BERJUMPA DI BIS BERPISAH DI TERMINAL

SERI#3 Dari Tetralogi (#1: ALONE BY MUST, #2 BE YOUNG CARE ROCK, #3 BERTEMU DI BIS BERPISAH DI TERMINAL, #4 BER 217 AN)

BERJUMPA DI BIS BERPISAH DI TERMINAL

Meskipun lebih banyak melakukan pekerjaan dari rumah (WFH), Aku sedikit terpontal-pontal untuk melalukan penyesuaian di era New Normal ini. Pagi hari setelah Sholat subuh Aku langsung sarapan sambil mempersiapkan bahan-bahan untuk berbagai macam kegiatan online. Selesai sarapan langsung menuju ruang studio (darurat) untuk mengikuti briefing pagi.

Aku buka HP dan weiiiits, ternyata ada chat dari Pak Boss Kecil.

“Kamu pimpin briefing Pagi, setelah itu lanjut rapat dengan Saya, linknya yang biasa yaaaa” begitu bunyi chat pak Boss Kecil.

Saat ini suasana lebih adem dan Kamipun perlahan-lahan mencoba bangkit dari kinerja yang terjun bebas tersebut. Meskipun belum sesuai harapan, tapi penjualan bergerak naik.

Rapat dengan pak Boss kecil berjalan singkat dan membacakan keputusan bahwa Aku diangkat menjadi Sales Leader dan mendengar harapan-harapan Beliau. Rapat diakhiri penjelasan hal prioritas yang Aku lakukan, terutama membangkitkan kembali semangat kawan-kawan dan membangun Soliditas Tim.

Karena masih kaget, Aku hanya mengucapkan terimakasih atas amanah ini dan Kami bertekad untuk mengembalikan posisi perusahan menjadi jawara kembali.

---------------------------0

Sehari setelah Aku menjabat sebagai Sales Leader, Aku berencana melakukan briefing perdana dengan tim penjualan. Aku mencoba merubah nuansa kerja yang lebih akrab dan terbuka satu sama lain. Soliditas ini sempat terkoyak ketika terjadi kekosongan jabatan Sales Leader. Aku telah mencoba memprofile kembali personality kawan-kawan dan mencoba untuk berkomunikasi lebih intens, sehingga Aku bisa lebih sensitive dan powerfull dalam mengelola tim penjualan.

Hasil Briefing pagi itu sangat menggembirakan. Ada rasa haru dan bahagia Kami rasakan karena suasana yang cair ini sebenarnya menjadi harapan kami semua. Hanya karena semua tergantung kepada komando dari atasan, tidak ada yang berinisiatif melakukan perubahan, termasuk diriku. Kami berdiskusi sangat terbuka, semua tim penjualan mengeluarkan unek-unek dan harapan yang ingin mereka raih selama bekerja di Perusahaan ini. Kami bertekad untuk mengembalikan posisi perusahaan Kami menjadi yang terbaik.

Satu jam sebelum jam istirahat Siang, Aku mendapat Chat dari mas Agus yang ingin ngobrol pada istirahat nanti. Sebenarnya Aku agak enggan untuk berkomunikasi saat ini. Bukan karena alasan jabatan yang baru kuemban, tetapi diwaktu yang sama Aku harus mendampingi Putraku belajar online dengan sekolahnya. Setelah berdiskusi dengan Istriku, akhirnya Ia sepakat untuk mengambil alih mendampingi Putraku belajar.

------------------------00

Sambil menunggu Telepon mas Agus, Aku sempatkan monitor kegiatan teman-teman hingga siang ini. Aku selalu mendoakan agar tim penjualanku tetap sehat dan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang mereka targetkan. Aku mencoba lebih sensitif membaca keadaan fisik maupun perasaan kawan-kawan tim penjualan. Aku harus memantau disiplin Kawan-kawan melakukan aktifitas sesuai dengan protocol Covid 19 yang telah ditetapkan Perusahaan.

Akhirnya HPku berdering dan itu dari mas Agus. Seperti biasa mas Agus mulai cerita suasana di Kantornya yang baru. Ia sangat bersemangat dalam berbagi dan menurutku salah satu keunggulannya adalah Ia sangat mahir  berstory telling. Beliau memang sangat kaya materi obrolan, maklum selain senang bergaul Ia juga seorang kutu buku.

Dulu, ketika Aku bertandang ke rumahnya, ternyata Ia punya perpustakaan pribadi dengan buku-buku yang tebal. Hampir semua buku-buku Import. Kegemarannya membaca buku, menurutku mempengaruhi perkembangan kepribadian dan prilakunya. Meskipun demikian Aku merasa belum mengenal kepribadiannya secara utuh. Masih ada beberapa tanda tanya besar yang terus Aku cari dalam diri mas Agus.

“Mas masih betah disana?” tiba-tiba mas Agus bertanya.

“Alhamdulillah, masih mas Agus” jawabku sambil penasaran.

“Siapa yang jadi Sales Leadernya Mas” mas Agus mencari tahu.

“Ada dari internal Kita” jawabku sopan.

“Apa ga’ pengen merintis karir baru Mas, ya petualangan baru gitu!”

“Apa sampai pensiun di Perusahaan itu terus?”tanya mas Agus.

“Emmmm, maksudnya apa ya mas Agus” balik aku bertanya.

“Engga’ mas, Aku cuma nanya doang” katanya pelan.

“Kayaknya ada khabar gembira nih buat Saya!” Aku coba memancing Mas Agus.

“Tepat sekali, kok Mas bisa baca pikiranku”

“Gini mas, Aku cerita tetang Sampeyan ke GMku” katanya bersemangat.

“Wuaaah tentang apa ya mas Agus” aku mencoba bertanya lebih jauh.

“Aku cerita tentang keahlian mas mengelola tim penjualan” jawab mas Agus mantap.

“Mengelola tim penjualan? Bukannya mas Agus dan pak Boss kecil yang selama ini mengelola tim penjualan?” kataku dengan jujur.

“Siap bilang?” selama ini Saya merasa Mas yang mengatur strategi penjualan. Hanya mas itu ga’ pernah mau terlihat menonjol” Mas Agus mencoba menjelaskan.

“Saya sangat terkesan kerendahan hati Mas, Saya merasa Mas cocok bergabung di perusahaan Kami”

“Kalo ga’ keberatan GMku pengen online bertiga” mas Agus menjelaskan masksudnya tersebut.

“Wuaduuuh, Apalah Aku ini. Cuma staf pendukung mas Agus” kataku sembari tersipu.

“Jawaban Mas sudah kuduga” jawabnya pendek.

“Aku minta waktu ya mas Agus, Insya Allah nanti Saya khabari” Kataku sambil menutup pembicaraan kami.

-----------------------000

Ada hal yang menggangguku sehabis diskusi dengan mas Agus Siang Tadi. Aku mulai meragukan integritas dan loyalitas Mas Agus terhadap perusahaan. Sebenarnya perbedaan prinsip apa yang dimiliki oleh mas Agus dengan pak Boss kecil, sehingga Beliau membiarkan dirinya untuk diberhentikan. Padahal dalam peraturan perusahaan, ada pelanggaran prinsip yang membuat seorang Karyawan diberhentikan.

“Benarkah Mas Agus diberhentikan?, kalau diberhentikan koq ga dapat pesangon?”.

“Kenapa pak Boss kecil bilang, Mas Agus itu Anak ga tahu balas Budi dan cengeng. Begitu diPush dikit, ngambek” tanyaku dalam hati

Padahal, pak Boss kecil menurutku juga pernah mengalami hal yang sama saat Beliau menjabat sebagai Sales Leader. Mungkin saat ini Beliau juga sering berbeda pendapat dengan pak GM, hanya ga pernah sampai kemasalah pribadi. Sebagai Manejer Ia berani bertanggung jawab dan menyimpan setiap tekanan dan masalah hanya untuk dirinya.  Sebenarnya Pak Boss kecil ini orang yang sangat komit, loyal dan punya integritas yang sudah teruji dengan baik terhadap tim dan perusahaan.

Aku masih ingat ketika Kami sama-sama mulai merintis sebagai tenaga Sales. Ada perusahaan baru yang akan menjadi pesaing Kami dikemudian hari, menawarkan posisi Asisten Manejer ke Mas Iwan. Sebenarnya mas Iwan tergiur untuk pindah, karena Ia membutuhkan dana untuk menghidupi keluarganya.

Aku sangat memahami kondisi mas Iwan, sehingga Aku menyarankan Ia untuk berfikir apakah peluang karir di Perusahaan Kita memang kecil. Waktu itu Kami sepakat mengurangi berinteraksi untuk memberikan mas Iwan kesempatan menemukan jawaban tanpa ada intervensi dariku. Seminggu setelah itu Mas Iwan datang dengan wajah sumringah dan memilih tetap bertahan, karena Ia yakin masa depannya di Perusahaan ini akan cemerlang.

Terus bagaimana dengan Aku. Kalo Aku pindah, hanya untuk mendapatkan kepuasan sendiri. Berarti komitmen, loyalitas dan integritasku juga dipertanyakan. Aku masih ingat pesan mas Agus, “Apalah artinya Sukses secara individu, tetapi secara tim sekarat. Kompetisi internal itu memang perlu, tetapi saat ini jadi kurang penting. Kebersamaan paling penting, rejeki sudah ada yang ngatur dan perlu kecerdasan dan keikhlasan menjemputnya”. Kok Aku tega meninggalkan pak Boss kecil, tim penjualan dan Perusahaan dalam situasi down seperti ini?

Apakah ini jawaban tentang siapa mas Agus sebenarnya?