanya yang digunakan adalah bayam, kangkung, ubi jalar, daun ketela, daun beluntas, daun pegagan, kecombrang, polong, kacang panjang, kecipir, kecambah dan daun kemangi. 

Kata pecel sama dengan berarti ditumbuk. Memang sudah sewajarnya dinamakan Nasi Pecel karena nasi dan sayur-sayuran yang sudah direbus disajikan dengan tambahan bumbu kacang yang sudah ditumbuk dan dicampur dengan air hangat sehingga menjadi semacam saus, yang nantinya dituangkan di atasnya. Inilah yang menjadi ciri khasnya makan ini, kadangkala lauk pauk tambahan juga disertakan seperti telur mata sapi, dadar, tempe, tahu atau daging empal sehingga menambah kenikmatan masakan ini.

Di era globalisasi yang memungkinkan masuknya pengaruh budaya asing, tidak membuat keberadaan Nasi Pecel menghilang begitu saja dari peredaran. Malahan jenis makanan ini tetap bertahan sampai saat ini dan masih menjadi favorit berbagai kalangan. Harga yang relatif masih bisa dijangkau oleh semua kalangan dan rasa khas yang ada di berbagai daerah dengan varian Nasi Pecel bervariasi, membuat keberadaan masakan ini akan tetap menjadi menu andalan sehari-hari. Bahkan seringkali Nasi Pecel sering menjadi menu sarapan pagi dari berbagai kalangan dan hampir dapat ditemukan di mana saja, mulai dari rumah makan mewah sampai pada warung pinggir jalan.

Seringkali juga muda-mudi yang sedang menjalin hubungan asmara menjadikan menu ini sebagai hidangan utama ketika sedang melakukan kencan (dalam arti positif). Biasanya mereka sering ditemukan bercengkerama di warung-warung Nasi Pecel yang ada di pinggir jalanan, bahkan tidak luput pula banyak pasangan suami dan istri juga berkongkow di warung-warung itu juga. Kadangkala mereka terganggu kencannya ketika para pengamen jalanan menghampiri warung-warung nasi pecel, menyanyikan lagu-lagu dan musik bertemakan cinta, serta mengharapkan agar para pasangan tersebut memberikan sejumlah uang sehingga mereka segera pergi dari hadapan mereka.

Bagaimanapun juga Nasi Pecel masih menjadi menu favorit berbagai kalangan untuk jangka waktu yang lama, karena jenis masakan ini mewakili dan memiliki filosofi kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Sayur mayur yang menjadi bahan dasarnya, biasanya mudah didapatkan di pasar tradisional bahkan bisa didapatkan di sekitar lingkungan pedesaan atau pinggiran kota. Bumbu pecel yang berbahan dasar kacang dan kadang dicampur dengan rempah-rempah ini juga ternyata cocok di lidah berbagai kalangan sehingga menambah rasa khasnya dan tetap disukai oleh masyarakat Indonesia. (hpx)

Catatan :

ngeleh mangan sik = merasa lapar dan minta makan terlebih dahulu.

berkongkow = bersantai.

jujugan = tujuan tempat.

Team Macchiato :

Endah Sri NASTITI  (Mantan, Dulu Diratapi Kini Disyukuri)

Ridwan Ali