Toko Penjual Istri

Kalimat pertama terinspirasi dari stand up comedy.

Toko Penjual Istri

 


“Kok nggak pake daging Ma? Masa Cap Cay pake nanas, Ini sayur Cap Cay apa rujak?” kataku kesal.
“Enggak kebeli daging Pa, ini kan tanggal tua! Jadi aku improvisasi pake nanas aja!” kata Sari istriku.
“Makanya cari kerjaan yang penghasilannya lebih tinggi Pa, biar bisa makan daging setiap hari!” katanya.
“Nggak bisa menghargai istri, udah cape-cape dimasakin, malah diributin. Besok masak sendiri aja!”
“Harusnya kamu bisa menghargai aku yang udah kreatif improvisasi pake nanas!”
“Kamu ngapain seharian di rumah? Rumah masih berantakan begitu? Seharusnya kamu kerja, biar bisa cari tambahan uang!” kataku.
“Aku kan ngurus dua anak kita yang masih kecil, kalau aku kerja siapa yang jaga mereka?”
“Ya namanya juga punya 2 balita, maklum aja kalau rumah berantakan Pa!” kata istriku.
Aku makin kesal. Sudah cape kerja, pulang ke rumah dikasih makanan nggak enak, dicerewetin pula. Dasar istri payah, udah nggak bisa masak, nggak bisa beresin rumah, cerewet lagi!

Aku menghibur diri dengan main sosmed.
Sambil asik mengintip kegiatan teman temanku, tiba tiba kubaca iklan di layar.

“Anda bosan dengan istri anda yang cerewet?
Jangan putus asa, Anda bisa tukar tambah istri anda di toko Kami.
Harganya terjangkau. Dan bisa dicicil.
Segera Datangi TOKO ISTRI IMPIAN!”

Duh itu iklan pas banget.
Kucatat alamat tokonya.


Tak sabar, segera kudatangi toko itu sore itu juga.
Toko itu terdiri dari 7 lantai.
“Selamat datang di toko istri IMPIAN!” kata penjual itu dengan senyum ramah.
“Kenalkan nama saya Sony. Bisa kami bantu pak?” katanya.
“Silahkan dilihat-lihat dulu, koleksi kami lengkap. Selain yang dipajang di sini, masih banyak lagi yang di katalog!”
“Bapak suka istri yang seperti apa?” tanya Sony.
“Aku mau istri yang cantik, pintar masak dan nggak cerewet.” kataku.
“Oh kami punya banyak pilihan yang cantik dan pintar masak, ayo kita ke lorong no 1!”
“Lorong satu ini memang best seller pak, kebanyakan orang memang suka istri cantik dan pinter masak. Silahkan dipilih pak. Semua wanita dilorong ini cantik dan pinter masak.”
Aku memilih seorang wanita berambut coklat.
“Pilihan yang tepat pak, Kenalkan ini Rachael. Dia ini pintar segala macam masakan. Dia lulusan sekolah masak di Paris.” kata Sony.
“Cerewet nggak?”
“Oh engga dong!” kata Sony.
“Berapa biayanya pak?”
“Oh harganya sangat terjangkau pak, cukup dengan 20 juta saja.”
Lebih mahal dari gajiku sebulan.
“Jangan khawatir pak, bisa tukar tambah. Bawa istri bapak ke sini, nanti cukup bayar 10 juta saja untuk mendapatkan Rachael.” kata Sales itu seolah mengerti kegalauanku.

Besoknya segera kubawa Sari istriku, untuk kutukar dengan Rachael.
Sari ngamuk dan menangis tersedu-sedu.
“Jahat sekali kamu! Nanti anak anak gimana? siapa yang ngurus?”
Aku tidak mendengarkan keluhannya.
Aku sudah tak sabar membawa Rachael pulang.


Aku senang sekali dengan istri baruku Rachael. Masakannya lebih enak dari restaurant.
Masak apa saja bisa, mulai dari masakan Indonesia, Chinese food, Makanan Thailand, Masakan Barat.  Tidak lupa selalu ada pencuci mulut yang tak kalah enak. Anak anakku rupanya juga suka masakan ibu baru mereka. Tiap hari selalu ada menu makanan yang berbeda. Tidak ada menu yang diulang.
Cuma sayang, selain jago masak, Rachael juga jago makan.
Setiap makan dia nambah 3 kali. Sehari bisa makan 5 kali. Jadi 3x5, sehari dia makan 15 piring.
Baru beberapa bulan, berat badannya sudah jauh bertambah. Dari ukuran S jadi XXL.
Wajah cantiknya jadi berubah tembem.

“Aku mau tuker istri, yang ini jago masak tapi jago makan. Cepat gendut!” kataku pada Sony di toko istri Idaman.
“Aku ingin istri yang bisa menjaga badan, biar bisa langsing terus, cantik terus!” kataku.
“Oh bisa pak, mari kita ke lorong 2. Wanita di sini pintar berdandan dan suka olahraga. Di jamin langsing terus.” kata Sony.
Aku memilih seorang gadis cantik tinggi semampai.
“Pilihan yang tepat pak, kenalkan yang ini namanya Cindy. Dia pernah memenangkan lomba Top model. Sekaligus juga juara renang, pernah ikut Olympiade loh. Dijamin rajin olahraga tidak bakal gendut!” kata Sony dengan bangga.
“Berapa harganya?”
“Yang ini lebih mahal dari Rachael. Soalnya juara Top model & atlet Renang!  Anda bisa memiliki Cindy dengan 40 juta!” katanya.
Waduh mahal amat.
Tapi untuk mendapatkan istri cantik yang top model dan atlet renang, uang segitu sebetulnya murah. Kubayangkan betapa bangganya aku berjalan dengan Cindy. Bisa kupamerkan ke teman temanku. Maka segera kubayar dengan kartu kreditku.

Seperti yang sudah kuduga, teman temanku iri melihat istriku yang top model itu.
Semua berdecak kagum. Aku selalu diundang ke setiap acara pesta.
Tapi Cindy selalu telat pergi ke acara undangan.
“Lama amat dandannya?  kita udah telat 1 jam ini!” kataku.
“Aku kan harus selalu tampil prima mas, Biar nggak bikin malu. Masa Top model penampilannya kurang ok?” kata Cindy.
Akhirnya ketika kami sampai ke pesta temanku, makanannya sudah hampir habis. Sebagian besar tamu sudah pulang.
Cindy juga selalu sibuk menghitung kalori. Tidak boleh ada junk food dirumah. Semua makanan harus sehat.
Aku baru mengigit coklat, “Stop, jangan makan coklat mas! kenapa bandel, Kan udah aku bilang di rumah ini tidak boleh ada coklat!” katanya galak.
“Kan yang top model kamu, bukan aku!” kataku.
“Ya kamu juga harus diet dong, kalau kamu gendut kan aku malu. Kita harus serasi, aku cantik, kamu ganteng!” kata Cindy.
Anak anakku juga jadi stress tidak bisa menikmati makanan kesukaannya. Tidak boleh makan permen, kue, ice cream.


“Tukar lagi?” tanya Sony.
“Iya, aku mau yang pintar masak dan cantik, tapi tidak sok cantik!” kataku.
“OK mari kita ke lorong 3!” kata Sony.
Kupilih salah satu wanita di lorong 3.
“Yang ini namanya Nurlela. Dia cantik tapi tidak sok  cantik. Sederhana. Dan pintar masak juga!’ katanya

Kubawa Nurlela pulang. Benar kata Sony, Nurlela memang istri idaman. Pinter masak. Cantik tapi tidak sok cantik. Aku bebas makan apa saja, tidak dilarang-larang. Dia juga pintar mengurus badan, tidak makan kebanyakan.
Tapi ada satu yang mengangguku. Nurlela tidak begitu cerdas.
“Aku mau nonton Donald Trump di TV!” kataku.
“Mau nonton Donald bebek?” tanya Nurlela.
“Bukan, Donald Trump!” kataku.
“Apa? McDonald? Iklan mcdonald?” tanya Nurlela.
“Aye juga bisa masak makanan kaya di McDonald bang, enggak useh beli, aye bikinin aje ye!” kata Nurlela.
Nurlela tidak bisa membedakan antara Donald Trump dengan McDonalds dan Donal bebek.
Kalau diajak ngumpul dengan teman temanku suka bikin malu.
Ngomongnya enggak nyambung.

“Aku mau yang pinter. Jangan kaya Nurlela yang malu-maluin, kalau ngomong nggak nyambung!” kataku.
Sony membawaku ke lorong 4, untuk memilih istri yang pintar.
“Perkenalkan ini Hillary. Dia berwawasan luas. Menguasai beberapa bahasa. Dia dokter Microbiology.” kata Sony.

Hillary yang pintar segera mendapat pekerjaan yang penghasilannya jauh lebih besar dari aku.
Hillary memang pintar. Ngomong apa aja nyambung. Bahkan dia jauh lebih pintar dari aku.
Lebih pintar dari orangtua dan  seluruh kerabatku.
Lebih pintar dari semua teman temanku. Lebih pintar dari boss-ku.

“Ibu masak jagung. Biar kalian sehat banyak makan sayur!” kata ibuku saat acara kumpul keluarga.
“Jagung itu tidak sehat. Manusia tidak boleh makan jagung. Jagung tidak dapat dicerna oleh sistem pencernaan!” kata Hillary.
“Ibu dari dulu makan jagung, nggak pernah ada masalah pencernaan!” kata ibuku kesal.
“Makanya kalau orang makan jagung, selalu terlihat keluar utuh saat buang air!  Kalau tidak percaya di cek aja!” kata Hillary.

“ Aku paling suka lagu Edelweiss, lagu kebangsaan Austria!” kata seorang temanku yang baru pulang jalan jalan dari Austria.
“Edelweiss bukan lagu kebangsaan Austria,  Tapi itu lagu dari film The Sound of Music!
Lagu kebangsaan Austria adalah Land der Berge, Land am Strome." kata Hillary.
Temanku jadi malu.

“Tembok Cina itu satu-satunya bangunan yang terlihat dari luar angkasa!” kata boss-ku yang Chinese.
“Itu nggak benar, nggak ada bangunan yang terlihat dari luar angkasa!” kata Hillary.
Lalu Hillary menunjukkan bukti foto- foto satelit dari ruang angkasa di telponnya.
Boss-ku jadi malu.
Hillary selalu memastikan dia selalu menang dalam setiap argumen. Lama lama semua orang kesal pada Hillary.


“Aku mau istri yang pintar tapi nggak sok pintar!” kataku pada Sony.
Sony membawaku ke lorong 5.
“Kenalkan, ini Brigitte. Dia pintar masak, cantik tapi tidak sok cantik, pintar tapi tidak sok pintar!” kata Sony.
“Berapa harganya?”
“Seratus juta!”
“Mahal amat?”
“Jangan khawatir, bisa dicicil!” kata Sony.


Aku senang Brigitte ini pinter masak, cantik tapi tidak sok cantik, pintar tapi tidak sok pintar.
Tapi ada satu kekurangannya. Di kamar tidur Brigitte seperti frigid.
Diam aja, dingin.

“Si Brigitte frigid. Aku mau yang seru di kamar!” kataku.
Sony membawaku ke lorong 6.
“Kenalkan ini Marilyn. Dia hebat di kamar. Pengalamannya banyak. Pokoknya dijamin puas.
Dan sudah tentu dia pintar & berwawasan luas. Pinter masak juga. Dan  bisa kau lihat sendiri bagaimana cantik dan sexy-nya dia” kata Sony.
Aku tersenyum puas melihat Marilyn.

Benar saja ternyata Marilyn sangat hebat di kamar. Aku sampai kewalahan.
Dalam segala hal sudah sempurna.
Hanya saja, bukan cuma aku yang mengagumi Marilyn. Ke mana pun kita pergi, setiap mata pria selalu memandanginya. Tubuhnya yang aduhai ditambah pakaiannya yang sexy membuat setiap mata pria tidak berkedip. Banyak pria yang mengoda Marilyn. Dan Marilyn tampaknya menikmati dikagumi banyak pria. Kalau ada yang menggoda, Marilyn akan tersenyum manis dan membalas candaan mereka. Tentu saja membuatku cemburu.
“Jangan pake baju terbuka! Jangan suka genit!” kataku.
“Ah mas gimana sih, harusnya bangga punya istri sexy, banyak yang ngiri!” kata Marilyn.

 

“Aku mau istri yang sexy tapi tidak genit!” kataku pada Sony.
“Yang Jago masak tapi tidak jago makan,
Yang cantik tapi tidak sok cantik, Pintar tapi tidak sok pintar,
Sexy tapi tidak genit!” kata Sony melanjutkan.
“Saya tahu selera anda, tenang aja, anda bisa menemukannya di sini!” katanya.
Sony membawa aku ke lorong 7.

“Kenalkan ini Roro. Dijamin istri idaman anda. Ada semua kriteria yang anda inginkan!” kata Sony.
“Berapa harganya?”
“Yang ini 1 milyard” kata Sony.
“Hah mahal amat? Aku tidak mampu beli semahal itu!”
“Tenang aja bisa tukar tambah!” kata Sony.
“Tapi kan, istri saya si Sari udah saya tuker tambah, dulu!” tanyaku.
“Tidak harus dituker pakai istri. Bisa juga ditukar dengan orang lain, asal masih sedarah.” katanya.
Setelah kupikir-pikir akhirnya jatuh pilihanku pada Bimo Andika,
Keponakanku yg bandel.
Orangtuanya juga pasti tidak kehilangan. Mereka sudah kewalahan.
Kuliah 10 tahun enggak selesai selesai, berkali kali pindah jurusan.
Bimo kerjanya cuma pesta dan mabuk-mabukan.  Dia sudah terjerumus narkoba sejak lama.
Lalu aku berpikir bagaimana caranya aku menukar Bimo tanpa ketahuan.
“Tenang aja, serahkan pada kami. Pokoknya kalau anda sudah tanda tangan surat penukaran, besok pagi pasti Bimo datang sendiri ke sini!” kata Sony, seolah bisa membaca pikiranku.
Aku tersenyum senang, ingin cepat cepat pulang membawa Roro.


Ternyata benar kata Sony. Roro memang sempurna.
Jago masak tapi tidak jago makan.
Cantik tapi bukan sok cantik.
Pintar tapi tidak sok pintar.
Sexy tapi tidak genit!
Paket komplit.
Akhirnya aku dapat juga istri idamanku. Setelah sekian lama mencari. Tidak sia sia perjuanganku.
Sudah 6 bulan kita bersama. Semuanya sempurna. Aku sangat puas dengan istri yang ini. Aku bahagia sekali.

Hari ini hari Ulang tahunku.
Roro membuat kue ulang tahun 5 tingkat  dengan hiasan wajahku. Rasanya lezat sekali.
“Aku sayang banget sama Mama!” kataku sambil mencium pipi Roro.
“Aku juga sangat banget sama Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa,…..”
Istriku terus mengucapkan pa pa pa , tidak berhenti.
“Ma, kenapa Ma, kok begitu?” tanyaku
“Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa, Pa. .Pa …pa… pa...” Roro masih terus mengucapkan Pa pa pa.
Kutepuk-tepuk istriku.
Setelah satu jam dia masih terus mengucapkan Pa pa pa.
Tiba tiba Roro diam. Tubuhnya mematung. Tidak bergerak dan tidak mengucapkan apapun.
“Mama kenapa Ma? kok diam aja?”

Lalu kutelpon sales itu.
“Istriku kenapa nih? Kok tadi ngomong pa pa pa nggak berhenti sampe satu jam. Abis itu diam nggak bisa bergerak!” tanyaku cemas.
“Oh jangan khawatir! Itu baterenya habis, harus diisi ulang!”
“Apa?”
“Gampang kok caranya. Di belakang kepalanya, sibakkan rambutnya. Buka kotak kecil di batok kepalanya, di situ kabelnya tersimpan. Tinggal dicolok sebentar untuk mengisi kembali baterenya.”
“Loh kok begitu? Emang istri saya robot?”
“Ya iya lah. Kamu mau yang istri sempurna! Mana ada manusia yang sempurna. Cuma robot yang sempurna!” kata sales itu.
“Aku nggak mau istri robot, aku mau kembalikan Roro!” kataku.
“Ya udah dateng aja ke toko, kalau masa garansinya masih berlaku bisa dikembalikan” katanya.
 

Aku membawa Roro ke toko itu untuk mengembalikannya.
Di dalam toko aku melihat ada seorang pria ganteng, dengan rambut model terbaru dipajang di lantai satu.
Badannya atletis lengkap dengan six packnya. Pakaiannya trendy.
Kulihat name tag-nya, Bimo Andika
Keponakanku?  Kok beda banget sekarang?
“Hey kamu kok ada di sini?” tanyaku pada Bimo.
“Ah om pura pura nggak tau, kan om yang masukin saya ke sini. Di tukar tambah sama istri om!” kata Bimo sinis.
“Sekarang kok kamu kerenan, bodynya jadi six pack gitu?” pujiku, berharap marahnya berkurang.
“Iya dong, kita rawat dulu sebelum dijual” kata sales itu.
“Tapi toko istri kok ada laki laki?” tanyaku.
“Ya selera orang kan beda beda pak, Ada juga yang ingin punya istri laki laki!” kata sales itu.

Aku mengembalikan Roro.
“Kalau gitu aku mau Sari, istri pertamaku kembali deh!” kataku.
“Ya nggak bisa pak, kan udah dituker tambah. Sekarang mantan istri bapak udah punya pemilik baru!” kata sales itu.
“Yah, lalu aku sama siapa?” tanyaku.
“Kalau yang ini bagaimana?, Ini model terbaru. Kayaknya cocok untuk anda.
Cantik tapi tidak sok cantik,  tidak genit. Pintar tapi tidak sok pintar.
Penurut tidak banyak ngomong.  Tidak pernah membantah. Tidak boros, tidak suka belanja.
Irit. tidak butuh perawatan mahal. Dan selalu setia!” katanya.
“Guk guk…!” si istri model terbaru mengibas-ngibaskan ekornya.

 

Catatan:
Cerita ini terinspirasi dari menonton stand up comedy.

Kalimat pertama diambil dari komika yang bilang capcay pake nanas.