Sulit……….Tapi Harus Bisa!

Dampak positif dan negatif HP bagi anak-anak, remaja dan dewasa perlu mendapat perhatian serius semua orang agar tidak menyesal di kemudian hari.

Sulit……….Tapi Harus Bisa!
Gadget -pexel.com

 

            Orang membuat gembok tentu disertai dengan kuncinya, begitu juga dengan berbagai kesulitan yang dialami manusia pasti ada solusinya. Namun, untuk urusan yang satu ini sepertinya tidak mudah orang menemukan jalan keluarnya. Berbagai strategi dan tindakan bijak harus ditempuh sehingga mendatangkan kebaikan serta manfaat bagi kehidupan manusia di abad ini. Sadarkah kita kalau ada satu benda, cukup kecil akan tetapi begitu besar dampaknya bagi seluruh manusia yang ada di muka bumi ini.

            Ya…..benar pembaca yang budiman, itulah dia namanya HP (Hand Phone). HP sangat berpengaruh besar terhadap anak, remaja, terhadap prestasi belajar siswa dan mahasiswa, terhadap kesehatan, terhadap mata dan terhadap kehidupan manusia pada umumnya. Jika dikatakan pengaruh tentu ada yang positif, ada juga negatifnya.

Adapun sisi positif (kebaikannya) adalah: Mempermudah komunikasi (dengan keluarga atau teman, juga urusan bisnis); Menambah wawasan; Mudah mencari informasi dari berbagai belahan dunia; Dapat meningkatkan pengetahuan dan kenyamanan dalam belajar; Keperluan menerjemahkan; Tersedianya teknologi yang canggih (urusan perbankan, belanja, kuliner, mencari alamat, dan lain-lain); Sebagai alat hitung; Sebagai petunjuk waktu; Sebagai media hiburan; Bisa digunakan sebagai kamera, audio, video; dan masih banyak lagi.

Sedangkan dampak negatif (buruknya), apabila HP digunakan secara berlebihan bisa memicu masalah kesehatan seperti: Masalah penglihatan; Mengganggu pola tidur; Sakit kepala; Cidera pada otot dan ligamen; Mengganggu pertumbuhan otak pada anak; Berpotensi terjadi gangguan mental pada anak; Postur tubuh yang tidak ideal, Tidak fokus belajar; Efek radiasi; Sifat agresif; dan masih banyak lagi.

                Pendeknya HP berisi segudang manfaat apabila berada di tangan orang yang tepat. Di saat pandemi covid-19 mendera, HP adalah salah satu alat untuk bekerja, rapat, belajar-mengajar, webinar, bersilarurahmi, video call, face book, WA, SMS, IG, dan lain-lain yang jangkauannya tidak saja di dalam negeri melainkan dunia. Akan tetapi HP akan mendatangkan malapetaka apabila orang tidak dapat mengendalikan dan mengelolanya untuk berbagai keperluan yang membawa manfaat. Sebagai orangtua, pendidik dan atau pembelajar kita harus bijak menggunakannya.

            Pembaca yang budiman, pernahkah Anda menyaksikan anak kecil (batita dan balita), hanya sekedar agar tidak rewel/mengganggu orangtuanya bekerja lalu diberikan HP untuk main-main dan ketika sudah berlangsung beberapa jam kemudian HP tersebut ditarik, lalu si anak menangis, mempertahankannya dan marah-marah karena mainan kesukaannya harus dihentikan. Begitulah fenomena yang sering kita jumpai di mana saja dan kapan saja. Ketika si anak mulai masuk sekolah, didapati terjadi kerusakan pada matanya.

Eling lan Waspodo

Sebuah ungkapan bahasa Jawa yang artinya ingat dan waspada, karena sesal kemudian tak berguna. Berikut contoh kasus yang dapat penulis sajikan:

  1. Anak berusia 8 tahun, ia tidak bisa berkomunikasi dengan layak dan tidak mau sekolah. Bila ditanya ia tidak mampu menangkap pertanyaan karena tidak fokus pada teman bicara, keterampilan berinteraksi dua arah tidak terbentuk karena minat untuk berbicara tidak bertumbuh. Kosa katanya miskin dan kontak matanya juga minim, dia begitu lekat dengan HP nya sehingga berdampak pada buruknya keterampilan berkomunikasi dan kalau HP nya dijauhkan darinya (diambil) dia marah dan meronta-ronta. Penyebab situasi ini karena kedua orangtuanya bekerja dan sering pulang malam, sedang pendamping anak di rumah tidak diberikan pembekalan untuk mengasuh anak dengan baik dan sejak kecil anak tersebut terbiasa disodorkan HP dalam segala situasi. Pengasuh jarang mengajaknya berkomunikasi, kesempatan berinteraksi dengan keluarga juga sangat minim. Ketika usia sekolah tiba barulah kedua orangtuanya tersadar karena anaknya tidak mau sekolah dan dia enggan berbicara, karena HP telah menyita perhatiannya.
  2. Kasus di China; anak usia 3 tahun yang dibiarkan oleh orangtuanya bermain HP sejak usia 1 tahun. Anak itu dibiarkan memandangi Hp nya selama berjam-jam (lagi-lagi dengan alasan supaya tidak rewel atau lebih tenang). Sampai suatu hari si anak dibawa ke dokter untuk dilakukan check up karena ia terlalu sering menyipitkan matanya jika melihat sesuatu. Hasilnya dinyatakan bahwa mata si anak mengalami rabun jauh, tidak bisa dipulihkan atau disembuhkan dan dengan bertambahnya usia si anak maka rabun jauhnya akan semakin memburuk.

Orangtua sebagai pendidik pertama dan utama sesibuk apapun hendaknya dapat menumbuhkan potensi anaknya, misalnya lewat bercakap, bergerak, bercanda, menari, menyanyi, menggambar dan menagkap emosi kita. Perkenalan dan pemakaian HP sebaiknya tidak dilakukan terlalu dini. Usia balita adalah usia emas (golden age), mengajak aktif di usia balita untuk berkomunikasi, bermain dan mengenal lingkungannya akan memperkuat tumbuhkembang anak.

Kalau contoh-contoh kasus di atas, korban HP pada kanak-kanak, lalu bagaimana dengan dampak buruk HP pada orang dewasa. Sebagai orang yang sudah dewasa hendaknya sudah pandai mengatur waktu namun, fenomena yang sering kita jumpai sehari-hari adalah pemandangan seperti: Ketika sedang bicara pun (tatap muka langsung) tetap perhatiannya terpecah karena HP, sedang santai di ruang keluarga atau sedang makan bersama keluarga juga lebih fokus pada HP nya masing-masing (baik itu ayah atau ibu atau anak), mau tidur lihat Hp, bangun tidur pertama yang ditengok juga HP. Berapa jam dalam sehari orang kini terikat dengan HP? Lalu kapan dan sampai kapan keadaan ini harus berlangsung?

Sulit memang seseorang lepas dari pegang HP (ketergantungan dengan HP), tapi harus tetap bisa kalau mau sehat dan sejahtera hidupnya. Semua terpulang pada niat hati dan kemauan untuk menata kebiasaan hidup yang lebih baik di kemudian hari. Akhirnya penulis bermaksud mengakhiri tulisan ini dengan himbauan: ‘Kelola waktu baik-baik, susun skala prioritas dalam mengisi kegiatan sehari-hari. Ingat waktu tidak mungkin berlaku surut ke belakang, sesal kemudian apa gunanya?’

 

Jakarta, 20 Mei 2022

Salam penulis; E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia – tyasyes@gmail.com

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.