Tahan kantuk tahan hati

Demi untuk seseorang.

Tahan kantuk tahan hati

Hari yang berat mesti kulalui. Demi sebuah kemanusiaan tak mungkin kuhindari. Seusai jaga malam seorang teman lama mau dibantu untuk berobat ke seorang dokter dimana aku bekerja.

Menjelang sore hari aku bangun dari tidur siangku. Aku cek ponselku tak sewaktu tidur kumatikan datanya. Wow. Ternyata banyak sekali pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab dari seorang teman yang jarang berkabar ria meski lewat sosmed ataupun ponsel. Terlebih dahulu kubaca semua pesan masuk dan kubalas yang memang harus kubalas. Dan kubaca pesan di grup dan kirimkan pesan yang memang perlu  kukirim pesan. 
Setelah semua sudah kusiapkan telepon teman lamaku yang suka menghilang.

"Haloo selamat siang" terdengar dari seberang sana. 

" Siang. Puji Tuhan kabar baik. Maaf tadi saya tidur karena sedang jaga malam. Bagaimana kabar? Kok tumben telepon saya?(sambil tersenyum)" 

"Bisa aja.. ini ada teman yg sedang sakit, besok mau ke rumah sakit tempat kamu kerja. Apakah besok bisa bantu kami. Soalnya teman saya belom pernah berobat di sana? Jawaban yang diberikan kepadaku.

"Baik. Besok pagi kebetulan saya sudah selesai dinas, baik besok saya bantu." Jawabku. Meski begitu otakku bekerja memikirkan rencana buat besok.

"Terima kasih ya..besok saya beri kabar lagi. Terima kasih ya."

" Ok sama-sama. Sampai ketemu besok." Jawabku. Selanjutnya saya tutup panggilan ponsel.

Karena habis begadang, saya harus memperhitungkan waktu. Waktu yang saya siapkan guna menolong orang lain dan waktu saya guna istirahat. Bagaimanapun saya harus istirahat seusai jaga malam, karena usiaku sudah mendekati usia emas.

Seusai dinas saya siapkan semua berkas yang dibutuhkan. Sehingga tak kubiarkan sahabatku mengantri untuk soal administrasi.

"Hallo.. pagi.. kami sdh hampir sampai ke rumah sakit. Bagaimana ini.." suara di seberang sana terdengar setelah ponsel kuangkat.

"Baik.. saya akan segera ke lobby, turunlah di lobby saja. Saya akan menjumpai disana." Jawabku.

Bergegas saya menuju lobby. Hilir mudik pengunjung rumah sakit di lobby mbuay saya bingung. "Aduh mana nich orang yang harus kujumpai"

Pandanganku berhenti pada serombongan 3 pria berkulit coklat yg berdiri di depan pintu masuk.

Dengan tenang saya bertanya.
"Selamat siang.. apakah bapak2 ini teman pak Andi yang mau berobat?"

" Selamat siang. Oh iya..kami teman pak Andi. Tetapi beliau sedang parkir kendaraan."

"Baik kalo begitu, saya Tina, saya akan kebetulan teman pak Andi dan bekerja di sini. Oleh karenanya saya akan membantu proses disini."

Perkenalanpun terjadi. Selanjutnya saya mengantarkan selama proses di Rumah sakit. 

Bukan karena siapa yang saya bantu. Namun dia yang telah kucintai, dan dia yang telah memiliki kehidupan sendiri. Dulu yang telah kusakiti masih mau memaafkan dan bersahabat denganku.