Taring

Blesss!" Seketika itu juga roda kanan depan mobil ini ambles. Robek oleh hunjaman taring tajamnya. Dalam kepanikan, kamipun hanya saling berpandangan. Hening. Tangisan Kanino seketika hilang, entah kenapa di kala kami panik, bocah kecil ini justru terlelap. Seolah tak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Rahasia Tuhan. Dengan perlahan akupun mulai melajukan mobil ini, sedikit meringis menahan kelu teringat nasib velg yang tak lagi terbalut karet besar berisi angin. Untung saja saat itu kami mengendarai SUV. Ya, mobil ini membantuku sedikit lebih tenang. Tak terbayangkan jika saat itu kami di dalam sebuah sedan dan harus kontak mata langsung dengannya.

Taring

Pagi itu, 6 Mei 2018, di hari Minggu yang cerah. Teringat janjiku pada bocah tampan ini 2 bulan lalu. Di ulang tahun pertamanya.

Janji untuk mempertemukannya dengan para satwa secara langsung, yang selama ini hanya bisa dilihatnya dari gambar-gambar ilustrasi di buku cerita.

Walaupun rumah tempat kami tinggal hanya berjarak beberapa jengkal dari Ragunan, tapi untuk kali ini Taman Safari-lah yang jadi pilihanku. Aku ingin memberikan kesempatan bocah kecil ini untuk bisa menyaksikan semua satwa liar dari dekat.

Perjalanan pagi itu lumayan menyenangkan, Jakarta-Gadog kurang dari sejam tanpa harus tegang. Namun, seperti biasa kerlip lampu-lampu merah di bokong kendaraan mulai rutin menyala menjelang pintu masuk. Perlahan tapi pasti kamipun akhirnya sampai di loket. Disapa oleh senyuman manis petugas cewek, yang tentunya harus kami bayar mahal.

"Welcome to the Jungle!", bisikku ke telinga Kanino di pangkuan ibunya. Bocah itu, seperti biasa hanya mengangguk sambil tersenyum seolah mengerti. Sedetik kemudian dia sudah kembali asyik memutar-mutar volume radio di depannya.

"Ah sudahlah..", gumamku diiringi senyuman ibunya. Mobil melaju santai, menikmati teduhnya suasana. Satu demi satu kawasan pakan kami lalui. Pakan adalah istilahku untuk menyebut hewan-hewan mangsa yang menduduki kasta terendah dalam rantai makanan.

Deretan mobil berjajar dengan sabar menunggu giliran. Ya, di area ini memang jelas tertulis larangan membunyikan klakson. Sangat menenangkan, terutama bagiku yang suka emosional jika mendengar berisiknya jalanan ibukota.

Menyuapkan wortel dan pisang ke mulut para rusa, antilop, wildebeast dan jerapah tentunya jadi bonus yang menyenangkan. Seolah bisa menghadirkan mereka ke halaman belakang.

Teriakan ceria anak-anak jelas terdengar di sekeliling area feeding frenzy ini. Karena hampir semua kaca mobil terbuka cukup lebar. Kanino pun mulai berani ikut menyodorkan wortel dengan tangan mungilnya, walau masih dibantu ibunya. Bocah itu tampak sangat menikmati. Entahlah apa yang ada dibenaknya saat itu. Melihatnya tersenyum saja sudah membuatku bahagia.

Perlahan area pakan pun kami lalui, pertanda kami akan mulai memasuki area para penguasa. Wilayah para predator yang menjadi penguasa kasta tertinggi rantai makanan. Peringatan untuk segera menutup kaca pun mulai bertebaran di kanan-kiri.

"JANGAN BERHENTI DI DEKAT HEWAN BUAS"; "SEGERA MENGHINDAR JIKA MEREKA MENDEKAT". Kira-kira seperti inilah isi papan peringatan yang selalu kuingat. Sangat bagus. Jangan pernah bermain-main dengan hewan bertaring tajam.

Tibalah waktunya kami memasuki area Singa Si Raja Rimba, yang konon aumannya bisa terdengar sampai seluruh area Taman Safari. Siang itu, tampak mereka tengah berbaring berkelompok. Sang Pejantan Besar dikelilingi oleh selir-selir favoritnya. Singa memang termasuk hewan nocturnal yang lebih aktif di malam hari.

Berderet kemudian, kami melalui area Harimau Bengal dari India, disusul sepetak sabana tempat cheetah Sang Sprinter bermukim. Tak lama kemudian sampailah kami di area Harimau Sumatra. Hewan yang mungkin tinggal tersisa beberapa ekor saja di habitat aslinya.

Suasana tempat ini terasa agak berbeda. Terasa lebih menyeramkan. Apa mungkin karena dia produk lokal? Anak sini?

Angker! Suasana yang kutangkap sedetik kemudian. Persis seperti suasana GBK saat The Jak, Sang Macan Kemayoran berlaga.

Harimau memang ditakdirkan untuk jadi binatang soliter, dia hidup dan menjaga wilayahnya tanpa kawanan.

Kuinjak pedal gas dengan lembut, beberapa meter di depan kami tampak seekor Harimau tengah duduk merenung di sisi kiri jalan.  Mungkin saja dia betina, karena kumisnya tidak terlalu lebat. Aku menoleh sambil berharap dia tersenyum dan melambaikan tangan. Seperti yang biasa dilakukan para putri saat pawai tujuh belasan.

Dengan santai, kulajukan mobil perlahan, memberikan kesempatan ibu Kanino untuk merekam gambar. Tiba-tiba bocah kecil itu menangis kencang di belakang, saat itu memang Kanino telah pindah ke belakang, ke pangkuan 'mbak'-nya.

Entah karena mencium sesuatu atau merasakan aroma ketakutan, Sang Macan seketika bangkit dan bergerak melangkah di depan mobilku. Aku pun mengerem perlahan karena tak ingin menabraknya. Sejenak dia melintas, sambil menoleh ke kanan. Wajah sangar itu menyeringai getir. Dengan anggun dia bergerak menghampiri sisi kanan depan mobilku. Tepat menghadap ke velg dan roda depan.

Detak jantungku spontan melaju kencang. Beradu cepat seperti bedug lebaran, namun tak lagi berirama. Aku hanya berharap dia tidak tiba-tiba iseng melompat dan duduk manis di atas kap mesinku. Kau tahu kan gimana wanita kalau lagi iseng?

"Blesss!"

Seketika itu juga roda kanan depan mobil ini ambles. Robek oleh hunjaman taring tajamnya. Dalam kepanikan, kami pun hanya saling berpandangan. Hening.

Tangisan Kanino seketika hilang, entah kenapa di kala kami panik, bocah kecil ini justru terlelap. Seolah tak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Rahasia Tuhan.

Dengan perlahan aku pun mulai melajukan mobil ini, sedikit meringis menahan kelu teringat nasib velg yang tak lagi terbalut karet besar berisi angin. Untung saja saat itu kami mengendarai SUV. Ya, mobil ini membantuku sedikit lebih tenang. Tak terbayangkan jika saat itu kami di dalam sebuah sedan dan harus kontak mata langsung dengannya.

Dengan panik, segera kulajukan mobil ini menuju tempat aman. Petugas dengan mobil jipnya, yang memang stand by di lokasi itu bergegas membunyikan klaksonnya keras-keras sambil menginjak pedal gas berulang kali berharap Si Macan tidak terus memburuku.

Syukurlah caranya membuahkan hasil, Si Macan pun jadi kehilangan fokus gara-gara gangguan spontan itu. Kami akhirnya berhasil keluar dari area itu dengan selamat. Sesampainya di luar area, ibu Kanino segera menghubungi petugas di pusat untuk meminta bantuan.

Setelah berhasil menjauhi pagar area harimau, sesaat kuhentikan laju mobil ini. 

 

"Aman!", gumamku. Kuteguk sebotol air mineral dengan buas demi membasahi tembolok ini yang sudah terlalu lama kering, sambil memastikan seisi mobil dalam kondisi tenang.


Kubuka kaca jendela, tampak beberapa mobil berlalu dengan kaca terbuka sambil memandang kami iba. Entahlah, mungkin mereka ingin menawarkan bantuan atau sekedar menunjukkan empati, namun tak tahu harus bagaimana.

Kubuka pintu depan dan bergegas turun untuk memeriksa kondisi ban depan. Taring-taring besar berukuran 7 cm itu benar-benar tajam. Mampu meninggalkan luka dalam dan membuat karet hitam ini tak ubahnya seonggok lap basah.

"Toooottt...toooottt...toooottt!!!", berisik suara klakson terdengar dari sebuah jip yang melaju kencang. Lampu jauhnya pun berkali-kali menyapu mataku.

"Masuk!!! Cepat!!!", teriak laki-laki itu. Spontan aku meloncat masuk ke mobil tanpa sempat bertanya. "Ini area beruang, jangan macam-macam!" Sekilas terdengar teriakannya dari balik kaca mobil yang belum sempat kututup.

Jip loreng berwarna putih-hijau itupun memanduku untuk bergerak menjauh, karena sangat beresiko jika harus mengganti ban di sini. Sekitar 800 meter dari tempat itu kami disambut oleh beberapa orang petugas yang dengan sigap membantu mengganti ban yang robek dengan ban serep.

Lega, walaupun lutut ini masih bergetar tak karuan. Hampir saja kredibilitasku sebagai seorang ayah bakal dipertanyakan. Tapi syukurlah semua telah berlalu dan keluargaku masih dalam lindungan-Nya.

Welcome to the real world, Boy!

Entahlah ini pentahbisan atau apalah namanya, tapi bukan dengan maksud seperti ini papa dan mama memilih 'Taring' sebagai nama depanmu, Nak.

*nama Kanino sengaja diambil dari kata caninus yang artinya gigi taring. Gigi terkuat yang paling susah berlubang.